Pages

SEPENGGAL TOLERANSI DARI MUSALA MINI

Saturday, July 20, 2013

Saya sedang menjadi musafir saat tarawih pertama digelar Selasa (10/7) malam lalu. Tibalah saya di sebuah musala, belakang pusat perbelanjaan di Cibubur, Jakarta. Tepatnya di sebuah gang padat pemukiman, nyaris tak tampak kecuali oleh mata yang awas. Namanya Jami’ul Muslimin. Keterangan yang saya dapat dari warga, musala mini ini rupanya masuk teritorial Bekasi, Jawa Barat. Seperti lazimnya tarawih pertama, jamaah membeludak hingga ke teras musala, bahkan sejak azan isya’ belum berkumandang. Laki, perempuan, tua, muda, anak-anak.

Saya merasa akan menjadi pusat perhatian puluhan jamaah lainnya, karena hanya saya dan Edo, teman saya, yang mengenakan stelan jeans dan kaos untuk tarawih malam itu. Kami tak peduli. Toh kami beribadah bukan untuk mereka. Lagipula, kami harus mengejar sisa waktu magrib yang tinggal beberapa menit.  

Azan isya’ dikumandangkan. Seorang berjanggut dengan baju koko, peci putih, dan celana di atas mata kaki tampil sebagai muazin. Sembari menunggu iqamat, jamaah masyuk dengan zikir masing-masing. Tak ada puja-puji atau shalawat Nabi dikumandangkan dengan suara keras. Melihat ciri ini, saya menduga jamaah musala ini tentulah berkultur Muhammadiyah. Bukan NU yang kental dengan tradisi pelafalan verbal dalam beribadah. (Hegemoni kultur beragama di negara ini memaksa saya memandang perilaku ibadah sebuah masyarakat dari dua kutub identitas: Muhammadiyah atau NU. Kalau bukan Muhammadiyah, ya NU). Malam itu, kami akan salat tarawih delapan rakaat, sebagaimana tradisi warga Muhammadiyah.  

Saya semakin yakin dengan dugaan itu, manakala sang imam juga tak memimpin jamaah untuk mengeraskan suara saat zikir usai shalat. Sampai ketika si bilal, lelaki dengan celana di atas mata kaki dan berjanggut itu, memberi pengumuman kepada jamaah, “Malam ini kita akan salat tarawih duapuluh rakaat. Bagi jamaah yang rakaatnya berbeda, bisa diatur bagaimana baiknya,” katanya. Seketika, penilaian saya terhadap identitas jamaah musala itu runtuh. Termasuk pada si bilal yang juga muazin itu.

Saya tak bisa lagi menduga bahwa identitas jamaah yang sedang saya “tumpangi” adalah Muhammadiyah. Sebab, duapuluh rakaat bukanlah identitas Muhammadiyah. Ia dianut NU. Sebagaimana maklum, jumlah rakaat merupakan hal paling prinsip dalam identitas kultur masyarakat Islam Indonesia selama ini. Apakah NU atau Muhammadiyah. Namun, menduga bahwa identitas mereka adalah NU juga tidak tepat. Sebab, diam dalam berzikir bukanlah identitas NU.

Sedangkan pada si bilal, dalam pikiran saya (mungkin juga orang lain, seperti kawan saya Edo) telah terbangun semacam stigma, bahwa janggut, celana di atas mata kaki, baju koko dan peci selalu berasosiasi pada Islam ekslusif yang anti perbedaan, anti toleransi. “Salah satu cara mengidentifikasi ideologi beragama seseorang adalah dengan memperhatikan pakaiannya saat beribadah,” katanya. Tapi nyatanya, justru si bilal yang membuka ruang toleransi bagi jamaah yang berbeda pandangan soal jumlah rakaat.

Sebetulnya masih ada satu lagi yang membuat kami merasa harus terjebak di antara dua kutub ideologi itu. Yaitu tradisi berceramah di tengah-tengah tarawih. Sungguh, itu sama sekali bukan tradisi NU. Tradisi itu dianut Muhammadiyah. Namun jika melihat isi ceramah sang imam, anda tentu juga akan menduga bahwa dia berpaham NU. Dalam ceramahnya, sang imam memberi tahu amalan-amalan tertentu dalam rangka menyambut Ramadan. Salah satunya adalah menyelupkan makanan ke dalam garam yang sudah dibacakan doa tertentu. “Ini seperti yang diajarkan para ulama saleh kita terdahulu,” jelasnya. 

Rupanya kami harus kecewa, tetapi juga sekaligus bangga. Kecewa, karena dugaan awal kami mengenai identitas jamaah musala itu salah. Bangga, karena ternyata ketegangan ideologis dan klaim kebenaran sektarian pada masing-masing NU dan Muhammadiyah sebagaimana banyak terjadi, terutama di akar rumput, tak berlaku di sini. Yang menarik adalah, bagaimana musala kecil ini mengakulturasi dua ideologi yang selama ini dianggap mewakili kutub berbeda dan kerap bersitegang: zikir ala Muhammadiyah, tarawih ala NU, dan ceramah ala keduanya.

Maka insyaflah saya, bahwa perbedaan perilaku ibadah tak perlu diseret ke dalam golongan tertentu. Tak perlu memutilasi umat ke dalam sekat-sekat perselisihan, apalagi hanya soal jumlah rakaat tarawih. Musala kecil ini adalah contoh bagaimana toleransi menjadi solusi dalam menyikapi perbedaan. Sebagaimana namanya, ia adalah rumah terbuka bagi umat Islam mana saja, golongan apa saja. Jami’ul Muslimin. Penghimpun umat Islam. 
READ MORE

MATI

Tuesday, July 2, 2013


Adakah yang lebih menyedihkan dari matinya inspirasi
Tangan tak lagi bisa menari
Mata tak lagi bisa membaca
Kepala tak lagi bisa menalar

Sungguh
Aku benci kematian ini
Meski sesaat
Meski tak abadi

READ MORE

SUARA JALANAN

Friday, June 21, 2013

Aku suara hati
Kau mata belati
Aku menghunus pena
Kau menghujam panah

Teriak lagi
Tercekik lagi
Berontak lagi
Terpasung lagi

Aku cacing tanah
Kau raksasa durjana
Aku debu jalanan
Kau angin topan

Berdiri lagi
Terlindas lagi
Menggeliat lagi
Terinjak lagi

Mati.


(Lihat SUARA JALANAN)
READ MORE

PANGGUNG SANDIWARA

Wednesday, June 19, 2013

 


Di atas panggung sandiwara kehidupan, kau dihadapkan pada pilihan peran hitam dan putih. Perankanlan pilihanmu, apapun itu, sepenuh hatimu. Namun kala pertunjukan usai, ingatlah bahwa kau hanya bersandiwara. 
READ MORE

KONTEMPLASI

Monday, June 17, 2013

Lolong serigala di tengah terik
Burung hantu di musim paceklik
Kuucap salam untukmu wahai perih
Semoga tak abadimu abadi

Aku adalah Muhammad kala ia menggigil di samping Khadijah
Mulutnya menggumam gemetar
Selimuti aku, selimuti aku.
READ MORE

(T) AKUT?

Monday, May 13, 2013


Jika Izrail menjemputku sebelum jemariku-jemarimu menggenggam cita
Lapangkanlah jalanku dengan samudera maafmu
Mercusuar di pulau harapan jangan kaupadamkan

Sebab aku menunggumu di Taman Eden
Dengan larik-larik sajak yang kurangkai sedari lahat
Kuhamparkan sebagai karpet merah
Untuk menyambut kedatanganmu

Aku hanya merasa lambungku sudah terlampau ringkih
Hingga bubur yang lembutpun membuatnya merintih. 
READ MORE

CATATAN PERJALANAN

Inilah mengapa aku menyukai perjalanan: aku di dalam gerbong Matarmaja. Destinasi Jakarta. Dari jendela kaca, kota-kota yang dilintasi kereta ini tampak seperti pemandangan dalam akuarium. Meski kau pernah melintasinya di perjalanan darat selain kereta, aku berani menjamin, perjalan kereta membuat pandanganmu terhadap kota-kota itu jadi tak biasa.

Gerbongmu berjalan di titian malam. Kau adalah makhluk asing yang baru menginjak belahan bumi lain. Apa-apa yang tertangkap pandangmu tampak indah: pendar lampu-lampu jalanan, gemerlap reklame yang berjajar, gugusan sawah yang siap disemai, hamparan air sungai yang khusuk, yang permukaannya mengilap karena pantulan purnama di atasnya.

Di sekitarmu pengasong mondar-mandir menjajakan dagangannya. Atau pengamen yang menjual suara paraunya. Tapi kau tak peduli, sebab kau telah telah hanyut dalam duniamu sendiri di antara lagu-lagu kesayangan yang kauputar di lubang telinga dan paragraf buku-buku yang kaueja satu-satu. 

Aku lalu ingat Diary of Motorcycle-nya Ernesto 'Che' Guevara, Awlad Haratina-nya Nagib Mahfoudz, atau Bilangan Fu-nya si jalang Ayu Utami. Kautahu, Ernesto menghasilkan catatannya itu dari sebuah perjalanan darat menggunakan motor besar dari kampung halamannya di Argentina menuju Kuba, Nagib melahirkan inspirasi bagi karya-karya besarnya dari persinggahan dari kafe ke kafe. (Di negerinya, yang disebut kafe adalah kedai kopi dan sisha, bukan diskotek atau tempat karaoke). Lalu si jalang? Ah, sejak awal dia sudah mencantumkan perjalanan kereta dalam karyanya: Larung.     

Jika kautanyakan padaku kenapa kugemari sebuah perjalanan, maka inilah jawabku: itu adalah percik api yang memantik jiwamu. Memagut  pikirmu dengan ispirasi-inspirasi. Ya, kau bisa memungut inspirasi dari apa saja yang kaupandang di sepanjang lorong perjalananmu.

Kau bisa merasakan jiwamu tersulut semangat hidup, pengharapan dan cita. Lebih dari itu, perjalanan adalah cerobong yang menerbangkan luka-biru-lebammu di langit, dan menggantinya dengan hal-hal baru yang menyenangkan. 

Seperti inilah hal baru yang kutangkap itu: keretaku mendekati Caruban, Madiun. Aku terbesit tanya saat para pengasong di gerbong ini tiba-tiba mengemasi dagangannya dengan plastik hitam besar atau taplak batik, lalu menyelundupkannya di bawah kolong kursi penumpang. Sejenak kemudian aku mendapat jawaban bahwa mereka sedang ingin menyamar sebagai penumpang.

Bagaimana itu terjadi? Kautahu, sejak keluar instruksi direktur PT KAI yang melarang berjualan di kereta ekonomi beberapa waktu lalu, mereka tak bisa lagi seenaknya mondar-mandir di dalam gerbong. Untuk mengelabuhi petugas yang sewaktu-waktu bisa menjadi tukang pukul bayaran, penyamaran itu terpaksa dilakukan. Apalagi, kereta sudah mendekati daerah operasi (Daops) VII Madiun. 

Benar saja, sampai di Stasiun Madiun, tak satupun pengasong yang beraksi di dalam gerbong. Mereka mendadak menjadi siput yang bersembunyi di balik cangkangnya: meminjam kursi penumpang sambil  memelas, lalu duduk manis di kursi itu tanpa dosa.

Sebagian mereka bahkan ada yang rela tidur di bawah kolong kursi, dan meminjam tas penumpang untuk menutupi wujud mereka. "Ya nasib, ya nasib. Beginilah yang harus kami lakukan demi mencari sesuap nasi."

Begitulah, perjalanan bagiku adalah guru yang mengajariku ilmu-ilmu baru kehidupan.



READ MORE