Pages

PENDIDIKAN

Friday, December 21, 2012

BLITAR – Kondisi SDN Tapakrejo 03, Desa Tapakrejo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar sangat memprihatinkan. Sekolah negeri tersebut rusak parah di beberapa ruang kelas, bahkan hingga ruang guru. Mulai tembok retak, lantai ambles, hingga yang paling parah atap jebol.

Pantauan Jawa Pos Radar Blitar di lapangan, setidaknya ada tiga ruang kelas yang rusak parah. Yaitu ruang kelas 4, di mana lantainya terkelupas hingga sekitar 1,5 x 1 meter dan ambles berbentuk seperti lubang besar di dalam kelas. Selain itu, dinding ruang tersebut juga retak di beberapa titik, seperti dinding tempat papan tulis, dinding belakang, dan lain-lain.

Demikian juga ruang kelas 5. Selain retak di beberapa bagian dinding, plafon ruang kelas ini juga jebol cukup lebar dan rawan jatuh. Fasilitas-fasilitas sekolah seperti lemari, meja, kursi dan lain-lain rusak cukup parah. Sedangkan ruang kelas kelas 6 paling parah. Bukan hanya dindingnya retak, atap dan plafonnya juga jebol sangat parah. Usuk atap tersebut juga tampak sudah sangat lapuk dan nyaris jatuh. Sehingga, ruang kelas ini sama sekali tidak bisa difungsikan karena sangat membahayakan siswa. Sedangkan dua ruang kelas lainnya, yaitu kelas 4 dan 5, hanya bisa dipakai separo. “Kami berusaha memakai ruangan yang bisa dipakai seadanya,” ungkap Endarwati, salah seorang guru.

Menurut dia, ruang guru juga tak kalah parah. Selain retak di beberapa titik dinding, ruang tersebut juga bocor saat hujan dan pernah menghancurkan data-data sekolah. “Pernah pada saat hujan, buku-buku penting di kantor ini jadi tempe,” ceritanya.

Winarto, guru lainnya mengungkapkan, kerusakan sekolah tersebut sebenarnya sudah mulai sejak dua atau tiga tahun lalu. Namun karena hingga saat ini tidak ada perbaikan, kerusakan tersbut bertambah parah. “Apalagi diperparah dengan pohon tumbang yang menimpa kelas 5 dan 6 sekitar Maret lalu,” ungkapnya.

Dia menyatakan, pihak sekolah sebenarnya sudah melaporkan perihal kerusakan sekolah dengan 72 murid itu kepada UPTD setempat. Namun hingga saat ini belum juga ada tindakan. “Waktunya itu kepala sekolah kami sendiri yang ke UPTD. Bahkan pihak UPTD juga sudah meninjau kesini beberapa waktu lalu,” tegasnya.

Win –sapaan Winarto- menambahkan, karena ruang kelas 6 sudah tidak bisa digunakan, kegiatan belajar mengajar siswa harus dipindahkan ke rumahnya. Dia membawa siswa-siswa kelas 6 yang diajarnya tersebut ke rumahnya yang tak jauh dari sekolah. “Memang dengan kondisi seperti ini, kami harus pandai-pandai menyiasati. Yang kelas 6 saya ajar di rumah, sementara kelas 4 dan 5 menggunakan separo ruang kelas,” tandas dia.

Dia berharap, kondisi sekolahnya segera mendapat perhatian, terutama dari pihak terkait, utamanya dinas pendidikan. Sebab, kondisi saat ini sangat menggangu kenyamanan proses belajar mengajar siswa. Apalagi, saat ini sudah mulai musim penghujan. (c3)





READ MORE

PUBLIC SERVICE

BLITAR – Terkait kondisi KPPP WTS-PTS, dewan segara ambil tindakan. Komisi IV DPRD Kabupaten Blitar akan memanggil lembaga yang menangani permasalahan wanita dan pria tuna susila tersbut, untuk dimintai pertanggungjawaban kenerja selama ini. Pasalnya, kinerja mereka selama ini tidak pernah diketahui hasilnya, sehingga muncul anggapan tidak sesuai dengan anggaran besar yang digelontorkan bagi lembaga bentukan perda ini. “Sesuai perda memang tugas mereka monitoring dan evaluasi pasca penutupan lokalisasi. Persoalannya adalah, monintoring itu harus jelas yang mana? Apa yang dimonitoring? Karena itu kami akan segera panggil KPPP WTS-PTS untuk mempertanggungjawabkan kinerja mereka,” ungkap Ketua Komisi IV Ahmad Tamim.

Menurut dia, monitoring pasca penutupan lokalisasi tidak boleh dilakukan hanya terhadap tiga bekas lokalisasi di Kabupaten Blitar. Tetapi secara menyeluruh di semua wilayah kabupaten. Apakah masih ada praktek prostitusi, bekas WTS masihkan beroperasi, dan lain-lain. Pihak KPPP juga berkewajiban menyampaikan hasil monitoring tersebut kepada masyarakat, supaya masyarakat tahu kinerja mereka.

Tamim menjelaskan, pihaknya akan mengevaluasi kinerja lembaga yang berdiri sejak 2009 lalu, termasuk soal anggaran. Apalagi, saat ini sudah memasuki tutup tahun, masuk tahun anggaran baru 2013. “Anggaran akan kami evaluasi. Untuk apa penggunaan anggaran sebesar Rp 260 juta itu. Apakah sesuai kinerja mereka atau tidak,” tegasnya. Karena itu, lanjut Tamim, pihaknya akan pertimbangkan anggara KPPP WTS-PTS untuk tahun depan. “Seperti saya bilang kemarin, jangankan Rp 260 juta. Rp 50 juga saja kalau tidak ada kerjanya ya terlalu besar,” tandas legislator PKB.

Sementara itu, Ketua KPPP WTS-PTS Kabupaten Blitar Ali Masud menyatakan, wajar jika dewan mempertanyakan kinerja mereka. Sebab, pihaknya memang selama ini belum melaporkan hasil kerja mereka. “Ya tidak apa-apa, wajar dewan bertanya-tanya. Karena kami memang baru akan melaporkan setelah Desember ini. Jadi mereka (dewan) baru akan tahu Januari nanti,” ungkapnya. Pihaknya juga mengakui selama ini belum melakukan sosialisasi hasil kerja mereke kepada masyarakat.

Meski demikin, pihaknya juga mengakui jika ke depan sudah tidak ada lagi pembinaan mantan WTS melalui pelatihan, pemberian modal usaha, dan lain-lain. “Tugas kami sesuai perda hanya monitoring. Kecuali ada lain-lain, seperti permintaan dari bupati,” jelasnya. Monitoring tersebut, lanjut dia, seperti pendataan tempat-tempat lokalisasi liar, pemantauan mantan WTS, apakah masih berpraktek, berkoordinasi dengan Satpol PP dalam penindakan, dan lain-lain.

Soal anggaran yang dinilai terlalu besar, dia menyatakan menyerahkan sepenuhnya kepada bupati. Sebab, yang berhak menentukan nominal anggaran adalah bupati. “Kalau dewan kasih petunjuk, selama itu tidak melanggar aturan ya akan kami lakukan. Tetapi yang berhak untuk menentukan anggaran itu bupati. Jadi kami mengikuti saja,” tandas Ali.

Dia menuturkan, pihaknya hingga saat ini belum mengajukan proposal pengajuan anggran untuk tahun depan. Menurutnya, saat ini baru sebatas pembicaran internal di kalangan anggota KPPP WTS-PTS, dan belum diajukan ke bupati. (c3)







READ MORE

PUBLIC SERVICE

BLITAR – Ditutupnya lokalisasi dan dilarangnya praktek prostitusi di Kabupaten Blitar sejak 2011, otomatis membuat pekerjaan Komite Pelarangan Prostitusi dan Penanganan Wantita Tuna Susila dan Pria Tuna Susila (KPPP WTS-PTS) Kabupaten Blitar berkurang. Bahkan, lembaga otonom bentukan Pemkab Blitar yang khusus menangani permasalahan wanita dan pria tuna susila tersebut dinilai minim pekerjaan. Meski demikian, anggaran untuk lembaga ini juga tetap besar.

Tahun ini saja, KPPP WTS-PTS mendapat anggaran APBD sebesar Rp 260 juta. Angkat tersebut tidak jauh berkurang dibanding tahun pertama dan kedua lembaga itu berdiri sekitar 2009 lalu, di mana masih ada lokalisasi. Yaitu sekitar 400 juta. Nah, anggaran sebesar Rp 260 juta tersebut dinilai terlalu banyak sebab hanya digunakan untuk monitoring dan koordinasi antar lembaga, selain operasional kantor.

Anggota KPPP WTS-PTS Kabupaten Blitar Safrudin mengungkapkan, pihaknya saat ini lebih banyak melakukan monitoring terhadap para mantan WTS dan PTS di Kabupaten Blitar. “Kami melakukan monitoring, dan pendataan mantan WTS asal Kabupaten, termasuk para WTS kabupaten yang ada di luar kota. Hampir setiap bulan kami menerima WTS dari luar kota,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga melakukan pendataan terhadap dampak dari penutupan lokalisasi selama ini. seperti adanya praktek prostituisi liar, dan lain-lain. Meski demikian, pihaknya menyatakan belum pernah pernah ada hasil dari pendataan tersebut. “Belum, masih analisis,” tegas pria yang akrab disapa Udin.

Tahun ini, lanjut dia, juga tidak ada pembinaan mantan WTS seperti pelatihan dan pemberian modal usaha bagi para mantan WTS atau PTS seperti tahun lalu terhadap 6 mantan WTS. Pihaknya juga menyatakan, belum ada rencana pembinaan seperti itu tahun ini.

Sementara itu, kinerja KPPP WTS-PTS juga dikritisi dewan. Apalagi, lembaga tersebut masih akan berdiri hingga 2014 nanti. Hal itu merujuk kepada perda 15 tahun 2008 tentang pelarangan prostitusi di Kabupaten Blitar. Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Blitar Ahmad Tamim menyatakan, kinerja KPPP WTS-PTS dianggap kurang karena selama ini tidak pernah ada sosialisasi hasil kinerja lembaga ini terkait pelarangan dan penanggulanan WTS-PTS. “Seharusnya mereka mempunyai rencana kerja yang jelas, dan mensosialiasikan hasil kerja mereka ke masyarakat. Sebab, tanggungjawab KPPP ada di masyarakat, walaupun secara normatif kepada dewan,” ungkapnya.

Dia menyatakan, selama ini pihaknya belum pernah mendapat laporan atau sosialisasi hasil kerja lembaga ini. “Misalnya, apakah pasca penutupan itu ada praktek sosialisasi liar, penanggulangannya seperti apa, dan lain-lain. Kami belum pernah menerima laporan itu. Masyarakat juga perlu tahu,” tegasnya.

Dengan demikian, dia menilai, anggaran sebesar Rp 260 juta bagi KPPP WTS-PTS juga terlalu besar. Sebab, anggaran tersebut tidak jelas penggunaannya. “Rp 260 juta itu untuk apa? Kami belum pernah dapat penjelasan tentang kinerjanya. Jangankan Rp 260 juta, Rp 50 juta pun kalau kerjanya tidak jelas menurut kami juga besar,” tegas legislator PKB tersebut.

Dia menyatakan, jika selama ini KPPP WTS-PTS tidak punya program kerja yang jelas, lebih baik dibubarkan dari sekarang. Tidak perlu menunggu hingga lima tahun sampai akhir kotrak 2014 mendatang sesuai perda. “Kalau sudah tidak ada punya perencanaan, tidak ada program, berarti kan tugasnya selesai. Ya lebih baik dibubarkan saja, tidak perlu menunggu lima tahun. Buat apa kalau dianggarkan hanya untuk digaji saja,” pungkasnya. (c3)



READ MORE

AKSI MASSA

BLITAR – Ribuan massa dari berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Blitar kemarin (20/12) turun jalan. Mereka menyasar kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) dan Kantor Bupati Blitar, menyuarakan tuntutan kondisifitas Kabupaten Blitar. Sebab, selama ini kondisi kabupaten dinilai sedang tidak kondusif akibat adanya aksi-aksi demonstrasi yang melecehkan pemerintah, bahkan lambang negara.

Massa yang terdiri dari berbagai elemen seperti FAKD, FKPD, PPDI, GPI, serta warga dari seluruh wilayah Kabupaten Blitar tersebut pertamakali menuju Kantor Kejaksaan. Di tempat itu, mereka menyuarakan keprihatinan atas kondisi saat ini dan menuntut penegak hukum, khususnya jaksa, untuk tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum. “Aksi kami kali ini dipicu oleh aksi-aksi sebelumnya yang mengatasnamakan penegakan hukum, tetapi ternyata malah melanggar hukum. Apalagi dengan adanya insiden penurunan bendera oleh segelintir elemen yang mengatasnamakan rakyat,” ungkap Joko Prasetyo, koordinator aksi.

Menurut dia, aksi penurunan bendera dan domontrasi anarkis yang terjadi akhir-akhir ini merupakan sebuah gerakan yang mengarah pada sparatisme. Karena itu, aksi kemarin digelar sebagai bentuk kesetiaan masyarakat Kabupaten Blitar terhadap NKRI dan UUD 1945, dan warga Kabupaten Blitar siap menghadang gerakan tersebut. “Kalau ke depan masih ada gerakan seperti itu, kami siap menghadang demi Blitar,” tegasnya.

Dia juga meminta aparat penegak hukum tegas terhadap pelaku penurunan bendera yang dilakukan di kantor Kejaksaan beberapa waktu lalu. Sebab, itu merupakan penghinaan terhadap lambang negara. Hal senada juga diungkapkan Imron Rosadi, koordinator lainnya. Dalam orasinya di depan massa, dia menyatakan aksi kemarin dilakukan untuk menunjukkan kecintaan terhadap Blitar dan NKRI. “Ini juga sebagai contoh aksi demonstrasi yang baik bagi warga. Aparat tidak perlu khawatir bahwa aksi ini akan anarkis atau tidak tertib,” tandasnya. Dia juga menyatakan, pihaknya siap berada di barisan paling depan jika ada pihak-pihak yang ingin merongrong ideologi Pancasila dan merusak keharmonisan suasana Blitar.

Dari Kejaksaan, massa berjalan kaki menuju Kantor Bupati Blitar. Selain menyuarakan hal yang sama, massa juga menuntut aparat penegak hukum tidak memberikan izin turun jalan bagi elemen warga yang selama ini dinilai telah melakukan penghinaan terhadap lambang pemerintahan dan negara serta merusak kondusifitas Blitar. “Kalau aparat masih memberikan izin bagi mereka, kami akan menurunkan massa yang lebih besar untuk menghadapi mereka,” tegasnya.

Selain orasi, aksi kemarin juga diisi pengumandangan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, pembacaan Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Dalam aksi yang digelar depan kantor bupati tersebut, Wakil Bupati Blitar Rijanto diminta massa membacakan Pancasila. Dia memenuhi permintaan massa dan membacakan pancasila di tengah-tengah mereka. Sementara pembacaan Pembukaan UUD 1945 dilakukan oleh Ketua DPRD Kabupaten Blitar Guntur Wahono. Aksi selasai sekitar pukul 11.30. Sebelum ditutup, digelar pembacaan doa untuk terciptanya kondisi Kabupaten Blitar yang aman dan tentram, serta untuk kejayaan NKRI. (c3)



READ MORE

PPMI dan Demokrasi

Sunday, March 14, 2010

Dalam demokrasi, frase “mengayomi rakyat” seringkali digunakan para penguasa sebagai bahasa politik untuk meraih simpati rakyat. Orang boleh mengatakan, mengayomi adalah melakukan pelayanan dan pelindungan terhadap rakyat. Mendengarkan keluhkesah dan menjaring aspirasi yang datang dari rakyat, dan semua yang berbau kepentingan rakyat.
Tapi saya punya pendapat lain. Karena bagi saya, penjabaran-penjabaran seperti di atas terlalu melebar. Harus ada batasan-batasan bagaimana seorang penguasa melayani dan melindungi, mendengarkan aspirasi serta membela kepentingan rakyat. Jika tidak, ia akan menjadi seperti apa yang dikatakan Richard Nixon, pernyataan yang tak harus sesuai 100% dengan fakta, tapi harus bisa mempesona, seperti puisi.
Inilah pendapat saya: pengayoman terhadap masyarakat, setidaknya, bisa diterjemahkan dengan sikap proaktif mengidentifikasi potensi yang dimiliki rakyat secara jeli, lalu memberikan ruang yang cukup dalam rangka mengembangkan potensi-potensi yang masih tercecer itu. Itulah mengapa Soekarno pada pidatonya yang berapi-api pernah mengatakan, “Berikan padaku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia!”
Soekarno sadar benar dengan ucapannya. Ia telah melewati perenungan panjang sebelum akhirnya memuntahkan kata-kata tersohor itu. Di mata Soekarno, sepuluh pemuda adalah sepuluh kekuatan. Ia insyaf bahwa kemajuan bangsa harus dibangun melalui berbagai lini. Sepuluh pemuda dengan potensi dan kekuatan masing-masing itulah yang ia anggap cukup untuk menjadi tonggak pembangunan bangsa Indonesia, sehingga mampu menempatkan Indonesia di atas bangsa-bangsa lain di dunia.
Artinya, untuk bisa dikatakan mengayomi, pemimpin rakyat harus mampu menjemput bola. Harus insyaf pula bahwa keragaman potensi yang dimiliki rakyat adalah kekuatan yang harus tetap dilestarikan, dipupuk serta ditumbuhkembangkan sebagai satu kekuatan utuh untuk mewujudkan cita-cita kemajuan bersama. Mengayomi rakyat juga berarti memberikan kebebasan berbicara dan bertindak, di waktu dan tempat yang tepat. Orang boleh berkreasi apa saja, asal tak mengganggu orang lain. Orang boleh bernyanyi, menari, atau melakukan apa saja di waktu dan tempat yang tepat. Orang bebas bicara dan menulis apa saja, asal bertanggungjawab. Orang bebas mengkritik siapa saja, jika yang dikritik dianggap bersalah. Pada akhirnya, mengayomi adalah memberikan kebebasan untuk melakukan apa saja tanpa dihantui rasa takut. Pendapat saya ini, setidaknya, telah saya sesuaikan dengan konsep mengayomi dalam konteks demokrasi Masisir.
Demokrasi Masisir, dengan PPMI sebagai simbol tertinggi, hampir saja tumbang. Tanpa kepedulian terhadap hak-hak kebebasan itu, demokrasi Masisir adalah barang langka yang mahal harganya. Upaya pengebirian demokrasi, meskipun berusaha ditutup-tutupi, selalu ada. Ada semacam rencana terselubung yang dilakukan menggunakan tangan kekuasaan.
Saya jadi teringat sebuah kekonyolan – yang sebenarnya adalah upaya pembunuhan perlahan terhadap hak-hak demokrasi – yang dilakukan oleh PPMI. Hari itu bulan Ramadhan, menjelang Idul Fitri. Kabinet PPMI yang masih seusia jagung kala itu menyebarkan pengumuman lewat pamflet-pamflet mini yang intinya berisi: dalam rangka menyambut hari raya Idul Fitri, PPMI mengadakan acara takbir bersama dan penampilan akustik di KPMJB. Bagi anda yang ingin bergabung, dipersilahkan membawakan lagu-lagu religi dengan kriteria bebas, kecuali lagu-lagu Ungu dan Gigi.
Tentu saja, mereka yang paham dan tahu musik akan bertanya-tanya, apa kira-kira yang dimau PPMI? Setelah berpikir panjang, saya menemukan jawabannya: Ungu dan Gigi, meski punya lagu religi, tetaplah seperti grup-grup band sejenis lainnya, yang menurut hemat PPMI tak layak ditiru oleh Masisir.
Dus, PPMI bermaksud hendak membersihkan Masisir dari “kuman-kuman” yang bernama band, lalu menggantinya dengan hiburan yang lebih layak, semisal nasyid dan qoshidah.

Apa yang dilakukan oleh PPMI itu adalah bentuk pemasungan kreatifitas dan bakat Masisir dengan cara halus. Strategi aji mumpung, sebagaimana lumrah dalam dunia politik, dengan sempurna diterapkan. Mumpung berkuasa, maka berbuatlah apa saja! Dan itulah yang diperbuat PPMI: mempertegas proyek otoritarianisme yang anti demokrasi, anti kemajemukan, melalui sebuah pengumuman yang sederhana. Masisir digiring menuju satu warna, satu kecenderungan. Tak ada ruang untuk kemajemukan. Tak ada tempat untuk perbedaan.
Demokrasi Masisir hampir saja tumbang. Ketika suara-suara Masisir yang menuntut keadilan bagi korban kasus JS Oktober lalu semakin keras terdengar, di media dan di setiap tempat diskusi mahasiswa, PPMI menampilkan diri sebagai penguasa yang anti kritik. Keluhkesah dan pengaduan Masisir yang akhirnya berubah menjadi kecaman dan kritikan kala itu, ditanggapi dengan kebisuan. Bagi PPMI, menanggapi kritikan adalah seperti menyiram api dengan minyak. Untuk itu, jalan terbaik menghadapi mahasiswa adalah mendiamkan. Maka tak heran, ketika keresahan-keresahan mahasiswa itu semakin memuncak, satu-satunya jawaban PPMI di media adalah, “Allahumma ihdi qaumi, fa innahum la ya’lamun.” Masisir yang mengkritik dan memberi saran, yang mengadukan keluhkesah, yang menuntut keadilan, dianggap PPMI sebagai umat yang tersesat dari jalan yang benar, sehingga harus diberi petunjuk. Harus diluruskan. Tak ada diskusi, tak ada keterbukaan, tak ada kejujuran. Akhirnya, tak ada lagi pengayoman, tak ada lagi demokrasi.
Kita mungkin masih bertanya, seberapa penting arti demokrasi dan kebebasan? Mengenai hal ini, simaklah pernyataan Dr. Ahmad Burada’i, salahsatu kandidat Presiden Mesir pada bursa Pemilu Mesir tahun 2011 dalam harian al-Shorouk Januari lalu, “Saya tidak maju untuk posisi presiden, tapi saya maju demi terwujudnya demokrasi.” Demikianlah, pada tahap tertentu, kebebasan menjadi sesuatu yang mutlak dalam sebuah tatanan masyarakat. Begitu juga dengan kita. Dalam tatanan masyarakat yang beradab seperti Masisir, saya rasa, pengembangan kreatifitas mahasiswa dan proyek menghafal al-Qur’an atau jadwal talaqqi punya urgensitas yang sama untuk mewujudkan cita-cita pembangunan bangsa dari berbagai lini.
Karena itu, Masisir perlu diayomi. Masisir perlu mendapat tempat. Jika tidak, harus dipercaya bahwa membiarkan sebuah masyarakat kehilangan hak dan kebebasannya adalah sebuah luka yang pasti meninggalkan bekas. Karena demokrasi, seperti kata Goenawan Mohammad, tak cuma bisa dilihat dari atas, dari asal ide demokrasi itu muncul, tapi juga dari bawah; dari posisi cacing yang terinjak, dengan gerak yang selalu diawasi, dengan kata-kata yang selalu dikekang.
Singkatnya, pengekangan terhadap demokrasi hanya akan menjadi bom waktu yang akan meledak dahsyat pada waktunya.
READ MORE

SASTRA

Monday, May 11, 2009

Bendera Hitam
Muarajiwa*

Selendang kuning berukiran bunga itu meliuk-liuk, mengikuti bias gerak elastis jemari yang menggapit ujungnya. Lantunan beberapa gending yang ditopang alun gendang dan gamelan mengalir silih berganti dari tiga sinden yang duduk berjajar. Ada irama sendu, atau nada mistis di telinga siapa saja yang baru mendengarnya. Malam sudah melebihi pertengahan. Tapi pesta baru saja dimulai. Dan perempuan itu masih menari, meliuk-liukkan tubuhnya, mengepakkan selendang dengan tangannya yang gemulai, berselaras dengan irama dan tempo gamelan.
Ia tak sendiri. Dua penari lain bergerak seirama di kiri dan kanannya. Ketiganya mengenakan jarik cokelat, tapi perempuan itu mengenakan kemben merah tua, sementara dua lainnya kuning dan hijau. Dan di sini, para lelaki yang duduk melingkar bersorak riang, memanggil-manggil sebuah nama, sesekali bersiul panjang-pendek seperti tingkah untuk menghadirkan merpati. Perempuan gemulai yang menari di tengah itukah pemilik nama yang disebut-sebut itu? Lalu aku memandanginya. Gurat wajahnya yang dipoles bedak dan make-up tebal merah muda mengisyaratkan usia. Empatpuluhan. Ia wanita matang nan jelita. Aku membayangkan ia lebih tepat menjadi selir atau putri keraton daripada seorang penari. Tarian gemulainya mengundang ketertarikan setiap orang untuk menikmati. Mungkin keindahan, mungkin birahi. Ia hanya tersenyum, ketika orang-orang kembali riuh dengan siul dan teriak “Lasmi, Lasmi...!” Aku benar kawan, dialah pemilik nama itu. Lasmi. Nama yang indah.
Tak ada isyarat atau tanda-tanda apapun. Seperti ada kesepakatan diam di sela talu gendang dan gamelan. Kira-kira 30 menit pesta itu berlangsung, tiga orang laki-laki berdiri dari dalam lingkaran, lalu masuk ke dalam arena tari. Ketiganya berjalan tak tegap. Sempoyongan. Menuju penari kesukaan masing-masing. Lalu ikut menari.
“Kenapa kau tak menatapku, Lasmi?” Lelaki kekar berkumis tebal telah menari di depannya. Pakaiannya serba hitam, kecuali udeng yang berwarna merah di kepalanya.
“Mulutmu bau tuak.” Perempuan itu tetap tak melirik. Wajahnya condong 45 derajat dari tatapan lelaki itu. Ia bukan hanya tak suka baunya, tapi juga gelagat peminumnya yang mulai tak wajar, barangkali.
“Tapi kau seorang penari. Kau penghibur. Dan aku akan membayarmu!” Nada si lelaki meninggi. Sorot matanya yang merah menukik tajam ke wajah Lasmi yang masih mengarah ke sebelah kanan bahunya, lalu ia menggeser kuda-kudanya selangkah ke kanan; agar tatapannya bertemu dengan tatapan Lasmi.
“Aku tak suka bau tuak. Kau boleh ambil uangmu, asal tak mengganggu kenyamananku!”
“Hmm...kau tak nyaman menari denganku, hanya karena bau mulutku ini? Kalau begitu, aku akan meneguk minyak kasturi agar kau bergairah di depanku! Hahaha....”
Melihat gelagat lelaki itu semakin menjadi, Lasmi meluruskan arah wajahnya, membentur wajah si lelaki kumis tebal. Tapi aku tahu, pandangannya tak berada di sana. Ia menatap kosong, seperti pelamun yang menatap awang-awang sebelum tidur.
Ia bukan gentar dengan gertak si lelaki, tapi hanya tak mau kenyamanannya, juga kenyamanan orang-orang dalam pesta itu terkoyak jika lelaki itu berulah lebih jauh. Lalu ritme si lelaki meninggi, seperti api kayu bakar yang disulut minyak jarak. Ia bergerak, mengikuti ke mana saja arah perempuan itu. Matanya liar, menelanjangi seluruh tubuh di depannya, seperti serigala yang mengintai mangsanya. Tiba-tiba talu gamelan berhenti setelah nadanya gaduh, hampir tak beraturan. Kali ini aku menangkap isyarat. Ketiga lelaki itu kemudian mundur dari arena tari, setelah talu gamelan serempak berhenti, dan orang-orang berteriak, “Sawer, sawer...!” Dan lihatlah, kemben-kemben itu adalah kantong kepuasan bagi setiap tangan yang menjamah dengan selip rupiah, juga tabung oksigen bagi nafas sejumput manusia dalam sesaknya lorong kehidupan.

₪₪₪

Tuhan tak pernah kebetulan dengan segala rencana-Nya. Dan dua teori –ataukah keyakinan? karena aku tak begitu peduli dengan ini- tentang garis kehidupan; bahwa manusialah yang menentukan pilihan setiap pekerjaannya –baik atau buruk, dan bahwa segala yang dilakukan manusia adalah dilakukan dengan segala keterpaksaan, seperti bulu angsa yang terbang mengikuti ke mana saja arah angin berhembus, keduanya mungkin juga berlaku pada perkenalanku dengan Lasmi. Aku, pada keyakinan pertama, mamang memilih untuk mengenali jatidiri perempuan itu, di balik profesinya sebagai ledhek itu. Dan pada yang kedua, aku juga meyakini bahwa Tuhan telah menggariskan ketentuan pertemuanku dengannya kali ini. Pada titik inilah, antara pilihanku dan keinginan Tuhan bertemu, karena Tuhan tak akan pernah mempertemukanku dengan perempuan itu kalau Ia tak menginginkan itu.
Inilah kisahku mengapa aku berada di sini dan bertemu Lasmi: Desa ini Sendangsono. Aku orang asing di desa ini; pengecut yang datang dari kegentaran terhadap kebisingan kota, pecundang yang lari dari penjara kejenuhan. Tiga bulan penuh berkutat dengan tugas skripsi, aku memutuskan untuk sejenak lepas dari rutinitas. Dan, tak ada cara yang lebih tepat untuk itu kecuali pulang kampung. Tapi belum lagi kereta yang membawaku sampai di stasiun kota Tawanglangu, stasiun tujuanku, pusat informasi PJKA mengumumkan status darurat. Kereta harus diberhentikan di stasiun kota Landung. Kabar yang sampai di telinga, 237 km dari Landung, puluhan orang berbaju hitam telah siap menyambut kedatangan kereta. Mereka membawa batu, bom molotov, parang, celurit, besi. Orang-orang itu seperti hantu; datang dan pergi kapan saja, dengan alasan apa saja. Mereka menjarah. Mereka mengincar musuh. Mereka merusak. Mereka melampiaskan amarah. Mereka iblis.Pukul 21.45. Aku tak mungkin diam di Landung. Stasiun itu mencekam. Sekawanan preman terlihat mondar-mandir di sekitar gerbong. Di bangku pojok, sekelompok pengamen membentuk komunitasnya sendiri. Mereka anak-anak muda yang mudah terbakar emosi jika permintaannya tak dituruti. Mereka tak kalah mengerikan dengan para preman itu. Aku bertolak tanpa tujuan. Karena di sini, aku buta. Seperti sandera yang disekap lalu dilepas di hutan belantara. Tak mengerti rute atau peta. Malam itu, aku terdampar di Sendangsono berkat sebuah mobil pick-up tua merk Toyota L-300 yang mengangkut jerami pakan sapi. Aku numpang di sana. Lalu turun di sebuah keramaian yang belakangan aku tahu itu adalah Tayub. Aku mendatangi rumah lurah esok harinya, karena aku tahu Tayuban itu digelar atas prakarsanya setelah selamatan bersih desa. Aku bertanya segala hal tentang Lasmi.
“Lasmi hanya seorang janda. Suaminya meninggal setahun lalu. Sejak itu dia menjadi ledhek untuk hidup,” lurah itu setengah berkisah.
“Apakah dia tak punya anak?” aku meragu.
“Punya, Tari namanya. Lestari. Tapi ia tak di rumah. Ia hidup di kota.”
“Jadi, Lasmi hidup sendiri?”
“Ya. Anaknya kuliah di kota dan baru akan pulang minggu depan, tiga hari setelah perayaan Tujuhbelasan.”
“Bapak tahu itu?” aku curiga. Dari mana Lurah tahu informasi sedetail itu tentang Lasmi?
“Tentu saja. Sore kemarin Tari menitip pesan melalui telepon kantor kelurahan. Isinya demikian.”
“Lasmi sudah tahu?”
“Kami belum sempat ke rumahnya. Carik Darwo yang biasa bertugas mengantar surat dan pesan sedang saya tugaskan ke Kecamatan.”
Aku lega. Tapi bertanya-tanya di mana rumahnya. Lalu aku menjelaskan padanya keinginanku bertemu dengan wanita setengah baya itu. Lurah Kartawijaya –begitu ia mengenalkan namanya- menatapku tajam. Seolah ingin mematri raut wajahku kuat-kuat dalam ingatannya. Tatapan itu, adalah sebuah bahasa kecurigaan yang tak terlafalkan. Lihatlah, manusia adalah musuh bagi apa saja yang tidak ia ketahui. Aku ingin menghapusnya. Maka aku mengisahkan padanya tentang keresahanku terhadap Lasmi sejak ia menari di depan lelaki serba hitam malam itu. Lurah Karta masih menatapku. Secarik kartu nama kuulurkan padanya. Bramanta. Fakultas Psikologi-Universitas Kalingga.
Jl. Dharmaputra 15 A-Tawanglangu. Lelaki itu mengangguk-angguk.
“Kalau Bapak tidak keberatan, biar saya yang menyampaikan pesan tersebut kepada Lasmi.”
“Oh, tentu saja tidak. Tapi rumahnya jauh dari kantor kelurahan. 8 kilo. Tentu sangat merepotkan anda.”
"Anggap saja saya sedang ingin berkeliling kampung ini, dan pesan itu hanyalah sebuah titipan yang bisa disampaikan sambil melintas."
"Baiklah, kalau begitu saya tunjukkan rute menuju rumahnya."
Lalu diraihnya selembar kertas, ia gambarkan di atasnya jalan yang mengarah ke utara, berbelok ke kanan tiga kali, lalu ke kiri dua kali.
"Di ujung belokan terakhir, di sanalah rumah Lasmi," Lurah Karta mengakhiri penjelasannya.
"Terimakasih, Pak. Saya segera pamit. Hari sudah menjelang magrib."
“Kalau ada waktu, kami juga mengundangmu untuk datang pada pesta Tujuhbelasan minggu depan.”
“Dengan senang hati.”

₪₪₪

“Apa kau nyaman hidup sendiri seperti ini, Lasmi?” Oh, maaf, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya khawatir keselamatanmu.
“Aku sudah terbiasa sendiri sejak kematian suamiku.”
“Aku tahu itu. Tapi aku belum tahu kenapa suamimu meninggal.”
Lasmi bisu. Seperti berat mengenang masa lalu.
“Dia dibunuh. Dikeroyok lalu dicincang-cincang tubuhnya.” Ia tersedu. “orang-orang itu biadab. Tapi aku tahu mereka kerdil, seperti emprit. Suamiku elang.”
“Siapa orang-orang yang kau maksud?”
“Patisewu. Aliran hitam yang suka berbuat onar. Mereka bergerombol.”
Duh Gusti, apakah mereka orang-orang yang akan membajak kereta itu? Siapa pula lelaki yang menari di depan Lasmi malam tadi?
“Kau tak curiga dengan tigkah lelaki yang bersamamu di Tayuban semalam?” Aku berusaha memuaskan penasaranku.
“Mereka ada di mana-mana. Di pasar, warung kopi, tempat judi, juga Tayub. Mungkin lelaki itu salahsatunya.” Lalu bibirnya mengulum senyum, meskipun pahit. Seperti mengerti kekhawatiranku.
“Mereka tak pernah berulah lebih jauh setelah pesta. Kau tenanglah.”
Aku masih tak nyaman dengan jawaban itu ketika segelas kopi grasak yang dihidangkan untukku tinggal ampas. Etika bertamu membolehkan penamu permisi.
“Baiklah. Aku harus pamit. Oh iya, minggu depan anakmu pulang. Aku membawa pesan ini dari kantor kelurahan.”
Rautnya yang datar mendadak sumringah, lalu berubah ragu. Apa kau benar?
“Kau bisa tanyakan langsung pada Lurah, jika masih ragu.”
Lasmi mengangguk. “Baiklah.”
“Hari sudah larut. Aku permisi. Jaga dirimu baik-baik.”
“Tunggu, tunggu! Siapa namamu?”
“Bram. Bramanta.”

₪₪₪

17 Agustus, 17.35
Akhirnya aku kembali ke Sendangsono. Tapi aku tak beruntung menikmati Tujuhbelasan di sana; tambang telah digulung, kayu pinang telah dirobohkan, karung-karung telah dilipat. Pesta rakyat itu telah usai dua jam lalu. Tetapi balai desa belum lengang. Beberapa orang sibuk merias pendopo yang berlantai tanah itu. Sebagian lain, menenteng perkakas gamelan, lalu menatanya di atas panggung bambu. Lurah Karta menyambut sowanku di kantor kelurahan.
“Selamat datang kembali di desa kami. Tapi kenapa nak Bram datang telat?”
“Nyuwun pangapunten. Saya tidak bisa datang lebih awal, dan baru bisa berangkat dari Tawanglangu selepas dhuhur.”
“Oh, tidak masalah. Nak Bram masih bisa menyaksikan puncak pesta rakyat malam ini di pendopo.” Kemudian Lurah menjelaskan segala sesuatu tentang desa dan perayaan. Dan seperti penjelasannya minggu lalu, Tayub akan kembali digelar. Tetapi kali ini di pendopo desa.

Pukul 22.30. Orang-orang mulai berdatangan. Pria, wanita, tua, muda. Tapi pria dewasa mendominasi. Instrumen gamelan sudah bertalu, meski tanpa lengkingan vokal sinden. Seperti musik pembuka dalam konser aliran musik kontemporer. Di seberang kanan, 30 meter dari pendopo, sejumlah manusia lain bergerombol melingkar. Mereka penggemar kletek, judi dengan kelereng yang digelontarkan di atas papan. Bersama orang-orang yang menyemut, aroma pendopo menjadi tengik. Bau anyir ketan busuk. Mungkin arak atau anggur. Lalu iring-iringan sinden masuk dengan lantun gending. Yen ing tawang ono lintang. Mereka duduk di panggung, di depan penabuh gamelan. Lasmi, di mana dirimu?
Prosesi itu berjalan begitu saja. Pesta itu benar-benar sempurna ketika tiga penari muncul. Orang yang kucari ada di sana. Dan orang-orang menjadi gaduh. Mereka kegirangan. Aku welas asih. Karena Lasmi telah menari. Kembali menari. Tarian itu Tayub, tapi ia bagai menarikan Cakalele. Karena tarinya adalah pemberontakan. Tapi ia bukan gerwani. Ia hanya hendak melawan nasib; kematian suaminya, kesunyiannya, kemiskinannya. Di atas segala getir, perempuan itu masih harus menari, untuk hidup dan menghidupi anaknya.
“Aku ingin tidur bersamamu,” lelaki yang di depan Lasmi mengumbar. Pakaiannya serba hitam. Tapi aku pasti, ia bukan orang yang menari tempo hari.
“Jaga mulutmu!” Lasmi menyentak. Rautnya muram.
“Aku akan membayar lebih kalau kau bersedia!”
“Kau sinting! Aku masih bisa hidup hanya dengan menari! Pikirlah anak-istrimu!”
Lelaki itu murka. Matanya hampir mencelat.
“Lonte! ”
Lasmi geram, tak dapat lagi mengendalikan emosi.
“Asu!”

Lalu penonton meneriakkan sawer. Pertanda penari lelaki harus menyelipkan uang, lalu mundur dan digantikan penari lain. Lelaki itu lalu bergabung dalam lingkaran penonton. Tapi kemudian, kulihat dia meninggalkan pendopo bersama dua orang lain. Mereka serba hitam. Patisewu. Aliran hitam yang suka berbuat onar. Mereka bergerombol. Aku teringat ucapan Lasmi. Apa yang akan mereka lakukan?


₪₪₪

Ketika kudatangi rumahnya setelah pesta, aku terperanjat. Tubuhnya tergantung kaku. Selendang kuning yang dipakainya menari itu terikat pada bambu penyangga atap kamar, membentuk lingkaran dengan ikatan simpul pada ujungnya, sementara kursi randu buatan suaminya ada di bawahnya. Ujung selendang itu menjerat lehernya. Lalu orang-orang datang berkerubung, memuntahkan segala murka pada Lasmi.
"Lihat, lihatlah…ia sangat hina karena mengakhiri hidupnya sendiri!"
"Ya, dan kau tahu ganjaran apa bagi wanita pengecut seperti dia?"
"Kerak neraka! Ya, selamanya di kerak neraka!"
“Tenang, tenang! Turunkan jasadnya, dan mari kita sholatkan!” seorang yang muncul dari kerumunan mencoba menenangkan.
“Lasmi perempuan laknat! Ia tak perlu disholati!” seorang lain menyahut lantang.
“Ya, kuburkan saja di rumahnya. Lalu kibarkan bendera hitam di depannya!"
“Hei, mengapa harus hitam?”
“Agar semua orang tahu dia adalah pendosa! Bendera putih tarlalu suci untuknya. Malaikat dan surga tak akan menerimanya.”
Suara-suara itu tak lagi jelas dari mana asalnya. Melengking, lalu membumbung bersama angin.
“Ya, kibarkan bendera hitam! Agar orang tak datang untuk melayat. Karena dia perempuan laknat.”

Di tengah suara yang melolong-lolong itu, di balik wajahnya yang kini layu, Lasmi masih bercerita. Patisewu. Aliran hitam yang suka berbuat onar. Mereka bergerombol. Mereka tak pernah berulah lebih jauh setelah pesta. Kau tenanglah.
Tapi kali ini mereka benar-benar berbuat lebih jauh, Lasmi!


Kairo, 27 November 2008


*Lelaki sinting dari budayanya terasing






READ MORE

Puisi

Friday, September 19, 2008


Oi...!
Puisi Muarajiwa*

Oi…Oi…!
Orang Indonesia!
Lihatlah, lihat
Negerimu sedang berpesta
Di panggung sandiwara merdeka
Di puing-puing proklamasi

Oi…Oi…!
Orang Indonesia!
Bangunlah, bangun
Pancasilamu ditunggang hantu
Ambisi untuk menguasai
Kepentingan untuk menjatuhkan

Oi…Oi…!
Orang Indonesia!
Rapatkan barisan, rapatkan
Tutuplah ruang bagi politik hitam
Bungkam juga mulut pembangkang
Perongrong Pancasila yang mapan

Oi…Oi…!
Orang Indonesia!
Sadarlah, sadar
Negerimu bukan etnis
Negerimu bukan golongan
Negerimu dari Sabang sampai Merauke

Oi…Oi…!
Orang Indonesia!
Bersatulah, bersatu
Bendera kita masih sama
Merah Putih
Lagu kita masih sama
Indonesia Raya



READ MORE