Pages

INTERAKSI

Friday, November 2, 2007




HIDUP BERSAMA, HARUS DIBELA!!

Dalam berbagai hal, antara Indonesia dan Malaysia terdapat banyak kesamaan, walaupun sebenarnya berbeda. Kultur, budaya, adat, bahkan bentuk fisik manusia kedua negara hampir sama. Itu sebabnya orang Mesir atau orang Arab lainnya sering kali salah memanggil orang Indonesia dengan sebutan “Ya Malizy!” “Hei orang Malaysia! Atau bisa juga sebaliknya, mereka menyebut orang Malaysia dengan sebutan “Andunisy!.” Dua hal yang memang serupa tapi tak sama. Di Mesir ini, Indonesia dan Malaysia termasuk pengimpor tenaga mahasiswa terbesar dan terbanyak. Dan bukan tenaga kerja, seperti di negara-negara lain. Saudi, Hongkong, misalnya. Dari sini, tentunya sering terjadi interaksi antara mahasiswa kedua negara, karena mereka berada di negara dan kampus yang sama. Bahkan, komunitas mereka sering kali sama-sama terpusat di satu tempat. Hay ‘Asyir misalnya. Dalam lingkup kemahasiswaan, kedua belah negara juga terlihat harmonis menjalin hubungan. PPMI dengan PMRAM yang sesama organisasi induk mahasiswa, WIHDAH dengan HEWI yang sesama organisasi induk mahasiswi, serta ICMI dengan ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) yang sesama organisasi kecendikiawanan Islam. Masing-masing dari keduanya sering terlihat menjalin kerjasama melalui organisasi-organisasi ini. Tentunya hal itu didasari oleh kesamaan dan kedekatan-kedekatan yang ada.Namun begitu, di tingkat negara hubungan RI-Malaysia juga tak selamanya mulus. Sederetan konflik mewarnai hubungan kedua negara. Perebutan pulau, pembajakan budaya, hingga kekerasan terhadap warga pendatang. Konflik-konflik yang terjadi antar kedua negara sedikit banyak juga dirasakan oleh komunitas masyarakat kedua negara yang berada di luar. Apalagi di Mesir, yang intensitas interaksi warga kedua negara tergolong tinggi, walaupun hanya dengan bertatap muka dan bertukar salam di jalan. Konflik yang sumbernya dari masing-masing negara bertetangga itu tanpa disadari telah membawa hawa panas di tengah-tengah komunitas masyarakat kedua negara di sini. Bagaimana mungkin di salah satu bis, seorang mahasiswa Indonesia mengumpat-umpat, menjelek-jelekkan negara Malaysia dihadapan temannya, sedang di sampingnya ada warga Malaysia. Atau bagaimana mungkin serombongan mahasiswi Malaysia mengatakan kata-kata sandi tertentu sebagai pertanda hati-hati ketika bertemu orang Indonesia di jalan?
Di saat-saat seperti inilah instansi-instansi yang mewakili nama pemerintahan harus memerankan fungsinya. Baik instansi yang mewakili mahasiswa (PPMI) ataupun yang mengatasnamakan negara (Kedutaan). Bagaimana mungkin keharmonisan yang telah terjalin itu harus terkoyak dan retak gara-gara konflik yang sumbernya bukan berasal dari komunitas kedua negara yang ada di sini? Hal ini tak bisa dibiarkan, harus segera ada tindakan dari yang berwenang jika tak ingin keadaan semakin menegang. Mengenai format dan prosedur tindakannya, itu terserah para atasan sekalian. Kami hanya ingin tahu langkah kongkrit itu ada. Bukan hanya acuh dan memilih diam, karena ini “katanya” bukan wewenangnya. Bagaimana mungkin?◙
READ MORE

KAMPUS KITA

Tuesday, October 30, 2007


SENAT USHULUDDIN
ANTARA KONDISI DAN TUNTUTAN PERUBAHAN
Oleh Agus Khudlori*

Senat Mahasiswa Fakultas (selanjutnya disebut SEMA-F) adalah salah satu kekuatan besar yang dimiliki mahasiswa, kaitannya dengan penerapan Student Government System (SGS) di kampus universitas (UIN sebagai cerminan). Kekuatan tersebut tercermin dari salah satunya, pembentukan partai oleh Senat Mahasiswa yang akan dijadikan sebagai kendaraan politik untuk pencalonan presiden mahasiswa (Presma). Senat Mahasiswa Fakultas yang belakangan di banyak kampus dirubah istilah dan namanya menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF) yang secara struktural berada di bawah Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU) juga menjadi sentral aktifitas intra maupun ekstrakurikuler mahasiswa. Riset, diskusi, seminar, workshop kefakultasan adalah beberapa contoh kegiatan yang intens dilaksanakan oleh SEMA sebagai upaya untuk meningkatkan mutu SDM anggota senat agar dapat bersaing dan ikut berkutik dalam dunia intelektual kampus.
Dari gambaran singkat di atas, kiranya tidak ada salahnya jika penulis bermaksud membandingkan antara dinamika kemahasiswaan kita (Masisir) dengan dinamika mahasiswa kampus di Tanah Air. Karena pada kenyataanya kita sama-sama menganut sistem yang sama, SGS. Bahkan, SGS yang kita terapkan pada dinamika kemahasiswaan kita sekarang ini adalah adopsi dari SGS yang diterapkan di kampus UIN (Ramli Syarqawi, S.Ag adalah salah satu pengusung dan pencetus SGS Masisir).Maka, mari kita lihat seberapa maksimal penerapan SGS Masisir dari perspektif organisasi Senat Mahasiswa, setidaknya dari senat kita sendiri, Ushuluddin. Terhitung sejak didirikannya sekitar tahun 2005 -yang sebelumnya mati suri-, senat Ushuluddin hanya mempunyai kurang dari 50 orang anggota aktif. Padahal, Ushuluddin adalah fakultas terfavorit dan dipilih oleh mayoritas dari sekitar 5000 mahasiswa. Ada apa? Dalam kacamata penulis –sekaligus sebagai otokritik- fenomena kejanggalan ini terletak pada pertamakali diadakannya orientasi mahasiswa baru atau yang sering kita sebut Ormaba. Walaupun mahasiswa baru sudah didata melalui formulir per senat, serta materi tentang kesenatan juga diperkenalkan pada Ormaba tersebut, akan tetapi dua hal ini belum cukup memikat dan mengikat mahasiswa baru untuk selanjutnya dapat terlibat aktif dalam dinamika kesenatan. Itu karena, pendataan melalui formulir yang dilakukan tersebut hanya sebatas pendataan, tanpa adanya follow up dan penekanan kepada Maba untuk mengikat diri di senat. Terbukti dari jumlah mahasiswa yang terdata ketika Ormaba hanya tersisa kurang dari 50 puluh orang anggota aktif. Ke mana yang lain? Begitu pula dengan materi kesenatan yang dikenalkan ketika orientasi juga hanya sebatas pengenalan, bukan materi tentang kesenatan secara spesifik.
Selanjutnya, senat Ushuluddin –dalam perspektif penulis dan mayoritas mahasiswa- adalah senat terfakum dalam hal aktifitas dan kegiatan. Jangankan untuk kegiatan yang sifatnya eksternal, terbuka untuk umum, seperti SEMA FSQ dengan "Malam Peduli Lebanonnya", SEMA FBA dengan seminar tentang jurnalistik Arabnya pada tahun 2003, SEMA FSI dengan bedah bukunya baru-baru ini, selama setahun ini kegiatan yang sifatnya khusus mengundang massa mahasiswa Ushuluddin saja tidak pernah tercium baunya.
Hal ini semakin menegaskan paradigma yang menyebutkan lemahnya kekuatan senat Ushuluddin sehingga tak mampu menarik empati massanya, bahkan untuk sekedar berpartisipasi dalam atmosfir kesenatan.
Dari dua pokok permasalahan di ataslah (minimnya jumlah anggota tercatat dan fakumnya aktifitas) berbagai problema dalam SEMA Fakultas Ushuluddin muncul, sehingga berakibat kepada tidak optimalnya peran senat Ushuluddin dalam kancah dinamika keilmuan Masisir. Selanjutnya, tidak bijak kiranya jika penulis hanya menyebutkan permasalahan tanpa ada solusi yang ditawarkan. Maka di bawah ini adalah beberapa solusi umum dalam rangka merubah kondisi terpuruk ini menuju optimalisasi peran senat Ushuluddin agar dapat ikut bersuara dalam dinamika kemahasiswaan kita.
Kaitannya dengan manimnya partisipasi anggota dalam senat, maka haruslah ada perubahan sistemik pada acara orientasi mahasiswa baru (Ormaba) oleh PPMI. Sebagai efisiensi dana dan kegiatan, orientasi mahasiswa baru per senat yang biasanya dihandle langsung oleh pihak senat (seperti Tawashul untuk SEMA Ushuluddin) seharusnya bisa dilebur dengan Ormaba PPMI. Dari Ormaba tersebut antusiasme serta semangat mahasiswa baru terhadap senat akan lebih tinggi dibanding jika orientasi senat diadakan setelah Ormaba. Hal ini juga dimaksudkan supaya orientasi senat tidak kalah start dengan orientasi kekeluargaan. Kemudian PPMI sebagai pihak yang membawahi organisasi SEMA (sebagaimana BEMU yang membawahi BEMF) haruslah mampu menunjukkan kekuatannya dengan cara mewajibkan seluruh mahasiswa baru untuk mengikat diri dalam senat. Karena bagaimanapun, keterikatan anggota adalah modal awal untuk memulai pergerakan di senat. Kalau anggotanya saja tidak ada, apa yang akan digerakkan dan diperjuangkan?
Selanjutnya, kaitannya dengan fakumnya kegiatan senat yang ditengarai karena salah satunya, minimnya dana yang dialokasikan kepada senat, sebagai solusinya Sidang Pleno II BPA dalam pembahasan RAPBO DPP-PPMI term I merekomendasikan penetapan jatah wajb (primer) senat untuk term pertama sebanyak 500 Pound, ditambah jatah skunder sebesar 1000 Pound dengan syarat organisasi senat terkait tidak fakum aktifitas. Ditambah lagi subsidi dana dari BWAKM sebesar 900 Pound untuk seluruh organisasi senat, maka tidak ada alasan bagi organisasi SEMA terutama Ushuluddin untuk tidak menggalakkan kegiatan. Tak harus kegiatan yang berskala makro dan bersifat umum, penulis melihat senat Ushuluddin harus memulainya dengan kegiatan-kegiatan yang lebih mengerucut tentang kesenatan dan diperuntukkan khusus mahasiswa Ushuluddin seperti kajian, diskusi, pelatihan, dan lain-lain. Kemudian masih seputar dana, rekomendasi BPA yang mengusulkan kepada DPP-PPMI untuk mengalokasikan 5 jatah tambahan Temus (10 jatah Temus dikurangi 5 Temus WIHDAH) kepada senat haruslah diperjuangkan. Karena itu nantinya akan menjadi salah satu sumber keuangan terbesar senat, sehingga senat tidak selalu bergantung kepada anggaran DPP untuk memulai aktifitas.
Senat mahasiswa melalui PPMI juga harus mempunyai suatu kekuatan yang bersifat mengikat dan mengakar. Peraturan tentang pengurusan dan mediasi calon mahasiswa baru yang harus melalui senat, misalnya. Senat melalui dukungan PPMI pula hendaknya menghimbau kepada seluruh organisasi di luar senat untuk mendukung optimalisasi peran senat dengan cara mengalihkan bimbingan belajar kepada senat sebagai upaya lain untuk mengikis kefakuman dari partisipasi massanya, sehingga dengan sendirinya anggota fakultas akan banyak muncul dalam dinamika kesenatan.
Terakhir, pembicaraan tentang optimalisasi peran senat besrta solusi-solusi seperti di atas adalah omong kosong, jika tidak dibarengi dengan tindak lanjut dan dukungan dari pihak dalam senat sendiri. Oleh sebab itu, perbaikan dari dalam senat sendiri adalah suatu keniscayaan sebelum lebih jauh melangkah keluar. Untuk memaksimalkan fungsi senat, seorang pengurus terutama pengurus harian haruslah mau mengikat sumpah setia untuk tidak aktif di organisasi manapun dan menomorsatukan senat, bukan menganaktirikannya! Wallahu A'lam.

*Mahasiswa Akidah Filsafat Tingkat III




READ MORE

Aku dan Kesaksian

Tuesday, September 4, 2007


Aku bersaksi, atas ketimpangan watak manusia
Aku bersaksi, atas topeng yang tersembunyi
Aku bersaksi, atas janji yang ternodai
Aku bersaksi, atas jiwa yang terlukai
Aku bersaksi, atas duka yang menggelora
Aku bersaksi, atas nurani yang tak lagi bicara
Aku bersaksi, atas cinta yang tak lagi berharga
Aku bersaksi, atas cela yang bersemayam
Aku bersaksi, atas mawar yang tak lagi harum
Aku bersumpah, akan tetap menjadi saksi...

(Hidup harus berjalan wajar, tanpa
dusta, tanpa derita, tanpa kepalsuan
cinta!!)




READ MORE

Temukan Kembali Jati Diri!!!!

Thursday, August 30, 2007


Kita mungkin tidak merasakan beratnya kerja rodi membangun jalan dan pabrik-pabrik pada masa imperialis Belanda. Kita juga tidak merasakan gatalnya baju yang terbuat dari bahan karung pada masa penjajahan Jepang. Atau juga pembodohan masal pada masa pendudukan Inggris. Kita telah melewati masa-masa berat penjajahan sejak kemerdekaan diproklamasikan 62 tahun silam. Kita kini hanya tinggal menikmati puncak perjuangan generasi lawas yang berupa buah kemerdekaan. Yang diharapkan dari generasi penerus bangsa seperti kita hanyalah memperjuangkan pembangunan bangsa dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta membangun citra positif guna mewujudkan Indonesia yang berwibawa di mata dunia.
Menjadi mahasiswa merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi seseorang, jika dibarengi dengan idealisme sebagai mahasiswa sejati. Masisir dengan idealisme awalnya sebagai mahasiswa sejatinya adalah salah satu bagian dari generasi penerus bangsa tersebut. Namun sayang, jati diri Masisir sebagai generasi penerus bangsa yang diharapkan dapat menjadi pelopor pembangunan bangsa dan agama semakin lama semakin mengabur seiring menuanya usia kemerdekaan.
Usia kemerdekaan yang semakin menua itu tidak malah menyadarkan Masisir untuk lebih mendewasakan diri memaknai kemerdekaan dengan kapasitas sebagai kaum akademisi. Tidak banyak yang menyadari kapasitas dirinya sebagai mahasiswa harapan bangsa, kalaupun ada itu hanyalah minoritas. Adapun mayoritas, pribadi-pribadi yang individualis lah yang justru terlihat mencolok. Elo elo, gue, gue!! Kesadaran bersama sebagai salah satu tonggak bangsa yang harus memberikan sumbangsih terhadap kemajuan bangsa masih belum dapat diraih.
Sebagai manusia, boleh saja Masisir menekuni dunia bisnis, boleh saja menggandrungi sepakbola, boleh saja menekuni organisasi, boleh juga menekuni dunia tarik suara, atau hal apapun yang sifatnya kebutuhan sekunder. Yang tidak boleh adalah, jika kebutuhan-kebutuhan seperti di atas lalu dijadikan tujuan, sehingga jati diri sebenarnya sebagai mahasiswa sejati kemudian luntur lalu hilang. Bagaimanapun, mahasiswa tetaplah mahasiswa. Masisir di mata masyarakat di tanah air tetaplah sebagai mahasiswa, bukan pebisnis, bukan pemain bola, bukan pula selebritis. Apakah duta bangsa bernama Masisir ini akan menghadiahi sepak bola bagi masyarakatnya di tanah air? Ataukah Masisir akan lebih bangga untuk menjadi artis kondang jebolan Azhar di tengah-tengah masyarakat yang sedang menantikannya? Sekali lagi, temukan kembali jati diri yang hilang!◙

READ MORE

Anak Bangsa

Wednesday, August 8, 2007


MEMBANGUN DINAMIKA TUNGGAL IKA

Masa Pemilu Raya dan Sidang Umum sudah semakin dekat. Tatanan kedinamikaan Masisir dalam sebuah negara kecil bernama PPMI sudah semakin mendewasa. Sebagai organisasi yang berusaha mengadopsi sistem pemerintahan negara melalui SGS (Student Government System), PPMI Mesir melalui MPA telah sukses menjalankan satu-persatu rangkaian agenda Pemilu Raya, walaupun SGS sendiri dalam ranah dinamika Masisir masih menyisakan kejanggalan. Di antaranya adalah fungsi legislatif dan yudikatif yang keduanya berada dalam kekuasaan BPA. Dengan kata lain, trias politica belum sepenuhnya dijalankan dengan baik oleh organisasi PPMI. Terlepas dari persoalan SGS dengan trias politicanya, mari kita mencoba menyoroti satu permasalahan lain, capres dan debat kandidat. Di antara isu yang beredar seputar pencalonan capres adalah, semakin berkurangnya kepedulian Masisir terhadap organisasi induk yang menaungi mereka, PPMI. Hal ini diindikasikan dengan tiadanya calon yang mendaftar sebagai capres hingga batas akhir pendaftaran. Hingga akhirnya diumumkan perpanjangan waktu pendaftaran selama 1x24 jam, barulah muncul calon pendaftar. Belum habis isu ini dibicarakan, isu lain kembali muncul setelah dua calon mendaftar sebagai kandidat. Isu yang berkembang adalah, akan terjadi perang urat saraf antara kedua capres dan massa yang berada di belakang mereka. Capres pertama, diasumsikan sebagai perwakilan massa dari pulau Jawa, karena latar belakang dia sebagai orang Jawa. Sementara capres kedua, mewakili masa pulau Sulawesi yang jumlah masanya tak kalah banyak. Hal ini tidak terlepas dari adanya isu persengketaan dan diskriminasi pulau yang selama ini marak terjadi dalam beberapa fenomena kegiatan yang diadakan dengan dalih mempererat silaturahmi.
Jika benar isu perang dingin urat syaraf ini terjadi, apa gerangan yang akan terjadi selanjutnya? Gengsi dan fanatik kedaerahan akan tetap melekat dalam diri masing-masing Masisir, yang ujung-ujungnya hanya akan memperkuat sindrom apatisme antar daerah dikarenakan faktor trauma dari satu pihak, dan sentimentil dari pihak lain. Jika hal ini yang terjadi, maka sudah dapat dipastikan debat kandidat yang digelar sebagai salah satu pilar sistem demokrasi dengan sendirinya akan kehilangan fungsi, hanya akan menyisakan kesia-siaan berbungkus formalitas belaka. Ada dan tiadanya debat kandidat akan menghasilkan hal yang sama; kecenderungan memilih atas dasar ikatan kedaerahan dan fanatisme golongan.
Pemilu raya sudah di ambang pintu. Kedua calon telah mengusung misi yang berbeda, namun sarat dengan maksud dan tujuan yang sama; keberpihakan terhadap kepentingan Masisir secara umum tanpa tendensi kelompok atau golongan. Karenanya, siapapun calon yang akan terpilih ia harus bisa mewujudkan dinamika kemahasiswaan dengan aroma keindonesiaan yang kental, mampu mewujudkan kesadaran umum akan adanya “ketunggalan” dalam bingkai kebhinnekaan.

READ MORE

TEOLOGI

Tuesday, July 31, 2007


KANAN-KIRI OKE

Perbedaan tidak dapat diartikan sebagai perpecahan. Kalaupun ada perpecahan yang terjadi karena latar belakang perbedaan, itu bukan berarti bahwa perbedaan adalah perpecahan dan konflik itu sendiri atau sebagai akibat dari adanya perbedaan, melainkan hal itu adalah salah satu konsekuensi dari wujud manusia sebagai umat yang “syu’uban wa qabaila”. Perbedaan emosi, latar belakang, sering kali menyulut terjadinya konflik dalam sebuah tatanan kemasyarakatan. Indonesia adalah contoh nyata dari adanya perbedaan itu. Keragaman budaya dan latar belakang kedaerahan yang terbingkai dalam wadah kebhinekaan menjadikan perbedaan begitu mencolok terlihat. Akan tetapi, segala perbedaan yang ada tersebut bukanlah alasan untuk bercerai berai, saling memusuhi, saling anti pati dan saling benci. Kesadaran sebagai bagian dari bangsa dan negara yang satu haruslah menjadi pusaka yang disakralkan demi menjaga utuhnya kesatuan bangsa. Pun jika memang konflik terpaksa terjadi dalam sebuah tatanan kemasyarakatan, bukan lantas tidak bisa dihentikan. Pencarian solusi yang tepat dengan jalan dialog adalah jalan terbaik yang bisa ditempuh.
Berbicara dalam konteks Islam, istilah Kanan dan Kiri menjadi dua Istilah yang sangat populer di kalangan umat Islam Indonesia saat ini. Dua kata yang ringan untuk diucapkan, tetapi mengandung muatan makna yang sangat mendalam. Kanan dan Kiri dipakai untuk mengistilahkan dua kelompok yang ditengarai saling berseberangan dalam hal ideologi keagaaman. Perbedaan ini akan menjadi hal yang sangat tabu jika dipahami tanpa ada landasan kesadaran tingkat tinggi untuk bersatu padu memajukan agama yang menyeru kepada perdamaian ini (Islam). Perbedaan yang ada haruslah membawa misi “rahmah”, bukan malah memperuncing perpecahan yang akhirnya berujung kepada malapetaka. Adanya perbedaan harus disadari sebagai proses penyempurnaan sebuah hasil, harus disadari bahwa dengan adanya perbedaan suatu kehidupan menjadi lengkap. Kanan dan Kiri akan menjadi amunisi yang ampuh bagi keutuhan Islam manakala disikapi sebagai suatu hal yang wajar dalam rumus perbedaan. Ibarat anggota tubuh, Kanan dan Kiri adalah tangannya, sedangkan Islam sendiri adalah tubuhnya. Apa jadinya jika suatu tubuh kehilangan salah satu tangan? Begitu juga dengan Islam Indonesia. Pastinya baik antara kelompok Kanan dan kelompok Kiri bercita-cita untuk menciptakan kegemilangan Islam, walaupun dengan jalan masing-masing. Keduanya berkerja berdasarkan fungsi masing-masing. Yang kanan identik dengan bergerak, dan yang kiri identik dengan berfikir. Akan tetapi bukan lantas berarti yang bergerak tidak bisa berfikir, dan yang berfikir tidak bisa bergerak, yang akhirnya hanya akan menimbulkan kecemburuan dan berujung kepada suatu permusuhan antara satu dengan yang lain. Islam Kanan dan Islam kiri, walaupun masing-masing mempunyai kecenderungan untuk berbeda pandangan dan pendapat, akan tetapi hendaknya antara keduanya sama-sama mempunyai kesadaran akan tujuan yang sama (an-natijah al-musytarakah). Keduanya mempunyai satu titik temu. Tujuan apalagi kalau bukan untuk menciptakan kegemilangan Islam? Kesadaran akan hal inilah yang seharusnya terus dilestarikan, yang tentunya harus disertai dengan semangat bertoleransi terhadap adanya perbedaan. Jika hal itu yang menjadi ukuran, maka tidak ada salahnya bagi umat Islam Indonesia untuk mengatakan “Kanan-Kiri Oke!!.”
READ MORE

Sekedar Pembuka

Thursday, July 5, 2007


PREDIKSI YANG “KEBLINGER ”

Akal manusia terbatas, seterbatas pandangan matanya yang kian jauh kian buram memandang. Perkiraan-perkiraan yang didasarkan pada pertimbangan nalar sering kali meleset jauh dari tujuan dan target, walaupun pada dasarnya hasil yang akan dicapai sudah matang diperhitungkan sebelumnya. Apalagi jika pertimbangan itu ternyata belum sepenuhnya matang diperhitungkan, dan harus dieksekusi dalam bentuk kerja nyata dalam waktu yang relatif singkat.
Ramadhan tahun lalu, tiga lembaga ternama di kalangan Masisir; PPMI, WIHDAH, dan BWAKM sepakat untuk membentuk panitia pengadaan kalender yang merupakan representasi dari ketiga lembaga tersebut. Sebuah target yang mulanya diproyeksikan untuk menjadi salah satu sumber pasokan dana. Alih-alih ingin meraih keuntungan dari proyek tersebut, tiga lembaga tersebut malah menuai hasil “buntung”. Di akhir masa kepengurusan setelah LPJ, panitia gabungan itu terpaksa menelan pil pahit kerugian. Tak tanggung-tangung, 75 persen dari jumlah modal semula sekitar LE 11.000!!! Akibatnya, ketiga lembaga ini harus bahu membahu menanggung beban kerugian ini dengan uang yang seharusnya bisa digunakan untuk mensuplai kegiatan-kegiatan keorganisasian Masisir yang lebih bersifat urgen. Bukan malah untuk menutupi kerugian suatu proyek dan program kerja yang sebenarnya sama sekali tidak masuk dalam kategori “kebutuhan primer”. Berbagai prediksi positif dari proyek kalender ini seputar kalkulasi keuntungan terpatahkan oleh kenyataan yang ada sekarang, setelah kalender itu benar-benar tercetak dan terdistribusikan. Dengan kata lain, harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Benar-benar sebuah prediksi yang “keblinger!!! Sebuah kerugian mungkin sudah merupakan resiko dalam berbisinis. Tapi kerugian yang sebesar ini tentunya sama sekali tidak masuk dalam prediksi dan perhitungan orang mana pun, bukan?
Dapat dipahami jika ketiga lembaga tersebut (PPMI, WIHDAH, BWAKM) kemudian sepakat untuk tetap mengeksekusi penerbitan kalender ini walaupun dengan konsep yang belum terlalu matang itu. Setiap organisasi menginginkan masanya dikenang mempunyai nilai lebih dibanding dengan masa dan periode sebelumnya. Ibarat sebuah kerajaan pada dahulu kala, ia ingin memahat bukti kejayaannya dalam sebuah prasasti yang kelak akan terus dikenang sepangjang sejarah, sebagai bukti bahwa ia pernah eksis. Begitulah kira-kira yang diinginkan ketiga lembaga tersebut jika ditinjau dari salah satu target yang direncanakan dari proyek kalender ini; sebagai cindera mata dan kenang-kenangan untuk para tamu Indonesia yang berkunjung ke Mesir. Sayangnya, lagi-lagi perkiraan ini meleset jauh dari sasaran. Berapa jumlah tamu yang datang pada bulan-bulan awal tahun ini? Agaknya ini luput dari prediksi ketiga lembaga tersebut. Apakah memungkinkan apabila kalender ini dijual sebagai cendramata ketika tahun sudah beranjak pada bulan pertengahan seperti sekarang? Jawabannya tentu tidak, kecuali jika anda punya opini lain untuk membagikannya secara cuma-cuma. Dan itu berarti, anda telah mempertaruhkan kerugian besar dari dana yang besar pula. Seperti sekarang ini!!!



READ MORE