Pages

Thursday, December 13, 2007



MUARAJIWA MENGUCAPKAN: "SELAMAT MENEMPUH UJIAN TERM I."



READ MORE

PROFESI

Thursday, November 8, 2007


SUARA PPMI, BUKAN SUARA DPP-PPMI!!
Oleh Agus Khudlori

Berbicara dalam konteks Masisir, anda, saya, dan orang lain adalah PPMI. Atau statement ini bisa dibalik menjadi: "PPMI adalah anda, saya, dan orang lain." Tak terkecuali para anggota Dewan Pengurus Pusat (DPP) yang sekarang menahkodai kepengurusan PPMI, semuanya adalah PPMI. Karena kesemua-muanya kita adalah pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir. Jadi, kita semua PPMI bukan? Maka salah jika ada orang yang memahami PPMI adalah DPP-PPMI, dan oleh karenanya acuh terhadap segala permasalahan yang terjadi. Pemahaman yang salah ini dapat diluruskan menjadi: "DPP-PPMI adalah wakil kita yang (seharusnya) dapat menjembatani aspirasi, menunaikan harapan, bahkan melayani kebutuhan kita." Lebih dari itu, PPMI adalah kita semua, bukan hanya Dewan Pengurus Pusat (DPP).
Dari sini, penulis merasa berkepentingan untuk (sebelumnya) menekankan bahwa tulisan ini bukanlah bermaksud untuk menggurui, apalagi merendahkan. Lebih dari itu, sebagai bentuk kepedulian terhadap PPMI, lebih tepatnya terhadap media persnya (Suara PPMI). Oleh karenanya dan atas pertimbangan rekan-rekan media, tulisan ini dimuat di buletin TeROBOSAN.
Flash back kepada beberapa tahun lalu, berbagai nada sumbang dialamatkan kepada Suara PPMI. Di antaranya; sebagai media, Suara PPMI dianggap terlalu ekslusif, satu warna, serta kurang bisa menjadi corong yang benar-benar menyuarakan kepedulian terhadap Masisir. Kondisi ini berusaha diperbaiki pada masa
Kabinet Kebersamaan periode 2006-2007 lalu. Menyadari pentingnya peran media sebagai indikator hidup-matinya dinamika sebuah organisasi (Nurul Hadi Abdi, buletin Informatika edisi 124/September 2007), Kabinet Kebersamaan yang dipimpin oleh Sdr. Fuad ini berusaha memperjuangkan eksistensi Suara PPMI agar benar-benar dapat bersuara. Salah satu caranya adalah keputusan tegas Kabinet Kebersamaan untuk merombak total substansi isi dan rubrikasi buletin Suara PPMI yang tahun sebelumnya dinilai gagal menjembatani aspirasi Masisir. Berikut dihadirkan pula orang-orang berpengalaman dalam dunia permediaan untuk terlibat langsung menangani buletin Suara PPMI. Hasilnya, Suara PPMI beranjak lebih baik, mulai diperhitungkan serta dapat bersaing dengan media pers yang lain.
Namun, bagaimana dengan media kita -Suara PPMI- tahun ini, setelah suara-suara sumbang itu dapat diredam untuk minimal satu tahun yang lalu? Agaknya, Suara PPMI kembali mengekor para pendahulunya yang dalam kacamata Masisir kurang bisa mewadahi dan memperjuangkan kepedulian terhadap Masisir, sehingga nada-nada sumbang itu kembali kita dengar. Benarkah demikian? Mari kita lihat beberapa tema yang diangkat Suara PPMI selama dua kali penerbitannya periode ini:
"Prestasi Akademik 2007 Meningkat" (Edisi pertama, rubrik Laporan Utama). Tema ini melaporkan tentang kinerja panitia PPMI Academic Award 2007 di Auditorium Sholah Kamil. "Lahirnya OISAA di Sidney 2007" (Edisi pertama, rubrik Kolom/Talqis Nurdianto, Lc). Tulisan ini melaporkan kunjungan presiden PPMI ke Sidney-Australia dalam rangka Konferensi Internasional Pelajar Indonesia September lalu. "Langkah Awal Perjuangan Kabinet Masisir" (Edisi pertama, rubrik Kolom/Yopi Nurdiansyah Zakaria, Menko I Kabinet Masisir). Tulisan ini melaporkan –tepatnya menceritakan- beberapa hasil pembahasan dalam sidang Pleno II BPA September lalu. "PPMI, Pengembangan Skil Masisir [?] (Edisi kedua, rubrik Jaring Aspirasi). Tema ini mencoba menghubungkan antara beberapa agenda kegiatan PPMI yang telah terlaksanakan dengan pengembangan skill Masisir. "BWAKM, Membangun Kesejahteraan Masisir" (Edisi kedua, rubrik Laporan Utama). Rubrik ini memaparkan rentetan daftar program kerja terlaksana BWAKM tahun ini, kaitannya sebagai salah satu badan otonom PPMI.
Lalu sebagai pembanding, lihat pula beberapa tema yang diangkat oleh Suara PPMI periode Kabinet Kebersamaan tahun lalu:
"PPMI Kurang Merakyat" (Edisi pertama, rubrik Jaring Aspirasi) Rubrik ini mengangkat asumsi-asumsi kritis Masisir terhadap kinerja Kabinet Kebersamaan PPMI setelah 30 hari menjabat. "Masisir Butuh Dokter." Tema ini mengangkat permasalahan kesehatan Masisir yang mulai terusik, sedang sarana dan prasara kesehatan seperti dokter tidak tersedia. "Pendidikan Anak Bangsa Tanggung Jawab Siapa?" (Edisi kesembilan, rubrik Jaring Aspirasi) Tema ini mencoba mengangkat seputar keresahan-keresahan Masisir berkeluarga terhadap nasib pendidikan anak-anak mereka, salah satunya karena letak SIC yang terlalu jauh, serta biaya sekolah di sana yang relatif mahal. "Maba, Anak yang Tak Berdosa" (Edisi kesembilan, rubrik Kolom/Syamsu Alam Darwis). Tulisan ini merupakan bentuk keprihatinan terhadap kasus-kasus mahasiswa baru yang selalu menjadi objek 'kenakalan' mediator.
Dari beberapa contoh tema di atas, kira-kira apa yang bisa kita simpulkan? Pada periode ini (Kabinet Masisir), Suara PPMI tak ubahnya hanyalah progress report (laporan kerja) DPP-PPMI yang dipublikasikan. Tak lebih dari itu. Artinya, Suara PPMI secara subjektif lebih condong untuk mengekspos agenda kegiatan DPP-PPMI kepada khalayak publik daripada kepedulian terhadap permasalahan Masisir. Berbeda dengan periode sebelumnya yang lebih cenderung peduli terhadap permasalahan Masisir, sehingga Suara PPMI dinilai telah sukses mengoptimalkan fungsi ‘corong’nya.
Maka wajar, jika publik Masisir memberikan komentar-komentar negatif terhadap Suara PPMI pasca dua kali penerbitan periode ini. Lebih miris, publik Masisir ternyata tak hanya mengomentari substansi isi Suara PPMI yang terkesan "kurang peduli' tersebut. Masalah rubrikasi, editing bahkan perwajahan Suara PPMI tahun ini juga ramai menjadi buah bibir, khususnya dikalangan Masisir yang mempunyai kepedulian terhadap media. Mengapa hal itu sampai terjadi? Sejauh pengamatan penulis, banyak faktor yang melatarinya. Di antaranya: Pertama; Pola pandang serta kesadaran Kabinet terhadap pentingnya peran media kurang, sehingga Suara PPMI terkesan apa adanya, asal jalan, tanpa ada upaya untuk memperjuangkan semisal mengkonsultasikannya dengan eks. redaktur periode sebelumnya atau menerjunkan orang-orang berpengalaman di bidangnya.
Kedua; Gengsi idealisme. Benarkah demikian? Mungkin saja. Apalagi setelah Suara PPMI periode lalu mendapat hujatan tajam ketika LPJ dalam Sidang Umum II MPA-PPMI. Ini diperkuat dengan dirombaknya kembali rubrikasi, substansi isi, serta perwajahan Suara PPMI pada edisi pertamanya periode ini, walaupun pada edisi keduanya Suara PPMI sudah berusaha kembali kepada format periode sebelumnya.
Demikianlah, sekelumit tulisan yang penulis harapkan dapat menjadi titik tolak terjadinya standarisasi antar media. Karena bagaimanapun, Suara PPMI adalah media organisasi induk PPMI. Dan karenanya akan selalu menjadi sorotan publik. Maka sudah seharusnya lebih bisa meningkatkan kepedulian terhadap Masisir, sehingga fungsi kontrol sosial media tidak hilang. Apalagi, nama Kabinet sekarang adalah Kabinet Masisir. Suara PPMI harusnya lebih dapat memperjuangkan Masisir.
Sebagai penutup, sekali lagi penulis ingin menekankan bahwa PPMI adalah kita semua, Dewan Pengurus, anda, saya, dan orang lain. Maka suara PPMI adalah suara kita semua, Masisir seluruhnya, bukan hanya suara DPP-PPMI. Kalau saja unsur progress report masih tetap dominan dalam Suara PPMI, ganti saja nama Suara PPMI menjadi Suara DPP-PPMI. Bagaimana?◙
READ MORE

KOMUNITAS



BERBAHASA ARAB DI NEGERI ARAB
(SEBUAH KESAKSIAN ATAS KEPRIHATINAN)

Salah satu idealisme setiap mahasiswa ketika menanamkan niatnya untuk menuntut ilmu di negeri ini adalah aktualisasi kemampuan berbahasa Arab yang dimiliki, menilik latar belakang mahasiswa sebagai santri pesantren di seluruh penjuru tanah air. Tentu saja, materi bahasa Arab menjadi main object dalam silabus pembelajaran setiap pesantren. Tak hanya sisi gramatikal (Nahwu dan Shorof), secara umum pesantren di Indonesia menjadikan literatur-literatur berbahasa Arab sebagai menu wajib untuk ditelaah dan dikaji, walaupun metodologi pembelajaran setiap pesantren berbeda. Bahkan di pesantren yang berlabel paling tradisional (salafi) sekalipun, tradisi bahasa Arab kental terlihat. Di sana, dalam mengkaji berbagai literatur (baik turats maupun kontemporer) literatur-literatur tersebut diterjemahkan secara langsung ke dalam bahasa Jawa atau bahasa daerah masing-masing, sesuai letak geografis tiap pesantren. Uniknya, walaupun diterjemahkan ke dalam bahasa daerah masing-masing, terjemahan tersebut masih ditulis menggunakan huruf Arab. Dalam istilah pesantren tradisional di Jawa, tulisan ini disebut dengan tulisan Arab Pegon. Ini adalah bukti, betapa bahasa Arab menempati posisi strategis dalam tradisi pesantren di tanah air, sekaligus menegaskan bahwa para alumnus kampus Azhar yang notabene berlatar belakang pesantren terkait, dari segi bahasa Arab akan lebih dipertimbangkan secara kualitas karena nilai plus sebagai alumnus kampus negeri Arab. Hal ini menjadi sebuah stimulan tersendiri bagi lahirnya semangat improvisasi bahasa Arab setiap calon mahasiswa Arab dan Timur Tengah. Namun naif, ketika telah benar-benar dihadapkan dengan situasi sebagai mahasiswa, obsesi untuk lebih bisa mengaktualisasikan diri dengan bahasa Arab justru malah lebur, luntur di tengah-tengah komunitas bangsa Arab. Setidaknya bisa dilihat dari indikasi-indikasi yang mengarah kepada sebuah kesimpulan bahwa kemampuan dan kecenderungan berbahasa Arab mahasiswa Indonesia di sini (Mesir) menurun. Di sini, penulis tertarik untuk memberikan komentar berupa beberapa faktor yang dalam perspektif penulis sangat berpengaruh terhadap degradasi semangat berbahasa Arab Masisir. Dalam hal ini pendekatan penulis terhadap faktor-faktor tersebut terangkum dalam dua tinjauan umum sebagai berikut:Pertama; Tinjauan kejiwaan (psikologis). Tentu saja bahasa Arab yang sedang saya singgung di sini adalah bahasa Arab resmi (fusha), bukan bahasa ammiyyah yang banyak digunakan dalam interaksi keseharian bangsa Arab serta jauh dari kaedah-kaedah bahasa yang benar. Kendala pertama yang dihadapi mahasiswa -terkhusus Masisir- kala awal-awal kedatangan adalah masalah adaptasi bahasa yang dalam hal ini adalah bahasa ammiyyah. Secara praktis, Masisir harus beradaptasi dengan ammiyyah barang setahun dua tahun, menilik dasar bahasa yang mereka miliki adalah fusha, bukan ammiyyah. Dan dalam kurun waktu ini, mau tidak mau bahasa Arab yang sekian lama dipelajari di pesantren dilupakan, tidak mendapat ruang untuk berkembang dalam keseharian Masisir kecuali dalam bangku perkuliahan. Itupun sangat minim, menimbang prosentase Masisir untuk menghadiri bangku perkuliahan juga sangat minim. Celakanya, di tengah-tengah usaha untuk beradaptasi tersebut, mahasiswa masih harus dikecewakan oleh kondisi dan tipologi bangsa Arab yang cenderung kasar dan keras. Dalam berbagai fenomena, Masisir dibuat kecewa oleh prilaku-prilaku tak terpuji orang Arab. Tipologi yang kasar dan keras tersebut, tak sedikit membuat mahasiswa tak lagi interest untuk berinteraksi lebih jauh dengan orang Arab. Belum lagi kondisi kejiwaan yang belum stabil itu masih diusik oleh dosen yang lebih nyaman menggunakan bahasa ammiyyah ketimbang bahasa fusha dalam perkuliahan. Alhasil, bahasa fusha dilupakan, ammiyyah tak didapat.
Kedua; Tinjauan lingkungan (mileu). Dinamika keorganisasian yang majemuk banyak memberikan dampak positif bagi dunia kemahasiswaan Masisir. Namun di sisi lain, keadaan yang sedemikian rupa juga membawa pengaruh signifikan terhadap semakin melunturnya tradisi berbahasa Arab Masisir. Sebut saja organisasi kedaerahan. Mileu bahasa Arab semakin menjauh dari kata kondusif manakala dikaitkan dengan para aktifis yang menggeluti organisasi ini. Organisasi semacam ini memberi andil cukup besar dalam mempertajam lidah berbahasa daerah, yang akhirnya membunuh skill dan kecenderungan berbahasa Arab mahasiswa. Alhasil, sebagai alumni Timur Tengah, bukan bahasa Arab yang semakin fasih yang dimiliki, tetapi malah bahasa daerah yang bertambah lancar. Pada kesimpulannya, organisasi apapun yang dimiliki Masisir selain menyimpan nilai plus, juga berpotensi menghadirkan sisi negatif dalam segi kemajuan berbahasa Arab mahasiswa, jika tidak diimbangi dengan penyikapan yang solutif-progresif dari berbagai pihak.
Beberapa solusi:
Usaha sebagian organisasi untuk membentuk forum-forum yang berusaha concern terhadap eksistensi bahasa Arab Masisir sangatlah perlu diapresiasi, serta perlu mendapat antusias massif dari Masisir sebagai solusi penyeimbang atas kondisi yang memprihatinkan ini. Sebagai contoh, Language Community yang dibentuk oleh PII Mesir, penerbitan buletin berbahasa Arab "Lisan al-Akhbar" dan "Ukadz" yang diterbitkan oleh senat Fakultas Bahasa Arab (FBA), serta forum-forum diskusi bahasa Arab yang dibentuk oleh hampir seluruh organisasi kedaerahan Masisir. Akan tetapi yang perlu dicermati adalah, bahwa usaha-usaha di atas belumlah cukup memberikan solusi maksimal. Sebagai cerminan, buletin Musafir yang diterbitkan oleh PII Mesir pada edisi perdananya (28 Agustus 2007) menampilkan sebuah tulisan berbahasa Arab dengan judul "Nahnu wa al-Arabiyyah" yang ditulis oleh salah seorang anggota Languange Community pada rubrik yang sama di buletin tersebut. Dalam tulisannya, si penulis mengkritisi mayoritas Masisir yang tak mampu berbahasa Arab pada suatu kesempatan dialog publik. Tetapi konyolnya (karena menurut saya ini konyol), tulisan kritis tersebut -menurut istilah teman saya- tidak mencerminkan penulisnya sendiri bisa berbahasa Arab, karena sisi gramatikal (nahwiyyah) yang banyak tidak mengena serta uslub (gaya bahasa/ungkapan) yang digunakan tidak sesuai dengan maksud tulisan dan terkesan leterleg. Yang menjadi sorotan adalah, forum seperti Languange Community sebagai komunitas yang berkomitmen terhadap pengembangan bahasa ternyata belum mampu menjadi barometer bahasa Arab Masisir. Belum lagi, forum-forum diskusi berbahasa Arab mahasiswa selalu menjadi pemandangan betapa menyedihkannya kondisi bahasa Arab Masisir. Karenanya, penulis melihat perlu adanya solusi-solusi yang lebih progresif yang lahir dari kesadaran kolektif Masisir sebagai mahasiswa kampus Arab. Hal-hal yang dianggap sepele serta cenderung dilupakan seperti media massa baik cetak ataupun elektronik, justru merupakan solusi yang jitu untuk peningkatan mutu bahasa kalau kita cerdas mencermati. Karena justru dari media-media tersebut (surat kabar dan televisi) berbagai ungkapan bahasa yang indah dan tidak leterleg, serta kosakata yang manis dan berlimpah dapat kita petik. Sehingga dalam kapasitas kita sebagai alumni Timur Tengah nantinya, ketimpangan-ketimpangan seperti yang terjadi pada kasus buletin Musafir di atas tidak lagi terulang. Selanjutnya, perlu kiranya ada pendalaman secara lebih mengerucut, seperti partisipasi dalam kursus-kursus bahasa yang melibatkan komunitas yang benar-benar berkomitmen terhadap bahasa Arab, sehingga tercipta suasana yang kondusif dan dinamis. Sekolah bahasa seperti madrasah Orman, kuliah bahasa di Cairo University yang diadakan oleh Wazarah at-Ta'lim al-Aliy yang biayanya relatif terjangkau (150 pound per tahun), adalah sebagian dari banyak solusi yang tak mungkin saya sebutkan seluruhnya. Begitulah, bahasa Arab haruslah menjadi kebanggaan yang wajib dimiliki oleh Masisir dalam kapasitas sebagai calon alumni kampus Timur Tengah. Wallahu A’lam.◙

READ MORE

INTERAKSI

Friday, November 2, 2007




HIDUP BERSAMA, HARUS DIBELA!!

Dalam berbagai hal, antara Indonesia dan Malaysia terdapat banyak kesamaan, walaupun sebenarnya berbeda. Kultur, budaya, adat, bahkan bentuk fisik manusia kedua negara hampir sama. Itu sebabnya orang Mesir atau orang Arab lainnya sering kali salah memanggil orang Indonesia dengan sebutan “Ya Malizy!” “Hei orang Malaysia! Atau bisa juga sebaliknya, mereka menyebut orang Malaysia dengan sebutan “Andunisy!.” Dua hal yang memang serupa tapi tak sama. Di Mesir ini, Indonesia dan Malaysia termasuk pengimpor tenaga mahasiswa terbesar dan terbanyak. Dan bukan tenaga kerja, seperti di negara-negara lain. Saudi, Hongkong, misalnya. Dari sini, tentunya sering terjadi interaksi antara mahasiswa kedua negara, karena mereka berada di negara dan kampus yang sama. Bahkan, komunitas mereka sering kali sama-sama terpusat di satu tempat. Hay ‘Asyir misalnya. Dalam lingkup kemahasiswaan, kedua belah negara juga terlihat harmonis menjalin hubungan. PPMI dengan PMRAM yang sesama organisasi induk mahasiswa, WIHDAH dengan HEWI yang sesama organisasi induk mahasiswi, serta ICMI dengan ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) yang sesama organisasi kecendikiawanan Islam. Masing-masing dari keduanya sering terlihat menjalin kerjasama melalui organisasi-organisasi ini. Tentunya hal itu didasari oleh kesamaan dan kedekatan-kedekatan yang ada.Namun begitu, di tingkat negara hubungan RI-Malaysia juga tak selamanya mulus. Sederetan konflik mewarnai hubungan kedua negara. Perebutan pulau, pembajakan budaya, hingga kekerasan terhadap warga pendatang. Konflik-konflik yang terjadi antar kedua negara sedikit banyak juga dirasakan oleh komunitas masyarakat kedua negara yang berada di luar. Apalagi di Mesir, yang intensitas interaksi warga kedua negara tergolong tinggi, walaupun hanya dengan bertatap muka dan bertukar salam di jalan. Konflik yang sumbernya dari masing-masing negara bertetangga itu tanpa disadari telah membawa hawa panas di tengah-tengah komunitas masyarakat kedua negara di sini. Bagaimana mungkin di salah satu bis, seorang mahasiswa Indonesia mengumpat-umpat, menjelek-jelekkan negara Malaysia dihadapan temannya, sedang di sampingnya ada warga Malaysia. Atau bagaimana mungkin serombongan mahasiswi Malaysia mengatakan kata-kata sandi tertentu sebagai pertanda hati-hati ketika bertemu orang Indonesia di jalan?
Di saat-saat seperti inilah instansi-instansi yang mewakili nama pemerintahan harus memerankan fungsinya. Baik instansi yang mewakili mahasiswa (PPMI) ataupun yang mengatasnamakan negara (Kedutaan). Bagaimana mungkin keharmonisan yang telah terjalin itu harus terkoyak dan retak gara-gara konflik yang sumbernya bukan berasal dari komunitas kedua negara yang ada di sini? Hal ini tak bisa dibiarkan, harus segera ada tindakan dari yang berwenang jika tak ingin keadaan semakin menegang. Mengenai format dan prosedur tindakannya, itu terserah para atasan sekalian. Kami hanya ingin tahu langkah kongkrit itu ada. Bukan hanya acuh dan memilih diam, karena ini “katanya” bukan wewenangnya. Bagaimana mungkin?◙
READ MORE

KAMPUS KITA

Tuesday, October 30, 2007


SENAT USHULUDDIN
ANTARA KONDISI DAN TUNTUTAN PERUBAHAN
Oleh Agus Khudlori*

Senat Mahasiswa Fakultas (selanjutnya disebut SEMA-F) adalah salah satu kekuatan besar yang dimiliki mahasiswa, kaitannya dengan penerapan Student Government System (SGS) di kampus universitas (UIN sebagai cerminan). Kekuatan tersebut tercermin dari salah satunya, pembentukan partai oleh Senat Mahasiswa yang akan dijadikan sebagai kendaraan politik untuk pencalonan presiden mahasiswa (Presma). Senat Mahasiswa Fakultas yang belakangan di banyak kampus dirubah istilah dan namanya menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF) yang secara struktural berada di bawah Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU) juga menjadi sentral aktifitas intra maupun ekstrakurikuler mahasiswa. Riset, diskusi, seminar, workshop kefakultasan adalah beberapa contoh kegiatan yang intens dilaksanakan oleh SEMA sebagai upaya untuk meningkatkan mutu SDM anggota senat agar dapat bersaing dan ikut berkutik dalam dunia intelektual kampus.
Dari gambaran singkat di atas, kiranya tidak ada salahnya jika penulis bermaksud membandingkan antara dinamika kemahasiswaan kita (Masisir) dengan dinamika mahasiswa kampus di Tanah Air. Karena pada kenyataanya kita sama-sama menganut sistem yang sama, SGS. Bahkan, SGS yang kita terapkan pada dinamika kemahasiswaan kita sekarang ini adalah adopsi dari SGS yang diterapkan di kampus UIN (Ramli Syarqawi, S.Ag adalah salah satu pengusung dan pencetus SGS Masisir).Maka, mari kita lihat seberapa maksimal penerapan SGS Masisir dari perspektif organisasi Senat Mahasiswa, setidaknya dari senat kita sendiri, Ushuluddin. Terhitung sejak didirikannya sekitar tahun 2005 -yang sebelumnya mati suri-, senat Ushuluddin hanya mempunyai kurang dari 50 orang anggota aktif. Padahal, Ushuluddin adalah fakultas terfavorit dan dipilih oleh mayoritas dari sekitar 5000 mahasiswa. Ada apa? Dalam kacamata penulis –sekaligus sebagai otokritik- fenomena kejanggalan ini terletak pada pertamakali diadakannya orientasi mahasiswa baru atau yang sering kita sebut Ormaba. Walaupun mahasiswa baru sudah didata melalui formulir per senat, serta materi tentang kesenatan juga diperkenalkan pada Ormaba tersebut, akan tetapi dua hal ini belum cukup memikat dan mengikat mahasiswa baru untuk selanjutnya dapat terlibat aktif dalam dinamika kesenatan. Itu karena, pendataan melalui formulir yang dilakukan tersebut hanya sebatas pendataan, tanpa adanya follow up dan penekanan kepada Maba untuk mengikat diri di senat. Terbukti dari jumlah mahasiswa yang terdata ketika Ormaba hanya tersisa kurang dari 50 puluh orang anggota aktif. Ke mana yang lain? Begitu pula dengan materi kesenatan yang dikenalkan ketika orientasi juga hanya sebatas pengenalan, bukan materi tentang kesenatan secara spesifik.
Selanjutnya, senat Ushuluddin –dalam perspektif penulis dan mayoritas mahasiswa- adalah senat terfakum dalam hal aktifitas dan kegiatan. Jangankan untuk kegiatan yang sifatnya eksternal, terbuka untuk umum, seperti SEMA FSQ dengan "Malam Peduli Lebanonnya", SEMA FBA dengan seminar tentang jurnalistik Arabnya pada tahun 2003, SEMA FSI dengan bedah bukunya baru-baru ini, selama setahun ini kegiatan yang sifatnya khusus mengundang massa mahasiswa Ushuluddin saja tidak pernah tercium baunya.
Hal ini semakin menegaskan paradigma yang menyebutkan lemahnya kekuatan senat Ushuluddin sehingga tak mampu menarik empati massanya, bahkan untuk sekedar berpartisipasi dalam atmosfir kesenatan.
Dari dua pokok permasalahan di ataslah (minimnya jumlah anggota tercatat dan fakumnya aktifitas) berbagai problema dalam SEMA Fakultas Ushuluddin muncul, sehingga berakibat kepada tidak optimalnya peran senat Ushuluddin dalam kancah dinamika keilmuan Masisir. Selanjutnya, tidak bijak kiranya jika penulis hanya menyebutkan permasalahan tanpa ada solusi yang ditawarkan. Maka di bawah ini adalah beberapa solusi umum dalam rangka merubah kondisi terpuruk ini menuju optimalisasi peran senat Ushuluddin agar dapat ikut bersuara dalam dinamika kemahasiswaan kita.
Kaitannya dengan manimnya partisipasi anggota dalam senat, maka haruslah ada perubahan sistemik pada acara orientasi mahasiswa baru (Ormaba) oleh PPMI. Sebagai efisiensi dana dan kegiatan, orientasi mahasiswa baru per senat yang biasanya dihandle langsung oleh pihak senat (seperti Tawashul untuk SEMA Ushuluddin) seharusnya bisa dilebur dengan Ormaba PPMI. Dari Ormaba tersebut antusiasme serta semangat mahasiswa baru terhadap senat akan lebih tinggi dibanding jika orientasi senat diadakan setelah Ormaba. Hal ini juga dimaksudkan supaya orientasi senat tidak kalah start dengan orientasi kekeluargaan. Kemudian PPMI sebagai pihak yang membawahi organisasi SEMA (sebagaimana BEMU yang membawahi BEMF) haruslah mampu menunjukkan kekuatannya dengan cara mewajibkan seluruh mahasiswa baru untuk mengikat diri dalam senat. Karena bagaimanapun, keterikatan anggota adalah modal awal untuk memulai pergerakan di senat. Kalau anggotanya saja tidak ada, apa yang akan digerakkan dan diperjuangkan?
Selanjutnya, kaitannya dengan fakumnya kegiatan senat yang ditengarai karena salah satunya, minimnya dana yang dialokasikan kepada senat, sebagai solusinya Sidang Pleno II BPA dalam pembahasan RAPBO DPP-PPMI term I merekomendasikan penetapan jatah wajb (primer) senat untuk term pertama sebanyak 500 Pound, ditambah jatah skunder sebesar 1000 Pound dengan syarat organisasi senat terkait tidak fakum aktifitas. Ditambah lagi subsidi dana dari BWAKM sebesar 900 Pound untuk seluruh organisasi senat, maka tidak ada alasan bagi organisasi SEMA terutama Ushuluddin untuk tidak menggalakkan kegiatan. Tak harus kegiatan yang berskala makro dan bersifat umum, penulis melihat senat Ushuluddin harus memulainya dengan kegiatan-kegiatan yang lebih mengerucut tentang kesenatan dan diperuntukkan khusus mahasiswa Ushuluddin seperti kajian, diskusi, pelatihan, dan lain-lain. Kemudian masih seputar dana, rekomendasi BPA yang mengusulkan kepada DPP-PPMI untuk mengalokasikan 5 jatah tambahan Temus (10 jatah Temus dikurangi 5 Temus WIHDAH) kepada senat haruslah diperjuangkan. Karena itu nantinya akan menjadi salah satu sumber keuangan terbesar senat, sehingga senat tidak selalu bergantung kepada anggaran DPP untuk memulai aktifitas.
Senat mahasiswa melalui PPMI juga harus mempunyai suatu kekuatan yang bersifat mengikat dan mengakar. Peraturan tentang pengurusan dan mediasi calon mahasiswa baru yang harus melalui senat, misalnya. Senat melalui dukungan PPMI pula hendaknya menghimbau kepada seluruh organisasi di luar senat untuk mendukung optimalisasi peran senat dengan cara mengalihkan bimbingan belajar kepada senat sebagai upaya lain untuk mengikis kefakuman dari partisipasi massanya, sehingga dengan sendirinya anggota fakultas akan banyak muncul dalam dinamika kesenatan.
Terakhir, pembicaraan tentang optimalisasi peran senat besrta solusi-solusi seperti di atas adalah omong kosong, jika tidak dibarengi dengan tindak lanjut dan dukungan dari pihak dalam senat sendiri. Oleh sebab itu, perbaikan dari dalam senat sendiri adalah suatu keniscayaan sebelum lebih jauh melangkah keluar. Untuk memaksimalkan fungsi senat, seorang pengurus terutama pengurus harian haruslah mau mengikat sumpah setia untuk tidak aktif di organisasi manapun dan menomorsatukan senat, bukan menganaktirikannya! Wallahu A'lam.

*Mahasiswa Akidah Filsafat Tingkat III




READ MORE

Aku dan Kesaksian

Tuesday, September 4, 2007


Aku bersaksi, atas ketimpangan watak manusia
Aku bersaksi, atas topeng yang tersembunyi
Aku bersaksi, atas janji yang ternodai
Aku bersaksi, atas jiwa yang terlukai
Aku bersaksi, atas duka yang menggelora
Aku bersaksi, atas nurani yang tak lagi bicara
Aku bersaksi, atas cinta yang tak lagi berharga
Aku bersaksi, atas cela yang bersemayam
Aku bersaksi, atas mawar yang tak lagi harum
Aku bersumpah, akan tetap menjadi saksi...

(Hidup harus berjalan wajar, tanpa
dusta, tanpa derita, tanpa kepalsuan
cinta!!)




READ MORE

Temukan Kembali Jati Diri!!!!

Thursday, August 30, 2007


Kita mungkin tidak merasakan beratnya kerja rodi membangun jalan dan pabrik-pabrik pada masa imperialis Belanda. Kita juga tidak merasakan gatalnya baju yang terbuat dari bahan karung pada masa penjajahan Jepang. Atau juga pembodohan masal pada masa pendudukan Inggris. Kita telah melewati masa-masa berat penjajahan sejak kemerdekaan diproklamasikan 62 tahun silam. Kita kini hanya tinggal menikmati puncak perjuangan generasi lawas yang berupa buah kemerdekaan. Yang diharapkan dari generasi penerus bangsa seperti kita hanyalah memperjuangkan pembangunan bangsa dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta membangun citra positif guna mewujudkan Indonesia yang berwibawa di mata dunia.
Menjadi mahasiswa merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi seseorang, jika dibarengi dengan idealisme sebagai mahasiswa sejati. Masisir dengan idealisme awalnya sebagai mahasiswa sejatinya adalah salah satu bagian dari generasi penerus bangsa tersebut. Namun sayang, jati diri Masisir sebagai generasi penerus bangsa yang diharapkan dapat menjadi pelopor pembangunan bangsa dan agama semakin lama semakin mengabur seiring menuanya usia kemerdekaan.
Usia kemerdekaan yang semakin menua itu tidak malah menyadarkan Masisir untuk lebih mendewasakan diri memaknai kemerdekaan dengan kapasitas sebagai kaum akademisi. Tidak banyak yang menyadari kapasitas dirinya sebagai mahasiswa harapan bangsa, kalaupun ada itu hanyalah minoritas. Adapun mayoritas, pribadi-pribadi yang individualis lah yang justru terlihat mencolok. Elo elo, gue, gue!! Kesadaran bersama sebagai salah satu tonggak bangsa yang harus memberikan sumbangsih terhadap kemajuan bangsa masih belum dapat diraih.
Sebagai manusia, boleh saja Masisir menekuni dunia bisnis, boleh saja menggandrungi sepakbola, boleh saja menekuni organisasi, boleh juga menekuni dunia tarik suara, atau hal apapun yang sifatnya kebutuhan sekunder. Yang tidak boleh adalah, jika kebutuhan-kebutuhan seperti di atas lalu dijadikan tujuan, sehingga jati diri sebenarnya sebagai mahasiswa sejati kemudian luntur lalu hilang. Bagaimanapun, mahasiswa tetaplah mahasiswa. Masisir di mata masyarakat di tanah air tetaplah sebagai mahasiswa, bukan pebisnis, bukan pemain bola, bukan pula selebritis. Apakah duta bangsa bernama Masisir ini akan menghadiahi sepak bola bagi masyarakatnya di tanah air? Ataukah Masisir akan lebih bangga untuk menjadi artis kondang jebolan Azhar di tengah-tengah masyarakat yang sedang menantikannya? Sekali lagi, temukan kembali jati diri yang hilang!◙

READ MORE

Anak Bangsa

Wednesday, August 8, 2007


MEMBANGUN DINAMIKA TUNGGAL IKA

Masa Pemilu Raya dan Sidang Umum sudah semakin dekat. Tatanan kedinamikaan Masisir dalam sebuah negara kecil bernama PPMI sudah semakin mendewasa. Sebagai organisasi yang berusaha mengadopsi sistem pemerintahan negara melalui SGS (Student Government System), PPMI Mesir melalui MPA telah sukses menjalankan satu-persatu rangkaian agenda Pemilu Raya, walaupun SGS sendiri dalam ranah dinamika Masisir masih menyisakan kejanggalan. Di antaranya adalah fungsi legislatif dan yudikatif yang keduanya berada dalam kekuasaan BPA. Dengan kata lain, trias politica belum sepenuhnya dijalankan dengan baik oleh organisasi PPMI. Terlepas dari persoalan SGS dengan trias politicanya, mari kita mencoba menyoroti satu permasalahan lain, capres dan debat kandidat. Di antara isu yang beredar seputar pencalonan capres adalah, semakin berkurangnya kepedulian Masisir terhadap organisasi induk yang menaungi mereka, PPMI. Hal ini diindikasikan dengan tiadanya calon yang mendaftar sebagai capres hingga batas akhir pendaftaran. Hingga akhirnya diumumkan perpanjangan waktu pendaftaran selama 1x24 jam, barulah muncul calon pendaftar. Belum habis isu ini dibicarakan, isu lain kembali muncul setelah dua calon mendaftar sebagai kandidat. Isu yang berkembang adalah, akan terjadi perang urat saraf antara kedua capres dan massa yang berada di belakang mereka. Capres pertama, diasumsikan sebagai perwakilan massa dari pulau Jawa, karena latar belakang dia sebagai orang Jawa. Sementara capres kedua, mewakili masa pulau Sulawesi yang jumlah masanya tak kalah banyak. Hal ini tidak terlepas dari adanya isu persengketaan dan diskriminasi pulau yang selama ini marak terjadi dalam beberapa fenomena kegiatan yang diadakan dengan dalih mempererat silaturahmi.
Jika benar isu perang dingin urat syaraf ini terjadi, apa gerangan yang akan terjadi selanjutnya? Gengsi dan fanatik kedaerahan akan tetap melekat dalam diri masing-masing Masisir, yang ujung-ujungnya hanya akan memperkuat sindrom apatisme antar daerah dikarenakan faktor trauma dari satu pihak, dan sentimentil dari pihak lain. Jika hal ini yang terjadi, maka sudah dapat dipastikan debat kandidat yang digelar sebagai salah satu pilar sistem demokrasi dengan sendirinya akan kehilangan fungsi, hanya akan menyisakan kesia-siaan berbungkus formalitas belaka. Ada dan tiadanya debat kandidat akan menghasilkan hal yang sama; kecenderungan memilih atas dasar ikatan kedaerahan dan fanatisme golongan.
Pemilu raya sudah di ambang pintu. Kedua calon telah mengusung misi yang berbeda, namun sarat dengan maksud dan tujuan yang sama; keberpihakan terhadap kepentingan Masisir secara umum tanpa tendensi kelompok atau golongan. Karenanya, siapapun calon yang akan terpilih ia harus bisa mewujudkan dinamika kemahasiswaan dengan aroma keindonesiaan yang kental, mampu mewujudkan kesadaran umum akan adanya “ketunggalan” dalam bingkai kebhinnekaan.

READ MORE

TEOLOGI

Tuesday, July 31, 2007


KANAN-KIRI OKE

Perbedaan tidak dapat diartikan sebagai perpecahan. Kalaupun ada perpecahan yang terjadi karena latar belakang perbedaan, itu bukan berarti bahwa perbedaan adalah perpecahan dan konflik itu sendiri atau sebagai akibat dari adanya perbedaan, melainkan hal itu adalah salah satu konsekuensi dari wujud manusia sebagai umat yang “syu’uban wa qabaila”. Perbedaan emosi, latar belakang, sering kali menyulut terjadinya konflik dalam sebuah tatanan kemasyarakatan. Indonesia adalah contoh nyata dari adanya perbedaan itu. Keragaman budaya dan latar belakang kedaerahan yang terbingkai dalam wadah kebhinekaan menjadikan perbedaan begitu mencolok terlihat. Akan tetapi, segala perbedaan yang ada tersebut bukanlah alasan untuk bercerai berai, saling memusuhi, saling anti pati dan saling benci. Kesadaran sebagai bagian dari bangsa dan negara yang satu haruslah menjadi pusaka yang disakralkan demi menjaga utuhnya kesatuan bangsa. Pun jika memang konflik terpaksa terjadi dalam sebuah tatanan kemasyarakatan, bukan lantas tidak bisa dihentikan. Pencarian solusi yang tepat dengan jalan dialog adalah jalan terbaik yang bisa ditempuh.
Berbicara dalam konteks Islam, istilah Kanan dan Kiri menjadi dua Istilah yang sangat populer di kalangan umat Islam Indonesia saat ini. Dua kata yang ringan untuk diucapkan, tetapi mengandung muatan makna yang sangat mendalam. Kanan dan Kiri dipakai untuk mengistilahkan dua kelompok yang ditengarai saling berseberangan dalam hal ideologi keagaaman. Perbedaan ini akan menjadi hal yang sangat tabu jika dipahami tanpa ada landasan kesadaran tingkat tinggi untuk bersatu padu memajukan agama yang menyeru kepada perdamaian ini (Islam). Perbedaan yang ada haruslah membawa misi “rahmah”, bukan malah memperuncing perpecahan yang akhirnya berujung kepada malapetaka. Adanya perbedaan harus disadari sebagai proses penyempurnaan sebuah hasil, harus disadari bahwa dengan adanya perbedaan suatu kehidupan menjadi lengkap. Kanan dan Kiri akan menjadi amunisi yang ampuh bagi keutuhan Islam manakala disikapi sebagai suatu hal yang wajar dalam rumus perbedaan. Ibarat anggota tubuh, Kanan dan Kiri adalah tangannya, sedangkan Islam sendiri adalah tubuhnya. Apa jadinya jika suatu tubuh kehilangan salah satu tangan? Begitu juga dengan Islam Indonesia. Pastinya baik antara kelompok Kanan dan kelompok Kiri bercita-cita untuk menciptakan kegemilangan Islam, walaupun dengan jalan masing-masing. Keduanya berkerja berdasarkan fungsi masing-masing. Yang kanan identik dengan bergerak, dan yang kiri identik dengan berfikir. Akan tetapi bukan lantas berarti yang bergerak tidak bisa berfikir, dan yang berfikir tidak bisa bergerak, yang akhirnya hanya akan menimbulkan kecemburuan dan berujung kepada suatu permusuhan antara satu dengan yang lain. Islam Kanan dan Islam kiri, walaupun masing-masing mempunyai kecenderungan untuk berbeda pandangan dan pendapat, akan tetapi hendaknya antara keduanya sama-sama mempunyai kesadaran akan tujuan yang sama (an-natijah al-musytarakah). Keduanya mempunyai satu titik temu. Tujuan apalagi kalau bukan untuk menciptakan kegemilangan Islam? Kesadaran akan hal inilah yang seharusnya terus dilestarikan, yang tentunya harus disertai dengan semangat bertoleransi terhadap adanya perbedaan. Jika hal itu yang menjadi ukuran, maka tidak ada salahnya bagi umat Islam Indonesia untuk mengatakan “Kanan-Kiri Oke!!.”
READ MORE

Sekedar Pembuka

Thursday, July 5, 2007


PREDIKSI YANG “KEBLINGER ”

Akal manusia terbatas, seterbatas pandangan matanya yang kian jauh kian buram memandang. Perkiraan-perkiraan yang didasarkan pada pertimbangan nalar sering kali meleset jauh dari tujuan dan target, walaupun pada dasarnya hasil yang akan dicapai sudah matang diperhitungkan sebelumnya. Apalagi jika pertimbangan itu ternyata belum sepenuhnya matang diperhitungkan, dan harus dieksekusi dalam bentuk kerja nyata dalam waktu yang relatif singkat.
Ramadhan tahun lalu, tiga lembaga ternama di kalangan Masisir; PPMI, WIHDAH, dan BWAKM sepakat untuk membentuk panitia pengadaan kalender yang merupakan representasi dari ketiga lembaga tersebut. Sebuah target yang mulanya diproyeksikan untuk menjadi salah satu sumber pasokan dana. Alih-alih ingin meraih keuntungan dari proyek tersebut, tiga lembaga tersebut malah menuai hasil “buntung”. Di akhir masa kepengurusan setelah LPJ, panitia gabungan itu terpaksa menelan pil pahit kerugian. Tak tanggung-tangung, 75 persen dari jumlah modal semula sekitar LE 11.000!!! Akibatnya, ketiga lembaga ini harus bahu membahu menanggung beban kerugian ini dengan uang yang seharusnya bisa digunakan untuk mensuplai kegiatan-kegiatan keorganisasian Masisir yang lebih bersifat urgen. Bukan malah untuk menutupi kerugian suatu proyek dan program kerja yang sebenarnya sama sekali tidak masuk dalam kategori “kebutuhan primer”. Berbagai prediksi positif dari proyek kalender ini seputar kalkulasi keuntungan terpatahkan oleh kenyataan yang ada sekarang, setelah kalender itu benar-benar tercetak dan terdistribusikan. Dengan kata lain, harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Benar-benar sebuah prediksi yang “keblinger!!! Sebuah kerugian mungkin sudah merupakan resiko dalam berbisinis. Tapi kerugian yang sebesar ini tentunya sama sekali tidak masuk dalam prediksi dan perhitungan orang mana pun, bukan?
Dapat dipahami jika ketiga lembaga tersebut (PPMI, WIHDAH, BWAKM) kemudian sepakat untuk tetap mengeksekusi penerbitan kalender ini walaupun dengan konsep yang belum terlalu matang itu. Setiap organisasi menginginkan masanya dikenang mempunyai nilai lebih dibanding dengan masa dan periode sebelumnya. Ibarat sebuah kerajaan pada dahulu kala, ia ingin memahat bukti kejayaannya dalam sebuah prasasti yang kelak akan terus dikenang sepangjang sejarah, sebagai bukti bahwa ia pernah eksis. Begitulah kira-kira yang diinginkan ketiga lembaga tersebut jika ditinjau dari salah satu target yang direncanakan dari proyek kalender ini; sebagai cindera mata dan kenang-kenangan untuk para tamu Indonesia yang berkunjung ke Mesir. Sayangnya, lagi-lagi perkiraan ini meleset jauh dari sasaran. Berapa jumlah tamu yang datang pada bulan-bulan awal tahun ini? Agaknya ini luput dari prediksi ketiga lembaga tersebut. Apakah memungkinkan apabila kalender ini dijual sebagai cendramata ketika tahun sudah beranjak pada bulan pertengahan seperti sekarang? Jawabannya tentu tidak, kecuali jika anda punya opini lain untuk membagikannya secara cuma-cuma. Dan itu berarti, anda telah mempertaruhkan kerugian besar dari dana yang besar pula. Seperti sekarang ini!!!



READ MORE

Aku Kecewa, Sobat!!!

Friday, June 22, 2007



Aku tertawa, begitu liciknya engkau. Dengan dalih kesucian dirimu, kau buat seakan-akan akulah manusia paling hina diantara orang-orang suci disekitarmu. Bahh...!!! Apa itu dirimu. Apa pula kata-kata manis yang kau ucapkan berpuluh-puluh menit bahkan berjam-jam setiap harinya atas nama cinta itu? Apa pula pertemuan-pertemuanmu tersembunyi yang sering kau lakukan dengan kekasih hatimu itu? Aku yakin kau pun tahu, itu sama sekali tidak dibenarkan oleh agama. Ya, karena kau berbicara agama semalam bukan?
Bahh…!!! Bukankah itu sudah cukup sebagai bukti bahwa dirimu pun tak lebih baik dariku, jika engkau berbicara agama? Bedanya adalah, nafsu dan bangkai yang kau sembunyikan itu kau bungkus rapi dengan nama cinta!!!! Ya, nafsu berbaju cinta. Sedangkan aku, harus kuakui aku begitu berterus terang membongkar kebusukanku di depanmu dan di depan orang-orang yang kau anggap suci. Sayang, bangkai yang kau sembunyikan itu terlanjur kucium. Rasanya aku lebih beruntung darimu, karena aku bukan orang munafik sepertimu. Aku bukan pengecut sepertimu!!! Cobalah berkaca, siapa yang lebih busuk antara kita, aku atau dirimu?
Tentu kau tidak akan berkata tidak bukan, bahwa cinta didasari nafsu? Begitu juga cintamu kepada orang yang kau cintai itu!!! Kalaulah cintamu itu sedikutpun bukan karena nafsu, mengapa tidak kau cintai orang yang sama baik bahkan lebih baik darinya, tetapi fisiknya tidak lebih baik? Mengapa harus dia yang kau cintai? Bahkan, kadang kau mengharapkan yang lebih baik!.
Aku berani bertaruh denganmu untuk ucapanku ini. Aku menantangmu untuk hal ini!!!



"Untuk seorang sahabat berinisial A yang kuanggap telah salah menggunakan caranya untuk menegurku. Aku bukan anak kecil sobat, yang bisa kau takut-takuti dengan sedikit gertakan yang keluar dari mulutmu!!! Ma'af, jika kugunakan caraku ini untuk menegurmu. Jika engkau merasa tak suka, maka seperti itulah yang kurasakan ketika engkau menegurku dengan caramu."

Tengah malam, 23/06/2007




READ MORE

Garuda

Monday, April 16, 2007


Garuda
Ganti nama jadi emprit
Adalah dulu, kau naungi kami dengan sayapmu
Sayap keadilan, kesejahteraan
Serta perdamaian

Dulu kau nampak perkasa
Sayapmu mengembang
Cakarmu menerkam
Gigimu geram
Matamu pun tajam

Di dadamu tersimpan
Lima lambang tanda persatuan
Dalam naunganmu kami tenang
Menjadi rakyatmu kami bangga
Mengabdi untukmu kami rela
Garuda
Kini kau tinggal nama
Tubuhmu ringkih
Sayap-sayapmu patah
Tatapan matamu suram

Benih-benih keserakahan gerogoti jiwamu
Kerakusan kotori jiwamu
Ketidakadilan hancurkan rakyatmu
Mana tubuhmu yang dulu kekar
Mana kakimu yang dulu tegar

Mana keadilan yang dulu kau janjikan
Mana kesejahteraan yang dulu kau tawarkan
Mana perdamaian yang dulu kami rasakan
Mana, mana dan mana?
"Ngapusi lee..." kata nenek kita

Garuda
Masih pantaskah kau disebut Garuda
Garuda
Ganti nama jadi emprit


READ MORE

Sorot

Monday, March 19, 2007

Semangat, dedikasi, serta kecenderungan intelektual Masisir perlu diacungi jempol. Sebagai komunitas kaum terpelajar yang kehadirannya dinantikan ditengah bangsa yang sedang 'sakit' dengan diagnosa penyakit yang complex, Masisir berusaha menjadi salah satu obat penyembuh salah satu penyakit yang diderita. Munculnya kelompok-kelompok kajian, forum-forum diskusi yang menjamur, study club-study club yang mengatasnamakan pengembangan intelektual yang akhir-akhir ini mencuat ke permukaan, adalah indikasi-indikasi yang menunjukkan ke arah itu. Adanya isu buruk yang beredar di tanah air, bahwasanya mahasiswa alumni universitas al-Azhar tidak bisa menulis bagus, menjadi salah satu sebab terkuat yang mendorong semangat ini. Ditambah lagi sistem perkuliahan al-Azhar yang jarang memberlakukan tugas menulis bagi mahasiswanya, semakin membuat Masisir merasa bagaikan singa yang akan mati kelaparan di padang rimba. Ya, Mesir adalah negeri gudang ilmu, gudang peradaban dunia. Mengapa harus ada cap buruk yang ditujukan kepada para alumni universitas tertua dunia ini? Inilah yang berusaha ditutupi oleh Masisir
Atas dasar itu semua, maka tidak berlebihan jika Masisir menjadikan forum-forum seperti di atas sebagai tempat pelarian bagi mereka yang selalu merasa haus akan segala macam ilmu dan disiplinnya. Forum-forum seperti itu menjadi pelampiasan Masisir yang tidak puas dengan hasil yang didapatkan dari bangku kuliah. Dari sanalah mereka belajar mengutarakan ide serta gagasan mereka kepada orang lain, menuangkannya dalam bentuk tulisan, kemudian mempresentasikannya dihadapan orang lain. Bukan itu saja, banyaknya organisasi yang merupakan representasi dari PPMI sebagai organisasi induk yang ada dalam kehidupan bersosial Masisir menjadi sarana tersendiri bagi Masisir untuk mengembangkan diri. Betapa tidak, maraknya organisasi berakibat pada lahirnya beberapa media yang mengatasnamakan pers dan jurnalistik yang menjamur pula. Berbagai hal bisa ditangkap dan disimpulkan sebagai penyebab hal ini. "Ada yang bersifat semacam fastabiqul khairat antar media, ada juga yang memang itu dianggap sebagai sebuah kebutuhan, ada pula pers yang berfungsi sebagai media dakwah," begitu jelas Udo Yamin Efendi, seorang pengamat pers Masisir yang telah dikarunia satu orang putra ini. Apa boleh dikata, setiap organisasi yang ada rasanya kurang lengkap jika belum memiliki media yang menampung aspirasi warganya. Bagaimanapun, keberadaan suatu media di setiap organisasi merupakan suatu keniscayaan, apapun dalih dan tujuannya; wadah silaturrahmi, penyalur aspirasi, bahkan gengsi sekalipun.
Dunia pers dan jurnalistik dalam sosial Masisir akhir-akhir ini memang mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Setidaknya dalam segi kuantitas. Hal ini diamini oleh M. Sholahuddin, pengamat pers Masisir yang juga salah seorang koresponden Gatra di Kairo ini. "Secara kuantitas memang sangat bagus. Dalam arti, dengan melihat kuantitas kita melihat semangat. Semangat untuk berpers. Karena hampir setiap organisasi mempunyai media pers, bahkan ada yang punya lebih dari satu media," ungkapnya.
Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa segala sesuatu jika semakin bertambah banyak semakin murah harganya, maka hal ini tidak berlaku untuk Masisir. Kalau kita cermati, banyaknya media-media pers yang dimiliki Masisir tidak serta merta berakibat negatif. Bahkan sebaliknya, Masisir semakin memiliki 'daya jual' tinggi di mata masyarakat kita. Dengan kata lain, hal tersebut memiliki nilai positif bagi intellectual building Masisir. Salah satunya adalah semangat untuk saling berlomba. Dengan adanya banyak media, semakin banyak pula orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dus, prosentasi menulis yang dimiliki mahasiswa juga semakin bertambah. Senada dengan hal ini, Cecep Taufikurrahman, S.Ag, salah seorang tokoh Masisir yang juga ketua PCIM berhusnudzon mengenai akibat yang ditimbulkan dari banyaknya media yang dimiliki dan dikelola oleh Masisir ini. "Saya menilai positif, selama itu dikelola dengan baik. Karena itu mendorong mahasiswa untuk banyak menulis. Karena bagaimanapun, semakin banyak media, semakin banyak orang yang mengelola. Dan akhirnya semakin banyak pula orang yang mau menulis," ungkapnya.
Boleh saja Masisir berlomba-lomba untuk berpers ria dengan memunculkan beberapa media yang dikelola dan kemudian dipublikasikan kepada khalayak massa. Akan tetapi, apakah pers dan media yang dimunculkan itu sudah memenuhi syarat sebagai pers yang ideal? Rasanya Masisir harus lebih memperhatikan hal yang satu ini. Pasalnya, peningkatan kuantitas pers yang begitu menonjol tidak diikuti dengan kualitas. "Secara kuantitas, pers Masisir mengalami kemajuan. Akan tetapi secara kualitas, kita masih jalan di tempat," terang Cecep. Walaupun media-media yang ada bersifat untuk kalangan sendiri, untuk golongan tertentu, yang nota bene kebanyakan berprinsip "Media media kita, biarpun jelek kita juga yang punya," tetapi sisi idealisme suatu media harus tetap diperhatikan. Sebut saja beberapa media indie yang diterbitkan oleh beberapa organisasi kedaerahan, afiliatif, ataupun almamater tertentu. Tentunya akan terasa sangat janggal dimata pembaca jika media-media seperti ini hanya bertarget asal terbit, asal ada tulisan saja. Walaupun tujuannya baik, untuk mempererat silaturrahmi, misalnya. Lebih dari itu, maka yang perlu diperhatikan adalah bagaimana media-media yang ada tersebut bisa diterima dan dinilai baik oleh si pembaca. Bukan bagaimana media itu bisa terbit walaupun dengan terpaksa.
Munculnya media-media pers yang seperti bunglon dalam setiap organisasi (ada organisasi ada pers) itu barang kali berangkat dari sebuah stigma bahwa, untuk melahirkan pers yang dibutuhkan hanyalah printer dan alat foto kopi. Maka muncullah pers. Tentunya suatu hal yang sangat mudah, dan bisa dilakukan oleh setiap orang. Akan tetapi untuk menciptakan media yang betul-betul ideal atau paling tidak mendekati ideal rasanya kuantitas yang ada tidak sebanding dengan kualitas. "Sampai saat ini kita masih punya tugas besar tentunya untuk menyekolahkan insan-insan pers, termasuk juga persnya sendiri. Agar dengan kekuatan pers itu kita bisa menyumbang, karena kita disini membawa nama almamater al-Azhar", ungkap M. Sholahuddin ketika ditanya tentang idealisme pers Masisir. Senada dengan M. Sholahuddin, Nur Fuad juga berkomentar tentang hal ini. "Kalau dikatakan ideal, pers Masisir masih jauh dari ideal. Karena ideal adalah apa yang harus kita laksanakan, sedangkan kita ini hanya bisa melaksanakan apa yang kita bisa. Tetapi kita terus menuju ideal," ungkap presiden PPMI ini.
Untuk menciptakan pers dan media yang ideal memang tidak ada kriteria dan syarat-syarat tertentu. Tetapi ukuran kepantasan suatu pers untuk dijadikan konsumsi publik itulah yang harus dijadikan patokan. Jangan sampai media yang dimunculkan itu hanya membuat pembusukan karakter, membuang-buang tenaga dan waktu saja untuk membacanya. "Jangan sampai yang dibaca oleh orang itu sampah," istilah Udo. Lalu apakah media-media pers yang dimiliki Masisir saat ini telah mencapai target itu? Ataukah media-media yang terbit itu hanyalah calon-calon sampah yang akan menjadi alas panci di dapur?
READ MORE

Tertawalah...

Thursday, March 15, 2007

Si Argo

Suatu hari, si Argo, mahasiswa Indonesia yang keturunan Arab pulang dari kuliahan naik bis 80 coret. Dia duduk di samping orang Mesir yang duduk di sebelah jendela tepat. Ia tampak serius membaca koran ‘Al-Ahrom’ yang baru ia beli di toko depan kuliah. Di mahattah hay sadis, dekat kuliah banat, tiga orang mahasiswi Indonesia tampak memberhentikan bis yang ditumpangi si Argo ini. Ketiganya lalu masuk ke dalam bis. Jarak baberapa detik mereka telah berdiri di samping si Argo tepat. Argo masih terus membaca korannya
“Dasar orang Arab nggak tau diri, masa ada cewek berdiri di sampingnya nggak mau ngalah,” salah satu dari mereka berkata kesal.
“Iya nih, biasanya juga kalau ada cewek Mesir yang berdiri mereka langsung tanggap, nyuruh duduk,” ujar satunya.
Si Argo yang mendengar kata-kata kesal itu hanya melirik ke samping. Ia pura-pura tak mengerti apa yang mereka bincangkan. Ia masih membaca korannya.
“Eee…malah baca koran lagi. Senyum-senyum sendiri lagi..Dasar Arab gila!!!,” ucap cewek yang terakhir. Si Argo hanya senuyum-senyum kecil sendirian mendengar ucapan mereka. Seakan dia tersenyum karena membaca berita yang ia baca. Sampai akhirnya, bis yang mereka tumpangi telah sampai di kawasan Gami’, tempat si Argo tinggal. Dengan rasa tak berdosa si Argo berdiri ingin turun. Ketiga mahasiswi itu melihatnya dengan sinis. Si Argo masih tak peduli. Hingga ketika bis sudah berhenti, dan si Argo sudah berada di tengah pintu, sambil menoleh ke arah ketiga mahasiswi itu ia berkata; “Hai cewek….!!”
Ketiga mahasiswi itu lalu saling pandang. “Haaaaahhh…#@(**##$%” ucap mereka hampir bersamaan dengan nada keheranan bercampur malu.




READ MORE

Dinamika Masisir

Tuesday, March 13, 2007

Telepon dan Efektifitas Organisasi

Dunia Masisir selalu saja menimbulkan berbagai kesan bagi setiap kita, dinilai dari sudut pandang masing-masing. Dalam perjalanannya, Masisir sebagai cerminan dari masyarakat (miniatur) Indonesia telah berhasil mewarnai dinamika kemahasiswaan kita dengan “plus dan minus” nya. Adalah wajar, bila seseorang lebih cenderung mengomentari suatu hal dari segi minus (negatif) nya dari pada sisi positifnya. Karena suatu hal positif adalah hal yang sudah selaknya dilakukan oleh setiap orang, dan pada akhirnya hal tersebut menjadi kebiasaan. Maka orang tidak akan berkomentar terhadap kebiasaan itu. Akan tetapi jika kebiasaan itu tiba-tiba berbalik menjadi ketidakbiasaan atau bahkan menjelma dari prilaku positif menjadi negatif, maka sudah dapat dipastikan akan muncul berbagai komentar, omongan, bahkan kritikan. Ibarat seorang kiyai
orang akan melihat sebagai hal yang sangat wajar jika ia rajin pergi ke masjid, berjamaah, mengaji dan sebagainya. Lain halnya apabila ia melakukan hal yang tidak wajar baginya sebagai seorang kiyai, berjudi misalnya. Maka seluruh orang akan berkomentar tentang dia. “Anjing menggigit orang itu bukan berita. Orang menggigit anjing itulah berita”, istilah jurnalistiknya. Kembali ke Masisir, penulis merasa tertarik untuk mengomentari dinamika Masisir akhir-akhir ini.
Akhir-akhir ini Masisir disibukkan dengan seabreg rutinitas keorganisasian dan kepanitiaan pasca berakhirnya ujian termin pertama lalu. Keadaan ini berbarengan dengan jatuh temponya pembayaran tagihan telpon yang umumnya diadakan triwulanan oleh pihak Almasry lil-ettasalat. Setiap pengguna layanan ini harus membayar tagihannya jika sudah tiba waktunya. Seharusnya demikian. Namun bagaimana dengan Masisir yang juga termasuk sebagai pengguna jasa telepon? Penulis adalah salah satu dari tipe mahasiswa yang tidak betah mengurung diri di rumah, memilih untuk aktif di beberapa organisasi dan kepanitiaan. Sedikit banyak penulis mengerti dan merasakan perkembangan yang ada dalam dunia Masisir. Masalah telepon adalah salah satunya. Suatu saat penulis menghubungi berberapa orang teman melalui telepon untuk menghadiri rapat penting. Dari tiga nomer yang penulis hubungi, semuanya ternyata berbunyi sama; “Telepon yang anda hubungi sedang dinonaktifkan sementara. Silakan hubungi kembali beberapa saat lagi.” Jawaban yang sangat mengecewakan tentunya untuk hal sepenting itu. Saya lalu merenung, mencoba mencari-cari penyebab hal ini bisa terjadi. Keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi jika si pengguna telepon bertanggung jawab membayar tagihan. Lalu saya teringat suatu hal yang biasa kita sebut ‘ngeces’ dikalangan Masisir, alias menelepon lama-lama hingga berjam-jam. Saya maklum. Namanya saja anak muda. Dalam suatu komunitas seperti Masisir, ketertarikan terhadap lawan jenis itu pasti ada. Apalagi kita sadari, kwantitas mahasiswa dalam dunia Masisir lebih banyak dibanding mahasiswi. Dari sekitar lima ribu jumlah Masisir saat ini, jumlah itu didominasi oleh pihak mahasiswa. Jika dihitung hitung, perbandingan itu bisa kita perkirakan tiga atau empat banding satu. Nah, dari sisi inilah saya menumukan jawaban. Pernah ada satu ilustrasi, satu orang mahasiswi bisa ditelepon oleh tiga sampai lima orang mahasiswa dalam sehari. Memang, ilustrasi ini terdengar geli ditelinga kita. Dan entah ini benar atau salah, tapi saya pribadi cenderung mengatakan ini sangat mungkin terjadi. Masalah telepon kelihatannya adalah masalah sepele. Namun dipercaya atau tidak, masalah yang kelihatan sepele ini sebenarnya berakibat fatal. Bayangkan jika kita sedang dalam suatu organisasi atau kepanitiaan. Suatu saat kita inigin mengadakan acara yang melibatkan seluruh anggota organisasi tersebut untuk bisa hadir. Atau kita menyebarkan pamflet yang isinya (seperti biasa) mencantumkan nama contact person beserta nomer teleponnya. Ternyata nomor telepon yang digunakan sedang non aktif, atau marfu’ istilah familiarnya dikalangan kita. Bisa dibayangkan, betapa susahnya organisasi tersebut. Tentunya kita akan berfikir dua kali untuk menghubungi masa yang begitu banyak via ponsel, walaupun itu mungkin saja dilakukan. Dan kalaupun mungkin, berapa banyak biaya pulsa yang dikeluarkan hanya untuk menghadirkan masa tersebut? Lagi pula, apakah dengan cara seperti itu sudah efektif? Hal seperti ini sudah pernah terjadi dalam salah satu organisasi kekeluargaan Masisir beberapa waktu lalu, yang berbuntut kepada pembengkakan biaya telepon. Sebagai akibat dari contoh kedua, masa yang sebenarnya ingin mendaftar sebagai peserta acara yang ditawarkan panitia, bisa saja merasa keberatan jika harus menghubungi panitia via ponsel, karena nomer telepon yang digunakan marfu’. Akibatnya, panitia harus kehilangan calon peserta yang ingin mendaftar, sedang waktu pendaftaran telah habis. Kalau sudah begitu siapa yang rugi?
Sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah jika tanggungan telepon itu bisa dilunasi tepat pada temponya. Tetapi hingga saat ini, di saat berbagai kegiatan non kampus sedang marak-maraknya diselenggarakan sebagai tuntutan oraganisasi, nomer telepon di rumah-rumah Masisir masih banyak yang berpredikat ‘marfu`’.Yang menjadi pertanyaan adalah, di mana tanggung jawab para pengguna telepon itu setelah pemakaian? Kalaupun ia bersedia bertanggung jawab untuk membayarnya sesuai lamanya pembicaraan (biasanya dengan cara mencatat), maka yang perlu diperhatikan adalah kepentingan orang lain selain dirinya ketika ia berlama-lama menggunakan telepon. Bisa saja ketika itu orang lain juga sedang dihubungi pihak lain karena kepentingan yang mendadak. Yang lebih perlu digaris bawahi adalah akibat yang ditimbulkan dari kebiasaan buruk ini (ngeces, hingga berakibat pada dicabutnya pemakaian telepon karena tagihan yang belum dibayar) bagi kefektifan dan keaktifan sebuah organisasi atau kepanitiaan. Dengan non aktifnya telepon baik dari pihak yang menghubungi atau yang dihubungi, sudah pasti berakibat pada efektifitas suatu acara. Walaupun akibat itu tidak sampai pada taraf gagalnya acara, minimal akan berakibat pada keterlambatan dari jadwal yang sudah ditetapkan. Dengan kata lain, acara akan terbengkalai gara-gara hal yang dianggap sepele tersebut.
Pada kesimpulannya, urgensitas suatu pembicaraan lah yang seharusnya menjadi takaran panjang pendeknya suatu pembicaraan melalui telepon, bukan murahnya biaya yang dikeluarkan permenitnya. Jika hal pertama itu yang diperhatikan, kemungkinan besar hal-hal diatas tidak akan terjadi. Akan tetapi, jika hal kedua yang menjadi ukuran, maka hasilnya adalah seperti yang sudah kita ketahui, biaya telepon membengkak, tak terbayar, lalu dinonaktifkan, dan kemudian berbuntut pada efektifitas sebuah organisasi. Bukankah perahu yang besar itu bisa tenggelam gara-gara lubang sebesar biji jagung?


READ MORE

Dongeng Kehidupan II

Titip Rindu Buat Laila
Cerpen Agus Khudlori*

Ia tersenyum, manis sekali. Lesung pipi itu, wajah anggun itu, sorot mata itu, senyuman itu...Bagaikan malam, ia adalah rembulannya. Bagaikan taman, ia adalah bunga terindah yang tumbuh di dalamnya. Ia berjalan, menapaki jalanan kotor berdebu. Pakaian dan kerudung panjang membungkus sekujur tubuhnya. Putih, seputih hatinya. Suci, sesuci jiwanya. Entah, aku merasa mengenalnya. Tidak cepat, tidak juga lambat ia melangkah. Semakin jauh langkahnya, semakin memburamkan pandanganku. Bayangannya lalu menghilang dari hadapanku. Aku masih berdiri kaku diatas tempatku berpijak. Ingin kuikuti langkahnya, tapi kakiku terasa terbujur kaku.
Sore kemarin aku melihatnya. Semakin lama aku mengingatnya, semakin erat bayangan dirinya melekat pada memoriku. Semakin jauh ia pergi, semakin dekat ia kurasakan. Tak kuhiraukan seruan adzan yang menderu-deru menyayat kalbu, juga bisikan kalam Tuhan yang dilantunkan di samping tempatku berbaring mesra dengan buaian hayalan di dalam selimut tebal. “Nikmat Tuhanmu mana lagi yang engkau dustakan?” suara Rohim mengakhiri bacaan panjangnya tak mampu menyentuh relung batinku. Hanya bagai angin lalu. Aku terjaga, tapi terdiam bagai patung. Aku terbujur lepas, tapi raga bagai terpasung. Mengapa diriku? Ahh, bayangan itu...
***

Siapakah dirinya?
Aku berjalan menapaki keheningan. Sudah seminggu berlalu sejak aku melihatnya. Sore itu ia melintasi jalan ini. Kutelusuri jejak langkahnya yang kini mungkin telah berganti dengan jejak langkah keledai dan anjing-anjing liar. Aku berharap menemukannya. Atau paling tidak, ia akan kembali melintasi jalan ini yang dilaluinya waktu itu. Aku bingung, ujung jalan ini ternyata bercabang. Kuteruskan saja langkahku. Jalanan ini telah sampai pada ujungnya. Ahh, aku tak menemukannya.
Seorang pengemis perempuan menggendong anaknya. Wajahnya kusam, pakaiannya lusuh. Di ujung jalan, di bawah tiang listrik, tangannya menengadah pertanda meminta belas kasihan di saat aku melintas di depannya. Aku menghampirinya. “Barang kali kita bernasib sama, wahai perempuan. Engkau belum menemukan rezekimu, dan aku belum menemukan orang yang kucari,” gumamku lirih di depannya. “eihh...? enta ulta li eihh??” perempuan itu bertanya tak mengerti. Aku hanya tersenyum. Kuulurkan tiga lembar uang yang ku ambil dari balik kantong celana kepadanya. “Robbuna yusahhil, robbuna yunajjihak...”. Aku berlalu dari hadapannya. Satu, dua, lima, hingga belasan langkah kutinggalkan dirinya. Langkahku terhenti. Kubalikkan badan, lalu berlari menuju ke arahnya. Ia ketakutan, menyembunyikan wajahnya dariku, menutupnya dengan anak yang digendongnya. Seakan tak rela jika uang yang telah kuberika akan kuminta kembali. “Aku hanya ingin bertanya kepadamu, wahai perempuan.” Ia mulai berani membuka wajahnya. “Apa engkau melihat seorang gadis Indonesia berpakaian hijau muda, berkerudung putih panjang, melintasi jalan ini seminggu yang lalu?” tanyaku. Ia hanya menggelengkan kepala tanda tak tahu.
Ohh, gila. Betapa bodohnya aku. Ya, aku memang telah gila. Bagaimana mungkin aku bertanya kepadanya tentang orang yang melintas di depannya seminggu yang lalu? Berapa banyak orang yang melintasi jalan ini dalam seminggu? Ia tak mungkin mengingatnya. “Barangkali engkau juga menganggapku gila, perempuan,” ucapku sambil berlalu.
***
Malam sebentar lagi menghadirkan pagi. Mataku belum juga terpejam. Hari-hari yang kulalui selalu menghadirkan bayangan perempuan itu. Wajahku menengadah ke langit-langit kamar. Ada wajahnya di balik pijaran cahaya neon. Aku membenamkan mataku. Senyuman itu tampak jelas dalam pekatnya kegelapan. Aku dihantui bayang-bayang, aku dihinggapi kegilaan. Aku terbayang... TIDAAKK...
Burung-burung berkicau bersautan, angin sepoi-sepoi menyeruakkan bunyi dedaunan, sinar mentari pagi masuk menerobos bilik-bilik jendela kamar. Suara mesin-mesin kendaraan di seberang jalan terdengar begitu sombong menertawakanku. Dalam kebisingan, aku merasa bagai di rimba tak bertuan. Sepi dan hampa. Aku begitu muak dengan keadaanku sendiri. Mengurung diri dalam kamar, menghabiskan berbatang-batang ‘Cleopatra’ dengan selingan secangkir teh kental agak pahit, sesekali menengok isi dapur. Ahh, mengapa kebebasanku harus terkekang oleh penjara yang seolah kubuat olehku sendiri? Bagai seorang pendekar yang turun gunung, aku keluar dari kamar yang lebih tepat disebut sarang. Putung rokok yang berserakan, pakaian-pakaian lusuh yang berjubel di dalam lemari, kertas-kertas bekas yang berceceran di atas meja, kutinggalkan begitu saja. Aku tak mengerti harus kemana. Kuikuti saja langkahku.
Ohh kupu-kupu, mengapa engkau menampakkan diri di depanku, di saat diriku sedang gila? keindahan dan keelokanmu mengingatkanku akan dirinya. Dirinya yang pergi. Juga yang tak kutemui. Eloknya terbangmu seindah langkahnya ketika berjalan. Tertunduk dan malu. Lebar sayapmu adalah kerudung panjang yang membungkus tubuhnya. Bunga-bunga wangi yang kau hinggapi adalah tempat-tempat suci yang selalu ia singgahi. Lembut suaramu adalah ayat-ayat suci yang selalu terucap dari mulutnya. Engkau lembut, seperti dirinya. Engkau elok, seperti dirinya.
Aku terdiam di pinggir trotoar. Mencari cela di antara rentetan mobil-mobil yang melaju bagai kilat. Mungkin sang sopir sedang kalap.
Di seberang jalan itu...Ohh dia. Benarkah dia?
Aku tertegun. Duhai kupu-kupu. Apakah dirimu sekarang menjelma menjadi dirinya? mungkinkah dia bidadari kiriman Tuhan yang dikirimkan untuk mengodaku? Tidak, dia manusia biasa sepertiku. Ya aku yakin, dia adalah gadis yang kulihat waktu itu. Aku harus menemuinya. Persis seperti.....
“Laila....” teriakku keras. Aku masih berada di tegah-tengah aspal ketika sebuah bis membawanya pergi. “Aaaahhhh..” aku berteriak bagai orang gila. Aku kecewa kehilangan dirinya lagi. Lesu kepalaku tertunduk.
Ahh, mengapa kusebut nama itu? Tidak. Aku belum mengenalnya. Aku baru tersadar.
“Kenapa engkau anak muda?,” seorang bapak tua bertanya heran melihat tingkahku.
“Engkau mengenal gadis yang berdiri di sini tadi?”
“Dia bukan Laila. Namanya Nisa.”
Aku heran.
“Bagaimana engkau bisa tahu?”
“Tentu. Dia adalah calon istri dari muridku, orang Indonesia sepertimu.”
“Apa? dia akan menikah?”
“Ya. Rusydi telah melamarnya. Minggu depan mereka akan menikah. Nisa gadis yang baik, pandai, dan santun. Tadi ia mengundangku.”
Aku hanya bisu mendengar kata-katanya. Lidahku terasa kelu. Aku masih ragu, inikah episode baru yang dimainkan oleh Sang Maha Kuasa untukku?
Laila...sudah lama engkau meninggalkanku. Tiga tahun yang lalu. Di saat masa-masa bahagia kita, ketika aku melamarmu. Seperti mereka sekarang. Bedanya engkau pergi mendahuluiku. Semula kukira dirinya adalah jelmaan dirimu, yang menggantikanmu untukku. Apa kabarmu kini di sana? Sudah lama tak kusapa dirimu. Ini, kuhadiahkan tiga kali Fatihah untukmu. Semoga engkau berkenan menerimanya. Engkau hidup di dalam hatiku. Izinkan aku menitipkan rinduku untukmu, kepada orang yang berhati bidadari seperti dirimu.- Tamat -

(Rumah rakyat Madjapahit, Kairo, 7 Maret 2007)
Untuk seorang bidadari yang kukagumi kehadirannya. Walaupun tak kumiliki, tetaplah engkau suci.

*Anak Rantau Poelaoe Biroe.



READ MORE

Essai

Menanggapi Dana Renovasi Wisma
Oleh: Agus Khudlori

Pembahasan masalah dana atau uang, selalu saja menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Apalagi jika masalah yang dibahas itu bersangkutan dengan maslahat orang banyak. Menanggapi apa yang diberitakan oleh Informatika edisi 117 lalu tentang renovasi Wisma Nusantara, penulis melihat ada hal yang sebenarnya menarik untuk dibicarakan. Hal ini tidak lebih karena yang sedang diangkat adalah masalah dana (uang).
Penulis mengamati ada beberapa hal yang memang belum disentuh oleh Informatika ketika menyinggung masalah dana yang akhir-akhir ini kian santer dibincangkan, yang rencananya akan dialokasikan untuk renovasi Wisma.
Baiklah, saya akan memulai dengan menyebut satu persatu hal yang sempat disinggung Informatika edisi lalu, diikuti dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan sebagai konsekwensi dari hal-hal tersebut.

Pertama; rencana pelaksanaan. Disebutkan, keinginan untuk renovasi itu telah muncul sejak Agustus tahun lalu, dan ditindak lanjuti dengan pengajuan proposal ke DPR-RI di Jakarta yang akhirnya proposal itu disetujui dengan rencana pengucuran dana. Maka dibentuklah tim yang akan menindak lanjuti sekaligus melaksanakan kerja di lapangan nantinya. Tetapi hingga sekarang rencana tersebut masih belum tersalaksana dengan alasan dana yang dijanjikan belum juga cair.
Kedua; dana yang disetujui. Dari proposal yang diajukan yang semula berjumlah 500 juta Rupiah, ternyata yang disetujui oleh DPR adalah sebesar 2 milyar Rupiah. Jumlah ini tentunya bukanlah jumlah yang sedikit, melihat keadaan ekonomi di Negara kita saat ini.
Ketiga; proses turunnya dana. Yang penulis tangkap dari pemberitaan Informatika lalu adalah, sebenarnya prosedur pencairan dana dari proposal yang diajukan sudah sampai pada tahap akhir. Ini dibuktikan dengan usaha DPR-RI sebagai pihak yang dituju untuk mentransfer dana yang disetujui melalui bank. Walaupun akhirnya dana tersebut belum juga cair hingga sekarang.
Keempat; kesalahan teknis. Dalam hal ini adalah nomer rekening yang dituju untuk pencairan dana tersebut. Disebutkan, dana yang sebenarnya sudah berada pada tahapan akhir proses pencairan itu terpaksa harus ditangguhkan pengirimannya dan dikembalikan, dengan alasan nomer rekening yang diberikan oleh pihak KBRI salah.
Setidaknya empat hal tersebut di ataslah yang dapat penulis tangkap dari pemberitaan informatika kemarin. Keempat hal tersebut di atas, sebagaimana kita ketahui, semuanya berhubungan dengan masalah dana. Maka dari sinilah penulis mencoba menyentuh sisi yang belum disentuh oleh Informatika berkenaan dengan masalah dana tersebut.
Saya akan menyebutkan berbagai kemungkinan-kemungkinan sebagaimana yang sempat saya singgung di atas berdasarkan keempat hal di atas. Penulis berharap tulisan ini tidak dipahami sebagai sebuah upaya untuk menjatuhkan pihak tertentu, atau dipahami sebagai sebuah prasangka buruk. Lebih dari itu, saya berharap tulisan ini dapat menjadi titik mula bagi siapapun kita untuk lebih cermat memahami keadaan.
Pertama; jika disebutkan bahwa keinginan untuk merenovasi bentuk fisik Wisma Nusantara itu telah ada sejak tahun lalu dan hal itu telah disepakati dengan turunnya dana, maka penulis melihat sangat mungkin terjadi adanya unsur kesengajaan dalam hal ini. Apalagi kalau kita perhatikan, proses yang ditempuh telah sampai pada tahap akhir (pengiriman melalui bank). Kalau pun alasan kesalahan teknis yang berupa kesalahan nomer rekening yang dikirimkan itu benar, maka dengan sangat mudahnya pihak yang bersangkutan akan mengirimkan nomer baru yang telah teruji kebenarannya. Atau minimal akan memperbaharui nomer yang dianggap salah tersebut. Dengan begitu, tidak akan ada lagi masalah. Akan tetapi, kemungkinan kesalahan rekening itu menurut hemat saya sangat tipis. Mengapa demikian? KBRI bukanlah Taman Kanak-Kanak, yang di dalamnya anak usia balita dididik untuk belajar menulis dan berhitung. KBRI adalah tempatnya para duta bangsa berdasi yang bekerja dengan tuntutan profesionalisme tinggi. Jika benar terdapat kesalahan nomer rekening yang dikirimkan oleh pihak KBRI sebagai wasilah untuk pencairan dana tersebut, maka yang menjadi pertanyaan adalah, di mana letak profesionalisme kerja KBRI sebagai duta bangsa yang mengayomi warga Negaranya? Bukankah urusan pengiriman nomer rekening adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan?
Kedua; dana yang dijanjikan untuk dialokasikan adalah 2 milyar Rupiah. Sebagaimana yang saya katakan, jumlah ini bukanlah jumlah yang sedikit. Kembali saya sebutkan, unsur kesengajaan sangat mungkin terjadi dalam penundaan (jika tak mau disebut gagal) pengiriman dana itu. Dengan ditundanya dana yang akan dicairkan dengan alasan kesalahan rekening, bukan kah bunga yang dihasilkan dari uang tersebut akan terus berjalan? Jika bunga yang didapat dari uang sebesar 2 milyar tersebut adalah 3 persen perbulannya (rata-rata tiap bank) maka bisa kita hitung hasilnya. Tidak kurang dari 60 juta uang yang dihasilkan dari bunga tersebut. Itu dalam sebulan. Sejauh yang penulis tahu, pengiriman dana melalui rekening yang dianggap salah tersebut sudah dilakukan sejak tanggal 22 Desember lalu. Hingga sekarang sudah terhitung hampir tiga bulan. Jika dihitung-hitung, berapa jumlah bunga yang didapat dari tiga bulan tersebut? Hasilnya adalah sebuah rumah mewah dapat terbeli dari hasil bunga itu.
Ketiga; kemungkinan adanya kong kalikong antara pihak yang ditugasi untuk mengurusi masalah dana tersebut dengan pihak bank. Melihat besarnya jumlah uang yang akan dikirimkan, kemungkinan terjadi pemanfaatan kesempatan sangat terbuka. Bukankah antara pihak bank dan pihak yang ditugasi itu sama-sama manusia? Selagi kesempatan itu ada dan pihak bank merasa mampu untuk melakukannya, mengapa tidak dilakukan? Toh itu adalah bentuk dari simbiosis mutualisme (sama-sama bekerja, sama-sama menguntungkan) antara kedua belah pihak.
Itulah beberapa hal yang menurut hemat saya sangat mungkin terjadi berhubungan dengan tarik ulur turunnya dana yang dijanjikan akan dialokasikan untuk renovasi Wisma Nusantara. Pada kesimpulannya, penulis melihat ketidak pastian kapan dana ini akan benar-benar cair, sangat mungkin terjadi karena unsur kesengajaan yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu yang terlibat. Bukankah kejahatan itu terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena adanya kesempatan?

READ MORE