Pages

TEOLOGI

Tuesday, July 31, 2007


KANAN-KIRI OKE

Perbedaan tidak dapat diartikan sebagai perpecahan. Kalaupun ada perpecahan yang terjadi karena latar belakang perbedaan, itu bukan berarti bahwa perbedaan adalah perpecahan dan konflik itu sendiri atau sebagai akibat dari adanya perbedaan, melainkan hal itu adalah salah satu konsekuensi dari wujud manusia sebagai umat yang “syu’uban wa qabaila”. Perbedaan emosi, latar belakang, sering kali menyulut terjadinya konflik dalam sebuah tatanan kemasyarakatan. Indonesia adalah contoh nyata dari adanya perbedaan itu. Keragaman budaya dan latar belakang kedaerahan yang terbingkai dalam wadah kebhinekaan menjadikan perbedaan begitu mencolok terlihat. Akan tetapi, segala perbedaan yang ada tersebut bukanlah alasan untuk bercerai berai, saling memusuhi, saling anti pati dan saling benci. Kesadaran sebagai bagian dari bangsa dan negara yang satu haruslah menjadi pusaka yang disakralkan demi menjaga utuhnya kesatuan bangsa. Pun jika memang konflik terpaksa terjadi dalam sebuah tatanan kemasyarakatan, bukan lantas tidak bisa dihentikan. Pencarian solusi yang tepat dengan jalan dialog adalah jalan terbaik yang bisa ditempuh.
Berbicara dalam konteks Islam, istilah Kanan dan Kiri menjadi dua Istilah yang sangat populer di kalangan umat Islam Indonesia saat ini. Dua kata yang ringan untuk diucapkan, tetapi mengandung muatan makna yang sangat mendalam. Kanan dan Kiri dipakai untuk mengistilahkan dua kelompok yang ditengarai saling berseberangan dalam hal ideologi keagaaman. Perbedaan ini akan menjadi hal yang sangat tabu jika dipahami tanpa ada landasan kesadaran tingkat tinggi untuk bersatu padu memajukan agama yang menyeru kepada perdamaian ini (Islam). Perbedaan yang ada haruslah membawa misi “rahmah”, bukan malah memperuncing perpecahan yang akhirnya berujung kepada malapetaka. Adanya perbedaan harus disadari sebagai proses penyempurnaan sebuah hasil, harus disadari bahwa dengan adanya perbedaan suatu kehidupan menjadi lengkap. Kanan dan Kiri akan menjadi amunisi yang ampuh bagi keutuhan Islam manakala disikapi sebagai suatu hal yang wajar dalam rumus perbedaan. Ibarat anggota tubuh, Kanan dan Kiri adalah tangannya, sedangkan Islam sendiri adalah tubuhnya. Apa jadinya jika suatu tubuh kehilangan salah satu tangan? Begitu juga dengan Islam Indonesia. Pastinya baik antara kelompok Kanan dan kelompok Kiri bercita-cita untuk menciptakan kegemilangan Islam, walaupun dengan jalan masing-masing. Keduanya berkerja berdasarkan fungsi masing-masing. Yang kanan identik dengan bergerak, dan yang kiri identik dengan berfikir. Akan tetapi bukan lantas berarti yang bergerak tidak bisa berfikir, dan yang berfikir tidak bisa bergerak, yang akhirnya hanya akan menimbulkan kecemburuan dan berujung kepada suatu permusuhan antara satu dengan yang lain. Islam Kanan dan Islam kiri, walaupun masing-masing mempunyai kecenderungan untuk berbeda pandangan dan pendapat, akan tetapi hendaknya antara keduanya sama-sama mempunyai kesadaran akan tujuan yang sama (an-natijah al-musytarakah). Keduanya mempunyai satu titik temu. Tujuan apalagi kalau bukan untuk menciptakan kegemilangan Islam? Kesadaran akan hal inilah yang seharusnya terus dilestarikan, yang tentunya harus disertai dengan semangat bertoleransi terhadap adanya perbedaan. Jika hal itu yang menjadi ukuran, maka tidak ada salahnya bagi umat Islam Indonesia untuk mengatakan “Kanan-Kiri Oke!!.”
READ MORE

Sekedar Pembuka

Thursday, July 5, 2007


PREDIKSI YANG “KEBLINGER ”

Akal manusia terbatas, seterbatas pandangan matanya yang kian jauh kian buram memandang. Perkiraan-perkiraan yang didasarkan pada pertimbangan nalar sering kali meleset jauh dari tujuan dan target, walaupun pada dasarnya hasil yang akan dicapai sudah matang diperhitungkan sebelumnya. Apalagi jika pertimbangan itu ternyata belum sepenuhnya matang diperhitungkan, dan harus dieksekusi dalam bentuk kerja nyata dalam waktu yang relatif singkat.
Ramadhan tahun lalu, tiga lembaga ternama di kalangan Masisir; PPMI, WIHDAH, dan BWAKM sepakat untuk membentuk panitia pengadaan kalender yang merupakan representasi dari ketiga lembaga tersebut. Sebuah target yang mulanya diproyeksikan untuk menjadi salah satu sumber pasokan dana. Alih-alih ingin meraih keuntungan dari proyek tersebut, tiga lembaga tersebut malah menuai hasil “buntung”. Di akhir masa kepengurusan setelah LPJ, panitia gabungan itu terpaksa menelan pil pahit kerugian. Tak tanggung-tangung, 75 persen dari jumlah modal semula sekitar LE 11.000!!! Akibatnya, ketiga lembaga ini harus bahu membahu menanggung beban kerugian ini dengan uang yang seharusnya bisa digunakan untuk mensuplai kegiatan-kegiatan keorganisasian Masisir yang lebih bersifat urgen. Bukan malah untuk menutupi kerugian suatu proyek dan program kerja yang sebenarnya sama sekali tidak masuk dalam kategori “kebutuhan primer”. Berbagai prediksi positif dari proyek kalender ini seputar kalkulasi keuntungan terpatahkan oleh kenyataan yang ada sekarang, setelah kalender itu benar-benar tercetak dan terdistribusikan. Dengan kata lain, harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Benar-benar sebuah prediksi yang “keblinger!!! Sebuah kerugian mungkin sudah merupakan resiko dalam berbisinis. Tapi kerugian yang sebesar ini tentunya sama sekali tidak masuk dalam prediksi dan perhitungan orang mana pun, bukan?
Dapat dipahami jika ketiga lembaga tersebut (PPMI, WIHDAH, BWAKM) kemudian sepakat untuk tetap mengeksekusi penerbitan kalender ini walaupun dengan konsep yang belum terlalu matang itu. Setiap organisasi menginginkan masanya dikenang mempunyai nilai lebih dibanding dengan masa dan periode sebelumnya. Ibarat sebuah kerajaan pada dahulu kala, ia ingin memahat bukti kejayaannya dalam sebuah prasasti yang kelak akan terus dikenang sepangjang sejarah, sebagai bukti bahwa ia pernah eksis. Begitulah kira-kira yang diinginkan ketiga lembaga tersebut jika ditinjau dari salah satu target yang direncanakan dari proyek kalender ini; sebagai cindera mata dan kenang-kenangan untuk para tamu Indonesia yang berkunjung ke Mesir. Sayangnya, lagi-lagi perkiraan ini meleset jauh dari sasaran. Berapa jumlah tamu yang datang pada bulan-bulan awal tahun ini? Agaknya ini luput dari prediksi ketiga lembaga tersebut. Apakah memungkinkan apabila kalender ini dijual sebagai cendramata ketika tahun sudah beranjak pada bulan pertengahan seperti sekarang? Jawabannya tentu tidak, kecuali jika anda punya opini lain untuk membagikannya secara cuma-cuma. Dan itu berarti, anda telah mempertaruhkan kerugian besar dari dana yang besar pula. Seperti sekarang ini!!!



READ MORE

Aku Kecewa, Sobat!!!

Friday, June 22, 2007



Aku tertawa, begitu liciknya engkau. Dengan dalih kesucian dirimu, kau buat seakan-akan akulah manusia paling hina diantara orang-orang suci disekitarmu. Bahh...!!! Apa itu dirimu. Apa pula kata-kata manis yang kau ucapkan berpuluh-puluh menit bahkan berjam-jam setiap harinya atas nama cinta itu? Apa pula pertemuan-pertemuanmu tersembunyi yang sering kau lakukan dengan kekasih hatimu itu? Aku yakin kau pun tahu, itu sama sekali tidak dibenarkan oleh agama. Ya, karena kau berbicara agama semalam bukan?
Bahh…!!! Bukankah itu sudah cukup sebagai bukti bahwa dirimu pun tak lebih baik dariku, jika engkau berbicara agama? Bedanya adalah, nafsu dan bangkai yang kau sembunyikan itu kau bungkus rapi dengan nama cinta!!!! Ya, nafsu berbaju cinta. Sedangkan aku, harus kuakui aku begitu berterus terang membongkar kebusukanku di depanmu dan di depan orang-orang yang kau anggap suci. Sayang, bangkai yang kau sembunyikan itu terlanjur kucium. Rasanya aku lebih beruntung darimu, karena aku bukan orang munafik sepertimu. Aku bukan pengecut sepertimu!!! Cobalah berkaca, siapa yang lebih busuk antara kita, aku atau dirimu?
Tentu kau tidak akan berkata tidak bukan, bahwa cinta didasari nafsu? Begitu juga cintamu kepada orang yang kau cintai itu!!! Kalaulah cintamu itu sedikutpun bukan karena nafsu, mengapa tidak kau cintai orang yang sama baik bahkan lebih baik darinya, tetapi fisiknya tidak lebih baik? Mengapa harus dia yang kau cintai? Bahkan, kadang kau mengharapkan yang lebih baik!.
Aku berani bertaruh denganmu untuk ucapanku ini. Aku menantangmu untuk hal ini!!!



"Untuk seorang sahabat berinisial A yang kuanggap telah salah menggunakan caranya untuk menegurku. Aku bukan anak kecil sobat, yang bisa kau takut-takuti dengan sedikit gertakan yang keluar dari mulutmu!!! Ma'af, jika kugunakan caraku ini untuk menegurmu. Jika engkau merasa tak suka, maka seperti itulah yang kurasakan ketika engkau menegurku dengan caramu."

Tengah malam, 23/06/2007




READ MORE

Garuda

Monday, April 16, 2007


Garuda
Ganti nama jadi emprit
Adalah dulu, kau naungi kami dengan sayapmu
Sayap keadilan, kesejahteraan
Serta perdamaian

Dulu kau nampak perkasa
Sayapmu mengembang
Cakarmu menerkam
Gigimu geram
Matamu pun tajam

Di dadamu tersimpan
Lima lambang tanda persatuan
Dalam naunganmu kami tenang
Menjadi rakyatmu kami bangga
Mengabdi untukmu kami rela
Garuda
Kini kau tinggal nama
Tubuhmu ringkih
Sayap-sayapmu patah
Tatapan matamu suram

Benih-benih keserakahan gerogoti jiwamu
Kerakusan kotori jiwamu
Ketidakadilan hancurkan rakyatmu
Mana tubuhmu yang dulu kekar
Mana kakimu yang dulu tegar

Mana keadilan yang dulu kau janjikan
Mana kesejahteraan yang dulu kau tawarkan
Mana perdamaian yang dulu kami rasakan
Mana, mana dan mana?
"Ngapusi lee..." kata nenek kita

Garuda
Masih pantaskah kau disebut Garuda
Garuda
Ganti nama jadi emprit


READ MORE

Sorot

Monday, March 19, 2007

Semangat, dedikasi, serta kecenderungan intelektual Masisir perlu diacungi jempol. Sebagai komunitas kaum terpelajar yang kehadirannya dinantikan ditengah bangsa yang sedang 'sakit' dengan diagnosa penyakit yang complex, Masisir berusaha menjadi salah satu obat penyembuh salah satu penyakit yang diderita. Munculnya kelompok-kelompok kajian, forum-forum diskusi yang menjamur, study club-study club yang mengatasnamakan pengembangan intelektual yang akhir-akhir ini mencuat ke permukaan, adalah indikasi-indikasi yang menunjukkan ke arah itu. Adanya isu buruk yang beredar di tanah air, bahwasanya mahasiswa alumni universitas al-Azhar tidak bisa menulis bagus, menjadi salah satu sebab terkuat yang mendorong semangat ini. Ditambah lagi sistem perkuliahan al-Azhar yang jarang memberlakukan tugas menulis bagi mahasiswanya, semakin membuat Masisir merasa bagaikan singa yang akan mati kelaparan di padang rimba. Ya, Mesir adalah negeri gudang ilmu, gudang peradaban dunia. Mengapa harus ada cap buruk yang ditujukan kepada para alumni universitas tertua dunia ini? Inilah yang berusaha ditutupi oleh Masisir
Atas dasar itu semua, maka tidak berlebihan jika Masisir menjadikan forum-forum seperti di atas sebagai tempat pelarian bagi mereka yang selalu merasa haus akan segala macam ilmu dan disiplinnya. Forum-forum seperti itu menjadi pelampiasan Masisir yang tidak puas dengan hasil yang didapatkan dari bangku kuliah. Dari sanalah mereka belajar mengutarakan ide serta gagasan mereka kepada orang lain, menuangkannya dalam bentuk tulisan, kemudian mempresentasikannya dihadapan orang lain. Bukan itu saja, banyaknya organisasi yang merupakan representasi dari PPMI sebagai organisasi induk yang ada dalam kehidupan bersosial Masisir menjadi sarana tersendiri bagi Masisir untuk mengembangkan diri. Betapa tidak, maraknya organisasi berakibat pada lahirnya beberapa media yang mengatasnamakan pers dan jurnalistik yang menjamur pula. Berbagai hal bisa ditangkap dan disimpulkan sebagai penyebab hal ini. "Ada yang bersifat semacam fastabiqul khairat antar media, ada juga yang memang itu dianggap sebagai sebuah kebutuhan, ada pula pers yang berfungsi sebagai media dakwah," begitu jelas Udo Yamin Efendi, seorang pengamat pers Masisir yang telah dikarunia satu orang putra ini. Apa boleh dikata, setiap organisasi yang ada rasanya kurang lengkap jika belum memiliki media yang menampung aspirasi warganya. Bagaimanapun, keberadaan suatu media di setiap organisasi merupakan suatu keniscayaan, apapun dalih dan tujuannya; wadah silaturrahmi, penyalur aspirasi, bahkan gengsi sekalipun.
Dunia pers dan jurnalistik dalam sosial Masisir akhir-akhir ini memang mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Setidaknya dalam segi kuantitas. Hal ini diamini oleh M. Sholahuddin, pengamat pers Masisir yang juga salah seorang koresponden Gatra di Kairo ini. "Secara kuantitas memang sangat bagus. Dalam arti, dengan melihat kuantitas kita melihat semangat. Semangat untuk berpers. Karena hampir setiap organisasi mempunyai media pers, bahkan ada yang punya lebih dari satu media," ungkapnya.
Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa segala sesuatu jika semakin bertambah banyak semakin murah harganya, maka hal ini tidak berlaku untuk Masisir. Kalau kita cermati, banyaknya media-media pers yang dimiliki Masisir tidak serta merta berakibat negatif. Bahkan sebaliknya, Masisir semakin memiliki 'daya jual' tinggi di mata masyarakat kita. Dengan kata lain, hal tersebut memiliki nilai positif bagi intellectual building Masisir. Salah satunya adalah semangat untuk saling berlomba. Dengan adanya banyak media, semakin banyak pula orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dus, prosentasi menulis yang dimiliki mahasiswa juga semakin bertambah. Senada dengan hal ini, Cecep Taufikurrahman, S.Ag, salah seorang tokoh Masisir yang juga ketua PCIM berhusnudzon mengenai akibat yang ditimbulkan dari banyaknya media yang dimiliki dan dikelola oleh Masisir ini. "Saya menilai positif, selama itu dikelola dengan baik. Karena itu mendorong mahasiswa untuk banyak menulis. Karena bagaimanapun, semakin banyak media, semakin banyak orang yang mengelola. Dan akhirnya semakin banyak pula orang yang mau menulis," ungkapnya.
Boleh saja Masisir berlomba-lomba untuk berpers ria dengan memunculkan beberapa media yang dikelola dan kemudian dipublikasikan kepada khalayak massa. Akan tetapi, apakah pers dan media yang dimunculkan itu sudah memenuhi syarat sebagai pers yang ideal? Rasanya Masisir harus lebih memperhatikan hal yang satu ini. Pasalnya, peningkatan kuantitas pers yang begitu menonjol tidak diikuti dengan kualitas. "Secara kuantitas, pers Masisir mengalami kemajuan. Akan tetapi secara kualitas, kita masih jalan di tempat," terang Cecep. Walaupun media-media yang ada bersifat untuk kalangan sendiri, untuk golongan tertentu, yang nota bene kebanyakan berprinsip "Media media kita, biarpun jelek kita juga yang punya," tetapi sisi idealisme suatu media harus tetap diperhatikan. Sebut saja beberapa media indie yang diterbitkan oleh beberapa organisasi kedaerahan, afiliatif, ataupun almamater tertentu. Tentunya akan terasa sangat janggal dimata pembaca jika media-media seperti ini hanya bertarget asal terbit, asal ada tulisan saja. Walaupun tujuannya baik, untuk mempererat silaturrahmi, misalnya. Lebih dari itu, maka yang perlu diperhatikan adalah bagaimana media-media yang ada tersebut bisa diterima dan dinilai baik oleh si pembaca. Bukan bagaimana media itu bisa terbit walaupun dengan terpaksa.
Munculnya media-media pers yang seperti bunglon dalam setiap organisasi (ada organisasi ada pers) itu barang kali berangkat dari sebuah stigma bahwa, untuk melahirkan pers yang dibutuhkan hanyalah printer dan alat foto kopi. Maka muncullah pers. Tentunya suatu hal yang sangat mudah, dan bisa dilakukan oleh setiap orang. Akan tetapi untuk menciptakan media yang betul-betul ideal atau paling tidak mendekati ideal rasanya kuantitas yang ada tidak sebanding dengan kualitas. "Sampai saat ini kita masih punya tugas besar tentunya untuk menyekolahkan insan-insan pers, termasuk juga persnya sendiri. Agar dengan kekuatan pers itu kita bisa menyumbang, karena kita disini membawa nama almamater al-Azhar", ungkap M. Sholahuddin ketika ditanya tentang idealisme pers Masisir. Senada dengan M. Sholahuddin, Nur Fuad juga berkomentar tentang hal ini. "Kalau dikatakan ideal, pers Masisir masih jauh dari ideal. Karena ideal adalah apa yang harus kita laksanakan, sedangkan kita ini hanya bisa melaksanakan apa yang kita bisa. Tetapi kita terus menuju ideal," ungkap presiden PPMI ini.
Untuk menciptakan pers dan media yang ideal memang tidak ada kriteria dan syarat-syarat tertentu. Tetapi ukuran kepantasan suatu pers untuk dijadikan konsumsi publik itulah yang harus dijadikan patokan. Jangan sampai media yang dimunculkan itu hanya membuat pembusukan karakter, membuang-buang tenaga dan waktu saja untuk membacanya. "Jangan sampai yang dibaca oleh orang itu sampah," istilah Udo. Lalu apakah media-media pers yang dimiliki Masisir saat ini telah mencapai target itu? Ataukah media-media yang terbit itu hanyalah calon-calon sampah yang akan menjadi alas panci di dapur?
READ MORE

Tertawalah...

Thursday, March 15, 2007

Si Argo

Suatu hari, si Argo, mahasiswa Indonesia yang keturunan Arab pulang dari kuliahan naik bis 80 coret. Dia duduk di samping orang Mesir yang duduk di sebelah jendela tepat. Ia tampak serius membaca koran ‘Al-Ahrom’ yang baru ia beli di toko depan kuliah. Di mahattah hay sadis, dekat kuliah banat, tiga orang mahasiswi Indonesia tampak memberhentikan bis yang ditumpangi si Argo ini. Ketiganya lalu masuk ke dalam bis. Jarak baberapa detik mereka telah berdiri di samping si Argo tepat. Argo masih terus membaca korannya
“Dasar orang Arab nggak tau diri, masa ada cewek berdiri di sampingnya nggak mau ngalah,” salah satu dari mereka berkata kesal.
“Iya nih, biasanya juga kalau ada cewek Mesir yang berdiri mereka langsung tanggap, nyuruh duduk,” ujar satunya.
Si Argo yang mendengar kata-kata kesal itu hanya melirik ke samping. Ia pura-pura tak mengerti apa yang mereka bincangkan. Ia masih membaca korannya.
“Eee…malah baca koran lagi. Senyum-senyum sendiri lagi..Dasar Arab gila!!!,” ucap cewek yang terakhir. Si Argo hanya senuyum-senyum kecil sendirian mendengar ucapan mereka. Seakan dia tersenyum karena membaca berita yang ia baca. Sampai akhirnya, bis yang mereka tumpangi telah sampai di kawasan Gami’, tempat si Argo tinggal. Dengan rasa tak berdosa si Argo berdiri ingin turun. Ketiga mahasiswi itu melihatnya dengan sinis. Si Argo masih tak peduli. Hingga ketika bis sudah berhenti, dan si Argo sudah berada di tengah pintu, sambil menoleh ke arah ketiga mahasiswi itu ia berkata; “Hai cewek….!!”
Ketiga mahasiswi itu lalu saling pandang. “Haaaaahhh…#@(**##$%” ucap mereka hampir bersamaan dengan nada keheranan bercampur malu.




READ MORE

Dinamika Masisir

Tuesday, March 13, 2007

Telepon dan Efektifitas Organisasi

Dunia Masisir selalu saja menimbulkan berbagai kesan bagi setiap kita, dinilai dari sudut pandang masing-masing. Dalam perjalanannya, Masisir sebagai cerminan dari masyarakat (miniatur) Indonesia telah berhasil mewarnai dinamika kemahasiswaan kita dengan “plus dan minus” nya. Adalah wajar, bila seseorang lebih cenderung mengomentari suatu hal dari segi minus (negatif) nya dari pada sisi positifnya. Karena suatu hal positif adalah hal yang sudah selaknya dilakukan oleh setiap orang, dan pada akhirnya hal tersebut menjadi kebiasaan. Maka orang tidak akan berkomentar terhadap kebiasaan itu. Akan tetapi jika kebiasaan itu tiba-tiba berbalik menjadi ketidakbiasaan atau bahkan menjelma dari prilaku positif menjadi negatif, maka sudah dapat dipastikan akan muncul berbagai komentar, omongan, bahkan kritikan. Ibarat seorang kiyai
orang akan melihat sebagai hal yang sangat wajar jika ia rajin pergi ke masjid, berjamaah, mengaji dan sebagainya. Lain halnya apabila ia melakukan hal yang tidak wajar baginya sebagai seorang kiyai, berjudi misalnya. Maka seluruh orang akan berkomentar tentang dia. “Anjing menggigit orang itu bukan berita. Orang menggigit anjing itulah berita”, istilah jurnalistiknya. Kembali ke Masisir, penulis merasa tertarik untuk mengomentari dinamika Masisir akhir-akhir ini.
Akhir-akhir ini Masisir disibukkan dengan seabreg rutinitas keorganisasian dan kepanitiaan pasca berakhirnya ujian termin pertama lalu. Keadaan ini berbarengan dengan jatuh temponya pembayaran tagihan telpon yang umumnya diadakan triwulanan oleh pihak Almasry lil-ettasalat. Setiap pengguna layanan ini harus membayar tagihannya jika sudah tiba waktunya. Seharusnya demikian. Namun bagaimana dengan Masisir yang juga termasuk sebagai pengguna jasa telepon? Penulis adalah salah satu dari tipe mahasiswa yang tidak betah mengurung diri di rumah, memilih untuk aktif di beberapa organisasi dan kepanitiaan. Sedikit banyak penulis mengerti dan merasakan perkembangan yang ada dalam dunia Masisir. Masalah telepon adalah salah satunya. Suatu saat penulis menghubungi berberapa orang teman melalui telepon untuk menghadiri rapat penting. Dari tiga nomer yang penulis hubungi, semuanya ternyata berbunyi sama; “Telepon yang anda hubungi sedang dinonaktifkan sementara. Silakan hubungi kembali beberapa saat lagi.” Jawaban yang sangat mengecewakan tentunya untuk hal sepenting itu. Saya lalu merenung, mencoba mencari-cari penyebab hal ini bisa terjadi. Keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi jika si pengguna telepon bertanggung jawab membayar tagihan. Lalu saya teringat suatu hal yang biasa kita sebut ‘ngeces’ dikalangan Masisir, alias menelepon lama-lama hingga berjam-jam. Saya maklum. Namanya saja anak muda. Dalam suatu komunitas seperti Masisir, ketertarikan terhadap lawan jenis itu pasti ada. Apalagi kita sadari, kwantitas mahasiswa dalam dunia Masisir lebih banyak dibanding mahasiswi. Dari sekitar lima ribu jumlah Masisir saat ini, jumlah itu didominasi oleh pihak mahasiswa. Jika dihitung hitung, perbandingan itu bisa kita perkirakan tiga atau empat banding satu. Nah, dari sisi inilah saya menumukan jawaban. Pernah ada satu ilustrasi, satu orang mahasiswi bisa ditelepon oleh tiga sampai lima orang mahasiswa dalam sehari. Memang, ilustrasi ini terdengar geli ditelinga kita. Dan entah ini benar atau salah, tapi saya pribadi cenderung mengatakan ini sangat mungkin terjadi. Masalah telepon kelihatannya adalah masalah sepele. Namun dipercaya atau tidak, masalah yang kelihatan sepele ini sebenarnya berakibat fatal. Bayangkan jika kita sedang dalam suatu organisasi atau kepanitiaan. Suatu saat kita inigin mengadakan acara yang melibatkan seluruh anggota organisasi tersebut untuk bisa hadir. Atau kita menyebarkan pamflet yang isinya (seperti biasa) mencantumkan nama contact person beserta nomer teleponnya. Ternyata nomor telepon yang digunakan sedang non aktif, atau marfu’ istilah familiarnya dikalangan kita. Bisa dibayangkan, betapa susahnya organisasi tersebut. Tentunya kita akan berfikir dua kali untuk menghubungi masa yang begitu banyak via ponsel, walaupun itu mungkin saja dilakukan. Dan kalaupun mungkin, berapa banyak biaya pulsa yang dikeluarkan hanya untuk menghadirkan masa tersebut? Lagi pula, apakah dengan cara seperti itu sudah efektif? Hal seperti ini sudah pernah terjadi dalam salah satu organisasi kekeluargaan Masisir beberapa waktu lalu, yang berbuntut kepada pembengkakan biaya telepon. Sebagai akibat dari contoh kedua, masa yang sebenarnya ingin mendaftar sebagai peserta acara yang ditawarkan panitia, bisa saja merasa keberatan jika harus menghubungi panitia via ponsel, karena nomer telepon yang digunakan marfu’. Akibatnya, panitia harus kehilangan calon peserta yang ingin mendaftar, sedang waktu pendaftaran telah habis. Kalau sudah begitu siapa yang rugi?
Sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah jika tanggungan telepon itu bisa dilunasi tepat pada temponya. Tetapi hingga saat ini, di saat berbagai kegiatan non kampus sedang marak-maraknya diselenggarakan sebagai tuntutan oraganisasi, nomer telepon di rumah-rumah Masisir masih banyak yang berpredikat ‘marfu`’.Yang menjadi pertanyaan adalah, di mana tanggung jawab para pengguna telepon itu setelah pemakaian? Kalaupun ia bersedia bertanggung jawab untuk membayarnya sesuai lamanya pembicaraan (biasanya dengan cara mencatat), maka yang perlu diperhatikan adalah kepentingan orang lain selain dirinya ketika ia berlama-lama menggunakan telepon. Bisa saja ketika itu orang lain juga sedang dihubungi pihak lain karena kepentingan yang mendadak. Yang lebih perlu digaris bawahi adalah akibat yang ditimbulkan dari kebiasaan buruk ini (ngeces, hingga berakibat pada dicabutnya pemakaian telepon karena tagihan yang belum dibayar) bagi kefektifan dan keaktifan sebuah organisasi atau kepanitiaan. Dengan non aktifnya telepon baik dari pihak yang menghubungi atau yang dihubungi, sudah pasti berakibat pada efektifitas suatu acara. Walaupun akibat itu tidak sampai pada taraf gagalnya acara, minimal akan berakibat pada keterlambatan dari jadwal yang sudah ditetapkan. Dengan kata lain, acara akan terbengkalai gara-gara hal yang dianggap sepele tersebut.
Pada kesimpulannya, urgensitas suatu pembicaraan lah yang seharusnya menjadi takaran panjang pendeknya suatu pembicaraan melalui telepon, bukan murahnya biaya yang dikeluarkan permenitnya. Jika hal pertama itu yang diperhatikan, kemungkinan besar hal-hal diatas tidak akan terjadi. Akan tetapi, jika hal kedua yang menjadi ukuran, maka hasilnya adalah seperti yang sudah kita ketahui, biaya telepon membengkak, tak terbayar, lalu dinonaktifkan, dan kemudian berbuntut pada efektifitas sebuah organisasi. Bukankah perahu yang besar itu bisa tenggelam gara-gara lubang sebesar biji jagung?


READ MORE