Pages

SUARA JALANAN

Friday, June 21, 2013

Aku suara hati
Kau mata belati
Aku menghunus pena
Kau menghujam panah

Teriak lagi
Tercekik lagi
Berontak lagi
Terpasung lagi

Aku cacing tanah
Kau raksasa durjana
Aku debu jalanan
Kau angin topan

Berdiri lagi
Terlindas lagi
Menggeliat lagi
Terinjak lagi

Mati.


(Lihat SUARA JALANAN)
READ MORE

PANGGUNG SANDIWARA

Wednesday, June 19, 2013

 


Di atas panggung sandiwara kehidupan, kau dihadapkan pada pilihan peran hitam dan putih. Perankanlan pilihanmu, apapun itu, sepenuh hatimu. Namun kala pertunjukan usai, ingatlah bahwa kau hanya bersandiwara. 
READ MORE

KONTEMPLASI

Monday, June 17, 2013

Lolong serigala di tengah terik
Burung hantu di musim paceklik
Kuucap salam untukmu wahai perih
Semoga tak abadimu abadi

Aku adalah Muhammad kala ia menggigil di samping Khadijah
Mulutnya menggumam gemetar
Selimuti aku, selimuti aku.
READ MORE

(T) AKUT?

Monday, May 13, 2013


Jika Izrail menjemputku sebelum jemariku-jemarimu menggenggam cita
Lapangkanlah jalanku dengan samudera maafmu
Mercusuar di pulau harapan jangan kaupadamkan

Sebab aku menunggumu di Taman Eden
Dengan larik-larik sajak yang kurangkai sedari lahat
Kuhamparkan sebagai karpet merah
Untuk menyambut kedatanganmu

Aku hanya merasa lambungku sudah terlampau ringkih
Hingga bubur yang lembutpun membuatnya merintih. 
READ MORE

CATATAN PERJALANAN

Inilah mengapa aku menyukai perjalanan: aku di dalam gerbong Matarmaja. Destinasi Jakarta. Dari jendela kaca, kota-kota yang dilintasi kereta ini tampak seperti pemandangan dalam akuarium. Meski kau pernah melintasinya di perjalanan darat selain kereta, aku berani menjamin, perjalan kereta membuat pandanganmu terhadap kota-kota itu jadi tak biasa.

Gerbongmu berjalan di titian malam. Kau adalah makhluk asing yang baru menginjak belahan bumi lain. Apa-apa yang tertangkap pandangmu tampak indah: pendar lampu-lampu jalanan, gemerlap reklame yang berjajar, gugusan sawah yang siap disemai, hamparan air sungai yang khusuk, yang permukaannya mengilap karena pantulan purnama di atasnya.

Di sekitarmu pengasong mondar-mandir menjajakan dagangannya. Atau pengamen yang menjual suara paraunya. Tapi kau tak peduli, sebab kau telah telah hanyut dalam duniamu sendiri di antara lagu-lagu kesayangan yang kauputar di lubang telinga dan paragraf buku-buku yang kaueja satu-satu. 

Aku lalu ingat Diary of Motorcycle-nya Ernesto 'Che' Guevara, Awlad Haratina-nya Nagib Mahfoudz, atau Bilangan Fu-nya si jalang Ayu Utami. Kautahu, Ernesto menghasilkan catatannya itu dari sebuah perjalanan darat menggunakan motor besar dari kampung halamannya di Argentina menuju Kuba, Nagib melahirkan inspirasi bagi karya-karya besarnya dari persinggahan dari kafe ke kafe. (Di negerinya, yang disebut kafe adalah kedai kopi dan sisha, bukan diskotek atau tempat karaoke). Lalu si jalang? Ah, sejak awal dia sudah mencantumkan perjalanan kereta dalam karyanya: Larung.     

Jika kautanyakan padaku kenapa kugemari sebuah perjalanan, maka inilah jawabku: itu adalah percik api yang memantik jiwamu. Memagut  pikirmu dengan ispirasi-inspirasi. Ya, kau bisa memungut inspirasi dari apa saja yang kaupandang di sepanjang lorong perjalananmu.

Kau bisa merasakan jiwamu tersulut semangat hidup, pengharapan dan cita. Lebih dari itu, perjalanan adalah cerobong yang menerbangkan luka-biru-lebammu di langit, dan menggantinya dengan hal-hal baru yang menyenangkan. 

Seperti inilah hal baru yang kutangkap itu: keretaku mendekati Caruban, Madiun. Aku terbesit tanya saat para pengasong di gerbong ini tiba-tiba mengemasi dagangannya dengan plastik hitam besar atau taplak batik, lalu menyelundupkannya di bawah kolong kursi penumpang. Sejenak kemudian aku mendapat jawaban bahwa mereka sedang ingin menyamar sebagai penumpang.

Bagaimana itu terjadi? Kautahu, sejak keluar instruksi direktur PT KAI yang melarang berjualan di kereta ekonomi beberapa waktu lalu, mereka tak bisa lagi seenaknya mondar-mandir di dalam gerbong. Untuk mengelabuhi petugas yang sewaktu-waktu bisa menjadi tukang pukul bayaran, penyamaran itu terpaksa dilakukan. Apalagi, kereta sudah mendekati daerah operasi (Daops) VII Madiun. 

Benar saja, sampai di Stasiun Madiun, tak satupun pengasong yang beraksi di dalam gerbong. Mereka mendadak menjadi siput yang bersembunyi di balik cangkangnya: meminjam kursi penumpang sambil  memelas, lalu duduk manis di kursi itu tanpa dosa.

Sebagian mereka bahkan ada yang rela tidur di bawah kolong kursi, dan meminjam tas penumpang untuk menutupi wujud mereka. "Ya nasib, ya nasib. Beginilah yang harus kami lakukan demi mencari sesuap nasi."

Begitulah, perjalanan bagiku adalah guru yang mengajariku ilmu-ilmu baru kehidupan.



READ MORE

ADVERTORIAL

Friday, December 28, 2012

Galakkan Pembangunan

BLITAR – Kemajuan di bidang pembangunan menjadi fokus Pemkab Blitar untuk mewujudkan visi Kabupaten Blitar yang sejahtera, religius dan berkeadilan. Selama 2012, banyak kegiatan pembangunan yang dicapai Pemkab Blitar di bawah kendali Bupati Herry Noegroho dan wakilnya Rijanto, khususnya di bidang pembangunan daerah, pengembangan infrastruktur, pengembangan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.

Di sisa waktu periode kedua pemerintahannya, Bupati Herry Noegroho dan Wabup Rijanto bertekad terus meningkatkan kegiatan pembangunan tersebut, demi meningkatkan kesejahteraan warga. Pemindahan ibukota kabupaten ke Kanigoro, pembangunan lapangan terbang di Ponggok, pembangunan Stadion Nglegok, pembangunan jalur transportasi yang dapat menunjang ekonomi strategis, di antaranya Jalur Lintas Selatan (JLS), merupakan komitmen dan bukti keseriusan pemkab dalam mamajukan Kabupaten Blitar.

Memimpin daerah dengan luas wilayah mencapai 1.588,79 km persegi yang terbagi menjadi 22 kecamatan, 248 desa/kelurahan, dan dihuni 1,2 juta penduduk, bukanlah hal yang mudah. Apalagi bupati dipercaya memimpin Kabupaten Blitar selama dua periode. Namun itu tak menyurutkan tekad Bupati Herry Noegroho dan Wabup Rijanto untuk terus memberikan yang terbaik bagi warganya.

Untuk terus menigkatkan mutu pelayanan serta pembangunan, pemkab juga terbuka menerima saran, masukan, bahkan kritik dari masyarakat. Sebab, itu membuat tekad bupati untuk mensejahterakan masyarakat semakin kuat. “Saran, masukan, dan kritikan adalah wujud perhatian serta kepedulian masyarakat terhadap keberlangsungan pembangunan Kabupaten Blitar,” ungkap orang nomor satu di Kabupaten Blitar ini. (c3)


READ MORE

PROYEK

49 Rekanan Didenda, 12 Putus Kontrak

BLITAR – Sebanyak 49 proyek pekerjaan umum di Kabupaten Blitar didenda. Pasalnya, para rekanan proyek tersebut tidak mampu menyelesaikan pekerjaan mereka sampai batas waktu sesuai surat perjanjian kerja (SPK). Total, nilai kontrak 49 proyek tersebut mencapai Rp 2,6 miliar. Selain itu, 12 proyek lainnya diputus kontrak dengan alasan yang sama.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Blitar Harpiyanto mengungkapkan, semua proyek yang dikenakan denda tersebut merupakan proyek penunjukan langsung (PL) dan rata-rata proyek pembangunan jalan. “Mereka kami denda karena sesuai dengan kontrak, tidak bisa menyelesaikannya tepat waktu. Nah, untuk menyelesaikannya mereka butuh tambahan waktu. Tambahan waktu itu yang kami denda,” ungkapnya.

Sesuai kontrak, lanjut Harpi, para rekanan proyek tersebut dikenakan denda satu permil (satu perseribu) sehari dari nilai kontrak. Sementara, 12 proyek yang diputus kontrak, sebagai sanksinya hanya akan dibayar sampai pekerjaan terakhir yang digarap. “Pekerjaan di lapangan sampai berapa, itu yang kami bayar. Karena tahun ini mereka tidak bisa melaksanakan pekerjaan yang sudah dikontrak, maka tahun depan mereka di-blacklist,” imbuh pria yang akrab disapa Harpi.

Meski demikian, proyek yang dikenakan denda bukan hanya proyek-proyek kelas teri dengan nilai kontrak kecil yang digarap melalui penunjukan langsung (PL). Tapi ada juga proyek dengan nilai kontrak besar hingga mencapai Rp 10 miliar yang ditunjuk melalui proses lelang. “Ada yang nilainya Rp 9 miliar lebih. Rekanannya kami denda Rp 9 juta sehari, sesuai kontrak seperseribu sehari. Ada juga yang nilainya Rp 900 juta, dendanya Rp 900 ribu sehari,” jelas dia.

Proyek senilai Rp 9 miliar tersebut merupakan proyek pengerjaan jalan, sementara yang senilai Rp 900 juta adalah proyek pengerjaan pengairan. Baik yang didenda maupun diputus kontrak, batas waktu SPK proyek-proyek tersebut bervariasi. Ada yang habis November, awal Desember, dan lain-lain. Harpi menjelaskan, rata-rata alasan keterlambatan pengerjaan proyek adalah kurangnya SDM, alat-alat, dan bahan baku proyek. “Tukang yang terampil terbatas, sementara proyek banyak. Juga bahan baku seperti pasir dan batu, alat bantu seperti wales, dan lain-lain. Bahkan ada rekanan yang mengambil alat-alat dari Malang dan Tulungagung. Itu saja juga belum cukup. Tetapi tetap kami denda, itu sebagai pelajaran bagi mereka (rekanan). Tahun-tahun sebelumnya belum pernah ada denda seperti ini,” pungkas Harpi. (c3)




READ MORE