Pages

AKSI MASSA

Friday, December 21, 2012

BLITAR – Ribuan massa dari berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Blitar kemarin (20/12) turun jalan. Mereka menyasar kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) dan Kantor Bupati Blitar, menyuarakan tuntutan kondisifitas Kabupaten Blitar. Sebab, selama ini kondisi kabupaten dinilai sedang tidak kondusif akibat adanya aksi-aksi demonstrasi yang melecehkan pemerintah, bahkan lambang negara.

Massa yang terdiri dari berbagai elemen seperti FAKD, FKPD, PPDI, GPI, serta warga dari seluruh wilayah Kabupaten Blitar tersebut pertamakali menuju Kantor Kejaksaan. Di tempat itu, mereka menyuarakan keprihatinan atas kondisi saat ini dan menuntut penegak hukum, khususnya jaksa, untuk tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum. “Aksi kami kali ini dipicu oleh aksi-aksi sebelumnya yang mengatasnamakan penegakan hukum, tetapi ternyata malah melanggar hukum. Apalagi dengan adanya insiden penurunan bendera oleh segelintir elemen yang mengatasnamakan rakyat,” ungkap Joko Prasetyo, koordinator aksi.

Menurut dia, aksi penurunan bendera dan domontrasi anarkis yang terjadi akhir-akhir ini merupakan sebuah gerakan yang mengarah pada sparatisme. Karena itu, aksi kemarin digelar sebagai bentuk kesetiaan masyarakat Kabupaten Blitar terhadap NKRI dan UUD 1945, dan warga Kabupaten Blitar siap menghadang gerakan tersebut. “Kalau ke depan masih ada gerakan seperti itu, kami siap menghadang demi Blitar,” tegasnya.

Dia juga meminta aparat penegak hukum tegas terhadap pelaku penurunan bendera yang dilakukan di kantor Kejaksaan beberapa waktu lalu. Sebab, itu merupakan penghinaan terhadap lambang negara. Hal senada juga diungkapkan Imron Rosadi, koordinator lainnya. Dalam orasinya di depan massa, dia menyatakan aksi kemarin dilakukan untuk menunjukkan kecintaan terhadap Blitar dan NKRI. “Ini juga sebagai contoh aksi demonstrasi yang baik bagi warga. Aparat tidak perlu khawatir bahwa aksi ini akan anarkis atau tidak tertib,” tandasnya. Dia juga menyatakan, pihaknya siap berada di barisan paling depan jika ada pihak-pihak yang ingin merongrong ideologi Pancasila dan merusak keharmonisan suasana Blitar.

Dari Kejaksaan, massa berjalan kaki menuju Kantor Bupati Blitar. Selain menyuarakan hal yang sama, massa juga menuntut aparat penegak hukum tidak memberikan izin turun jalan bagi elemen warga yang selama ini dinilai telah melakukan penghinaan terhadap lambang pemerintahan dan negara serta merusak kondusifitas Blitar. “Kalau aparat masih memberikan izin bagi mereka, kami akan menurunkan massa yang lebih besar untuk menghadapi mereka,” tegasnya.

Selain orasi, aksi kemarin juga diisi pengumandangan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, pembacaan Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Dalam aksi yang digelar depan kantor bupati tersebut, Wakil Bupati Blitar Rijanto diminta massa membacakan Pancasila. Dia memenuhi permintaan massa dan membacakan pancasila di tengah-tengah mereka. Sementara pembacaan Pembukaan UUD 1945 dilakukan oleh Ketua DPRD Kabupaten Blitar Guntur Wahono. Aksi selasai sekitar pukul 11.30. Sebelum ditutup, digelar pembacaan doa untuk terciptanya kondisi Kabupaten Blitar yang aman dan tentram, serta untuk kejayaan NKRI. (c3)



READ MORE

PPMI dan Demokrasi

Sunday, March 14, 2010

Dalam demokrasi, frase “mengayomi rakyat” seringkali digunakan para penguasa sebagai bahasa politik untuk meraih simpati rakyat. Orang boleh mengatakan, mengayomi adalah melakukan pelayanan dan pelindungan terhadap rakyat. Mendengarkan keluhkesah dan menjaring aspirasi yang datang dari rakyat, dan semua yang berbau kepentingan rakyat.
Tapi saya punya pendapat lain. Karena bagi saya, penjabaran-penjabaran seperti di atas terlalu melebar. Harus ada batasan-batasan bagaimana seorang penguasa melayani dan melindungi, mendengarkan aspirasi serta membela kepentingan rakyat. Jika tidak, ia akan menjadi seperti apa yang dikatakan Richard Nixon, pernyataan yang tak harus sesuai 100% dengan fakta, tapi harus bisa mempesona, seperti puisi.
Inilah pendapat saya: pengayoman terhadap masyarakat, setidaknya, bisa diterjemahkan dengan sikap proaktif mengidentifikasi potensi yang dimiliki rakyat secara jeli, lalu memberikan ruang yang cukup dalam rangka mengembangkan potensi-potensi yang masih tercecer itu. Itulah mengapa Soekarno pada pidatonya yang berapi-api pernah mengatakan, “Berikan padaku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia!”
Soekarno sadar benar dengan ucapannya. Ia telah melewati perenungan panjang sebelum akhirnya memuntahkan kata-kata tersohor itu. Di mata Soekarno, sepuluh pemuda adalah sepuluh kekuatan. Ia insyaf bahwa kemajuan bangsa harus dibangun melalui berbagai lini. Sepuluh pemuda dengan potensi dan kekuatan masing-masing itulah yang ia anggap cukup untuk menjadi tonggak pembangunan bangsa Indonesia, sehingga mampu menempatkan Indonesia di atas bangsa-bangsa lain di dunia.
Artinya, untuk bisa dikatakan mengayomi, pemimpin rakyat harus mampu menjemput bola. Harus insyaf pula bahwa keragaman potensi yang dimiliki rakyat adalah kekuatan yang harus tetap dilestarikan, dipupuk serta ditumbuhkembangkan sebagai satu kekuatan utuh untuk mewujudkan cita-cita kemajuan bersama. Mengayomi rakyat juga berarti memberikan kebebasan berbicara dan bertindak, di waktu dan tempat yang tepat. Orang boleh berkreasi apa saja, asal tak mengganggu orang lain. Orang boleh bernyanyi, menari, atau melakukan apa saja di waktu dan tempat yang tepat. Orang bebas bicara dan menulis apa saja, asal bertanggungjawab. Orang bebas mengkritik siapa saja, jika yang dikritik dianggap bersalah. Pada akhirnya, mengayomi adalah memberikan kebebasan untuk melakukan apa saja tanpa dihantui rasa takut. Pendapat saya ini, setidaknya, telah saya sesuaikan dengan konsep mengayomi dalam konteks demokrasi Masisir.
Demokrasi Masisir, dengan PPMI sebagai simbol tertinggi, hampir saja tumbang. Tanpa kepedulian terhadap hak-hak kebebasan itu, demokrasi Masisir adalah barang langka yang mahal harganya. Upaya pengebirian demokrasi, meskipun berusaha ditutup-tutupi, selalu ada. Ada semacam rencana terselubung yang dilakukan menggunakan tangan kekuasaan.
Saya jadi teringat sebuah kekonyolan – yang sebenarnya adalah upaya pembunuhan perlahan terhadap hak-hak demokrasi – yang dilakukan oleh PPMI. Hari itu bulan Ramadhan, menjelang Idul Fitri. Kabinet PPMI yang masih seusia jagung kala itu menyebarkan pengumuman lewat pamflet-pamflet mini yang intinya berisi: dalam rangka menyambut hari raya Idul Fitri, PPMI mengadakan acara takbir bersama dan penampilan akustik di KPMJB. Bagi anda yang ingin bergabung, dipersilahkan membawakan lagu-lagu religi dengan kriteria bebas, kecuali lagu-lagu Ungu dan Gigi.
Tentu saja, mereka yang paham dan tahu musik akan bertanya-tanya, apa kira-kira yang dimau PPMI? Setelah berpikir panjang, saya menemukan jawabannya: Ungu dan Gigi, meski punya lagu religi, tetaplah seperti grup-grup band sejenis lainnya, yang menurut hemat PPMI tak layak ditiru oleh Masisir.
Dus, PPMI bermaksud hendak membersihkan Masisir dari “kuman-kuman” yang bernama band, lalu menggantinya dengan hiburan yang lebih layak, semisal nasyid dan qoshidah.

Apa yang dilakukan oleh PPMI itu adalah bentuk pemasungan kreatifitas dan bakat Masisir dengan cara halus. Strategi aji mumpung, sebagaimana lumrah dalam dunia politik, dengan sempurna diterapkan. Mumpung berkuasa, maka berbuatlah apa saja! Dan itulah yang diperbuat PPMI: mempertegas proyek otoritarianisme yang anti demokrasi, anti kemajemukan, melalui sebuah pengumuman yang sederhana. Masisir digiring menuju satu warna, satu kecenderungan. Tak ada ruang untuk kemajemukan. Tak ada tempat untuk perbedaan.
Demokrasi Masisir hampir saja tumbang. Ketika suara-suara Masisir yang menuntut keadilan bagi korban kasus JS Oktober lalu semakin keras terdengar, di media dan di setiap tempat diskusi mahasiswa, PPMI menampilkan diri sebagai penguasa yang anti kritik. Keluhkesah dan pengaduan Masisir yang akhirnya berubah menjadi kecaman dan kritikan kala itu, ditanggapi dengan kebisuan. Bagi PPMI, menanggapi kritikan adalah seperti menyiram api dengan minyak. Untuk itu, jalan terbaik menghadapi mahasiswa adalah mendiamkan. Maka tak heran, ketika keresahan-keresahan mahasiswa itu semakin memuncak, satu-satunya jawaban PPMI di media adalah, “Allahumma ihdi qaumi, fa innahum la ya’lamun.” Masisir yang mengkritik dan memberi saran, yang mengadukan keluhkesah, yang menuntut keadilan, dianggap PPMI sebagai umat yang tersesat dari jalan yang benar, sehingga harus diberi petunjuk. Harus diluruskan. Tak ada diskusi, tak ada keterbukaan, tak ada kejujuran. Akhirnya, tak ada lagi pengayoman, tak ada lagi demokrasi.
Kita mungkin masih bertanya, seberapa penting arti demokrasi dan kebebasan? Mengenai hal ini, simaklah pernyataan Dr. Ahmad Burada’i, salahsatu kandidat Presiden Mesir pada bursa Pemilu Mesir tahun 2011 dalam harian al-Shorouk Januari lalu, “Saya tidak maju untuk posisi presiden, tapi saya maju demi terwujudnya demokrasi.” Demikianlah, pada tahap tertentu, kebebasan menjadi sesuatu yang mutlak dalam sebuah tatanan masyarakat. Begitu juga dengan kita. Dalam tatanan masyarakat yang beradab seperti Masisir, saya rasa, pengembangan kreatifitas mahasiswa dan proyek menghafal al-Qur’an atau jadwal talaqqi punya urgensitas yang sama untuk mewujudkan cita-cita pembangunan bangsa dari berbagai lini.
Karena itu, Masisir perlu diayomi. Masisir perlu mendapat tempat. Jika tidak, harus dipercaya bahwa membiarkan sebuah masyarakat kehilangan hak dan kebebasannya adalah sebuah luka yang pasti meninggalkan bekas. Karena demokrasi, seperti kata Goenawan Mohammad, tak cuma bisa dilihat dari atas, dari asal ide demokrasi itu muncul, tapi juga dari bawah; dari posisi cacing yang terinjak, dengan gerak yang selalu diawasi, dengan kata-kata yang selalu dikekang.
Singkatnya, pengekangan terhadap demokrasi hanya akan menjadi bom waktu yang akan meledak dahsyat pada waktunya.
READ MORE

SASTRA

Monday, May 11, 2009

Bendera Hitam
Muarajiwa*

Selendang kuning berukiran bunga itu meliuk-liuk, mengikuti bias gerak elastis jemari yang menggapit ujungnya. Lantunan beberapa gending yang ditopang alun gendang dan gamelan mengalir silih berganti dari tiga sinden yang duduk berjajar. Ada irama sendu, atau nada mistis di telinga siapa saja yang baru mendengarnya. Malam sudah melebihi pertengahan. Tapi pesta baru saja dimulai. Dan perempuan itu masih menari, meliuk-liukkan tubuhnya, mengepakkan selendang dengan tangannya yang gemulai, berselaras dengan irama dan tempo gamelan.
Ia tak sendiri. Dua penari lain bergerak seirama di kiri dan kanannya. Ketiganya mengenakan jarik cokelat, tapi perempuan itu mengenakan kemben merah tua, sementara dua lainnya kuning dan hijau. Dan di sini, para lelaki yang duduk melingkar bersorak riang, memanggil-manggil sebuah nama, sesekali bersiul panjang-pendek seperti tingkah untuk menghadirkan merpati. Perempuan gemulai yang menari di tengah itukah pemilik nama yang disebut-sebut itu? Lalu aku memandanginya. Gurat wajahnya yang dipoles bedak dan make-up tebal merah muda mengisyaratkan usia. Empatpuluhan. Ia wanita matang nan jelita. Aku membayangkan ia lebih tepat menjadi selir atau putri keraton daripada seorang penari. Tarian gemulainya mengundang ketertarikan setiap orang untuk menikmati. Mungkin keindahan, mungkin birahi. Ia hanya tersenyum, ketika orang-orang kembali riuh dengan siul dan teriak “Lasmi, Lasmi...!” Aku benar kawan, dialah pemilik nama itu. Lasmi. Nama yang indah.
Tak ada isyarat atau tanda-tanda apapun. Seperti ada kesepakatan diam di sela talu gendang dan gamelan. Kira-kira 30 menit pesta itu berlangsung, tiga orang laki-laki berdiri dari dalam lingkaran, lalu masuk ke dalam arena tari. Ketiganya berjalan tak tegap. Sempoyongan. Menuju penari kesukaan masing-masing. Lalu ikut menari.
“Kenapa kau tak menatapku, Lasmi?” Lelaki kekar berkumis tebal telah menari di depannya. Pakaiannya serba hitam, kecuali udeng yang berwarna merah di kepalanya.
“Mulutmu bau tuak.” Perempuan itu tetap tak melirik. Wajahnya condong 45 derajat dari tatapan lelaki itu. Ia bukan hanya tak suka baunya, tapi juga gelagat peminumnya yang mulai tak wajar, barangkali.
“Tapi kau seorang penari. Kau penghibur. Dan aku akan membayarmu!” Nada si lelaki meninggi. Sorot matanya yang merah menukik tajam ke wajah Lasmi yang masih mengarah ke sebelah kanan bahunya, lalu ia menggeser kuda-kudanya selangkah ke kanan; agar tatapannya bertemu dengan tatapan Lasmi.
“Aku tak suka bau tuak. Kau boleh ambil uangmu, asal tak mengganggu kenyamananku!”
“Hmm...kau tak nyaman menari denganku, hanya karena bau mulutku ini? Kalau begitu, aku akan meneguk minyak kasturi agar kau bergairah di depanku! Hahaha....”
Melihat gelagat lelaki itu semakin menjadi, Lasmi meluruskan arah wajahnya, membentur wajah si lelaki kumis tebal. Tapi aku tahu, pandangannya tak berada di sana. Ia menatap kosong, seperti pelamun yang menatap awang-awang sebelum tidur.
Ia bukan gentar dengan gertak si lelaki, tapi hanya tak mau kenyamanannya, juga kenyamanan orang-orang dalam pesta itu terkoyak jika lelaki itu berulah lebih jauh. Lalu ritme si lelaki meninggi, seperti api kayu bakar yang disulut minyak jarak. Ia bergerak, mengikuti ke mana saja arah perempuan itu. Matanya liar, menelanjangi seluruh tubuh di depannya, seperti serigala yang mengintai mangsanya. Tiba-tiba talu gamelan berhenti setelah nadanya gaduh, hampir tak beraturan. Kali ini aku menangkap isyarat. Ketiga lelaki itu kemudian mundur dari arena tari, setelah talu gamelan serempak berhenti, dan orang-orang berteriak, “Sawer, sawer...!” Dan lihatlah, kemben-kemben itu adalah kantong kepuasan bagi setiap tangan yang menjamah dengan selip rupiah, juga tabung oksigen bagi nafas sejumput manusia dalam sesaknya lorong kehidupan.

₪₪₪

Tuhan tak pernah kebetulan dengan segala rencana-Nya. Dan dua teori –ataukah keyakinan? karena aku tak begitu peduli dengan ini- tentang garis kehidupan; bahwa manusialah yang menentukan pilihan setiap pekerjaannya –baik atau buruk, dan bahwa segala yang dilakukan manusia adalah dilakukan dengan segala keterpaksaan, seperti bulu angsa yang terbang mengikuti ke mana saja arah angin berhembus, keduanya mungkin juga berlaku pada perkenalanku dengan Lasmi. Aku, pada keyakinan pertama, mamang memilih untuk mengenali jatidiri perempuan itu, di balik profesinya sebagai ledhek itu. Dan pada yang kedua, aku juga meyakini bahwa Tuhan telah menggariskan ketentuan pertemuanku dengannya kali ini. Pada titik inilah, antara pilihanku dan keinginan Tuhan bertemu, karena Tuhan tak akan pernah mempertemukanku dengan perempuan itu kalau Ia tak menginginkan itu.
Inilah kisahku mengapa aku berada di sini dan bertemu Lasmi: Desa ini Sendangsono. Aku orang asing di desa ini; pengecut yang datang dari kegentaran terhadap kebisingan kota, pecundang yang lari dari penjara kejenuhan. Tiga bulan penuh berkutat dengan tugas skripsi, aku memutuskan untuk sejenak lepas dari rutinitas. Dan, tak ada cara yang lebih tepat untuk itu kecuali pulang kampung. Tapi belum lagi kereta yang membawaku sampai di stasiun kota Tawanglangu, stasiun tujuanku, pusat informasi PJKA mengumumkan status darurat. Kereta harus diberhentikan di stasiun kota Landung. Kabar yang sampai di telinga, 237 km dari Landung, puluhan orang berbaju hitam telah siap menyambut kedatangan kereta. Mereka membawa batu, bom molotov, parang, celurit, besi. Orang-orang itu seperti hantu; datang dan pergi kapan saja, dengan alasan apa saja. Mereka menjarah. Mereka mengincar musuh. Mereka merusak. Mereka melampiaskan amarah. Mereka iblis.Pukul 21.45. Aku tak mungkin diam di Landung. Stasiun itu mencekam. Sekawanan preman terlihat mondar-mandir di sekitar gerbong. Di bangku pojok, sekelompok pengamen membentuk komunitasnya sendiri. Mereka anak-anak muda yang mudah terbakar emosi jika permintaannya tak dituruti. Mereka tak kalah mengerikan dengan para preman itu. Aku bertolak tanpa tujuan. Karena di sini, aku buta. Seperti sandera yang disekap lalu dilepas di hutan belantara. Tak mengerti rute atau peta. Malam itu, aku terdampar di Sendangsono berkat sebuah mobil pick-up tua merk Toyota L-300 yang mengangkut jerami pakan sapi. Aku numpang di sana. Lalu turun di sebuah keramaian yang belakangan aku tahu itu adalah Tayub. Aku mendatangi rumah lurah esok harinya, karena aku tahu Tayuban itu digelar atas prakarsanya setelah selamatan bersih desa. Aku bertanya segala hal tentang Lasmi.
“Lasmi hanya seorang janda. Suaminya meninggal setahun lalu. Sejak itu dia menjadi ledhek untuk hidup,” lurah itu setengah berkisah.
“Apakah dia tak punya anak?” aku meragu.
“Punya, Tari namanya. Lestari. Tapi ia tak di rumah. Ia hidup di kota.”
“Jadi, Lasmi hidup sendiri?”
“Ya. Anaknya kuliah di kota dan baru akan pulang minggu depan, tiga hari setelah perayaan Tujuhbelasan.”
“Bapak tahu itu?” aku curiga. Dari mana Lurah tahu informasi sedetail itu tentang Lasmi?
“Tentu saja. Sore kemarin Tari menitip pesan melalui telepon kantor kelurahan. Isinya demikian.”
“Lasmi sudah tahu?”
“Kami belum sempat ke rumahnya. Carik Darwo yang biasa bertugas mengantar surat dan pesan sedang saya tugaskan ke Kecamatan.”
Aku lega. Tapi bertanya-tanya di mana rumahnya. Lalu aku menjelaskan padanya keinginanku bertemu dengan wanita setengah baya itu. Lurah Kartawijaya –begitu ia mengenalkan namanya- menatapku tajam. Seolah ingin mematri raut wajahku kuat-kuat dalam ingatannya. Tatapan itu, adalah sebuah bahasa kecurigaan yang tak terlafalkan. Lihatlah, manusia adalah musuh bagi apa saja yang tidak ia ketahui. Aku ingin menghapusnya. Maka aku mengisahkan padanya tentang keresahanku terhadap Lasmi sejak ia menari di depan lelaki serba hitam malam itu. Lurah Karta masih menatapku. Secarik kartu nama kuulurkan padanya. Bramanta. Fakultas Psikologi-Universitas Kalingga.
Jl. Dharmaputra 15 A-Tawanglangu. Lelaki itu mengangguk-angguk.
“Kalau Bapak tidak keberatan, biar saya yang menyampaikan pesan tersebut kepada Lasmi.”
“Oh, tentu saja tidak. Tapi rumahnya jauh dari kantor kelurahan. 8 kilo. Tentu sangat merepotkan anda.”
"Anggap saja saya sedang ingin berkeliling kampung ini, dan pesan itu hanyalah sebuah titipan yang bisa disampaikan sambil melintas."
"Baiklah, kalau begitu saya tunjukkan rute menuju rumahnya."
Lalu diraihnya selembar kertas, ia gambarkan di atasnya jalan yang mengarah ke utara, berbelok ke kanan tiga kali, lalu ke kiri dua kali.
"Di ujung belokan terakhir, di sanalah rumah Lasmi," Lurah Karta mengakhiri penjelasannya.
"Terimakasih, Pak. Saya segera pamit. Hari sudah menjelang magrib."
“Kalau ada waktu, kami juga mengundangmu untuk datang pada pesta Tujuhbelasan minggu depan.”
“Dengan senang hati.”

₪₪₪

“Apa kau nyaman hidup sendiri seperti ini, Lasmi?” Oh, maaf, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya khawatir keselamatanmu.
“Aku sudah terbiasa sendiri sejak kematian suamiku.”
“Aku tahu itu. Tapi aku belum tahu kenapa suamimu meninggal.”
Lasmi bisu. Seperti berat mengenang masa lalu.
“Dia dibunuh. Dikeroyok lalu dicincang-cincang tubuhnya.” Ia tersedu. “orang-orang itu biadab. Tapi aku tahu mereka kerdil, seperti emprit. Suamiku elang.”
“Siapa orang-orang yang kau maksud?”
“Patisewu. Aliran hitam yang suka berbuat onar. Mereka bergerombol.”
Duh Gusti, apakah mereka orang-orang yang akan membajak kereta itu? Siapa pula lelaki yang menari di depan Lasmi malam tadi?
“Kau tak curiga dengan tigkah lelaki yang bersamamu di Tayuban semalam?” Aku berusaha memuaskan penasaranku.
“Mereka ada di mana-mana. Di pasar, warung kopi, tempat judi, juga Tayub. Mungkin lelaki itu salahsatunya.” Lalu bibirnya mengulum senyum, meskipun pahit. Seperti mengerti kekhawatiranku.
“Mereka tak pernah berulah lebih jauh setelah pesta. Kau tenanglah.”
Aku masih tak nyaman dengan jawaban itu ketika segelas kopi grasak yang dihidangkan untukku tinggal ampas. Etika bertamu membolehkan penamu permisi.
“Baiklah. Aku harus pamit. Oh iya, minggu depan anakmu pulang. Aku membawa pesan ini dari kantor kelurahan.”
Rautnya yang datar mendadak sumringah, lalu berubah ragu. Apa kau benar?
“Kau bisa tanyakan langsung pada Lurah, jika masih ragu.”
Lasmi mengangguk. “Baiklah.”
“Hari sudah larut. Aku permisi. Jaga dirimu baik-baik.”
“Tunggu, tunggu! Siapa namamu?”
“Bram. Bramanta.”

₪₪₪

17 Agustus, 17.35
Akhirnya aku kembali ke Sendangsono. Tapi aku tak beruntung menikmati Tujuhbelasan di sana; tambang telah digulung, kayu pinang telah dirobohkan, karung-karung telah dilipat. Pesta rakyat itu telah usai dua jam lalu. Tetapi balai desa belum lengang. Beberapa orang sibuk merias pendopo yang berlantai tanah itu. Sebagian lain, menenteng perkakas gamelan, lalu menatanya di atas panggung bambu. Lurah Karta menyambut sowanku di kantor kelurahan.
“Selamat datang kembali di desa kami. Tapi kenapa nak Bram datang telat?”
“Nyuwun pangapunten. Saya tidak bisa datang lebih awal, dan baru bisa berangkat dari Tawanglangu selepas dhuhur.”
“Oh, tidak masalah. Nak Bram masih bisa menyaksikan puncak pesta rakyat malam ini di pendopo.” Kemudian Lurah menjelaskan segala sesuatu tentang desa dan perayaan. Dan seperti penjelasannya minggu lalu, Tayub akan kembali digelar. Tetapi kali ini di pendopo desa.

Pukul 22.30. Orang-orang mulai berdatangan. Pria, wanita, tua, muda. Tapi pria dewasa mendominasi. Instrumen gamelan sudah bertalu, meski tanpa lengkingan vokal sinden. Seperti musik pembuka dalam konser aliran musik kontemporer. Di seberang kanan, 30 meter dari pendopo, sejumlah manusia lain bergerombol melingkar. Mereka penggemar kletek, judi dengan kelereng yang digelontarkan di atas papan. Bersama orang-orang yang menyemut, aroma pendopo menjadi tengik. Bau anyir ketan busuk. Mungkin arak atau anggur. Lalu iring-iringan sinden masuk dengan lantun gending. Yen ing tawang ono lintang. Mereka duduk di panggung, di depan penabuh gamelan. Lasmi, di mana dirimu?
Prosesi itu berjalan begitu saja. Pesta itu benar-benar sempurna ketika tiga penari muncul. Orang yang kucari ada di sana. Dan orang-orang menjadi gaduh. Mereka kegirangan. Aku welas asih. Karena Lasmi telah menari. Kembali menari. Tarian itu Tayub, tapi ia bagai menarikan Cakalele. Karena tarinya adalah pemberontakan. Tapi ia bukan gerwani. Ia hanya hendak melawan nasib; kematian suaminya, kesunyiannya, kemiskinannya. Di atas segala getir, perempuan itu masih harus menari, untuk hidup dan menghidupi anaknya.
“Aku ingin tidur bersamamu,” lelaki yang di depan Lasmi mengumbar. Pakaiannya serba hitam. Tapi aku pasti, ia bukan orang yang menari tempo hari.
“Jaga mulutmu!” Lasmi menyentak. Rautnya muram.
“Aku akan membayar lebih kalau kau bersedia!”
“Kau sinting! Aku masih bisa hidup hanya dengan menari! Pikirlah anak-istrimu!”
Lelaki itu murka. Matanya hampir mencelat.
“Lonte! ”
Lasmi geram, tak dapat lagi mengendalikan emosi.
“Asu!”

Lalu penonton meneriakkan sawer. Pertanda penari lelaki harus menyelipkan uang, lalu mundur dan digantikan penari lain. Lelaki itu lalu bergabung dalam lingkaran penonton. Tapi kemudian, kulihat dia meninggalkan pendopo bersama dua orang lain. Mereka serba hitam. Patisewu. Aliran hitam yang suka berbuat onar. Mereka bergerombol. Aku teringat ucapan Lasmi. Apa yang akan mereka lakukan?


₪₪₪

Ketika kudatangi rumahnya setelah pesta, aku terperanjat. Tubuhnya tergantung kaku. Selendang kuning yang dipakainya menari itu terikat pada bambu penyangga atap kamar, membentuk lingkaran dengan ikatan simpul pada ujungnya, sementara kursi randu buatan suaminya ada di bawahnya. Ujung selendang itu menjerat lehernya. Lalu orang-orang datang berkerubung, memuntahkan segala murka pada Lasmi.
"Lihat, lihatlah…ia sangat hina karena mengakhiri hidupnya sendiri!"
"Ya, dan kau tahu ganjaran apa bagi wanita pengecut seperti dia?"
"Kerak neraka! Ya, selamanya di kerak neraka!"
“Tenang, tenang! Turunkan jasadnya, dan mari kita sholatkan!” seorang yang muncul dari kerumunan mencoba menenangkan.
“Lasmi perempuan laknat! Ia tak perlu disholati!” seorang lain menyahut lantang.
“Ya, kuburkan saja di rumahnya. Lalu kibarkan bendera hitam di depannya!"
“Hei, mengapa harus hitam?”
“Agar semua orang tahu dia adalah pendosa! Bendera putih tarlalu suci untuknya. Malaikat dan surga tak akan menerimanya.”
Suara-suara itu tak lagi jelas dari mana asalnya. Melengking, lalu membumbung bersama angin.
“Ya, kibarkan bendera hitam! Agar orang tak datang untuk melayat. Karena dia perempuan laknat.”

Di tengah suara yang melolong-lolong itu, di balik wajahnya yang kini layu, Lasmi masih bercerita. Patisewu. Aliran hitam yang suka berbuat onar. Mereka bergerombol. Mereka tak pernah berulah lebih jauh setelah pesta. Kau tenanglah.
Tapi kali ini mereka benar-benar berbuat lebih jauh, Lasmi!


Kairo, 27 November 2008


*Lelaki sinting dari budayanya terasing






READ MORE

Puisi

Friday, September 19, 2008


Oi...!
Puisi Muarajiwa*

Oi…Oi…!
Orang Indonesia!
Lihatlah, lihat
Negerimu sedang berpesta
Di panggung sandiwara merdeka
Di puing-puing proklamasi

Oi…Oi…!
Orang Indonesia!
Bangunlah, bangun
Pancasilamu ditunggang hantu
Ambisi untuk menguasai
Kepentingan untuk menjatuhkan

Oi…Oi…!
Orang Indonesia!
Rapatkan barisan, rapatkan
Tutuplah ruang bagi politik hitam
Bungkam juga mulut pembangkang
Perongrong Pancasila yang mapan

Oi…Oi…!
Orang Indonesia!
Sadarlah, sadar
Negerimu bukan etnis
Negerimu bukan golongan
Negerimu dari Sabang sampai Merauke

Oi…Oi…!
Orang Indonesia!
Bersatulah, bersatu
Bendera kita masih sama
Merah Putih
Lagu kita masih sama
Indonesia Raya



READ MORE

Kampus Kita

Saturday, August 16, 2008


KONSTRUKSI MANDIRI SGS KITA

Jika anda termasuk orang yang percaya bahwa, berhasil-tidaknya sebuah sistem baru bisa dinilai setelah 5 tahun, maka tahun ini adalah tahun yang tepat untuk memberikan penilaian terhadap SGS yang telah kita terapkan sejak tahun 2003. Dan, setelah 5 tahun, penilaian “pincang” terhadap sistem ini harus kita akui, dengan disepakatinya salah satu butir Lokakarya yang merekomendasikan ditinjau ulangnya SGS yang telah diterapkan selama ini. SGS semacam mendapat tohokan pada acara Lokakarya April lalu, kaitannya dengan hierarki kekuasaan yang masih runyam.
Menurut saya, runyamnya hierarki kekuasaan itu tidak hanya berkutat pada tiga lembaga yang terdapat pada pola SGS kita; eksekutif, legislatif dan yudikatif. Lebih dari itu, secara umum Sistem Pemerintahan Mahasiswa (Student Government System) kita belum kokoh, bahkan bisa dikatakan ruwet dan serabutan, di dalamnya terdapat permasalahan-permasalahan kompleks untuk bisa dikatakan sebagai sebuah sistem yang rapi dan ideal. Ruwetnya SGS kita ini, sudah sampai pada sebuah kesimpulan bahwa sistem yang kita terapkan adalah sebuah sistem hierarkis-anarkis. Ini karena, kita masih harus membandingkan standar ideal SGS yang kita anut ini dengan akarnya. Bagaimanapun, SGS kita adalah sebuah adapsi –jika tidak boleh disebut adopsi- dari sistem yang sudah berlaku di berbagai universitas dalam negeri pada umumnya.
Mengapa ruwet, mengapa anarkis? Karena pada dasarnya SGS itu simpel. Secara struktural, SGS dapat kita gambarkan dengan ringkas seperti ini: Rektorat – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU) – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF) atau yang dahulu disebut SEMA Fakultas – dan Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan (BEMJ). Dari sini jelas, garis koordinasi yang menghubungkan antar badan secara hierarkis adalah garis akademis (senat), bukan daerah, afiliatif, apalagi partai. Tanpa perlu menyebutkan satu persatu, indikasi betapa kompleks dan ruwetnya SGS kita, dapat kita runut dari bagian terpenting sistem ini sebagai sampel; senat. Pertama, jika disepakati bahwa yang kita terapkan adalah SGS, maka Senat Mahasiswa Fakultas semestinya juga harus dirubah menjadi BEMF, karena kita mempunyai presiden. Tapi tunggu dulu, jika kita sepakat mempunyai presiden dalam SGS kita, di mana letak BEMU yang seharusnya diketuai oleh presiden itu? Siapa yang kita sebut presiden?
Kedua, senat yang secara struktural seharusnya berada di bawah BEMU kalah pamor dengan organisasi kedaerahan bahkan afiliatif yang memang terlebih dahulu telah ada jauh sebelum SGS diterapkan. Padalah, organisasi kedaerahan, walaupun ada, seharusnya tak boleh mendapat ruang sedikitpun dalam struktur SGS, karena organisasi ini hanyalah organisasi ekstrakurikuler kampus. Inilah mengapa saya katakan anarkis. Organisasi yang seharusnya samasekali tidak mendapat tempat dalam struktur SGS, di sini malah menggeser dan menghegemoni posisi senat. Padahal, jika kita asumsikan posisi presiden adalah pemerintahan pusat, maka pemerintahan daerah atau provinsinya adalah senat, bukan organisasi kedaerahan. Ketiga, kaitannya dengan poin di atas, senat yang seharusnya menjadi mata rantai penghubung antar struktur dalam Sistem Pemerintahan Mahasiwa, malah menjadi sebuah ekosistem yang kembang-kempis; kadang hidup kadang mati. Takaran hidup-matinya pun menjadi sangat sempit, sebatas pada penyebaran talkhisan yang bisa jadi meimbulkan pembodohan massal.
Kompleksnya permasalahan struktural SGS kita, jika dirunut, akan bermuara pada satu titik yaitu; sistem yang kita terapkan pada pola berorganisasi kita ini sama sekali tidak mengafiliasi ke kampus. Dengan kata lain, organisasi kita sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan kampus (al-Azhar) secara hierarkis, padahal posisi kampus dalam struktur SGS adalah posisi teratas sebagai rekrorat. Jadi, penerapan SGS dalam pola organisasi kemahasiswaan kita di sini bisa dikatakan sebagai sebuah pemaksaan sistem. Lalu, apakah sistem yang sudah terlanjur kita terapkan ini perlu diganti? Menurut saya tidak, tapi kita perlu merekonstruksi SGS dengan corak dan warna sendiri, dengan catatan, ruh "kemahasiswaan" dalam Sistem Pemerintahan Mahasiswa harus dipertahankan. Satu-satunya jalan adalah dengan mereposisi senat dalam struktur SGS kita itu. Karena dengan hanya mempertahankan sistem yang ada sekarang saja, kita sudah bisa mengatakan SGS kita sudah mempunyai corak dan warna sendiri, yaitu SGS yang serabutan.
Namun demikian, betapapun ruwetnya SGS kita, bukan berarti sistem ini tidak mempunyai hasil. SGS minimal telah ikut mencerdaskan mahasiswa dengan memberikan asupan positif tentang sistem politik demokrasi yang telah sejak dini dimulai dari lingkup kampus (Masisir), yang dengan demikian akan membuka mata terhadap skala yang lebih besar; skala bangsa.
Memang, SGS yang sebagaimana mestinya tidak bisa seluruhnya diterapkan pada pola organinsasi kita di sini. Penerapan sistem itu secara utuh dan terpadu dalam iklim organisasi kita adalah hal yang tak akan pernah terjadi. Tetapi setidaknya posisi senat harus ditegaskan. Karena bagaimanapun, SGS tanpa senat adalah omong kosong. Mengusung SGS tetapi melupakan eksistensi senat adalah sama tololnya dengan membangun kamarmandi tanpa toilet.
Rekonstruksi SGS agar seirama dengan budaya akademis mahasiswa melalui garis kefakultasan inilah yang menurut saya lebih tepat dimaksud dengan "ditinjau ulang". Tanpa hal ini, jangan harap perubahan signifikan pada peningkatan prestasi mahasiswa yang diidam-idamkan itu dapat terjadi. Inilah bentuk minimal konstruksi mandiri SGS yang harus kita bangun, walaupun sebenarnya juga masih compang-camping.
Jika anda bertanya kapan waktu yang tepat untuk memulai perubahan itu, maka sekaranglah waktunya, saat pesta demokrasi Masisir selangkah lagi dimulai.

READ MORE

SASTRA

Monday, July 14, 2008


KISI-KISI API
Oleh Muarajiwa*

Ruang Tengah, Terhenyak

Hembusan udara tak sejuk. Sebentuk kepak sayap naga api mengitari kota gersang. Dengusnya gerah. Lidah runcing menjulur-julur merah. Nafasnya sayup, tapi sengat. Naga terus bercokol di langit kota ini, merenta tua. Empat bulan, atau lebih. Ular menyiluet bulan itu baru akan beranjak Oktober nanti, atau November. Setelahnya, hawa neraka tak lagi meraja buta.
Aku termangu di sudut fentilasi. Mengintip langit.
-Bagaima kabar langit? Masihkah biru?- Azura menodong tiba-tiba. Ia baru saja terjaga dari kursi panjang berukiran lengkung, tempatnya merebah semalam.
-Langit tak lagi biru. Ia ungu,- singkat jawabku. -Bagaimana bisa?- Azura mengulang tanya. Seperti kuduga, pertanyaannya akan menggelontar begitu saja, persis gulungan solasi di lantai licin. -Begitulah keadaannya. Kau benar-benar ingin tahu?- tanyaku ragu. –Ya,- tegasnya. Aku tak pernah menyana, ia akan sedemikian tertarik mengejar kata-kataku yang biasanya hanya imajinasi-imajinasi liar. Tentang hidup, tentang cita-cita, mimpi-mimpi yang belum sempat terbeli.
-Karena aku sedang mabuk,- jawabku. -Ah, jadi karena itu matamu tak lagi waras? Tak lagi jelas melihat warna, hah?- Azura menggerutu. Aku tak sedang mabuk seperti yang kau pikirkan. Aku tak sedang mabuk arak. Aku hanya mabuk cinta! Haha...- Aku melihat rautnya murka mendengar kelakarku. Aku lalu menggiring kata-kata. Menembus dimensi waktu. Azura antusias, belingsatan di sudut jengkelnya. -Aku dengar, di kota sana akan ada pameran buku. Kau tak tertarik mengunjungi?- Cuaca sangat panas. 38 derajat. Kau tak ingin kulit kepalamu terpanggang bukan?- Azura berat.
-Hey, hey... cuaca memang membara. Langit memang sedang murka. Tentu kau tak mau disebut pengecut hanya karena bakaran cuaca, bukan? Ingat, kau dan aku juga pernah punya bara. Mendidih!- -Sudah, sudah... jangan kau teruskan celotehmu itu. Aku juga masih belum pikun! Cepat kau bilang, ke mana kita akan pergi?- Azura merajuk. -Ke Husein. Belakang kampus,- jawabku ringkas. -Apa kau bilang? Husein? Belakang kampus?- Aku hanya tersenyum simpul. Tanda setuju. -Ah, kau tak perlu susah-susah berceloteh kalau hanya untuk mengajakku ke tempat itu. Kau tahu, tanpa kau paksapun aku sudah terlalu akrab dengan tempat kumuh itu!- Azura berlalu. Mandi.
***

Bis Kota, Termenung

Laju bis kota menyiput. Mengantar siapa saja ke mana saja dengan tujuan apa saja. Pengasong, pengemis, polisi, politisi, pencopet, pencuri, guru, dosen, pelancong, bahkan anak menteri. Mana pencuri mana polisi, mana pencopet mana anak menteri, aku tak pasti. Kabarnya, banyak polisi bertampang pencuri tersebar di kota ini. Intel, katanya. Bahkan, kabar yang kubaca dari koran kota ini menyebutkan banyak anak menteri yang tertangkap karena mencuri. Mereka keranjingan ganja.
Pandangku mengedar kosong, tak searah dengan pikirku. Azura membeku. -Apakah benci selamanya dikatakan absurd?- Aku memulai kata-kata. -Akan lebih selamat jika kau menggunakan kata iri. Bukan benci,- Azura bijak. -Keduanya hampir tak beda,- kilahku. -Kebencian apa yang kau maksud? Aku termangu. Seperti kehabisan kata-kata. Entahlah...- dadaku hanya sering bergemuruh mendengar kata... karya,- kataku lalu. Terlalu naif jika kau katakan itu sebagai benci. Itu hanya iri. Artinya, kau masih memiliki kekuatanmu. Jadi menurutmu itu bukan absurd?- -Tidak, itu wajar. Bukan hanya kau. Aku juga. Bukankah kau bilang kalau aku juga pernah punya bara? Dan imaji-imaji lalu berkelebat dalam pikiran masing-masing. Bisu. Liar.
***

Kios si Tua, Takjub

Si tua itu bernama Emad. Bapakku yang menamai, ceritanya tanpa kuminta ketika aku berkenalan dengannya. Bapaknya berharap kelak ia menjadi orang yang dapat diandalkan. Menjadi sang teguh di antara ratusan bahkan ribuan rapuh. Emad adalah tiang. Dan tiang adalah simbol teguh. Persis seperti namanya. Karena nama adalah doa. Si tua itu telah benar-benar tua. Aku menangkapnya dari jabat tangannya. Tapaknya empuk, kulitnya lunak berkeriput. Kening dan pipinya juga sudah berkerut. Ia duduk di atas kursi, tepat di belakang etalase buku-buku bekas yang menjadi dagangannya. Tangan kanannya menggengam buku. Tangan kirinya menumpu dagu, sesekali membenarkan kacamata. Sesekali juga melihat ke arah pengunjung kiosnya. -Kau suka sastra?- tanyaku. Karena aku melihat buku yang sedang ia baca. Qashr Syawq, karya Nagib Mahfoudz. Ya. Aku suka Nagib Mahfoudz,- jawabnya.- Aku juga suka. Aku baca Karnak Kafe-nya. Atau Awlad Haratina. -Oh ya? Kenapa suka?- kejarnya. Karena aku juga suka sisha, seperti dia. He...tidak, tidak...aku cuma canda. Aku menikmati tulisannya. Itu saja.- Tapi aku tak suka Nawwal, timpalnya. -Kenapa?- Karena dia wanita. Dan aku pria.- Jadi kau lebih memilih bersikap diskriminatif?- -Oh, bukan itu. Justru karena menurutku dia berlebihan dengan kodrat wanitanya. Begitu? tanyaku sambil menyedorkan sebungkus Cleopatra. Ia mengambil satu. -Ya,- jawabnya lalu. Azura di sudut kiri sana. Bercengkrama. Bagus-bagus, Ra, katanya. My Name is Rednya Orhan Pamuk. Zainabnya Haekal, Laila Majnunnya Nidzami, Azura menyebut satu-satu. Oia, namaku Muara. Dipanggil Ara. Panggilan kesukaan kekasihku. Tapi aku tak memanggil Azura “Ra”, seperti ia memanggilku. Aku menyebutnya Zur. Zura.
Kembali ke si tua. Menurut Zura, kios si tua sudah berdiri lama. Warisan bapaknya. Bukan hanya kios warisan bapaknya. Tapi juga gemar membacanya. Zura sudah lama mengenalnya. -Mengapa kau memilih menjaga kios? mengapa tak kau serahkan anak-anakmu saja?- tanya Zura setengah ragu. -Aku tak betah duduk di rumah. Aku lebih betah di sini. Karena di sini, hidupku juga berguna untuk orang lain. Aku suka orang seperti kalian. Bukan karena kalian membeli buku-bukuku. Tapi karena kalian menyukai buku,- jawab si tua. Zura sudah bersamaku, di depan si tua. Menenteng buku-buku. -Anak-anakmu?- Aku menambah tanya. -Tiga orang. Satu kerja di Kuwait, satu doktoral di Prancis, dan satu lagi perempuan masih di Ain Syams, si tua sambil menunjukkan satu persatu foto anaknya. -Dan kau sendiri?- aku penasaran. Aku hanya pensiunan dosen di Sastra Ain Syams. 1988. Aku bisu. Azura dungu. Karena Takjub.
***

RM. Barokah, Membara

-Pelajaran apa yang kau ambil dari si tua?- Azura sambil mengicip strup soda. Aku memilih es kopi susu. Cocok dengan Dji Sam Soe. -Aku masih terlalu kerdil di depan si tua, jawabku tak mengena.- -Lalu apa? -Lalu... masih banyak yang dapat kita lakukan sebelum menjadi tua, seperti si tua.- Satu hal yang belum kau tahu,- Azura seperti memancing. Kau tahu apa itu?- lanjutnya. Aku menggeleng. -Kau tak perlu terburu-buru membenci kata apapun. Karena si tua, tak menjadi si tua yang dosen sastra tanpa proses,- Azura sambil menyesap sebatang Gudang Garam. Ia tak sama denganku, yang lebih gemar Sam Soe. -Tapi, kau masih boleh membiarkan dadamu bergemuruh. Karena itu adalah api, yang berkobar di jiwamu. Agar jiwamu tak lagi hitam, seperti langit itu. Aku tak suka langit hitam. Menggantung tertutup awan, panjangnya. Aku patung. O, si tua. Sontak menyulut bara. O, jiwa.◙

*Anggota Sanggar Sastra Nusantara

READ MORE

Nasional

Friday, April 11, 2008


SINDROM POSTREFORMASI

Peralihan tiap kekuasaan dalam sejarah panjang bangsa Indonesia, dari zaman kerajaan hingga kini, selalu ditandai dengan darah. Sejarah kerajaan nusantara tak luput dari catatan “tinta merah” pada setiap peralihan dari satu kekuasan menuju kekuasaan lainnya. Kediri di bawah Kertajaya, dimakar oleh Ken Arok di bawah panji Singosari. Demak berhasil menumbangkan Majapahit dan mengganti sendi-sendi pemerintahan dengan panji-panji Islam. Di era yang lebih modern, Orde Lama dengan jargon Revolusi dibawah kepemimpinan Soekarno, harus bertanggung jawab atas “tumbal” Revolusi G.30S yang didalangi oleh PKI menjelang bergulirnya Orde Baru. Selanjutnya, tumbangnya Orde Baru harus dibayar mahal dengan nyawa beberapa mahasiswa yang melayang akibat konfrontasi dengan aparat pada tragedi Trisakti. Apa yang terjadi sesungguhnya adalah sebuah keinginan akan terwujudnya perubahan dalam tatanan pemerintahan. Jadilah era baru, Reformasi. Pada Orde yang paling baru inilah rakyat menumpukan harapan; perubahan dari tatanan pemerintahan yang eksklusif menuju yang lebih terbuka, dari diktator menuju demokrartis dan menghargai kebebasan. Reformasi yang oleh Habibie ketika menjabat Presiden ke-III RI dijabarkan dengan diberikannya kebebasan pers, kebebasan berbicara, mengeluarkan pendapat dan bahkan kebebasan berdemonstrasi guna mempercepat proses transformasi demokrasi dinilai telah berhasil. Inilah apa yang dikehendaki oleh Habibie sebagai “Kedaulatan Rakyat,” kekuasaan tertinggi adalah milik rakyat. Sejak saat itu, euforia kebebasan begitu terasa di segala lini kehidupan; politik, ideologi, agama, bahkan gaya hidup. Padahal, hal-hal inilah yang berusaha dipasung oleh Orde Lama pada masanya.

Setelah sepuluh tahun, angin Reformasi dirasa semakin “meninabobokan”. Akibatnya, batasan-batasan kebebasan menjadi gamang, tak lagi jelas. Salah satu akibat terfatal dari euforia kebebasan yang dimaknai secara membabibuta ini adalah dekadensi moralitas bangsa. Beberapa perangkat sosial dan politik turut bertanggung jawab atas hal ini. Kebebasan pers yang dahulu digagas untuk mendukung proses Reformasi, melonjak menjadi biang keladi maraknya pornografi, pornoaksi, selain pengaruh media lain. Dalih kebebasan berekspresi menjadi senjata utama untuk melegalkan segala bentuk moralitas tak manusiawi yang semakin mengekosistem; budaya gelamour, individualis, hedonis, anarkis, bahkan anti-sosialis. Singkatnya, harga mahal yang harus dibayar oleh Reformasi adalah hilangnya ruh Indonesia sebagai bangsa Timur dalam hal moralitas!

Dalam kancah politik, dunia perpolitikan yang pada Orba dimonopoli oleh Keluarga Besar Golkar (Partai Golkar, ABRI, dan Korpri) pada Orde paling baru ini menunjukkan kesumatnya. Bursa pencalonan peserta pemilu 2009 mencatat sekitar 80 partai yang mendaftar. Apakah membuncahnya populasi jumlah partai ini merupakan indikasi yang lebih baik bagi stabilitas nasional bangsa Indonesia? Tidak juga. Politik “tak sehat” yang dipelihara oleh Orde Baru berganti kemasan menjadi “penyakit-penyakit” lain. Atmosfir Indonesia penuh sesak oleh hawa kepentingan demi kekuasaan, sehingga terbentuklah apa yang disebut sebagai masyarakat semi anarkis; pilitik uang, politik kotor. Kampanye partai pakai uang, kampanye jadi Lurah pakai uang, bahkan demonstrasi yang katanya demi menegakkan hak pun harus dipolitisasi dengan uang.

Suksesnya Reformasi setelah sepuluh tahun sejak bergulirnya ini, mengindikasi kepada sindrom kebebasan yang berlebihan. Reformasi yang kelewatan. Partai politik dapat dengan leluasa menyusun strategi-strategi politik dengan misi masing-masing, karena kendaraan politiklah yang mendapat legitimasi resmi untuk menduduki struktur pemerintahan Indonesia. Muncullah kelompok-kelompok yang mengatasnamakan golongan nasionalis, agamis, sosialis, demokratis, sekularis bahkan mungkin neo-komunis dengan kepentingan yang sama: mengendalikan pemerintahan. Jika demikian, sungguh Indonesia hanyalah sebuah ajang perebutan kekuasaan para setan-setan politik. Lalu, “Apakah selamanya politik itu kejam? Apakah selamanya dia datang tuk menghantam? Ataukah memang itu yang sudah digariskan? Menjilat, menghasut, menindas, memperkosa hak-hak sewajarnya.” (Iwan Fals, Sumbang)

Emosi massa dengan sangat mudahnya tersulut hanya karena sedikit perbedaan pendapat. Pelecehan-pelecehan terhadap para aparatur negara dengan sangat mudahnya terlontar dari mulut-mulut manusia tak bertanggungjawab. Konfrontasi berdarah antara aparat dan rakyat tak terhitung lagi jumlahnya. Hak Asasi Manusia diperdengungkan di ruas-ruas jalan demonstrasi, tetapi Kewajiban Asasi Manusia terhadap bangsa mereka lupakan. Yang akhirnya harus dituai adalah, pemerintahan bangsa Indonesia pasca Reformasi telah kehilangan wibawanya!

Kondisi semacam ini membuat stabilitas nasional tak lagi dinamis, jauh dari “Gemah Ripah Loh Jinawi.” Tentu saja, kondisi bangsa yang semacam ini tak mungkin selamanya dipertahankan. Jika pada masa Orde Lama kelompok pan-Islamisme yang direpresentasikan oleh SM. Kartosoewirjo -yang kemudian dicitrakan sebagai pemberontak- berani menentang kekuasaan RI dengan mendeklarasikan NII (Negara Islam Indonesia) karena kekecewaan terhadap pemerintahan waktu itu, bukankah nasionalis, sekularis, neo-komunis dan pan-Islamisme modern mempunyai ruang lebih luas untuk mengulang sejarah di era yang sering diartikan sebagai era kebebasan ini? Artinya, kancah politik bangsa akan mencapai titik muak dan mengharuskan perubahan -entah apapun bentuknya. Yang jelas, Postreformasi akan akan segera bergulir menggantikan Reformasi yang makin semrawut untuk menyempurnakan sejarah. Mau kemana bangsa kita?

READ MORE