<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607</id><updated>2011-12-02T05:36:44.883-08:00</updated><title type='text'>MUARAJIWA</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://muarajiwa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>30</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-8208735996924599999</id><published>2010-03-14T03:05:00.000-07:00</published><updated>2010-03-14T03:06:27.793-07:00</updated><title type='text'>PPMI dan Demokrasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/S5y1FVYOwmI/AAAAAAAAAKY/WjsWIprL3tU/s1600-h/more_democracy.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 197px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/S5y1FVYOwmI/AAAAAAAAAKY/WjsWIprL3tU/s320/more_democracy.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5448428752454206050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam demokrasi, frase “mengayomi rakyat” seringkali digunakan para penguasa sebagai bahasa politik untuk meraih  simpati rakyat. Orang boleh mengatakan, mengayomi adalah melakukan pelayanan dan pelindungan terhadap rakyat. Mendengarkan keluhkesah dan menjaring aspirasi yang datang dari rakyat, dan semua yang berbau kepentingan rakyat. &lt;br /&gt;Tapi saya punya pendapat lain. Karena bagi saya, penjabaran-penjabaran seperti di atas terlalu melebar. Harus ada batasan-batasan bagaimana seorang penguasa melayani dan melindungi, mendengarkan aspirasi serta membela kepentingan rakyat. Jika tidak, ia akan menjadi seperti apa yang dikatakan Richard Nixon, pernyataan yang tak harus sesuai 100% dengan fakta, tapi harus bisa mempesona, seperti puisi. &lt;br /&gt;Inilah pendapat saya: pengayoman terhadap masyarakat, setidaknya, bisa diterjemahkan dengan sikap proaktif mengidentifikasi potensi yang dimiliki rakyat secara jeli, lalu memberikan ruang yang cukup dalam rangka mengembangkan potensi-potensi yang masih tercecer itu. Itulah mengapa Soekarno pada pidatonya yang berapi-api pernah mengatakan, “Berikan padaku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia!”  &lt;br /&gt;Soekarno sadar benar dengan ucapannya. Ia telah melewati perenungan panjang sebelum akhirnya  memuntahkan kata-kata tersohor itu. Di mata Soekarno, sepuluh pemuda adalah sepuluh kekuatan. Ia insyaf bahwa kemajuan bangsa harus dibangun melalui berbagai lini. Sepuluh pemuda dengan potensi dan kekuatan masing-masing itulah yang ia anggap cukup untuk menjadi tonggak pembangunan bangsa Indonesia, sehingga mampu menempatkan Indonesia di atas bangsa-bangsa lain di dunia. &lt;br /&gt;Artinya, untuk bisa dikatakan mengayomi, pemimpin rakyat harus mampu menjemput bola. Harus  insyaf pula bahwa keragaman potensi yang dimiliki rakyat adalah kekuatan yang harus tetap dilestarikan, dipupuk serta ditumbuhkembangkan sebagai satu kekuatan utuh untuk mewujudkan cita-cita kemajuan  bersama. &lt;span class="fullpost"&gt; Mengayomi rakyat juga berarti memberikan kebebasan berbicara dan bertindak, di waktu dan  tempat yang tepat. Orang boleh berkreasi apa saja, asal tak mengganggu orang lain. Orang boleh bernyanyi, menari, atau melakukan apa saja di waktu dan tempat yang tepat. Orang bebas bicara dan menulis apa saja, asal bertanggungjawab. Orang bebas mengkritik siapa saja, jika yang dikritik dianggap bersalah. Pada akhirnya, mengayomi adalah memberikan kebebasan untuk melakukan apa saja tanpa dihantui rasa takut. Pendapat saya ini, setidaknya, telah saya sesuaikan dengan konsep mengayomi dalam konteks demokrasi Masisir. &lt;br /&gt;Demokrasi Masisir, dengan PPMI sebagai simbol tertinggi, hampir saja tumbang. Tanpa kepedulian  terhadap hak-hak kebebasan itu, demokrasi Masisir adalah barang langka yang mahal harganya. Upaya pengebirian demokrasi, meskipun berusaha ditutup-tutupi, selalu ada. Ada semacam rencana  terselubung yang dilakukan menggunakan tangan kekuasaan. &lt;br /&gt;Saya jadi teringat sebuah kekonyolan – yang sebenarnya adalah upaya pembunuhan perlahan terhadap hak-hak demokrasi – yang dilakukan oleh PPMI. Hari itu bulan Ramadhan, menjelang Idul Fitri. Kabinet PPMI yang masih seusia jagung kala itu menyebarkan pengumuman lewat pamflet-pamflet mini yang intinya berisi: dalam  rangka menyambut hari raya Idul Fitri, PPMI mengadakan acara takbir bersama dan penampilan akustik di KPMJB. Bagi anda yang ingin bergabung, dipersilahkan membawakan lagu-lagu religi dengan kriteria bebas, kecuali lagu-lagu Ungu dan Gigi. &lt;br /&gt;Tentu saja, mereka yang paham dan tahu musik akan bertanya-tanya, apa kira-kira yang dimau  PPMI? Setelah berpikir panjang, saya menemukan jawabannya: Ungu dan Gigi, meski punya lagu religi, tetaplah seperti grup-grup band sejenis lainnya,  yang menurut hemat PPMI tak layak ditiru oleh Masisir.  &lt;br /&gt;Dus, PPMI bermaksud hendak membersihkan Masisir dari “kuman-kuman” yang bernama band, lalu menggantinya dengan hiburan yang lebih layak, semisal nasyid dan qoshidah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan oleh PPMI itu adalah bentuk pemasungan kreatifitas dan bakat Masisir dengan cara halus. Strategi aji mumpung, sebagaimana lumrah dalam dunia politik, dengan sempurna diterapkan. Mumpung berkuasa, maka berbuatlah apa saja! Dan itulah yang diperbuat PPMI:  mempertegas proyek otoritarianisme yang anti demokrasi, anti kemajemukan, melalui sebuah pengumuman yang sederhana. Masisir digiring menuju satu warna, satu kecenderungan. Tak ada ruang untuk kemajemukan. Tak ada tempat untuk perbedaan. &lt;br /&gt;Demokrasi Masisir hampir saja tumbang. Ketika suara-suara Masisir yang menuntut keadilan bagi korban kasus JS Oktober lalu semakin keras terdengar, di media dan di setiap tempat diskusi mahasiswa, PPMI menampilkan diri sebagai penguasa yang anti kritik. Keluhkesah dan pengaduan Masisir yang akhirnya berubah menjadi kecaman dan kritikan kala itu, ditanggapi dengan kebisuan. Bagi PPMI, menanggapi kritikan adalah seperti menyiram api dengan minyak. Untuk itu, jalan terbaik menghadapi mahasiswa adalah mendiamkan. Maka tak heran, ketika keresahan-keresahan mahasiswa itu semakin memuncak, satu-satunya jawaban PPMI di media adalah, “Allahumma ihdi qaumi, fa innahum la ya’lamun.” Masisir yang mengkritik dan memberi saran, yang mengadukan keluhkesah, yang  menuntut keadilan, dianggap PPMI sebagai umat yang tersesat dari jalan yang benar, sehingga harus diberi petunjuk. Harus diluruskan. Tak ada diskusi, tak ada keterbukaan, tak ada kejujuran. Akhirnya, tak ada lagi pengayoman, tak ada lagi demokrasi. &lt;br /&gt;Kita mungkin masih bertanya, seberapa penting arti demokrasi dan kebebasan? Mengenai hal ini, simaklah pernyataan Dr. Ahmad Burada’i, salahsatu kandidat Presiden Mesir pada bursa Pemilu Mesir tahun 2011 dalam harian al-Shorouk Januari lalu, “Saya tidak maju untuk posisi presiden, tapi saya maju demi terwujudnya demokrasi.” Demikianlah, pada tahap tertentu, kebebasan menjadi sesuatu yang mutlak dalam sebuah tatanan masyarakat. Begitu juga dengan kita. Dalam tatanan masyarakat yang  beradab seperti Masisir, saya rasa, pengembangan kreatifitas mahasiswa dan proyek menghafal al-Qur’an atau jadwal talaqqi punya urgensitas yang sama untuk mewujudkan cita-cita pembangunan bangsa dari berbagai lini. &lt;br /&gt;Karena itu, Masisir perlu diayomi. Masisir perlu mendapat tempat. Jika tidak, harus dipercaya bahwa membiarkan sebuah masyarakat kehilangan hak dan kebebasannya adalah sebuah luka yang  pasti meninggalkan bekas. Karena demokrasi, seperti kata Goenawan Mohammad, tak cuma bisa dilihat dari atas, dari asal ide demokrasi itu muncul, tapi juga dari bawah; dari posisi cacing yang terinjak, dengan gerak yang selalu diawasi, dengan kata-kata yang selalu dikekang.&lt;br /&gt;Singkatnya, pengekangan terhadap demokrasi hanya akan menjadi bom waktu yang akan meledak dahsyat pada waktunya. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-8208735996924599999?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/8208735996924599999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/8208735996924599999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2010/03/ppmi-dan-demokrasi.html' title='PPMI dan Demokrasi'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/S5y1FVYOwmI/AAAAAAAAAKY/WjsWIprL3tU/s72-c/more_democracy.jpeg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-2239685782398156366</id><published>2009-05-11T13:07:00.000-07:00</published><updated>2009-05-11T13:38:05.266-07:00</updated><title type='text'>SASTRA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiLrBcJXCI/AAAAAAAAAKQ/CB5pCNT8zhI/s1600-h/180px-Black_flag_waving.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 194px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiLrBcJXCI/AAAAAAAAAKQ/CB5pCNT8zhI/s320/180px-Black_flag_waving.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5334667329857477666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bendera Hitam&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Muarajiwa*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selendang kuning berukiran bunga itu meliuk-liuk, mengikuti bias gerak elastis jemari yang menggapit ujungnya. Lantunan beberapa gending yang ditopang alun gendang dan gamelan mengalir silih berganti dari tiga sinden yang duduk berjajar. Ada irama sendu, atau nada mistis di telinga siapa saja yang baru mendengarnya. Malam sudah melebihi pertengahan. Tapi pesta baru saja dimulai. Dan perempuan itu masih menari, meliuk-liukkan tubuhnya, mengepakkan selendang dengan tangannya yang gemulai, berselaras dengan irama dan tempo gamelan. &lt;br /&gt;Ia tak sendiri. Dua penari lain bergerak seirama di kiri dan kanannya. Ketiganya mengenakan jarik cokelat, tapi perempuan itu mengenakan kemben merah tua, sementara dua lainnya kuning dan hijau. Dan di sini, para lelaki yang duduk melingkar bersorak riang, memanggil-manggil sebuah nama, sesekali bersiul panjang-pendek seperti tingkah untuk menghadirkan merpati. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Perempuan gemulai yang menari di tengah itukah pemilik nama yang disebut-sebut itu?&lt;/span&gt; Lalu aku memandanginya. Gurat wajahnya yang dipoles bedak dan make-up tebal merah muda mengisyaratkan usia. Empatpuluhan. Ia wanita matang nan jelita. Aku membayangkan ia lebih tepat menjadi selir atau putri keraton daripada seorang penari. Tarian gemulainya mengundang ketertarikan setiap orang untuk menikmati. Mungkin keindahan, mungkin birahi. Ia  hanya tersenyum, ketika orang-orang kembali riuh dengan siul dan teriak “Lasmi, Lasmi...!” &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku benar kawan, dialah pemilik nama itu. Lasmi. Nama yang indah. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Tak ada isyarat atau tanda-tanda apapun. Seperti ada kesepakatan diam di sela talu gendang dan gamelan. Kira-kira 30 menit pesta itu berlangsung, tiga orang laki-laki berdiri dari dalam lingkaran, lalu masuk ke dalam arena tari. Ketiganya berjalan tak tegap. Sempoyongan. Menuju penari kesukaan masing-masing. Lalu ikut menari. &lt;br /&gt;“Kenapa kau tak menatapku, Lasmi?” Lelaki kekar berkumis tebal telah menari di depannya. Pakaiannya serba hitam, kecuali udeng yang berwarna merah di kepalanya.      &lt;br /&gt;“Mulutmu bau tuak.” Perempuan itu tetap tak melirik. Wajahnya condong 45 derajat dari tatapan lelaki itu. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ia bukan hanya tak suka baunya, tapi juga gelagat peminumnya yang mulai tak wajar, barangkali.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kau seorang penari. Kau penghibur. Dan aku akan membayarmu!” Nada si lelaki meninggi. Sorot matanya yang merah menukik tajam ke wajah Lasmi yang masih mengarah ke sebelah kanan bahunya, lalu ia menggeser kuda-kudanya selangkah ke kanan; agar tatapannya bertemu dengan tatapan Lasmi.&lt;br /&gt;“Aku tak suka bau tuak. Kau boleh ambil uangmu, asal tak mengganggu kenyamananku!” &lt;br /&gt;“Hmm...kau tak nyaman menari denganku, hanya karena bau mulutku ini? Kalau begitu, aku akan meneguk minyak kasturi agar kau bergairah di depanku! Hahaha....” &lt;br /&gt;Melihat gelagat lelaki itu semakin menjadi, Lasmi meluruskan arah wajahnya, membentur wajah si lelaki kumis tebal. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tapi aku tahu, pandangannya tak berada di sana. Ia menatap kosong, seperti pelamun yang menatap awang-awang sebelum tidur.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Ia bukan gentar dengan gertak si lelaki, tapi hanya tak mau kenyamanannya, juga  kenyamanan orang-orang dalam pesta itu terkoyak jika lelaki itu berulah lebih jauh. Lalu ritme si lelaki meninggi, seperti api kayu bakar yang disulut minyak jarak. Ia bergerak, mengikuti ke mana saja arah perempuan itu. Matanya liar, menelanjangi seluruh tubuh di depannya, seperti serigala yang mengintai mangsanya. Tiba-tiba talu gamelan berhenti setelah nadanya gaduh, hampir tak beraturan. Kali ini aku menangkap isyarat. Ketiga lelaki itu kemudian mundur dari arena tari, setelah talu gamelan serempak berhenti, dan orang-orang berteriak, “Sawer, sawer...!” &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan lihatlah, kemben-kemben itu adalah kantong kepuasan bagi setiap tangan yang menjamah dengan selip rupiah, juga tabung oksigen bagi nafas sejumput manusia dalam sesaknya lorong kehidupan.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;₪₪₪&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan tak pernah kebetulan dengan segala rencana-Nya. Dan dua teori –&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ataukah  keyakinan? karena aku tak begitu peduli dengan ini&lt;/span&gt;- tentang garis kehidupan; bahwa manusialah yang menentukan pilihan setiap pekerjaannya –baik atau buruk, dan bahwa segala yang dilakukan manusia adalah dilakukan dengan segala keterpaksaan, seperti bulu angsa yang terbang mengikuti ke mana saja arah angin berhembus, keduanya mungkin juga berlaku pada perkenalanku dengan Lasmi. Aku, pada keyakinan pertama, mamang memilih untuk mengenali jatidiri perempuan itu, di balik profesinya sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ledhek&lt;/span&gt; itu. Dan pada yang kedua, aku juga meyakini bahwa Tuhan telah menggariskan ketentuan pertemuanku dengannya kali ini. Pada titik inilah, antara pilihanku dan keinginan Tuhan bertemu, karena Tuhan tak akan pernah mempertemukanku dengan perempuan itu kalau Ia tak menginginkan itu. &lt;br /&gt;Inilah kisahku mengapa aku berada di sini dan bertemu Lasmi: Desa ini Sendangsono. Aku orang asing di desa ini; pengecut yang datang dari kegentaran terhadap kebisingan kota, pecundang yang lari dari penjara kejenuhan. Tiga bulan penuh berkutat dengan tugas skripsi, aku memutuskan untuk sejenak lepas dari rutinitas. Dan, tak ada cara yang lebih tepat untuk itu kecuali pulang kampung. Tapi belum lagi kereta yang membawaku sampai di stasiun kota Tawanglangu, stasiun tujuanku, pusat informasi PJKA mengumumkan status darurat. Kereta harus diberhentikan di stasiun kota Landung. Kabar yang sampai di telinga, 237 km dari Landung, puluhan orang berbaju hitam telah siap menyambut kedatangan kereta. Mereka membawa batu, bom molotov, parang, celurit, besi. Orang-orang itu seperti hantu; datang dan pergi kapan saja, dengan alasan apa saja. Mereka menjarah. Mereka mengincar musuh. Mereka merusak. Mereka melampiaskan amarah. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mereka iblis.&lt;/span&gt;Pukul 21.45. Aku tak mungkin diam di Landung. Stasiun itu mencekam. Sekawanan preman terlihat mondar-mandir di sekitar gerbong. Di bangku pojok, sekelompok pengamen membentuk komunitasnya sendiri. Mereka anak-anak muda yang mudah terbakar emosi jika permintaannya tak dituruti. Mereka tak kalah mengerikan dengan para preman itu. Aku bertolak tanpa tujuan. Karena di sini, aku buta. Seperti sandera yang disekap lalu dilepas di hutan belantara. Tak mengerti rute atau peta. Malam itu, aku terdampar di Sendangsono berkat sebuah mobil pick-up tua merk Toyota L-300 yang mengangkut jerami pakan sapi. Aku numpang di sana. Lalu turun di sebuah keramaian yang belakangan aku tahu itu adalah Tayub. Aku mendatangi rumah lurah  esok harinya, karena aku tahu Tayuban itu digelar atas prakarsanya setelah selamatan bersih desa. Aku bertanya segala hal tentang Lasmi. &lt;br /&gt;“Lasmi hanya seorang janda. Suaminya meninggal setahun lalu. Sejak itu dia menjadi ledhek untuk hidup,” lurah itu setengah berkisah.  &lt;br /&gt;“Apakah dia tak punya anak?” aku meragu. &lt;br /&gt;“Punya, Tari namanya. Lestari. Tapi ia tak di rumah. Ia hidup di kota.”  &lt;br /&gt;“Jadi, Lasmi hidup sendiri?”&lt;br /&gt;“Ya. Anaknya kuliah di kota dan baru akan pulang minggu depan, tiga hari setelah perayaan  Tujuhbelasan.” &lt;br /&gt;“Bapak tahu itu?” aku curiga. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dari mana Lurah tahu informasi sedetail itu tentang Lasmi?  &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;“Tentu saja. Sore kemarin Tari menitip pesan melalui telepon kantor kelurahan. Isinya demikian.”&lt;br /&gt;“Lasmi sudah tahu?”     &lt;br /&gt;“Kami belum sempat ke rumahnya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Carik&lt;/span&gt; Darwo yang biasa bertugas mengantar surat dan pesan sedang saya tugaskan ke Kecamatan.”&lt;br /&gt;Aku lega. Tapi bertanya-tanya di mana rumahnya. Lalu aku menjelaskan padanya keinginanku bertemu dengan wanita setengah baya itu. Lurah Kartawijaya –begitu ia mengenalkan namanya- menatapku tajam. Seolah ingin mematri raut wajahku kuat-kuat dalam ingatannya. Tatapan itu, adalah sebuah bahasa kecurigaan yang tak terlafalkan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lihatlah, manusia adalah musuh bagi apa saja yang tidak ia ketahui. Aku ingin menghapusnya.&lt;/span&gt; Maka aku mengisahkan padanya tentang keresahanku terhadap Lasmi sejak ia menari di depan lelaki serba hitam malam itu. Lurah Karta masih menatapku. Secarik kartu nama kuulurkan padanya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bramanta. Fakultas Psikologi-Universitas Kalingga. &lt;br /&gt;Jl. Dharmaputra 15 A-Tawanglangu.&lt;/span&gt; Lelaki itu mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;“Kalau Bapak tidak keberatan, biar saya yang menyampaikan pesan tersebut kepada Lasmi.” &lt;br /&gt;“Oh, tentu saja tidak. Tapi rumahnya jauh dari kantor kelurahan. 8 kilo. Tentu sangat merepotkan anda.”&lt;br /&gt;"Anggap saja saya sedang ingin berkeliling kampung ini, dan pesan itu hanyalah sebuah titipan yang bisa disampaikan sambil melintas."&lt;br /&gt;"Baiklah, kalau begitu saya tunjukkan rute menuju rumahnya."&lt;br /&gt;Lalu diraihnya selembar kertas, ia gambarkan di atasnya jalan yang mengarah ke utara, berbelok ke kanan tiga kali, lalu ke kiri dua kali. &lt;br /&gt;"Di ujung belokan terakhir, di sanalah rumah Lasmi," Lurah Karta mengakhiri penjelasannya.&lt;br /&gt;"Terimakasih, Pak. Saya segera pamit. Hari sudah menjelang magrib."&lt;br /&gt;“Kalau ada waktu, kami juga mengundangmu untuk datang pada pesta Tujuhbelasan minggu depan.”&lt;br /&gt;“Dengan senang hati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;₪₪₪&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Apa kau nyaman hidup sendiri seperti ini, Lasmi?” &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oh, maaf, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya khawatir keselamatanmu.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah terbiasa sendiri sejak kematian suamiku.” &lt;br /&gt;“Aku tahu itu. Tapi aku belum tahu kenapa suamimu meninggal.” &lt;br /&gt;Lasmi bisu. Seperti berat mengenang masa lalu. &lt;br /&gt;“Dia dibunuh. Dikeroyok lalu dicincang-cincang tubuhnya.” Ia tersedu. “orang-orang itu biadab. Tapi aku tahu mereka kerdil, seperti emprit. Suamiku elang.”&lt;br /&gt;“Siapa orang-orang yang kau maksud?”&lt;br /&gt;“Patisewu. Aliran hitam yang suka berbuat onar. Mereka bergerombol.”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Duh Gusti, apakah mereka orang-orang yang akan membajak kereta itu? Siapa pula lelaki yang menari di depan Lasmi malam tadi? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak curiga dengan tigkah lelaki yang bersamamu di Tayuban semalam?” Aku  berusaha memuaskan penasaranku. &lt;br /&gt;“Mereka ada di mana-mana. Di pasar, warung kopi, tempat judi, juga Tayub. Mungkin lelaki itu salahsatunya.” Lalu bibirnya mengulum senyum, meskipun pahit. Seperti mengerti kekhawatiranku. &lt;br /&gt;“Mereka tak pernah berulah lebih jauh setelah pesta. Kau tenanglah.” &lt;br /&gt;Aku masih tak nyaman dengan jawaban itu ketika segelas kopi grasak yang dihidangkan  untukku tinggal ampas. Etika bertamu membolehkan penamu permisi. &lt;br /&gt;“Baiklah. Aku harus pamit. Oh iya, minggu depan anakmu pulang. Aku membawa pesan ini dari kantor kelurahan.” &lt;br /&gt;Rautnya yang datar mendadak sumringah, lalu berubah ragu. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa kau benar?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Kau bisa tanyakan langsung pada Lurah, jika masih ragu.”&lt;br /&gt;Lasmi mengangguk. “Baiklah.”&lt;br /&gt;“Hari sudah larut. Aku permisi. Jaga dirimu baik-baik.”&lt;br /&gt;“Tunggu, tunggu! Siapa namamu?”&lt;br /&gt;“Bram. Bramanta.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;₪₪₪&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;17 Agustus, 17.35&lt;br /&gt;Akhirnya aku kembali ke Sendangsono. Tapi aku tak beruntung menikmati Tujuhbelasan di sana; tambang telah digulung, kayu pinang telah dirobohkan, karung-karung telah dilipat. Pesta rakyat itu telah usai dua jam lalu. Tetapi balai desa belum lengang. Beberapa orang sibuk merias pendopo yang berlantai tanah itu. Sebagian lain, menenteng perkakas gamelan, lalu menatanya di atas panggung bambu. Lurah Karta menyambut sowanku di kantor kelurahan. &lt;br /&gt;“Selamat datang kembali di desa kami. Tapi kenapa nak Bram datang telat?”  &lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nyuwun pangapunten&lt;/span&gt;. Saya tidak bisa datang lebih awal, dan baru bisa berangkat dari Tawanglangu selepas dhuhur.” &lt;br /&gt;“Oh, tidak masalah. Nak Bram masih bisa menyaksikan puncak pesta rakyat malam ini di pendopo.” Kemudian Lurah menjelaskan segala sesuatu tentang desa dan perayaan. Dan  seperti penjelasannya minggu lalu, Tayub akan kembali digelar. Tetapi kali ini di pendopo desa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 22.30. Orang-orang mulai berdatangan. Pria, wanita, tua, muda. Tapi pria dewasa  mendominasi. Instrumen gamelan sudah bertalu, meski tanpa lengkingan vokal sinden. Seperti musik pembuka dalam konser aliran musik kontemporer. Di seberang kanan, 30 meter dari pendopo, sejumlah manusia lain bergerombol melingkar. Mereka penggemar kletek, judi dengan kelereng yang digelontarkan di atas papan. Bersama orang-orang yang menyemut, aroma pendopo menjadi tengik. Bau anyir ketan busuk. Mungkin arak atau anggur. Lalu iring-iringan sinden masuk dengan lantun gending. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Yen ing tawang ono lintang.&lt;/span&gt; Mereka duduk di panggung, di depan penabuh gamelan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lasmi, di mana dirimu?&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Prosesi itu berjalan begitu saja. Pesta itu benar-benar sempurna ketika tiga penari muncul. Orang yang kucari ada di sana. Dan orang-orang menjadi gaduh. Mereka kegirangan. Aku welas asih. Karena Lasmi telah menari. Kembali menari. Tarian itu Tayub, tapi ia bagai menarikan Cakalele. Karena tarinya adalah pemberontakan. Tapi ia bukan gerwani. Ia hanya hendak melawan nasib; kematian suaminya, kesunyiannya, kemiskinannya. Di atas segala getir, perempuan itu masih harus menari, untuk hidup dan menghidupi anaknya. &lt;br /&gt;“Aku ingin tidur bersamamu,” lelaki yang di depan Lasmi mengumbar. Pakaiannya serba hitam. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tapi aku pasti, ia bukan orang yang menari tempo hari.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;“Jaga mulutmu!” Lasmi menyentak. Rautnya muram.      &lt;br /&gt;“Aku akan membayar lebih kalau kau bersedia!”&lt;br /&gt;“Kau sinting! Aku masih bisa hidup hanya dengan menari! Pikirlah anak-istrimu!”&lt;br /&gt;Lelaki itu murka. Matanya hampir mencelat. &lt;br /&gt;“Lonte! ”&lt;br /&gt;Lasmi geram, tak dapat lagi mengendalikan emosi. &lt;br /&gt;“Asu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu penonton meneriakkan sawer. Pertanda penari lelaki harus menyelipkan uang, lalu mundur dan digantikan penari lain. Lelaki itu lalu bergabung dalam lingkaran penonton. Tapi kemudian, kulihat dia meninggalkan pendopo bersama dua orang lain. Mereka serba hitam. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Patisewu. Aliran hitam yang suka berbuat onar. Mereka bergerombol.&lt;/span&gt; Aku teringat ucapan Lasmi.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa yang akan mereka lakukan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;₪₪₪&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kudatangi rumahnya setelah pesta, aku terperanjat. Tubuhnya tergantung kaku.  Selendang kuning yang dipakainya menari itu terikat pada bambu penyangga atap kamar, membentuk lingkaran dengan ikatan simpul pada ujungnya, sementara kursi randu buatan suaminya ada di bawahnya. Ujung selendang itu menjerat lehernya. Lalu orang-orang datang berkerubung, memuntahkan segala murka pada Lasmi. &lt;br /&gt;"Lihat, lihatlah…ia sangat hina karena mengakhiri hidupnya sendiri!"&lt;br /&gt;"Ya, dan kau tahu ganjaran apa bagi wanita pengecut seperti dia?"&lt;br /&gt;"Kerak neraka! Ya, selamanya di kerak neraka!"  &lt;br /&gt;“Tenang, tenang! Turunkan jasadnya, dan mari kita sholatkan!” seorang yang muncul dari  kerumunan mencoba menenangkan.  &lt;br /&gt;“Lasmi perempuan laknat! Ia tak perlu disholati!” seorang lain menyahut lantang. &lt;br /&gt;“Ya, kuburkan saja di rumahnya. Lalu kibarkan bendera hitam di depannya!"&lt;br /&gt;“Hei, mengapa harus hitam?”&lt;br /&gt;“Agar semua orang tahu dia adalah pendosa! Bendera putih tarlalu suci untuknya. Malaikat  dan surga tak akan menerimanya.” &lt;br /&gt;Suara-suara itu tak lagi jelas dari mana asalnya. Melengking, lalu membumbung bersama angin. &lt;br /&gt;“Ya, kibarkan bendera hitam! Agar orang tak datang untuk melayat. Karena dia perempuan laknat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah suara yang melolong-lolong itu, di balik wajahnya yang kini layu, Lasmi masih bercerita. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Patisewu. Aliran hitam yang suka berbuat onar. Mereka bergerombol. Mereka tak pernah berulah lebih jauh setelah pesta. Kau tenanglah.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Tapi kali ini mereka benar-benar berbuat lebih jauh, Lasmi!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kairo, 27 November 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*Lelaki sinting dari budayanya terasing&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-2239685782398156366?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/2239685782398156366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/2239685782398156366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2009/05/bendera-hitam-muarajiwa-selendang_11.html' title='SASTRA'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiLrBcJXCI/AAAAAAAAAKQ/CB5pCNT8zhI/s72-c/180px-Black_flag_waving.png' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-5687214688511381943</id><published>2008-09-19T05:01:00.002-07:00</published><updated>2008-09-19T05:20:37.975-07:00</updated><title type='text'>Puisi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SNOYzTz7k8I/AAAAAAAAAG4/3P77-PaGmBE/s1600-h/05_Logo+Oi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SNOYzTz7k8I/AAAAAAAAAG4/3P77-PaGmBE/s320/05_Logo+Oi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247705998075597762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oi...!&lt;br /&gt;Puisi Muarajiwa*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oi…Oi…!&lt;br /&gt;Orang Indonesia!&lt;br /&gt;Lihatlah, lihat&lt;br /&gt;Negerimu sedang berpesta&lt;br /&gt;Di panggung sandiwara merdeka&lt;br /&gt;Di puing-puing proklamasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oi…Oi…!&lt;br /&gt;Orang Indonesia!&lt;br /&gt;Bangunlah, bangun&lt;br /&gt;Pancasilamu ditunggang hantu&lt;br /&gt;Ambisi untuk menguasai&lt;br /&gt;Kepentingan untuk menjatuhkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oi…Oi…!&lt;br /&gt;Orang Indonesia!&lt;br /&gt;Rapatkan barisan, rapatkan&lt;br /&gt;Tutuplah ruang bagi politik hitam&lt;br /&gt;Bungkam juga mulut pembangkang&lt;br /&gt;Perongrong Pancasila yang mapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oi…Oi…!&lt;br /&gt;Orang Indonesia!&lt;br /&gt;Sadarlah, sadar &lt;br /&gt;Negerimu bukan etnis&lt;br /&gt;Negerimu bukan golongan&lt;br /&gt;Negerimu dari Sabang sampai Merauke &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oi…Oi…!&lt;br /&gt;Orang Indonesia!&lt;br /&gt;Bersatulah, bersatu&lt;br /&gt;Bendera kita masih sama&lt;br /&gt;Merah Putih&lt;br /&gt;Lagu kita masih sama&lt;br /&gt;Indonesia Raya &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-5687214688511381943?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/5687214688511381943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/5687214688511381943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2008/09/puisi.html' title='Puisi'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SNOYzTz7k8I/AAAAAAAAAG4/3P77-PaGmBE/s72-c/05_Logo+Oi.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-6770836791669651658</id><published>2008-08-16T01:20:00.000-07:00</published><updated>2008-08-16T02:12:51.623-07:00</updated><title type='text'>Kampus Kita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SKaZ_sxPy-I/AAAAAAAAAGo/9hUpw6Go7aY/s1600-h/bemui.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SKaZ_sxPy-I/AAAAAAAAAGo/9hUpw6Go7aY/s320/bemui.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5235040936493304802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KONSTRUKSI MANDIRI SGS KITA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda termasuk orang yang percaya bahwa, berhasil-tidaknya sebuah sistem baru bisa dinilai setelah 5 tahun, maka tahun ini adalah tahun yang tepat untuk memberikan penilaian  terhadap SGS yang telah kita terapkan sejak tahun 2003. Dan, setelah 5 tahun, penilaian “pincang” terhadap sistem ini harus kita akui, dengan disepakatinya salah satu butir Lokakarya yang merekomendasikan ditinjau ulangnya SGS yang telah diterapkan selama ini. SGS semacam mendapat tohokan pada acara Lokakarya April lalu, kaitannya dengan hierarki kekuasaan yang masih runyam. &lt;br /&gt;Menurut saya, runyamnya hierarki kekuasaan itu tidak hanya berkutat pada tiga lembaga yang terdapat pada pola SGS kita; eksekutif, legislatif dan yudikatif. Lebih dari itu, secara umum Sistem Pemerintahan Mahasiswa (Student Government System) kita belum kokoh, bahkan bisa dikatakan ruwet dan serabutan, di dalamnya terdapat permasalahan-permasalahan kompleks  untuk bisa dikatakan sebagai sebuah sistem yang rapi dan ideal. Ruwetnya SGS kita ini, sudah sampai pada sebuah kesimpulan bahwa sistem yang kita terapkan adalah sebuah sistem hierarkis-anarkis. Ini karena, kita masih harus membandingkan standar ideal SGS yang kita anut ini dengan akarnya. Bagaimanapun, SGS kita adalah sebuah adapsi –jika tidak boleh disebut adopsi- dari sistem yang sudah berlaku di berbagai universitas dalam negeri pada umumnya.  &lt;br /&gt;Mengapa ruwet, mengapa anarkis? Karena pada dasarnya SGS itu simpel. Secara struktural, SGS dapat kita gambarkan dengan ringkas seperti ini: Rektorat – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU) – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF) atau yang dahulu disebut SEMA Fakultas – dan Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan (BEMJ). Dari sini jelas, garis koordinasi yang menghubungkan antar badan secara hierarkis adalah garis akademis (senat), bukan daerah, afiliatif, apalagi partai. &lt;span class="fullpost"&gt; Tanpa perlu menyebutkan satu persatu, indikasi betapa kompleks dan ruwetnya SGS kita, dapat kita runut dari bagian terpenting sistem ini sebagai sampel; senat. Pertama, jika disepakati bahwa yang kita terapkan adalah SGS, maka Senat Mahasiswa Fakultas semestinya juga harus dirubah menjadi BEMF, karena kita mempunyai presiden. Tapi tunggu dulu, jika kita sepakat mempunyai presiden dalam SGS kita, di mana letak BEMU yang seharusnya diketuai oleh presiden itu? Siapa yang kita sebut presiden? &lt;br /&gt;Kedua, senat yang secara struktural seharusnya berada di bawah BEMU kalah pamor dengan organisasi kedaerahan bahkan afiliatif yang memang terlebih dahulu telah ada jauh sebelum SGS diterapkan. Padalah, organisasi kedaerahan, walaupun ada, seharusnya tak boleh mendapat ruang sedikitpun dalam struktur SGS, karena organisasi ini hanyalah organisasi ekstrakurikuler kampus. Inilah mengapa saya katakan anarkis. Organisasi yang seharusnya samasekali tidak mendapat tempat dalam struktur SGS, di sini malah menggeser dan menghegemoni posisi senat. Padahal, jika kita asumsikan posisi presiden adalah pemerintahan pusat, maka pemerintahan daerah atau provinsinya adalah senat, bukan organisasi kedaerahan. Ketiga, kaitannya dengan poin di atas, senat yang seharusnya menjadi mata rantai  penghubung antar struktur dalam Sistem Pemerintahan Mahasiwa, malah menjadi sebuah  ekosistem yang kembang-kempis; kadang hidup kadang mati. Takaran hidup-matinya pun menjadi sangat sempit, sebatas pada penyebaran talkhisan yang bisa jadi meimbulkan pembodohan massal.      &lt;br /&gt;Kompleksnya permasalahan struktural SGS kita, jika dirunut, akan bermuara pada satu titik  yaitu; sistem yang kita terapkan pada pola berorganisasi kita ini sama sekali tidak mengafiliasi ke kampus. Dengan kata lain, organisasi kita sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan kampus (al-Azhar) secara hierarkis, padahal posisi kampus dalam struktur SGS adalah posisi teratas sebagai rekrorat. Jadi, penerapan SGS dalam pola organisasi kemahasiswaan kita di sini bisa dikatakan sebagai sebuah pemaksaan sistem. Lalu, apakah sistem yang sudah terlanjur kita terapkan ini perlu diganti? Menurut saya tidak, tapi kita perlu merekonstruksi SGS  dengan corak dan warna sendiri, dengan catatan, ruh "kemahasiswaan" dalam Sistem Pemerintahan Mahasiswa harus dipertahankan. Satu-satunya jalan adalah dengan mereposisi  senat dalam struktur SGS kita itu. Karena dengan hanya mempertahankan sistem yang ada sekarang saja, kita sudah bisa mengatakan SGS kita sudah mempunyai corak dan warna sendiri, yaitu SGS yang serabutan. &lt;br /&gt;Namun demikian, betapapun ruwetnya SGS kita, bukan berarti sistem ini tidak mempunyai hasil. SGS minimal telah ikut mencerdaskan mahasiswa dengan memberikan asupan positif tentang sistem politik demokrasi yang telah sejak dini dimulai dari lingkup kampus (Masisir), yang dengan demikian akan membuka mata terhadap skala yang lebih besar; skala bangsa. &lt;br /&gt;Memang, SGS yang sebagaimana mestinya tidak bisa seluruhnya diterapkan pada pola organinsasi kita di sini. Penerapan sistem itu secara utuh dan terpadu dalam iklim organisasi  kita adalah hal yang tak akan pernah terjadi. Tetapi setidaknya posisi senat harus ditegaskan. Karena bagaimanapun, SGS tanpa senat adalah omong kosong. Mengusung SGS tetapi melupakan eksistensi senat adalah sama tololnya dengan membangun kamarmandi tanpa toilet. &lt;br /&gt;Rekonstruksi SGS agar seirama dengan budaya akademis mahasiswa melalui garis kefakultasan inilah yang menurut saya lebih tepat dimaksud dengan "ditinjau ulang". Tanpa hal ini, jangan harap perubahan signifikan pada peningkatan prestasi mahasiswa yang diidam-idamkan itu dapat terjadi. Inilah bentuk minimal konstruksi mandiri SGS yang harus kita bangun, walaupun sebenarnya juga masih compang-camping.&lt;br /&gt;Jika anda bertanya kapan waktu yang tepat untuk memulai perubahan itu, maka sekaranglah waktunya, saat pesta demokrasi Masisir selangkah lagi dimulai.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-6770836791669651658?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/6770836791669651658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/6770836791669651658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2008/08/kampus-kita.html' title='Kampus Kita'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SKaZ_sxPy-I/AAAAAAAAAGo/9hUpw6Go7aY/s72-c/bemui.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-7721230112865552853</id><published>2008-07-14T09:42:00.000-07:00</published><updated>2008-07-14T09:59:12.604-07:00</updated><title type='text'>SASTRA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_iOUV95qhizA/SHuFvwobY-I/AAAAAAAAAGg/lq0_mn6uOy4/s1600-h/dragon2_1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_iOUV95qhizA/SHuFvwobY-I/AAAAAAAAAGg/lq0_mn6uOy4/s320/dragon2_1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222915248421037026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KISI-KISI API&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh&lt;/span&gt; Muarajiwa*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ruang Tengah, Terhenyak&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hembusan udara tak sejuk. Sebentuk kepak sayap naga api mengitari kota gersang. Dengusnya gerah. Lidah runcing menjulur-julur merah.  Nafasnya sayup, tapi sengat. Naga terus bercokol di langit kota ini, merenta tua. Empat bulan, atau lebih. Ular menyiluet bulan itu baru akan beranjak Oktober nanti, atau November. Setelahnya, hawa neraka tak lagi meraja buta.&lt;br /&gt;Aku termangu di sudut fentilasi. Mengintip langit. &lt;br /&gt;-Bagaima kabar langit? Masihkah biru?- Azura menodong tiba-tiba. Ia baru saja terjaga dari kursi panjang berukiran lengkung, tempatnya merebah semalam.  &lt;br /&gt;-Langit tak lagi biru. Ia ungu,- singkat jawabku. -Bagaimana bisa?- Azura mengulang tanya. Seperti kuduga, pertanyaannya akan menggelontar begitu saja, persis gulungan solasi di lantai licin. -Begitulah keadaannya. Kau benar-benar ingin tahu?- tanyaku ragu. –Ya,- tegasnya. Aku tak pernah menyana, ia akan sedemikian tertarik mengejar kata-kataku yang biasanya hanya imajinasi-imajinasi liar. Tentang hidup, tentang cita-cita, mimpi-mimpi yang belum sempat terbeli. &lt;br /&gt;-Karena aku sedang mabuk,- jawabku. -Ah, jadi karena itu matamu tak lagi waras? Tak lagi jelas melihat warna, hah?- Azura menggerutu. Aku tak sedang mabuk seperti yang kau pikirkan. Aku tak sedang mabuk arak. Aku hanya mabuk cinta! Haha...- &lt;span class="fullpost"&gt; Aku melihat rautnya murka mendengar kelakarku. Aku lalu menggiring kata-kata. Menembus dimensi waktu. Azura antusias, belingsatan di sudut jengkelnya. -Aku dengar,  di kota sana akan ada pameran buku. Kau tak tertarik mengunjungi?- Cuaca sangat panas. 38 derajat. Kau tak ingin kulit kepalamu terpanggang bukan?- Azura berat. &lt;br /&gt;-Hey, hey... cuaca memang membara. Langit memang sedang murka. Tentu kau tak mau disebut pengecut hanya karena bakaran cuaca, bukan? Ingat, kau dan aku juga pernah punya bara. Mendidih!- -Sudah, sudah... jangan kau teruskan celotehmu itu. Aku juga masih belum pikun! Cepat kau bilang, ke mana kita akan pergi?- Azura merajuk. -Ke Husein. Belakang kampus,- jawabku ringkas. -Apa kau bilang? Husein? Belakang kampus?- Aku hanya tersenyum simpul. Tanda setuju. -Ah, kau tak perlu susah-susah berceloteh kalau hanya untuk mengajakku ke tempat itu. Kau tahu, tanpa kau paksapun aku sudah terlalu akrab dengan tempat kumuh itu!- Azura berlalu. Mandi.  &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bis Kota, Termenung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laju bis kota menyiput. Mengantar siapa saja ke mana saja dengan tujuan apa saja. Pengasong, pengemis, polisi, politisi, pencopet, pencuri, guru, dosen, pelancong, bahkan anak menteri. Mana pencuri mana polisi, mana pencopet mana anak menteri, aku tak pasti. Kabarnya, banyak polisi bertampang pencuri tersebar di kota ini. Intel, katanya. Bahkan, kabar yang kubaca dari koran kota ini menyebutkan banyak anak menteri yang tertangkap karena mencuri. Mereka keranjingan ganja.&lt;br /&gt;Pandangku mengedar kosong, tak searah dengan pikirku. Azura membeku. -Apakah benci selamanya dikatakan absurd?- Aku memulai kata-kata. -Akan lebih selamat jika kau menggunakan kata iri. Bukan benci,-  Azura bijak. -Keduanya hampir tak beda,- kilahku. -Kebencian apa yang kau maksud? Aku termangu. Seperti kehabisan kata-kata. Entahlah...- dadaku hanya sering bergemuruh mendengar kata... karya,- kataku lalu. Terlalu naif jika kau katakan itu sebagai benci. Itu hanya iri. Artinya, kau masih memiliki kekuatanmu. Jadi menurutmu itu bukan absurd?- -Tidak, itu wajar. Bukan hanya kau. Aku juga. Bukankah kau bilang kalau aku juga pernah punya bara? Dan imaji-imaji lalu berkelebat dalam pikiran masing-masing. Bisu. Liar.  &lt;br /&gt;***  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kios si Tua, Takjub&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si tua itu bernama Emad. Bapakku yang menamai, ceritanya tanpa kuminta ketika aku berkenalan dengannya. Bapaknya berharap kelak ia menjadi orang yang dapat diandalkan. Menjadi sang teguh di antara ratusan bahkan ribuan rapuh. Emad adalah tiang. Dan tiang adalah simbol teguh. Persis seperti namanya. Karena nama adalah doa. Si tua itu telah benar-benar tua. Aku menangkapnya dari jabat tangannya. Tapaknya empuk, kulitnya lunak berkeriput. Kening dan pipinya juga sudah berkerut. Ia duduk di atas kursi, tepat di belakang etalase buku-buku bekas yang menjadi dagangannya. Tangan kanannya menggengam buku. Tangan kirinya menumpu dagu, sesekali membenarkan kacamata. Sesekali juga melihat ke arah pengunjung kiosnya. -Kau suka sastra?- tanyaku. Karena aku melihat buku yang sedang ia baca. Qashr Syawq, karya Nagib Mahfoudz. Ya. Aku suka Nagib Mahfoudz,- jawabnya.- Aku juga suka. Aku baca Karnak Kafe-nya. Atau Awlad Haratina. -Oh ya? Kenapa suka?- kejarnya. Karena aku juga suka sisha, seperti dia. He...tidak, tidak...aku cuma canda. Aku menikmati tulisannya. Itu saja.- Tapi aku tak suka Nawwal, timpalnya.  -Kenapa?- Karena dia wanita. Dan aku pria.- Jadi kau lebih memilih bersikap diskriminatif?- -Oh, bukan itu. Justru karena menurutku dia berlebihan dengan kodrat wanitanya. Begitu? tanyaku sambil menyedorkan sebungkus Cleopatra. Ia mengambil satu. -Ya,- jawabnya lalu. Azura di sudut kiri sana. Bercengkrama. Bagus-bagus, Ra, katanya. My Name is Rednya Orhan Pamuk. Zainabnya Haekal, Laila Majnunnya Nidzami, Azura menyebut satu-satu. Oia, namaku Muara. Dipanggil Ara. Panggilan kesukaan kekasihku. Tapi aku tak memanggil Azura “Ra”, seperti ia memanggilku. Aku menyebutnya Zur. Zura.  &lt;br /&gt;Kembali ke si tua. Menurut Zura, kios si tua sudah berdiri lama. Warisan bapaknya. Bukan hanya kios warisan bapaknya. Tapi juga gemar membacanya. Zura sudah lama mengenalnya. -Mengapa kau memilih menjaga kios? mengapa tak kau serahkan anak-anakmu saja?- tanya Zura setengah ragu. -Aku tak betah duduk di rumah. Aku lebih betah di sini. Karena di sini, hidupku juga berguna untuk orang lain. Aku suka orang seperti kalian. Bukan karena kalian membeli buku-bukuku. Tapi karena kalian menyukai buku,- jawab si tua. Zura sudah bersamaku, di depan si tua. Menenteng buku-buku. -Anak-anakmu?- Aku menambah tanya. -Tiga orang. Satu kerja di Kuwait, satu doktoral di Prancis, dan satu lagi perempuan masih di Ain Syams, si tua sambil menunjukkan satu persatu foto anaknya. -Dan kau sendiri?- aku penasaran. Aku hanya pensiunan dosen di Sastra Ain Syams. 1988. Aku bisu. Azura dungu. Karena Takjub. &lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;RM. Barokah, Membara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Pelajaran apa yang kau ambil dari si tua?- Azura sambil mengicip strup soda. Aku memilih es kopi susu. Cocok dengan Dji Sam Soe. -Aku masih terlalu kerdil di depan si tua, jawabku tak mengena.- -Lalu apa? -Lalu... masih banyak yang dapat kita lakukan sebelum menjadi tua, seperti si tua.- Satu hal yang belum kau tahu,- Azura seperti memancing. Kau tahu apa itu?- lanjutnya. Aku menggeleng. -Kau tak perlu  terburu-buru membenci kata apapun. Karena si tua, tak menjadi si tua yang dosen sastra tanpa proses,- Azura sambil menyesap sebatang Gudang Garam. Ia tak sama denganku, yang lebih gemar Sam Soe. -Tapi, kau masih boleh membiarkan dadamu bergemuruh. Karena itu adalah api, yang berkobar di jiwamu. Agar jiwamu tak lagi hitam, seperti langit itu. Aku tak suka langit hitam&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;. Menggantung tertutup awan, panjangnya. Aku patung. O, si tua. Sontak menyulut bara. O, jiwa.◙        &lt;br /&gt;    &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;*Anggota Sanggar Sastra Nusantara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-7721230112865552853?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muarajiwa.blogspot.com/feeds/7721230112865552853/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2008/07/sastra.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/7721230112865552853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/7721230112865552853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2008/07/sastra.html' title='SASTRA'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_iOUV95qhizA/SHuFvwobY-I/AAAAAAAAAGg/lq0_mn6uOy4/s72-c/dragon2_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-4996925353402131722</id><published>2008-04-11T09:45:00.000-07:00</published><updated>2008-07-14T09:41:47.240-07:00</updated><title type='text'>Nasional</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/R_-Yz69ZeUI/AAAAAAAAAGY/YoFqBpB8Ers/s1600-h/indonesia03.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/R_-Yz69ZeUI/AAAAAAAAAGY/YoFqBpB8Ers/s320/indonesia03.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188033313521629506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SINDROM POSTREFORMASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralihan tiap kekuasaan dalam sejarah panjang bangsa Indonesia, dari zaman kerajaan hingga kini, selalu ditandai dengan darah. Sejarah kerajaan nusantara tak luput dari catatan “tinta merah” pada setiap peralihan dari satu kekuasan menuju kekuasaan lainnya. Kediri di bawah Kertajaya, dimakar oleh Ken Arok di bawah panji Singosari. Demak  berhasil menumbangkan Majapahit dan mengganti sendi-sendi pemerintahan dengan panji-panji Islam. Di era yang lebih modern, Orde Lama dengan jargon Revolusi dibawah kepemimpinan Soekarno, harus bertanggung jawab atas “tumbal” Revolusi G.30S yang didalangi oleh PKI menjelang bergulirnya Orde Baru. Selanjutnya, tumbangnya Orde Baru harus dibayar mahal dengan nyawa beberapa mahasiswa yang melayang akibat konfrontasi dengan aparat pada tragedi Trisakti. Apa yang terjadi sesungguhnya adalah sebuah keinginan akan terwujudnya perubahan dalam tatanan pemerintahan. Jadilah era baru, Reformasi. Pada Orde yang paling baru inilah rakyat menumpukan harapan; perubahan dari tatanan pemerintahan yang eksklusif menuju yang lebih terbuka, dari diktator menuju demokrartis dan menghargai kebebasan. &lt;span class="fullpost"&gt;Reformasi yang oleh Habibie ketika menjabat Presiden ke-III RI dijabarkan dengan diberikannya kebebasan pers, kebebasan berbicara, mengeluarkan pendapat dan bahkan kebebasan berdemonstrasi guna mempercepat proses transformasi demokrasi dinilai telah berhasil. Inilah apa yang dikehendaki oleh Habibie sebagai “Kedaulatan Rakyat,” kekuasaan tertinggi adalah milik rakyat. Sejak saat itu, euforia kebebasan begitu terasa di segala lini kehidupan; politik, ideologi, agama, bahkan gaya hidup. Padahal, hal-hal inilah yang berusaha dipasung oleh Orde Lama pada masanya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sepuluh tahun, angin Reformasi dirasa semakin “meninabobokan”. Akibatnya, batasan-batasan kebebasan menjadi gamang, tak lagi jelas. Salah satu akibat terfatal dari euforia kebebasan yang dimaknai secara membabibuta ini adalah dekadensi moralitas bangsa. Beberapa perangkat sosial dan politik turut bertanggung jawab atas hal ini. Kebebasan pers yang dahulu digagas untuk mendukung proses Reformasi, melonjak menjadi biang keladi maraknya pornografi, pornoaksi, selain pengaruh media lain. Dalih kebebasan berekspresi menjadi senjata utama untuk melegalkan segala bentuk moralitas tak manusiawi yang semakin mengekosistem; budaya gelamour, individualis, hedonis, anarkis, bahkan anti-sosialis. Singkatnya, harga mahal yang harus dibayar oleh Reformasi adalah  hilangnya ruh Indonesia sebagai bangsa Timur dalam hal moralitas!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kancah politik, dunia perpolitikan yang pada Orba dimonopoli oleh Keluarga Besar Golkar (Partai Golkar, ABRI, dan Korpri) pada Orde paling baru ini menunjukkan kesumatnya. Bursa pencalonan peserta pemilu 2009 mencatat sekitar 80 partai yang mendaftar. Apakah membuncahnya populasi jumlah partai ini merupakan indikasi yang lebih baik bagi stabilitas nasional bangsa Indonesia? Tidak juga. Politik “tak sehat” yang dipelihara oleh Orde Baru berganti kemasan menjadi “penyakit-penyakit” lain. Atmosfir Indonesia penuh sesak oleh hawa kepentingan demi kekuasaan, sehingga terbentuklah apa yang disebut sebagai masyarakat semi anarkis; pilitik uang, politik kotor. Kampanye partai pakai uang, kampanye jadi Lurah pakai uang, bahkan demonstrasi yang katanya demi menegakkan hak pun harus dipolitisasi dengan uang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suksesnya Reformasi setelah sepuluh tahun sejak bergulirnya ini, mengindikasi kepada sindrom kebebasan yang berlebihan. Reformasi yang kelewatan. Partai politik dapat dengan leluasa menyusun strategi-strategi politik dengan misi masing-masing, karena   kendaraan politiklah yang mendapat legitimasi resmi untuk menduduki struktur pemerintahan Indonesia. Muncullah kelompok-kelompok yang mengatasnamakan golongan nasionalis, agamis, sosialis, demokratis, sekularis bahkan mungkin neo-komunis dengan kepentingan yang sama: mengendalikan pemerintahan. Jika demikian,  sungguh Indonesia hanyalah sebuah ajang perebutan kekuasaan para setan-setan politik. Lalu, “Apakah selamanya politik itu kejam? Apakah selamanya dia datang tuk menghantam? Ataukah memang itu yang sudah digariskan? Menjilat, menghasut, menindas, memperkosa hak-hak sewajarnya.” (Iwan Fals, Sumbang) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi massa dengan sangat mudahnya tersulut hanya karena sedikit perbedaan pendapat. Pelecehan-pelecehan terhadap para aparatur negara dengan sangat mudahnya terlontar dari mulut-mulut manusia tak bertanggungjawab. Konfrontasi berdarah antara aparat dan rakyat tak terhitung lagi jumlahnya. Hak Asasi Manusia diperdengungkan di ruas-ruas jalan demonstrasi, tetapi Kewajiban Asasi Manusia terhadap bangsa mereka lupakan.  Yang akhirnya harus dituai adalah, pemerintahan bangsa Indonesia pasca Reformasi telah kehilangan wibawanya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi semacam ini membuat stabilitas nasional tak lagi dinamis, jauh dari “Gemah Ripah Loh Jinawi.” Tentu saja, kondisi bangsa yang semacam ini tak mungkin selamanya dipertahankan. Jika pada masa Orde Lama kelompok pan-Islamisme yang direpresentasikan oleh SM. Kartosoewirjo -yang kemudian dicitrakan sebagai pemberontak- berani menentang kekuasaan RI dengan mendeklarasikan NII (Negara Islam Indonesia) karena kekecewaan terhadap pemerintahan waktu itu, bukankah nasionalis, sekularis, neo-komunis dan pan-Islamisme modern mempunyai ruang lebih luas untuk mengulang sejarah di era yang sering diartikan sebagai era kebebasan ini? Artinya, kancah politik bangsa akan mencapai titik muak dan mengharuskan perubahan   -entah apapun bentuknya. Yang jelas, Postreformasi akan akan segera bergulir menggantikan Reformasi yang makin semrawut untuk menyempurnakan sejarah. Mau kemana bangsa kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-4996925353402131722?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muarajiwa.blogspot.com/feeds/4996925353402131722/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2008/04/nasional.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/4996925353402131722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/4996925353402131722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2008/04/nasional.html' title='Nasional'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/R_-Yz69ZeUI/AAAAAAAAAGY/YoFqBpB8Ers/s72-c/indonesia03.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-4974959725768072529</id><published>2008-03-25T10:17:00.000-07:00</published><updated>2008-03-25T10:23:39.116-07:00</updated><title type='text'>OTOKRITIK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/R-k09M64-1I/AAAAAAAAAGI/3_JpsMUanx8/s1600-h/Copy+of+IMG_0007.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/R-k09M64-1I/AAAAAAAAAGI/3_JpsMUanx8/s320/Copy+of+IMG_0007.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5181731072311360338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SALAH KAPRAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analogi tentang suatu pemahaman tak jarang menemui titik rancu, bahkan cenderung menjebak. Pengertian nusantara menurut pemahaman kita zaman ini dibanding dengan ketika Majapahit masih digdaya adalah hal lain. Nusantara dianalogikan sebagai seluruh wilayah di luar pulau Jawa yang menjadi jantung kekuasaan Majapahit. Sementara Jawa, disebut sebagai wilayah Jawa Dwipa. Inilah mengapa Gajahmada mengucap "Lamun huwus kalah nusantara, ingsun hamukti phalapa..." dalam sumpahnya yang lebih kita kenal dengan sumpah Phalapa. "Jika telah kalah nusantara, barulah aku menikmati istirahat." Hal yang sama sekali berbeda dengan pengertian kita saat ini. Nusantara kita fahami sebagai seluruh wilayah kepulauan -dalam dan luar Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian-pengertian rancu yang mengekosistem akan selalu bermetamorfosis menjadi pembenaran-pembenaran. Arek Malang akan menyebut segala jenis sepeda motor dengan sebutan Honda. "Ke kampus  naik Honda, pulang dari pasar naik Honda," dst. Orang Jogja akan menyebut berbagai universitas dengan sebutan Gama (singkatan dari universitas Gajahmada). "Anak saya kuliah di Gama UIN, kuliah di Gama mana, dik?" dst. Atau, yang lebih dekat, kita akan selalu menyebut segala merk pompa air dengan sebutan Sanyo dengan mengesampingkan merk-merk lain. &lt;span class="fullpost"&gt;Distorsi pemahaman yang mencecar seiring rentangan zaman ini, meskipun rancu, akan menciptakan pemahaman-pemahaman baru yang akan selalu dibenar-benarkan. Demikian kita, sering terjebak dalam kubangan kesalahpenafsiran, meskipun kita sadari. Itulah apa yang sering disebut oleh orang Jawa sebagai salah kaprah. Pemahaman rancu lagi salah yang menjadi benar karena cecaran kebiasaan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokakarya Stakeholders yang akan kita jelang sesaat lagi, memetakan titik berat kesuksesan di bangku kuliah (akademis). Pemetaan ini nampak jelas ketika berbagai aktifitas non bangku kuliah dibingkai sebagai kambing hitam lesunya tingkat kelulusan mahasiswa. Buktinya, propsal-proposal kegiatan ditekan. Dana pers terancam terkebiri. Olah raga tak mendapat ruang, padahal mahasiswa juga ingin sehat. Beberapa rekomendasi Rembuk Masisir yang telah terlaksana mengindikasi kepada pengebirian pers, penggalakan talkhis (ringkasan) diktat, dan pelembagaan bahasa Arab. Di sini, pelembagaan dianggap satu-satunya jalan yang paling tepat untuk mencapai keberhasilan, bukan membangun kesadaran-kesadaran kolektif. Padahal, sebuah ekosistem bernama mahasiswa akan lebih mudah diarahkan jika kesadaran akan kesepenanggungan mereka tersentuh. Cobalah tengok sejarah. Gerangan apa yang menyatukan ribuan bahkan jutaan baris mahasiswa untuk turun ke jalan pada tragedi 21 Mei 1998? Kesadaran akan kekuasaan yang mengecewakan telah menyatukan mereka, bahkan ikut menentukan masa depan bangsa. Dan, itulah yang perlu diterapkan oleh Lokakarya kepada mahasiswa kita di sini, bukan dengan melembagakan segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah,  pola pandang tentang kesuksesan digempur ranahnya dari yang kosmo menjadi lebih sempit, bahkan sangat. Lokakarya akan membangun sebuah pola pandang umum bahwa kesuksesan hanya ada di bangku kuliah. Sematan "sarjana teks" bagi mereka yang dianggap sukses dalam segi akademis akan semakin liar menjangkit ke seluruh mahasiswa, terutama dengan direkomendasikannya suplai talkhis (ringkasan) diktat kuliah secara besar-besaran lagi melembaga. Padahal, mereka yang selama ini dianggap sukses dalam akademis adalah para penghafal teks-teks diktat kuliah yang handal, yang jika ujian usai, hafalan ikut buyar. Ini wajar, mengingat mereka cukup puas dengan standar keberhasilan itu walau wacana berdiskusi, meneliti, budaya, seni dan seterusnya tak masuk dalam kapasitas mereka. Masih sangat mentah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah itu yang dimaksud standar kesuksesan seorang mahasiswa? Tentu saja bukan. Tanpa Lokakarya pun, mereka yang disebut sebagai pasien Lokakarya karena tingginya kadar penyakit kegagalan di bangku kuliah bukannya tidak sadar akan penyakit itu. Mereka juga bukan orang-orang bodoh yang sama sekali tak mengerti bangku kuliah. Buktinya, mereka juga masih (menganggap penting) belajar ketika ujian tiba. Tetapi, standar kesuksesan menurut mereka bisa jadi berbeda dengan apa yang dikehendaki oleh Lokakarya. Wacana semacam ini muncul lantaran kondisi berikut latar belakang mahasiswa berbeda-beda; ekonomi, psikologis, pendidikan, profesi dan seterusnya. Sehingga muncul mahasiswa-mahasiswa wirausahawan, budayawan, sastrawan, wartawan, penulis, penerjemah, seniman bahkan olahragawan. Tak lain, sekali lagi karena tuntutan kondisi. Toh, tak semua mahasiswa ingin jadi kiai, dosen atau guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Lokakarya, walau dipandang penting, akan menciptakan sebuah distorsi yang melenakan (menghipnotis). Penyudutan berbagai aktifitas non kampus tanpa disadari akan mematikan karya, karena wilayah kesuksesan yang dipersempit pemahamannya itu. Dan tatkala "cekokan" teks semakin menggurita, sementara ranah-ranah kreatifitas mahasiswa dipasung dengan disumbatnya kucuran dana, lalu apa yang bisa dibanggakan dari mahasiswa kecuali hapalan teks?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kesimpulannya, Lokakarya tanpa porsi yang seimbang antara konstruksi kesadaran kolektif dan keharusan aturan hanya akan menciptakan generasi yang tidak padat karya, terjebak kepada distorsi pola pandang tentang kesuksesan yang sempit. Sebuah pemahaman yang salah, namun kaprah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-4974959725768072529?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/4974959725768072529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/4974959725768072529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2008/03/otokritik.html' title='OTOKRITIK'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/R-k09M64-1I/AAAAAAAAAGI/3_JpsMUanx8/s72-c/Copy+of+IMG_0007.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-2938285347371443996</id><published>2008-02-29T07:39:00.000-08:00</published><updated>2008-02-29T08:13:55.304-08:00</updated><title type='text'>KOMUNITAS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/R8gunME_B5I/AAAAAAAAAFM/qVTr_BhIEHY/s1600-h/hekal.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/R8gunME_B5I/AAAAAAAAAFM/qVTr_BhIEHY/s320/hekal.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5172435422826923922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LOKAKARYA; DUKUNGAN ATAU HUJATAN?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;iat baik tak selamanya mendapat sambutan baik, tak juga selamanya dipandang baik. Apalagi jika tidak diimbangi dengan sosialisasi yang merata. Kaitannya dengan Lokakarya yang digagas oleh Duber RI untuk Mesir, banyak pihak, individual maupun institusional yang masih buta mengenai kebijakan yang sebenarnya cukup bijak ini. Melihat prestasi mahasiswa yang sudah sangat jauh dari titik ideal dalam hal akademis, Duta Besar menunjukkan keprihatinannya dengan cara menggagas lokakarya peningkatan prestasi mahasiswa yang menurut rencana akan terselenggara pada 12-13 April mendatang. Itulah mengapa gagasan dan ide ini bijaksana. &lt;br /&gt;Akan tetapi, tidak dapat disalahkan pula apabila kemudian muncul beberapa anggapan dan tanggapan bernada pesimistis semisal, acara semacam ini hanya akan menghabiskan dana tanpa hasil yang maksimal. Atau menuai semacam kritikan berbasis sebuah anggapan bahwa Lokakarya hanyalah melibatkan sekelumit  orang dari Mahasiswa. Padahal, merekalah pihak yang seharusnya diajak duduk bersama, karena bagaimanapun yang akan diperjuangkan adalah nasib dan masa depan mereka. Pesimisme mahasiswa semakin dipertajam dengan tidak jelasnya anggaran dana yang akan dialokasikan; berapa, dari dan untuk siapa. Memang, pada dasarnya gagasan acara semacam ini akan menelan dana yang tak sedikit. Wajar saja jika kemudian sebagian mahasiswa justru tak menganggap penting gagasan ini.&lt;span class="fullpost"&gt;Dan lebih tak diinginkan, mereka justru tidak bersikap pro-aktif menyambutnya. Di sinilah perlunya sosialisasi, informasi. Bisa dijamin, nada-nada pesimis ini muncul hanya karena dua persoalan ini; informasi dan sosialisasi. Manakala persoalan ini sudah teratasi dengan porsi yang merata, maka yang terjadi adalah dukungan sepenuhnya dari mahasiswa. &lt;br /&gt;Adalah penting, bagi pihak penyelenggara untuk bersegera menggagas acara bertajuk sosialisasi yang berorientasi meyakinkan mahasiswa, bahwa Lokakarya terselenggara demi mereka. Bukan untuk paraelit berpesta ria, apalagi menghamburkan dana. Ini harus dilakukan sebelum penilalan-penilaian negatif mahasiswa tentang Lokakarya semakin menjadi. Bentuknya, bisa dengan duduk bersama dengan mahasiswa dalam sebuah forum –seperti yang biasa dilakukan-  seperti Coffee Morning, atau sosialisasi melalui tulisan-tulisan di media yang ada; cetak, elektronik, maupun dunia maya. &lt;br /&gt;Lokakarya memang terselenggara demi dan untuk mahasiswa, maka tak ada alasan untuk tidak pro-aktif menyambutnya. Itu yang harus bisa diyakinkan oleh pihak  penyelenggara kepada mahasiswa.◙  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-2938285347371443996?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/2938285347371443996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/2938285347371443996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2008/02/komunitas.html' title='KOMUNITAS'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/R8gunME_B5I/AAAAAAAAAFM/qVTr_BhIEHY/s72-c/hekal.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-4548570926205204617</id><published>2008-02-08T11:41:00.001-08:00</published><updated>2008-02-08T11:54:27.080-08:00</updated><title type='text'>ARUS BAWAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/R6yzDPwMpZI/AAAAAAAAAFE/-UpxTOmXhw4/s1600-h/IMG_0024.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/R6yzDPwMpZI/AAAAAAAAAFE/-UpxTOmXhw4/s320/IMG_0024.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164699741036782994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;CARA YANG SEHAT UNTUK BANGSA YANG TERHORMAT&lt;br /&gt;Detik-detik Sebelum dan Setelah Keputusan Coffee Morning 5 Februari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan sekedar persoalan besar atau kecil, bukan pula sekedar banyak atau sedikit. Ini tentang cara pandang terhadap sebuah komunitas, martabat dan kehormatannya. Semakin dianggap suatu komunitas keberadaannya, semakin kukuh ia bermartabat. Dan, itu yang lenyap dari citra bermasyarakat kita kali ini; masyarakat madani, kaum terdidik. Entah siapa, tentunya bukan kita, yang memposisikan kita bukan sebagai sekumpulan kaum terpelajar, sehingga cara yang baik menjadi tidak penting untuk ditempuh dan diterapkan kepada kita. &lt;br /&gt;Masyarakat madani bukanlah masyarakat pekerjawi yang gagap komunikasi dan informasi. Sehingga untuk memutuskan kebijakan tidak perlu lagi ada diskusi atau surat edaran resmi, cukup dengan menempelkan secarik kertas bertuliskan “Permohonan surat-surat dikenakan biaya segini…” di loket antri KBRI Nasr City.&lt;br /&gt;15 Dollar atau 90 Pound Mesir bisa jadi tidak berarti apa-apa bagi sebagian mereka. Tapi bisa jadi sangat berharga bagi mereka yang untuk hidup saja harus menjudikan nasib studi mereka. Tengoklah mereka yang berusaha menegakkan hidup dengan cara menjual jasa di warung-warung. Atau tengoklah antrian panjang  minhah dan musa’adah tiap kali ada jatah. Apa artinya? Bahwa, besar dan kecil memang selalu ada dalam struktur bermasyarakat, bahkan dalam masyarakat terpelajar seperti kita sekalipun. Dengan begitu, tidaklah tepat generalisasi yang menyimpulkan komunitas kita adalah semuanya orang berpunya, dengan argumen semacam: “Kalian semua orang kaya, karena berangkat ke luar negeri bisa.” Atau alasan semacam: “Kalian semua orang berpunya, karena telepon genggam semua punya.”&lt;span class="fullpost"&gt;Kita tidak menginginkan jurang pemisah, atau menyekat-nyekat sekumpulan bangsa Indonesia di negeri ini menjadi dua strata berbeda. Kita hanya menginginkan komunikasi yang sehat lagi hangat, antara pemerintah dan yang diperintah, yang apabila ia baik dan dengan cara yang baik pula, akan kita taati sepenuh hati. Dan jika sebaliknya, akan kita tolak masih dengan cara yang baik. Tetapi memang keduanya harus terbentuk dalam pola pandang kita belakangan ini; Paraelit dan paraalit. Ningrat dan rakyat. Kalaulah hal itu ada sebabnya, maka yang kami lihat adalah karena tidak adanya cara yang sehat dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kita.&lt;br /&gt;Mesir harus memandang penting terhadap Indonesia. Slogan yang harus kita dukung dan perjuangkan bersama. Beberapa hal yang kita anggap sebagai cara tidak sehat untuk sebuah bangsa yang ingin bermartabat serta dipandang penting. Paraelit kita menurunkan keputusan yang berkaitan dengan mahasiswa tanpa didahului sosialisasi yang baik semacam memberikan surat edaran (karena pengumuman dengan secarik kertas di loket bukanlah cara yang baik). Paraelit kita mengadakan forum bertajuk sosialisasi di Konsuler Nasr City (30 Januari 2008), tetapi yang terjadi bukanlah sosialisasi karena kita disuguhi draft yang sudah jadi. Bukan sosialisasi karena itu sudah realisasi. Bukankah sosialisasi dilakukan sebelum eksekusi setiap keputusan? Kemudian paraelit kita juga terkesan menghindar untuk memberikan alasan yang jelas dan komentar seputar SK Kementrian Luar Negeri bertahun 2002 dan bertandatangan Presiden Mega. Belum lagi, paraelit kita terlalu sibuk untuk menerima wawancara dari media mahasiswa. Sementara itu, paraalit tak bisa berbuat apa-apa karena keputusan telah final. Secara yuridis keputusan ini tetap sah, tetapi kita tidak bisa menjamin itu sah menurut etis. Apa kesimpulan? Untuk menuju bangsa yang bermartabat dan dipandang penting, paraelit kita justeru tak menganggap penting bangsa sendiri,  sehingga untuk menentukan kebijakan kita tidak perlu dilibatkan. Walaupun pada akhirnya diadakan beberapa kali forum bertajuk sosialisasi seperti pada 30 Januari di Nasr City (Griya Jawa Tengah) serta 5 Februari di Garden City. Kenapa lantas ada forum sosialisasi sana-sini, baru setelah ada reaksi dari mahasiswa? Tidak bisa dijamin forum seperti ini akan ada jika tidak ada reaksi balik dari mahasiswa, dan keputusan berjalan apa adanya. Adanya reaksi, berarti ada yang salah dengan cara yang ditempuh oleh paraelit kita. Dan reaksi tersebut akhirnya membuahkan hasil.  Coffee Morning 5 Februari di Balai Budaya KBRI yang dihadiri utusan Kekeluargaan, Afiliatif, dan beberapa elemen PPMI memutuskan dibekukannya kembali undang-undang pemungutan biaya surat-surat di Konsuler untuk sementara waktu dan dalam jangka yang tidak ditentukan. Dan memang sudah selayaknyalah keputusan itu kembali dibekukan, mengingat langkah awal yang ditempuh oleh pihak Kedutaan tidaklah  sesuai dengan iklim masyarakat kita (mahasiswa, bukan pekerja).        &lt;br /&gt;Yang perlu diketahui oleh semua, bahwa Luar Biasa dan Berkuasa Penuh adalah pemegang kebijakan ampuh. Artinya, kaitannya dengan pemberlakuan undang-undang pemungutan biaya seperti ini, Luar Biasa dan Berkuasa Penuh adalah penentu keputusan, akan diberlakukan atau dibekukan. Terbukti dari ditolerirnya pungutan biaya bagi mereka yang terlambat visa kurang dari satu bulan, hingga akhirnya Duta Besar memutuskan untuk membekukan undang-undang ini untuk sementara waktu pada forum Coffee Morning 5 Februari lalu. Begitu juga pada dua dekade kepemimpinan Luar Biasa dan Berkuasa Penuh yang lalu (Hasan Wirajuda dan Bachtiar Ali), di mana pada masa keduanya tidak diberlakukan pungutan itu, walaupun pada waktu itu turun SK tahun 2002 pada masa presiden Mega tentang biaya surat-surat yang keluar dari Kedutaan.  &lt;br /&gt;Kita menginginkan adanya komunikasi yang sehat lagi baik untuk setiap keputusan yang berhubungan dengan mahasiswa. Karena itu adalah cerminan bangsa yang terhormat. Caranya tentu saja dengan memahasiswakan mahasiswa, dengan melibatkan mereka dalam setiap keputusan yang berhubungan dengan mereka. Demikianlah untuk diketahui, beberapa gambaran tentang pergolakan-pergolakan yang terjadi dalam pandangan mahasiswa pada detik-detik sebelum dan setelah keputusan Coffee Morning 5 Februari 2008.      &lt;br /&gt;                    &lt;br /&gt;     *Disarikan dari suara-suara resah arus bawah&lt;br /&gt;            Kita tidak menginginkan jurang pemisah, atau menyekat-nyekat sekumpulan bangsa Indonesia di negeri ini menjadi dua strata berbeda. Kita hanya menginginkan komunikasi yang sehat lagi hangat, antara pemerintah dan yang diperintah, yang apabila ia baik dan dengan cara yang baik pula, akan kita taati sepenuh hati. Dan jika sebaliknya, akan kita tolak masih dengan cara yang baik. Tetapi memang keduanya harus terbentuk dalam pola pandang kita belakangan ini; Paraelit dan paraalit. Ningrat dan rakyat. Kalaulah hal itu ada sebabnya, maka yang kami lihat adalah karena tidak adanya cara yang sehat dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kita.&lt;br /&gt;Mesir harus memandang penting terhadap Indonesia. Slogan yang harus kita dukung dan perjuangkan bersama. Beberapa hal yang kita anggap sebagai cara tidak sehat untuk sebuah bangsa yang ingin bermartabat serta dipandang penting. Paraelit kita menurunkan keputusan yang berkaitan dengan mahasiswa tanpa didahului sosialisasi yang baik semacam memberikan surat edaran (karena pengumuman dengan secarik kertas di loket bukanlah cara yang baik). Paraelit kita mengadakan forum bertajuk sosialisasi di Konsuler Nasr City (30 Januari 2008), tetapi yang terjadi bukanlah sosialisasi karena kita disuguhi draft yang sudah jadi. Bukan sosialisasi karena itu sudah realisasi. Bukankah sosialisasi dilakukan sebelum eksekusi setiap keputusan? Kemudian paraelit kita juga terkesan menghindar untuk memberikan alasan yang jelas dan komentar seputar SK Kementrian Luar Negeri bertahun 2002 dan bertandatangan Presiden Mega. Belum lagi, paraelit kita terlalu sibuk untuk menerima wawancara dari media mahasiswa. Sementara itu, paraalit tak bisa berbuat apa-apa karena keputusan telah final. Secara yuridis keputusan ini tetap sah, tetapi kita tidak bisa menjamin itu sah menurut etis. Apa kesimpulan? Untuk menuju bangsa yang bermartabat dan dipandang penting, paraelit kita justeru tak menganggap penting bangsa sendiri,  sehingga untuk menentukan kebijakan kita tidak perlu dilibatkan. Walaupun pada akhirnya diadakan beberapa kali forum bertajuk sosialisasi seperti pada 30 Januari di Nasr City (Griya Jawa Tengah) serta 5 Februari di Garden City. Kenapa lantas ada forum sosialisasi sana-sini, baru setelah ada reaksi dari mahasiswa? Tidak bisa dijamin forum seperti ini akan ada jika tidak ada reaksi balik dari mahasiswa, dan keputusan berjalan apa adanya. Adanya reaksi, berarti ada yang salah dengan cara yang ditempuh oleh paraelit kita. Dan reaksi tersebut akhirnya membuahkan hasil.  Coffee Morning 5 Februari di Balai Budaya KBRI yang dihadiri utusan Kekeluargaan, Afiliatif, dan beberapa elemen PPMI memutuskan dibekukannya kembali undang-undang pemungutan biaya surat-surat di Konsuler untuk sementara waktu dan dalam jangka yang tidak ditentukan. Dan memang sudah selayaknyalah keputusan itu kembali dibekukan, mengingat langkah awal yang ditempuh oleh pihak Kedutaan tidaklah  sesuai dengan iklim masyarakat kita (mahasiswa, bukan pekerja).        &lt;br /&gt;Yang perlu diketahui oleh semua, bahwa Luar Biasa dan Berkuasa Penuh adalah pemegang kebijakan ampuh. Artinya, kaitannya dengan pemberlakuan undang-undang pemungutan biaya seperti ini, Luar Biasa dan Berkuasa Penuh adalah penentu keputusan, akan diberlakukan atau dibekukan. Terbukti dari ditolerirnya pungutan biaya bagi mereka yang terlambat visa kurang dari satu bulan, hingga akhirnya Duta Besar memutuskan untuk membekukan undang-undang ini untuk sementara waktu pada forum Coffee Morning 5 Februari lalu. Begitu juga pada dua dekade kepemimpinan Luar Biasa dan Berkuasa Penuh yang lalu (Hasan Wirajuda dan Bachtiar Ali), di mana pada masa keduanya tidak diberlakukan pungutan itu, walaupun pada waktu itu turun SK tahun 2002 pada masa presiden Mega tentang biaya surat-surat yang keluar dari Kedutaan.  &lt;br /&gt;Kita menginginkan adanya komunikasi yang sehat lagi baik untuk setiap keputusan yang berhubungan dengan mahasiswa. Karena itu adalah cerminan bangsa yang terhormat. Caranya tentu saja dengan memahasiswakan mahasiswa, dengan melibatkan mereka dalam setiap keputusan yang berhubungan dengan mereka. Demikianlah untuk diketahui, beberapa gambaran tentang pergolakan-pergolakan yang terjadi dalam pandangan mahasiswa pada detik-detik sebelum dan setelah keputusan Coffee Morning 5 Februari 2008.      &lt;br /&gt;                    &lt;br /&gt;     *Disarikan dari suara-suara resah arus bawah&lt;br /&gt;               ** Pemred Informatika 2007-2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-4548570926205204617?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/4548570926205204617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/4548570926205204617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2008/02/arus-bawah.html' title='ARUS BAWAH'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/R6yzDPwMpZI/AAAAAAAAAFE/-UpxTOmXhw4/s72-c/IMG_0024.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-6588042302441469979</id><published>2007-12-13T04:32:00.000-08:00</published><updated>2007-12-22T10:49:22.277-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/R2Eq4827h5I/AAAAAAAAAE8/MHZW_UdJ2wY/s1600-h/Copy+of+IMG_0012.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/R2Eq4827h5I/AAAAAAAAAE8/MHZW_UdJ2wY/s320/Copy+of+IMG_0012.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143439407331379090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;MUARAJIWA MENGUCAPKAN: "SELAMAT MENEMPUH UJIAN TERM I." &lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-6588042302441469979?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/6588042302441469979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/6588042302441469979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/12/muarajiwa-mengucapkan-selamat-menempuh.html' title=''/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/R2Eq4827h5I/AAAAAAAAAE8/MHZW_UdJ2wY/s72-c/Copy+of+IMG_0012.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-6028090487655657141</id><published>2007-11-08T16:51:00.000-08:00</published><updated>2007-11-08T16:54:26.261-08:00</updated><title type='text'>PROFESI</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RzOvh7VPJ6I/AAAAAAAAAE0/XM7X-iMKmUY/s1600-h/Image.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RzOvh7VPJ6I/AAAAAAAAAE0/XM7X-iMKmUY/s320/Image.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5130637397902436258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SUARA PPMI, BUKAN SUARA DPP-PPMI!!&lt;br /&gt;Oleh Agus Khudlori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara dalam konteks Masisir, anda, saya, dan orang lain adalah PPMI. Atau statement ini bisa dibalik menjadi: "PPMI adalah anda, saya, dan orang lain." Tak terkecuali para anggota Dewan Pengurus Pusat (DPP) yang sekarang menahkodai kepengurusan PPMI, semuanya adalah PPMI. Karena kesemua-muanya kita adalah pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir. Jadi, kita semua PPMI bukan? Maka salah jika ada orang yang memahami PPMI adalah DPP-PPMI, dan oleh karenanya acuh terhadap segala permasalahan yang terjadi. Pemahaman yang salah ini dapat diluruskan menjadi: "DPP-PPMI adalah wakil kita yang (seharusnya) dapat menjembatani aspirasi, menunaikan harapan, bahkan melayani kebutuhan kita."  Lebih dari itu, PPMI adalah kita semua, bukan hanya Dewan Pengurus Pusat (DPP).&lt;br /&gt;Dari sini, penulis merasa berkepentingan untuk (sebelumnya) menekankan bahwa tulisan ini bukanlah bermaksud untuk menggurui, apalagi merendahkan. Lebih dari itu, sebagai bentuk kepedulian terhadap PPMI, lebih tepatnya terhadap media persnya (Suara PPMI). Oleh karenanya dan atas pertimbangan rekan-rekan media,  tulisan ini dimuat di buletin TeROBOSAN.  &lt;br /&gt;Flash back kepada beberapa tahun lalu, berbagai nada sumbang dialamatkan kepada Suara PPMI. Di antaranya; sebagai media, Suara PPMI dianggap terlalu ekslusif, satu warna, serta kurang bisa menjadi corong yang benar-benar menyuarakan kepedulian terhadap Masisir. Kondisi ini berusaha diperbaiki pada masa&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kabinet Kebersamaan periode 2006-2007 lalu. Menyadari pentingnya peran media sebagai indikator hidup-matinya dinamika sebuah organisasi (Nurul Hadi Abdi, buletin Informatika edisi 124/September 2007), Kabinet Kebersamaan yang dipimpin oleh Sdr. Fuad ini berusaha memperjuangkan eksistensi Suara PPMI agar benar-benar dapat bersuara. Salah satu caranya adalah keputusan tegas Kabinet Kebersamaan untuk merombak total substansi isi dan rubrikasi buletin Suara PPMI yang tahun sebelumnya dinilai gagal menjembatani aspirasi Masisir. Berikut dihadirkan pula orang-orang berpengalaman dalam dunia permediaan untuk terlibat langsung menangani buletin Suara PPMI. Hasilnya, Suara PPMI beranjak lebih baik, mulai diperhitungkan serta dapat bersaing dengan media pers yang lain. &lt;br /&gt;Namun, bagaimana dengan media kita -Suara PPMI- tahun ini, setelah suara-suara sumbang itu dapat diredam untuk minimal satu tahun yang lalu? Agaknya, Suara PPMI kembali mengekor para pendahulunya yang dalam kacamata Masisir kurang bisa mewadahi dan memperjuangkan kepedulian terhadap Masisir, sehingga nada-nada sumbang itu kembali kita dengar. Benarkah demikian? Mari kita lihat beberapa tema yang diangkat Suara PPMI selama dua kali penerbitannya periode ini:&lt;br /&gt;"Prestasi Akademik 2007 Meningkat" (Edisi pertama, rubrik Laporan Utama). Tema ini melaporkan tentang kinerja panitia PPMI Academic Award 2007 di Auditorium Sholah Kamil. "Lahirnya OISAA di Sidney 2007" (Edisi pertama, rubrik Kolom/Talqis Nurdianto, Lc). Tulisan ini melaporkan kunjungan presiden PPMI ke Sidney-Australia dalam rangka Konferensi Internasional Pelajar Indonesia September lalu. "Langkah Awal Perjuangan Kabinet Masisir" (Edisi pertama, rubrik Kolom/Yopi Nurdiansyah Zakaria, Menko I Kabinet Masisir). Tulisan ini melaporkan –tepatnya menceritakan- beberapa hasil pembahasan dalam sidang Pleno II BPA September lalu. "PPMI, Pengembangan Skil Masisir [?] (Edisi kedua, rubrik Jaring Aspirasi). Tema ini mencoba menghubungkan antara beberapa agenda kegiatan PPMI yang telah terlaksanakan dengan pengembangan skill Masisir.   "BWAKM, Membangun Kesejahteraan Masisir" (Edisi kedua, rubrik Laporan Utama). Rubrik ini memaparkan rentetan daftar program kerja terlaksana BWAKM tahun ini, kaitannya sebagai salah satu badan otonom PPMI.&lt;br /&gt;Lalu sebagai pembanding, lihat pula beberapa tema yang diangkat oleh Suara PPMI periode Kabinet Kebersamaan tahun lalu: &lt;br /&gt;"PPMI Kurang Merakyat" (Edisi pertama, rubrik Jaring Aspirasi) Rubrik ini mengangkat asumsi-asumsi kritis Masisir terhadap  kinerja Kabinet Kebersamaan PPMI setelah 30 hari menjabat. "Masisir Butuh Dokter." Tema ini mengangkat permasalahan kesehatan Masisir yang mulai terusik, sedang sarana dan prasara kesehatan seperti dokter tidak tersedia.  "Pendidikan Anak Bangsa Tanggung Jawab Siapa?" (Edisi kesembilan, rubrik Jaring Aspirasi) Tema ini mencoba mengangkat seputar keresahan-keresahan Masisir berkeluarga terhadap nasib pendidikan anak-anak mereka, salah satunya karena letak SIC yang terlalu jauh, serta biaya sekolah di sana yang relatif mahal. "Maba, Anak yang Tak Berdosa" (Edisi kesembilan, rubrik Kolom/Syamsu Alam Darwis). Tulisan ini merupakan bentuk keprihatinan terhadap kasus-kasus mahasiswa baru yang selalu menjadi objek 'kenakalan' mediator.&lt;br /&gt;Dari beberapa contoh tema di atas, kira-kira apa yang bisa kita simpulkan? Pada periode ini (Kabinet Masisir), Suara PPMI tak ubahnya hanyalah progress report (laporan kerja) DPP-PPMI yang dipublikasikan. Tak lebih dari itu. Artinya, Suara PPMI secara subjektif lebih condong untuk mengekspos agenda kegiatan DPP-PPMI kepada khalayak publik daripada kepedulian terhadap permasalahan Masisir. Berbeda dengan periode sebelumnya yang lebih cenderung peduli terhadap permasalahan Masisir, sehingga Suara PPMI dinilai telah sukses mengoptimalkan fungsi ‘corong’nya.&lt;br /&gt;Maka wajar, jika publik Masisir memberikan komentar-komentar negatif terhadap Suara PPMI pasca dua kali penerbitan periode ini. Lebih miris, publik Masisir ternyata tak hanya mengomentari substansi isi Suara PPMI yang terkesan "kurang  peduli' tersebut. Masalah rubrikasi, editing bahkan perwajahan Suara PPMI tahun ini juga ramai menjadi buah bibir, khususnya dikalangan Masisir yang mempunyai kepedulian terhadap media. Mengapa hal itu sampai terjadi? Sejauh pengamatan penulis, banyak faktor yang melatarinya. Di antaranya: Pertama; Pola pandang serta kesadaran Kabinet terhadap pentingnya peran media kurang, sehingga Suara PPMI terkesan apa adanya, asal jalan,  tanpa ada upaya untuk memperjuangkan semisal mengkonsultasikannya dengan eks. redaktur periode sebelumnya atau menerjunkan orang-orang berpengalaman di bidangnya.&lt;br /&gt;Kedua; Gengsi idealisme. Benarkah demikian? Mungkin saja. Apalagi setelah Suara PPMI periode lalu mendapat hujatan tajam ketika LPJ dalam Sidang Umum II MPA-PPMI. Ini diperkuat dengan dirombaknya kembali rubrikasi, substansi isi, serta perwajahan Suara PPMI pada edisi pertamanya periode ini, walaupun pada edisi keduanya Suara PPMI sudah berusaha kembali kepada format periode sebelumnya.&lt;br /&gt;Demikianlah, sekelumit tulisan yang penulis harapkan dapat menjadi titik tolak terjadinya standarisasi antar media. Karena bagaimanapun, Suara PPMI adalah media organisasi induk PPMI. Dan karenanya akan selalu menjadi sorotan publik. Maka sudah seharusnya lebih bisa meningkatkan kepedulian terhadap Masisir, sehingga fungsi kontrol sosial media tidak hilang.  Apalagi, nama Kabinet sekarang adalah Kabinet Masisir. Suara PPMI harusnya lebih dapat memperjuangkan Masisir.&lt;br /&gt;Sebagai penutup, sekali lagi penulis ingin menekankan bahwa PPMI adalah kita semua, Dewan Pengurus, anda, saya, dan orang lain. Maka suara PPMI adalah suara kita semua, Masisir seluruhnya, bukan hanya suara DPP-PPMI. Kalau saja unsur progress report masih tetap dominan dalam Suara PPMI, ganti saja nama Suara PPMI menjadi Suara DPP-PPMI. Bagaimana?◙&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-6028090487655657141?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/6028090487655657141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/6028090487655657141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/11/profesi_08.html' title='PROFESI'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RzOvh7VPJ6I/AAAAAAAAAE0/XM7X-iMKmUY/s72-c/Image.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-8087010218285348055</id><published>2007-11-08T14:50:00.000-08:00</published><updated>2007-11-08T15:06:48.519-08:00</updated><title type='text'>KOMUNITAS</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RzOTx7VPJ4I/AAAAAAAAAEk/bm9qKRRhM7o/s1600-h/pocket.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RzOTx7VPJ4I/AAAAAAAAAEk/bm9qKRRhM7o/s320/pocket.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5130606886454765442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERBAHASA ARAB DI NEGERI ARAB&lt;br /&gt;(SEBUAH KESAKSIAN ATAS KEPRIHATINAN)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Salah satu idealisme setiap mahasiswa ketika menanamkan niatnya untuk menuntut ilmu di negeri ini adalah aktualisasi kemampuan berbahasa Arab yang dimiliki, menilik latar belakang mahasiswa sebagai santri pesantren di seluruh penjuru tanah air. Tentu saja, materi bahasa Arab menjadi main object dalam silabus pembelajaran setiap pesantren. Tak hanya sisi gramatikal (Nahwu dan Shorof), secara umum pesantren di Indonesia menjadikan literatur-literatur berbahasa Arab sebagai menu wajib untuk ditelaah dan dikaji, walaupun metodologi pembelajaran setiap pesantren berbeda. Bahkan di pesantren yang berlabel paling tradisional (salafi) sekalipun, tradisi bahasa Arab kental terlihat. Di sana, dalam mengkaji berbagai literatur (baik turats maupun kontemporer) literatur-literatur tersebut diterjemahkan secara langsung ke dalam bahasa Jawa atau bahasa daerah masing-masing, sesuai letak geografis tiap pesantren. Uniknya, walaupun diterjemahkan ke dalam bahasa daerah masing-masing, terjemahan tersebut masih ditulis menggunakan huruf Arab. Dalam istilah pesantren tradisional di Jawa, tulisan ini disebut dengan tulisan Arab Pegon. Ini adalah bukti, betapa bahasa Arab menempati posisi strategis dalam tradisi pesantren di tanah air, sekaligus menegaskan bahwa para alumnus kampus Azhar yang notabene berlatar belakang pesantren terkait, dari segi bahasa Arab akan lebih dipertimbangkan secara kualitas karena nilai plus sebagai alumnus kampus negeri Arab. Hal ini menjadi sebuah stimulan tersendiri bagi lahirnya semangat improvisasi bahasa Arab setiap calon mahasiswa Arab dan Timur Tengah. Namun naif, ketika telah benar-benar dihadapkan dengan situasi sebagai mahasiswa, obsesi untuk lebih bisa mengaktualisasikan diri dengan bahasa Arab justru malah lebur, luntur di tengah-tengah komunitas bangsa Arab. Setidaknya bisa dilihat dari indikasi-indikasi yang mengarah kepada sebuah kesimpulan bahwa kemampuan dan kecenderungan berbahasa Arab mahasiswa Indonesia di sini (Mesir) menurun. Di sini, penulis tertarik untuk memberikan komentar berupa beberapa faktor yang dalam perspektif penulis sangat berpengaruh terhadap degradasi semangat berbahasa Arab Masisir. Dalam hal ini pendekatan penulis terhadap faktor-faktor tersebut terangkum dalam dua tinjauan umum sebagai berikut:&lt;span class="fullpost"&gt;Pertama; Tinjauan kejiwaan (psikologis). Tentu saja bahasa Arab yang sedang saya singgung di sini adalah bahasa Arab resmi (fusha), bukan bahasa ammiyyah yang banyak digunakan dalam interaksi keseharian bangsa Arab serta jauh dari kaedah-kaedah bahasa yang benar. Kendala pertama yang dihadapi mahasiswa -terkhusus Masisir- kala awal-awal kedatangan adalah masalah adaptasi bahasa yang dalam hal ini adalah bahasa ammiyyah.  Secara praktis, Masisir harus beradaptasi dengan ammiyyah barang setahun dua tahun, menilik dasar bahasa yang mereka miliki adalah fusha, bukan ammiyyah. Dan dalam kurun waktu ini, mau tidak mau bahasa Arab yang sekian lama dipelajari di pesantren dilupakan, tidak mendapat ruang untuk berkembang dalam keseharian Masisir kecuali dalam bangku perkuliahan. Itupun sangat minim, menimbang prosentase Masisir untuk menghadiri  bangku perkuliahan juga sangat minim. Celakanya, di tengah-tengah usaha untuk beradaptasi tersebut, mahasiswa masih harus dikecewakan oleh kondisi dan tipologi bangsa Arab yang cenderung kasar dan keras. Dalam berbagai fenomena, Masisir dibuat kecewa oleh prilaku-prilaku tak terpuji orang Arab. Tipologi yang kasar dan keras tersebut, tak sedikit membuat mahasiswa tak lagi interest untuk berinteraksi lebih jauh dengan orang Arab. Belum lagi kondisi kejiwaan yang belum stabil itu masih diusik oleh dosen yang lebih nyaman menggunakan bahasa ammiyyah ketimbang bahasa fusha dalam perkuliahan. Alhasil, bahasa fusha dilupakan, ammiyyah tak didapat.&lt;br /&gt;Kedua; Tinjauan lingkungan (mileu). Dinamika keorganisasian yang majemuk banyak memberikan dampak positif bagi dunia kemahasiswaan Masisir. Namun di sisi lain, keadaan yang sedemikian rupa juga membawa pengaruh signifikan terhadap semakin melunturnya tradisi berbahasa Arab Masisir. Sebut saja organisasi kedaerahan. Mileu bahasa Arab semakin menjauh dari kata kondusif manakala dikaitkan dengan para aktifis yang menggeluti organisasi ini. Organisasi semacam ini memberi andil cukup besar dalam mempertajam lidah berbahasa daerah, yang akhirnya membunuh skill dan kecenderungan berbahasa Arab mahasiswa. Alhasil, sebagai alumni Timur Tengah, bukan bahasa Arab yang semakin fasih yang dimiliki, tetapi malah bahasa daerah yang bertambah lancar. Pada kesimpulannya, organisasi apapun yang dimiliki Masisir selain menyimpan nilai plus, juga berpotensi menghadirkan sisi negatif dalam segi kemajuan berbahasa Arab mahasiswa, jika tidak diimbangi dengan penyikapan yang solutif-progresif dari berbagai pihak. &lt;br /&gt; Beberapa solusi:&lt;br /&gt;Usaha sebagian organisasi untuk membentuk forum-forum yang berusaha concern terhadap eksistensi bahasa Arab Masisir sangatlah perlu diapresiasi, serta  perlu mendapat antusias massif dari Masisir sebagai solusi penyeimbang atas kondisi yang memprihatinkan ini. Sebagai contoh, Language Community yang dibentuk oleh PII Mesir, penerbitan buletin berbahasa Arab "Lisan al-Akhbar" dan "Ukadz" yang diterbitkan oleh senat Fakultas Bahasa Arab (FBA), serta forum-forum diskusi bahasa Arab yang dibentuk oleh hampir seluruh organisasi kedaerahan Masisir. Akan tetapi yang perlu dicermati adalah, bahwa usaha-usaha di atas belumlah cukup memberikan solusi maksimal. Sebagai cerminan, buletin Musafir yang diterbitkan oleh PII Mesir pada edisi perdananya (28 Agustus 2007) menampilkan sebuah tulisan berbahasa Arab dengan judul "Nahnu wa al-Arabiyyah"  yang ditulis oleh salah seorang anggota Languange Community pada rubrik yang sama di buletin tersebut. Dalam tulisannya, si penulis mengkritisi mayoritas Masisir yang tak mampu berbahasa Arab pada suatu kesempatan dialog publik. Tetapi konyolnya (karena menurut saya ini konyol), tulisan kritis tersebut -menurut istilah teman saya- tidak mencerminkan penulisnya sendiri bisa berbahasa Arab, karena sisi gramatikal (nahwiyyah) yang banyak tidak mengena serta uslub (gaya bahasa/ungkapan) yang digunakan tidak sesuai dengan maksud tulisan dan terkesan leterleg. Yang menjadi sorotan adalah, forum seperti Languange Community sebagai komunitas yang berkomitmen terhadap pengembangan bahasa ternyata belum mampu menjadi barometer bahasa Arab Masisir. Belum lagi, forum-forum diskusi berbahasa Arab mahasiswa selalu menjadi pemandangan betapa menyedihkannya kondisi bahasa Arab Masisir. Karenanya, penulis melihat perlu adanya solusi-solusi yang lebih progresif yang lahir dari kesadaran kolektif Masisir sebagai mahasiswa kampus Arab. Hal-hal yang dianggap sepele serta cenderung dilupakan seperti media massa baik  cetak ataupun elektronik, justru merupakan solusi yang jitu untuk peningkatan mutu bahasa kalau kita cerdas mencermati. Karena justru dari media-media tersebut (surat kabar dan televisi) berbagai ungkapan bahasa yang indah dan tidak leterleg, serta kosakata yang manis dan berlimpah dapat kita petik. Sehingga dalam kapasitas kita sebagai alumni Timur Tengah nantinya, ketimpangan-ketimpangan seperti yang terjadi pada kasus buletin Musafir di atas tidak lagi terulang. Selanjutnya, perlu kiranya ada pendalaman secara lebih mengerucut, seperti partisipasi dalam kursus-kursus bahasa yang melibatkan komunitas yang benar-benar berkomitmen terhadap bahasa Arab,  sehingga tercipta suasana yang kondusif dan dinamis. Sekolah bahasa seperti madrasah Orman, kuliah bahasa di Cairo University yang diadakan oleh Wazarah at-Ta'lim al-Aliy yang biayanya relatif  terjangkau (150 pound per tahun), adalah sebagian dari banyak solusi yang tak mungkin saya sebutkan seluruhnya. Begitulah, bahasa Arab haruslah menjadi kebanggaan yang wajib dimiliki oleh Masisir dalam kapasitas sebagai calon alumni kampus Timur Tengah. Wallahu A’lam.◙&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-8087010218285348055?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/8087010218285348055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/8087010218285348055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/11/komunitas.html' title='KOMUNITAS'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RzOTx7VPJ4I/AAAAAAAAAEk/bm9qKRRhM7o/s72-c/pocket.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-5531499155824785281</id><published>2007-11-02T15:11:00.000-07:00</published><updated>2007-11-08T14:59:23.610-08:00</updated><title type='text'>INTERAKSI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RyulqniVFfI/AAAAAAAAAEc/p2b5xxJTUME/s1600-h/600px-Flag_of_Indonesia_(bordered).svg.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RyulqniVFfI/AAAAAAAAAEc/p2b5xxJTUME/s320/600px-Flag_of_Indonesia_(bordered).svg.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5128374752277501426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HIDUP BERSAMA, HARUS DIBELA!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai hal, antara Indonesia dan Malaysia terdapat banyak kesamaan, walaupun sebenarnya berbeda. Kultur, budaya, adat, bahkan bentuk fisik manusia kedua negara hampir sama. Itu sebabnya orang Mesir atau orang Arab lainnya sering kali salah memanggil orang Indonesia dengan sebutan “Ya Malizy!” “Hei orang Malaysia! Atau bisa juga sebaliknya, mereka menyebut orang Malaysia dengan sebutan “Andunisy!.” Dua hal yang memang serupa tapi tak sama. Di Mesir ini, Indonesia dan Malaysia termasuk pengimpor tenaga mahasiswa terbesar dan terbanyak. Dan bukan tenaga kerja, seperti di negara-negara lain. Saudi, Hongkong, misalnya. Dari sini, tentunya sering terjadi interaksi antara mahasiswa kedua negara, karena mereka berada di negara dan kampus yang sama. Bahkan, komunitas mereka sering kali sama-sama terpusat di satu tempat. Hay ‘Asyir misalnya. Dalam lingkup kemahasiswaan, kedua belah negara juga terlihat harmonis menjalin hubungan. PPMI dengan PMRAM yang sesama organisasi induk mahasiswa, WIHDAH dengan HEWI yang sesama organisasi induk mahasiswi, serta ICMI dengan ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) yang sesama organisasi kecendikiawanan Islam. Masing-masing dari keduanya sering terlihat menjalin kerjasama melalui organisasi-organisasi ini. Tentunya hal itu didasari oleh kesamaan dan kedekatan-kedekatan yang ada.&lt;span class="fullpost"&gt;Namun begitu, di tingkat negara hubungan RI-Malaysia juga tak selamanya mulus. Sederetan konflik mewarnai hubungan kedua negara. Perebutan pulau, pembajakan budaya, hingga kekerasan terhadap warga pendatang. Konflik-konflik yang terjadi antar kedua negara sedikit banyak juga dirasakan oleh komunitas masyarakat kedua negara yang berada di luar. Apalagi di Mesir, yang intensitas interaksi warga kedua negara tergolong tinggi, walaupun hanya dengan bertatap muka dan bertukar salam di jalan. Konflik yang sumbernya dari masing-masing negara bertetangga itu tanpa disadari telah membawa hawa panas di tengah-tengah komunitas masyarakat kedua negara di sini. Bagaimana mungkin di salah satu bis, seorang mahasiswa Indonesia mengumpat-umpat, menjelek-jelekkan negara Malaysia dihadapan temannya, sedang di sampingnya ada warga Malaysia. Atau bagaimana mungkin serombongan mahasiswi Malaysia mengatakan kata-kata sandi tertentu sebagai pertanda hati-hati ketika bertemu orang Indonesia di jalan?&lt;br /&gt;Di saat-saat seperti inilah instansi-instansi yang mewakili nama pemerintahan harus memerankan fungsinya. Baik instansi yang mewakili mahasiswa (PPMI) ataupun yang mengatasnamakan negara (Kedutaan). Bagaimana mungkin keharmonisan yang telah terjalin itu harus terkoyak dan retak gara-gara konflik yang sumbernya bukan berasal dari komunitas kedua negara yang ada di sini? Hal ini tak bisa dibiarkan, harus segera ada tindakan dari yang berwenang jika tak ingin keadaan semakin menegang. Mengenai format dan prosedur tindakannya, itu terserah para atasan sekalian. Kami hanya ingin tahu langkah kongkrit itu ada. Bukan hanya acuh dan memilih diam, karena ini “katanya” bukan wewenangnya. Bagaimana mungkin?◙&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-5531499155824785281?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/5531499155824785281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/5531499155824785281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/11/intraksi.html' title='INTERAKSI'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RyulqniVFfI/AAAAAAAAAEc/p2b5xxJTUME/s72-c/600px-Flag_of_Indonesia_(bordered).svg.png' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-6174135260898396190</id><published>2007-10-30T17:32:00.000-07:00</published><updated>2007-11-08T16:57:20.795-08:00</updated><title type='text'>KAMPUS KITA</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RyfPSXiVFaI/AAAAAAAAAD0/i9RGPNn4Zxs/s1600-h/al-azhar.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RyfPSXiVFaI/AAAAAAAAAD0/i9RGPNn4Zxs/s320/al-azhar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127294615247197602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SENAT USHULUDDIN &lt;br /&gt;ANTARA KONDISI DAN TUNTUTAN PERUBAHAN&lt;br /&gt;Oleh Agus Khudlori*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senat Mahasiswa Fakultas (selanjutnya disebut SEMA-F) adalah salah satu kekuatan besar yang dimiliki mahasiswa, kaitannya dengan penerapan Student Government System (SGS) di kampus universitas (UIN sebagai cerminan). Kekuatan tersebut tercermin dari salah satunya, pembentukan partai oleh Senat Mahasiswa yang akan dijadikan sebagai kendaraan politik untuk pencalonan presiden mahasiswa (Presma). Senat Mahasiswa Fakultas yang belakangan di banyak kampus dirubah istilah dan namanya menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF) yang secara struktural berada di bawah Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU) juga menjadi sentral aktifitas  intra maupun ekstrakurikuler mahasiswa. Riset, diskusi, seminar, workshop kefakultasan adalah beberapa contoh kegiatan yang intens dilaksanakan oleh  SEMA sebagai upaya untuk meningkatkan mutu SDM anggota senat agar dapat bersaing dan ikut berkutik dalam dunia intelektual kampus. &lt;br /&gt;Dari gambaran singkat di atas, kiranya tidak ada salahnya jika penulis bermaksud membandingkan antara dinamika kemahasiswaan kita (Masisir) dengan dinamika mahasiswa kampus di Tanah Air. Karena pada kenyataanya kita sama-sama menganut sistem yang sama, SGS. Bahkan, SGS yang kita terapkan pada dinamika kemahasiswaan kita sekarang ini adalah adopsi dari SGS yang diterapkan di kampus UIN (Ramli Syarqawi, S.Ag adalah salah satu pengusung dan pencetus SGS Masisir).&lt;span class="fullpost"&gt;Maka, mari kita lihat seberapa maksimal penerapan SGS Masisir dari perspektif organisasi Senat Mahasiswa, setidaknya dari senat kita sendiri, Ushuluddin. Terhitung sejak didirikannya sekitar tahun 2005 -yang sebelumnya mati suri-, senat Ushuluddin hanya mempunyai kurang dari 50 orang anggota aktif. Padahal,  Ushuluddin adalah fakultas terfavorit dan dipilih oleh mayoritas dari sekitar 5000 mahasiswa. Ada apa? Dalam kacamata penulis –sekaligus sebagai otokritik- fenomena kejanggalan ini terletak pada pertamakali diadakannya orientasi mahasiswa baru atau yang sering kita sebut Ormaba. Walaupun mahasiswa baru sudah didata melalui formulir per senat, serta materi tentang kesenatan juga diperkenalkan pada Ormaba tersebut, akan tetapi dua hal ini belum cukup memikat dan mengikat mahasiswa baru untuk selanjutnya dapat terlibat aktif dalam dinamika kesenatan. Itu karena, pendataan melalui formulir yang dilakukan tersebut hanya sebatas pendataan, tanpa adanya follow up dan penekanan kepada Maba untuk mengikat diri di senat. Terbukti dari jumlah mahasiswa yang terdata ketika Ormaba hanya tersisa kurang dari 50 puluh orang anggota aktif. Ke mana yang lain? Begitu pula dengan materi kesenatan yang dikenalkan ketika orientasi juga hanya sebatas pengenalan, bukan materi tentang kesenatan secara spesifik.&lt;br /&gt;Selanjutnya, senat Ushuluddin –dalam perspektif penulis dan mayoritas mahasiswa- adalah senat terfakum dalam hal aktifitas dan kegiatan. Jangankan untuk kegiatan yang sifatnya eksternal, terbuka untuk umum, seperti SEMA FSQ dengan "Malam Peduli Lebanonnya", SEMA FBA dengan seminar tentang jurnalistik Arabnya pada tahun 2003, SEMA FSI dengan bedah bukunya baru-baru ini, selama setahun ini kegiatan yang sifatnya khusus mengundang massa mahasiswa Ushuluddin saja tidak pernah tercium baunya.  &lt;br /&gt;Hal ini semakin menegaskan paradigma yang menyebutkan lemahnya kekuatan senat Ushuluddin sehingga tak mampu menarik empati massanya, bahkan untuk sekedar berpartisipasi dalam atmosfir kesenatan. &lt;br /&gt; Dari dua pokok permasalahan di ataslah (minimnya jumlah anggota tercatat dan fakumnya aktifitas) berbagai problema dalam SEMA Fakultas Ushuluddin muncul, sehingga berakibat kepada tidak optimalnya peran senat Ushuluddin dalam kancah dinamika keilmuan Masisir. Selanjutnya, tidak bijak kiranya jika penulis hanya menyebutkan permasalahan tanpa ada solusi yang ditawarkan. Maka di bawah ini adalah beberapa solusi umum dalam rangka merubah kondisi terpuruk ini menuju optimalisasi peran senat Ushuluddin agar dapat ikut bersuara dalam dinamika kemahasiswaan kita. &lt;br /&gt;Kaitannya dengan manimnya partisipasi anggota dalam senat, maka haruslah ada perubahan sistemik pada acara orientasi mahasiswa baru (Ormaba) oleh PPMI. Sebagai efisiensi dana dan kegiatan, orientasi mahasiswa baru per senat yang biasanya dihandle langsung oleh pihak senat (seperti Tawashul untuk SEMA Ushuluddin) seharusnya bisa dilebur dengan Ormaba PPMI. Dari Ormaba tersebut antusiasme serta semangat mahasiswa baru terhadap senat akan lebih tinggi dibanding jika orientasi senat diadakan setelah Ormaba. Hal ini juga dimaksudkan supaya orientasi senat tidak kalah start dengan orientasi kekeluargaan. Kemudian PPMI sebagai pihak yang membawahi organisasi SEMA (sebagaimana BEMU yang membawahi BEMF) haruslah mampu menunjukkan kekuatannya dengan cara mewajibkan seluruh mahasiswa baru untuk mengikat diri dalam senat. Karena bagaimanapun, keterikatan anggota adalah modal awal untuk memulai pergerakan di senat. Kalau anggotanya saja tidak ada, apa yang akan digerakkan dan diperjuangkan? &lt;br /&gt;Selanjutnya, kaitannya dengan fakumnya kegiatan senat yang ditengarai karena salah satunya, minimnya dana yang dialokasikan kepada senat, sebagai solusinya Sidang Pleno II BPA dalam pembahasan RAPBO DPP-PPMI term I merekomendasikan penetapan jatah wajb (primer) senat untuk term pertama sebanyak 500 Pound, ditambah jatah skunder sebesar 1000 Pound dengan syarat organisasi senat terkait tidak fakum aktifitas. Ditambah lagi subsidi dana dari BWAKM sebesar 900 Pound untuk seluruh organisasi senat, maka tidak ada alasan bagi organisasi SEMA terutama Ushuluddin untuk tidak menggalakkan kegiatan. Tak harus kegiatan yang berskala makro dan bersifat umum, penulis melihat senat Ushuluddin harus memulainya dengan kegiatan-kegiatan yang lebih mengerucut tentang kesenatan dan diperuntukkan khusus mahasiswa Ushuluddin seperti kajian, diskusi, pelatihan, dan lain-lain. Kemudian masih seputar dana, rekomendasi BPA yang mengusulkan kepada DPP-PPMI untuk mengalokasikan 5 jatah tambahan Temus (10 jatah Temus dikurangi 5 Temus WIHDAH) kepada senat haruslah diperjuangkan. Karena itu nantinya akan menjadi salah satu sumber keuangan terbesar senat, sehingga senat tidak selalu bergantung kepada anggaran DPP untuk memulai aktifitas. &lt;br /&gt;Senat mahasiswa melalui PPMI juga harus mempunyai suatu kekuatan yang bersifat mengikat dan mengakar. Peraturan tentang pengurusan dan mediasi calon mahasiswa baru yang harus melalui senat, misalnya. Senat melalui dukungan PPMI pula hendaknya menghimbau kepada seluruh organisasi di luar senat untuk mendukung optimalisasi peran senat dengan cara mengalihkan bimbingan belajar kepada senat sebagai upaya lain untuk mengikis kefakuman dari partisipasi massanya, sehingga dengan sendirinya anggota fakultas akan banyak muncul dalam dinamika kesenatan. &lt;br /&gt;Terakhir, pembicaraan tentang optimalisasi peran senat besrta solusi-solusi seperti di atas adalah omong kosong, jika tidak dibarengi dengan tindak lanjut dan dukungan dari pihak dalam senat sendiri. Oleh sebab itu, perbaikan dari dalam senat sendiri adalah suatu keniscayaan sebelum lebih jauh melangkah keluar. Untuk memaksimalkan fungsi senat, seorang pengurus terutama pengurus harian haruslah mau mengikat sumpah setia untuk tidak aktif di organisasi manapun dan menomorsatukan senat, bukan menganaktirikannya! Wallahu A'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     *Mahasiswa Akidah Filsafat Tingkat III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-6174135260898396190?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/6174135260898396190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/6174135260898396190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/10/kampus-kita.html' title='KAMPUS KITA'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RyfPSXiVFaI/AAAAAAAAAD0/i9RGPNn4Zxs/s72-c/al-azhar.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-3626580768638177122</id><published>2007-09-04T09:52:00.000-07:00</published><updated>2007-11-08T16:58:20.560-08:00</updated><title type='text'>Aku dan Kesaksian</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/Rt2NgCq_kbI/AAAAAAAAADs/1R7ixtIYAjY/s1600-h/359720700l.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/Rt2NgCq_kbI/AAAAAAAAADs/1R7ixtIYAjY/s320/359720700l.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5106393134120538546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku bersaksi, atas ketimpangan watak manusia&lt;br /&gt;Aku bersaksi, atas topeng yang tersembunyi&lt;br /&gt;Aku bersaksi, atas janji yang ternodai&lt;br /&gt;Aku bersaksi, atas jiwa yang terlukai&lt;br /&gt;Aku bersaksi, atas duka yang menggelora&lt;br /&gt;Aku bersaksi, atas nurani yang tak lagi bicara&lt;br /&gt;Aku bersaksi, atas cinta yang tak lagi berharga&lt;br /&gt;Aku bersaksi, atas cela yang bersemayam&lt;br /&gt;Aku bersaksi, atas mawar yang tak lagi harum&lt;br /&gt;Aku bersumpah, akan tetap menjadi saksi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Hidup harus berjalan wajar, tanpa&lt;br /&gt;dusta, tanpa derita, tanpa kepalsuan&lt;br /&gt;cinta!!)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-3626580768638177122?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muarajiwa.blogspot.com/feeds/3626580768638177122/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/09/aku-dan-kesaksian_04.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/3626580768638177122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/3626580768638177122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/09/aku-dan-kesaksian_04.html' title='Aku dan Kesaksian'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/Rt2NgCq_kbI/AAAAAAAAADs/1R7ixtIYAjY/s72-c/359720700l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-5550291029453925216</id><published>2007-08-30T08:10:00.000-07:00</published><updated>2007-11-08T16:58:37.238-08:00</updated><title type='text'>Temukan Kembali Jati Diri!!!!</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/Rtbezyq_kYI/AAAAAAAAADQ/8ZF6p8L6PYs/s1600-h/BalapKarung.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/Rtbezyq_kYI/AAAAAAAAADQ/8ZF6p8L6PYs/s320/BalapKarung.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5104512209027830146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kita mungkin tidak merasakan beratnya kerja rodi membangun jalan dan pabrik-pabrik pada masa imperialis Belanda. Kita juga tidak merasakan gatalnya baju yang terbuat dari bahan karung pada masa penjajahan Jepang. Atau juga  pembodohan masal pada masa pendudukan Inggris. Kita telah melewati masa-masa berat penjajahan sejak kemerdekaan diproklamasikan 62 tahun silam. Kita kini hanya tinggal menikmati puncak perjuangan generasi lawas yang berupa buah kemerdekaan. Yang diharapkan dari generasi penerus bangsa seperti kita hanyalah memperjuangkan pembangunan bangsa dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta membangun citra positif guna mewujudkan Indonesia yang berwibawa di mata dunia.&lt;br /&gt;Menjadi mahasiswa merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi seseorang, jika dibarengi dengan idealisme sebagai mahasiswa sejati. Masisir dengan idealisme awalnya sebagai mahasiswa sejatinya adalah salah satu bagian dari generasi penerus bangsa tersebut. Namun sayang, jati diri Masisir sebagai generasi penerus bangsa yang diharapkan dapat menjadi pelopor pembangunan bangsa dan agama semakin lama semakin mengabur seiring menuanya usia kemerdekaan. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Usia kemerdekaan yang semakin menua itu tidak malah menyadarkan Masisir untuk lebih mendewasakan diri memaknai kemerdekaan dengan kapasitas sebagai kaum akademisi. Tidak banyak yang menyadari kapasitas dirinya sebagai mahasiswa harapan bangsa, kalaupun ada itu hanyalah minoritas. Adapun mayoritas, pribadi-pribadi yang individualis lah yang justru terlihat mencolok. Elo elo, gue, gue!! Kesadaran bersama sebagai salah satu tonggak bangsa yang harus memberikan sumbangsih terhadap kemajuan bangsa masih belum dapat diraih. &lt;br /&gt;Sebagai manusia, boleh saja Masisir menekuni dunia bisnis, boleh saja menggandrungi sepakbola, boleh saja menekuni organisasi, boleh juga menekuni dunia tarik suara, atau hal apapun yang sifatnya kebutuhan sekunder. Yang tidak boleh adalah, jika kebutuhan-kebutuhan seperti di atas lalu dijadikan tujuan, sehingga jati diri sebenarnya sebagai mahasiswa sejati kemudian luntur lalu hilang. Bagaimanapun, mahasiswa tetaplah mahasiswa. Masisir di mata masyarakat di tanah air tetaplah sebagai mahasiswa, bukan pebisnis, bukan pemain bola, bukan pula selebritis. Apakah duta bangsa bernama Masisir ini akan menghadiahi sepak bola  bagi masyarakatnya di tanah air? Ataukah Masisir akan lebih bangga untuk menjadi artis kondang jebolan Azhar di tengah-tengah masyarakat yang sedang menantikannya? Sekali lagi, temukan kembali jati diri yang hilang!◙&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-5550291029453925216?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muarajiwa.blogspot.com/feeds/5550291029453925216/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/08/temukan-kembali-jati-diri.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/5550291029453925216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/5550291029453925216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/08/temukan-kembali-jati-diri.html' title='Temukan Kembali Jati Diri!!!!'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/Rtbezyq_kYI/AAAAAAAAADQ/8ZF6p8L6PYs/s72-c/BalapKarung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-7047011751154827479</id><published>2007-08-08T08:59:00.000-07:00</published><updated>2007-11-08T16:58:54.980-08:00</updated><title type='text'>Anak Bangsa</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/Rrnp4EM3rxI/AAAAAAAAADI/IBIipAe2Lu4/s1600-h/IMG_0006.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/Rrnp4EM3rxI/AAAAAAAAADI/IBIipAe2Lu4/s320/IMG_0006.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5096361602756095762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;MEMBANGUN DINAMIKA TUNGGAL IKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa Pemilu Raya dan Sidang Umum sudah semakin dekat. Tatanan kedinamikaan Masisir dalam sebuah negara kecil bernama PPMI sudah semakin mendewasa. Sebagai organisasi yang berusaha mengadopsi sistem pemerintahan negara melalui SGS (Student Government System), PPMI Mesir melalui MPA telah sukses menjalankan satu-persatu rangkaian agenda Pemilu Raya, walaupun SGS sendiri dalam ranah dinamika Masisir masih menyisakan kejanggalan. Di antaranya adalah fungsi legislatif dan yudikatif yang keduanya berada dalam kekuasaan BPA. Dengan kata lain, trias politica belum sepenuhnya dijalankan dengan baik oleh organisasi PPMI. Terlepas dari persoalan SGS dengan trias politicanya, mari kita mencoba menyoroti satu permasalahan lain, capres dan debat kandidat. Di antara isu yang beredar seputar pencalonan capres adalah, semakin berkurangnya kepedulian Masisir terhadap organisasi induk yang menaungi mereka, PPMI. Hal ini diindikasikan dengan tiadanya calon yang mendaftar sebagai capres hingga batas akhir pendaftaran. Hingga akhirnya diumumkan perpanjangan waktu pendaftaran selama 1x24 jam, barulah muncul calon pendaftar. Belum habis isu ini dibicarakan, isu lain kembali muncul setelah dua calon mendaftar sebagai kandidat. Isu yang berkembang adalah, akan terjadi perang urat saraf antara kedua capres dan massa yang berada di belakang mereka. Capres pertama, diasumsikan sebagai perwakilan massa dari pulau Jawa, karena latar belakang dia sebagai orang Jawa. Sementara capres kedua, mewakili masa pulau Sulawesi yang jumlah masanya tak kalah banyak. Hal ini tidak terlepas dari adanya isu persengketaan dan diskriminasi pulau yang selama ini marak terjadi dalam beberapa fenomena kegiatan yang diadakan dengan dalih mempererat silaturahmi. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika benar isu perang dingin urat syaraf ini terjadi, apa gerangan yang akan terjadi selanjutnya? Gengsi dan fanatik kedaerahan akan tetap melekat dalam diri masing-masing Masisir, yang ujung-ujungnya hanya akan memperkuat sindrom apatisme antar daerah dikarenakan faktor trauma dari satu pihak, dan sentimentil dari pihak lain. Jika hal ini yang terjadi, maka sudah dapat dipastikan debat kandidat yang digelar sebagai salah satu pilar sistem demokrasi dengan sendirinya akan kehilangan fungsi, hanya akan menyisakan kesia-siaan berbungkus formalitas belaka. Ada dan tiadanya debat kandidat akan menghasilkan hal yang sama; kecenderungan memilih atas dasar ikatan kedaerahan dan fanatisme golongan. &lt;br /&gt;Pemilu raya sudah di ambang pintu. Kedua calon telah mengusung misi yang berbeda, namun sarat dengan maksud dan tujuan yang sama; keberpihakan terhadap kepentingan Masisir secara umum tanpa tendensi kelompok atau golongan. Karenanya, siapapun calon yang akan terpilih ia harus bisa mewujudkan dinamika kemahasiswaan dengan aroma keindonesiaan yang kental, mampu mewujudkan kesadaran umum akan adanya “ketunggalan” dalam bingkai kebhinnekaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-7047011751154827479?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muarajiwa.blogspot.com/feeds/7047011751154827479/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/08/kebhinnekaan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/7047011751154827479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/7047011751154827479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/08/kebhinnekaan.html' title='Anak Bangsa'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/Rrnp4EM3rxI/AAAAAAAAADI/IBIipAe2Lu4/s72-c/IMG_0006.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-7548267640391933573</id><published>2007-07-31T23:41:00.002-07:00</published><updated>2007-09-04T09:36:10.932-07:00</updated><title type='text'>TEOLOGI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RrAy80M3rvI/AAAAAAAAAC4/ZBm1v0Ul1c4/s1600-h/islam.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RrAy80M3rvI/AAAAAAAAAC4/ZBm1v0Ul1c4/s320/islam.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5093627198942195442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;KANAN-KIRI OKE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan tidak dapat diartikan sebagai perpecahan. Kalaupun ada perpecahan yang terjadi karena latar belakang perbedaan, itu bukan berarti bahwa perbedaan adalah perpecahan dan konflik itu sendiri atau sebagai akibat dari adanya perbedaan, melainkan hal itu adalah salah satu konsekuensi dari wujud manusia sebagai umat yang “syu’uban wa qabaila”. Perbedaan emosi, latar belakang, sering kali menyulut terjadinya konflik dalam sebuah tatanan kemasyarakatan. Indonesia adalah contoh nyata dari adanya perbedaan itu. Keragaman budaya dan latar belakang kedaerahan yang terbingkai dalam wadah kebhinekaan menjadikan perbedaan begitu mencolok terlihat. Akan tetapi, segala perbedaan yang ada tersebut bukanlah alasan untuk bercerai berai, saling memusuhi, saling anti pati dan saling benci. Kesadaran sebagai bagian dari bangsa dan negara yang satu haruslah menjadi pusaka yang disakralkan demi menjaga utuhnya kesatuan bangsa. Pun jika memang konflik terpaksa terjadi dalam sebuah tatanan kemasyarakatan, bukan lantas tidak bisa dihentikan. Pencarian solusi yang tepat dengan jalan dialog adalah jalan terbaik yang bisa ditempuh. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berbicara dalam konteks Islam, istilah Kanan dan Kiri menjadi dua Istilah yang sangat populer di kalangan umat Islam Indonesia saat ini. Dua kata yang ringan untuk diucapkan, tetapi mengandung muatan makna yang sangat mendalam. Kanan dan Kiri dipakai untuk mengistilahkan dua kelompok yang ditengarai saling berseberangan dalam hal  ideologi keagaaman. Perbedaan ini akan menjadi hal yang sangat tabu jika dipahami tanpa ada landasan kesadaran tingkat tinggi untuk bersatu padu memajukan agama yang menyeru kepada perdamaian ini (Islam). Perbedaan yang ada haruslah membawa misi “rahmah”, bukan malah memperuncing perpecahan yang akhirnya berujung kepada malapetaka. Adanya perbedaan harus disadari sebagai proses penyempurnaan sebuah hasil, harus disadari bahwa dengan adanya perbedaan suatu kehidupan menjadi lengkap. Kanan dan Kiri akan menjadi amunisi yang ampuh bagi keutuhan Islam manakala disikapi sebagai suatu hal yang wajar dalam rumus perbedaan. Ibarat anggota tubuh, Kanan dan Kiri adalah tangannya, sedangkan Islam sendiri adalah tubuhnya. Apa jadinya jika suatu tubuh kehilangan salah satu tangan? Begitu juga dengan Islam Indonesia. Pastinya baik antara kelompok Kanan dan kelompok Kiri bercita-cita untuk menciptakan kegemilangan Islam, walaupun dengan jalan masing-masing. Keduanya berkerja berdasarkan fungsi masing-masing. Yang kanan identik dengan bergerak, dan yang kiri identik dengan berfikir. Akan tetapi bukan lantas berarti yang bergerak tidak bisa berfikir, dan yang berfikir tidak bisa bergerak, yang akhirnya hanya akan menimbulkan kecemburuan dan berujung kepada suatu permusuhan antara satu dengan yang lain. Islam Kanan dan Islam kiri, walaupun masing-masing mempunyai kecenderungan untuk berbeda pandangan dan pendapat, akan tetapi hendaknya antara keduanya sama-sama mempunyai kesadaran akan tujuan yang sama (an-natijah al-musytarakah). Keduanya mempunyai satu titik temu. Tujuan apalagi kalau bukan untuk menciptakan kegemilangan Islam? Kesadaran akan hal inilah yang seharusnya terus dilestarikan,  yang  tentunya harus disertai dengan semangat bertoleransi terhadap adanya perbedaan. Jika hal itu yang menjadi ukuran, maka tidak ada salahnya bagi umat Islam Indonesia untuk mengatakan “Kanan-Kiri Oke!!.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-7548267640391933573?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muarajiwa.blogspot.com/feeds/7548267640391933573/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/07/teologi_31.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/7548267640391933573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/7548267640391933573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/07/teologi_31.html' title='TEOLOGI'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RrAy80M3rvI/AAAAAAAAAC4/ZBm1v0Ul1c4/s72-c/islam.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-9202587416508052034</id><published>2007-07-05T08:54:00.000-07:00</published><updated>2007-10-10T15:59:53.434-07:00</updated><title type='text'>Sekedar Pembuka</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RrA2d0M3rwI/AAAAAAAAADA/pSMzYE50QJs/s1600-h/kalender2007.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RrA2d0M3rwI/AAAAAAAAADA/pSMzYE50QJs/s320/kalender2007.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5093631064412761858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;PREDIKSI YANG “KEBLINGER ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akal manusia terbatas, seterbatas pandangan matanya yang kian jauh kian buram memandang. Perkiraan-perkiraan yang didasarkan pada pertimbangan nalar sering kali meleset jauh dari tujuan dan target, walaupun pada dasarnya hasil yang akan dicapai sudah matang diperhitungkan sebelumnya. Apalagi jika pertimbangan itu ternyata belum sepenuhnya matang diperhitungkan, dan harus dieksekusi dalam bentuk kerja nyata dalam waktu yang relatif singkat. &lt;br /&gt;Ramadhan tahun lalu, tiga lembaga ternama di kalangan Masisir; PPMI, WIHDAH, dan BWAKM sepakat untuk membentuk panitia pengadaan kalender yang merupakan representasi dari ketiga lembaga tersebut. Sebuah target yang mulanya diproyeksikan untuk menjadi salah satu sumber pasokan dana. Alih-alih ingin meraih keuntungan dari proyek tersebut, tiga lembaga tersebut malah menuai hasil “buntung”. Di akhir masa kepengurusan setelah LPJ, panitia gabungan itu terpaksa menelan pil pahit kerugian. Tak tanggung-tangung, 75 persen dari jumlah modal semula sekitar LE 11.000!!! Akibatnya, ketiga lembaga ini harus bahu membahu menanggung beban kerugian ini dengan uang  yang seharusnya bisa digunakan untuk mensuplai kegiatan-kegiatan keorganisasian Masisir yang lebih bersifat urgen. Bukan malah untuk menutupi kerugian suatu proyek dan program kerja yang sebenarnya sama sekali tidak masuk dalam kategori “kebutuhan primer”. Berbagai prediksi positif dari proyek kalender ini seputar kalkulasi keuntungan terpatahkan oleh kenyataan yang ada sekarang, setelah kalender itu benar-benar tercetak dan terdistribusikan. Dengan kata lain, harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Benar-benar sebuah prediksi yang “keblinger!!! Sebuah kerugian mungkin sudah merupakan resiko dalam berbisinis. Tapi kerugian yang sebesar ini tentunya sama sekali tidak masuk dalam prediksi dan perhitungan orang mana pun, bukan?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dapat dipahami jika ketiga lembaga tersebut (PPMI, WIHDAH, BWAKM) kemudian sepakat untuk tetap mengeksekusi penerbitan kalender ini walaupun dengan konsep yang belum terlalu matang itu. Setiap organisasi menginginkan masanya dikenang mempunyai nilai lebih dibanding dengan masa dan periode sebelumnya. Ibarat sebuah kerajaan pada dahulu kala, ia ingin memahat bukti kejayaannya dalam sebuah prasasti yang kelak akan terus dikenang sepangjang sejarah, sebagai bukti bahwa ia pernah eksis. Begitulah kira-kira yang diinginkan ketiga lembaga tersebut jika ditinjau dari salah satu target yang direncanakan dari proyek kalender ini; sebagai cindera mata dan kenang-kenangan untuk para tamu Indonesia yang berkunjung ke Mesir. Sayangnya, lagi-lagi perkiraan ini meleset jauh dari sasaran. Berapa jumlah tamu yang datang pada bulan-bulan awal tahun ini? Agaknya ini luput dari prediksi ketiga lembaga tersebut. Apakah memungkinkan apabila kalender ini dijual sebagai cendramata ketika tahun sudah beranjak pada bulan pertengahan seperti sekarang? Jawabannya tentu tidak, kecuali jika anda punya opini lain untuk membagikannya secara cuma-cuma. Dan itu berarti, anda telah  mempertaruhkan kerugian besar dari dana yang besar pula. Seperti sekarang ini!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-9202587416508052034?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muarajiwa.blogspot.com/feeds/9202587416508052034/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/07/prediksi-yang-keblinger-akal-manusia_3637.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/9202587416508052034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/9202587416508052034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/07/prediksi-yang-keblinger-akal-manusia_3637.html' title='Sekedar Pembuka'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RrA2d0M3rwI/AAAAAAAAADA/pSMzYE50QJs/s72-c/kalender2007.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-5715140789566013126</id><published>2007-06-22T17:21:00.001-07:00</published><updated>2007-09-04T09:39:08.530-07:00</updated><title type='text'>Aku Kecewa, Sobat!!!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RnxvCT7vgLI/AAAAAAAAACM/A4vprA3w5nE/s1600-h/face.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RnxvCT7vgLI/AAAAAAAAACM/A4vprA3w5nE/s320/face.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5079056565268349106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertawa, begitu liciknya engkau. Dengan dalih kesucian dirimu, kau buat seakan-akan akulah manusia paling hina diantara orang-orang suci disekitarmu. Bahh...!!! Apa itu dirimu. Apa pula kata-kata manis yang kau ucapkan berpuluh-puluh menit bahkan berjam-jam setiap harinya atas nama cinta itu? Apa pula pertemuan-pertemuanmu tersembunyi yang sering kau lakukan dengan kekasih hatimu itu? Aku yakin kau pun tahu, itu sama sekali tidak dibenarkan oleh agama. Ya, karena kau berbicara agama semalam bukan? &lt;br /&gt;Bahh…!!! Bukankah itu sudah cukup sebagai bukti bahwa dirimu pun tak lebih baik dariku, jika engkau berbicara agama? Bedanya adalah, nafsu dan bangkai yang kau sembunyikan itu kau bungkus rapi dengan nama cinta!!!! Ya, nafsu berbaju cinta. Sedangkan aku, harus kuakui aku begitu berterus terang membongkar kebusukanku di depanmu dan di depan orang-orang yang kau anggap suci. Sayang, bangkai yang kau sembunyikan itu terlanjur kucium. Rasanya aku lebih beruntung darimu, karena aku bukan orang munafik sepertimu. Aku bukan pengecut sepertimu!!! Cobalah berkaca, siapa yang lebih busuk antara kita, aku atau dirimu? &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tentu kau tidak akan berkata tidak bukan, bahwa cinta didasari nafsu? Begitu juga cintamu kepada orang yang kau cintai itu!!! Kalaulah cintamu itu sedikutpun bukan karena nafsu, mengapa tidak kau cintai orang yang sama baik bahkan lebih baik darinya, tetapi fisiknya tidak lebih baik? Mengapa harus dia yang kau cintai? Bahkan, kadang kau mengharapkan yang lebih baik!. &lt;br /&gt;Aku berani bertaruh denganmu untuk ucapanku ini. Aku menantangmu untuk hal ini!!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk seorang sahabat berinisial A yang kuanggap telah salah menggunakan caranya untuk menegurku. Aku bukan anak kecil sobat, yang bisa kau takut-takuti dengan sedikit gertakan yang keluar dari mulutmu!!! Ma'af, jika kugunakan caraku ini untuk menegurmu. Jika engkau merasa tak suka, maka seperti itulah yang kurasakan ketika engkau menegurku dengan caramu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah malam, 23/06/2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-5715140789566013126?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muarajiwa.blogspot.com/feeds/5715140789566013126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/06/aku-kecewa-sobat_22.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/5715140789566013126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/5715140789566013126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/06/aku-kecewa-sobat_22.html' title='Aku Kecewa, Sobat!!!'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RnxvCT7vgLI/AAAAAAAAACM/A4vprA3w5nE/s72-c/face.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-8533731702284606203</id><published>2007-04-16T20:25:00.000-07:00</published><updated>2007-06-22T18:01:21.524-07:00</updated><title type='text'>Garuda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/Rnxw2T7vgMI/AAAAAAAAACU/wQ0yAF4GyQg/s1600-h/garuda.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/Rnxw2T7vgMI/AAAAAAAAACU/wQ0yAF4GyQg/s320/garuda.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5079058558133174466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Garuda &lt;br /&gt;Ganti nama jadi emprit&lt;br /&gt;Adalah dulu, kau naungi kami dengan sayapmu&lt;br /&gt;Sayap keadilan, kesejahteraan &lt;br /&gt;Serta perdamaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu kau nampak perkasa&lt;br /&gt;Sayapmu mengembang&lt;br /&gt;Cakarmu menerkam&lt;br /&gt;Gigimu geram&lt;br /&gt;Matamu pun tajam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dadamu tersimpan &lt;br /&gt;Lima lambang tanda persatuan&lt;br /&gt;Dalam naunganmu kami tenang&lt;br /&gt;Menjadi rakyatmu kami bangga&lt;br /&gt;Mengabdi untukmu kami rela&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Garuda &lt;br /&gt;Kini kau tinggal nama&lt;br /&gt;Tubuhmu ringkih&lt;br /&gt;Sayap-sayapmu patah&lt;br /&gt;Tatapan matamu suram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benih-benih keserakahan gerogoti jiwamu&lt;br /&gt;Kerakusan kotori jiwamu&lt;br /&gt;Ketidakadilan hancurkan rakyatmu&lt;br /&gt;Mana tubuhmu yang dulu kekar&lt;br /&gt;Mana kakimu yang dulu tegar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana keadilan yang dulu kau janjikan&lt;br /&gt;Mana kesejahteraan yang dulu kau tawarkan&lt;br /&gt;Mana perdamaian yang dulu kami rasakan&lt;br /&gt;Mana, mana dan mana?&lt;br /&gt;"Ngapusi lee..." kata nenek kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garuda &lt;br /&gt;Masih pantaskah kau disebut Garuda&lt;br /&gt;Garuda &lt;br /&gt;Ganti nama jadi emprit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-8533731702284606203?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muarajiwa.blogspot.com/feeds/8533731702284606203/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/04/garuda-ganti-nama-jadi-emprit-adalah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/8533731702284606203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/8533731702284606203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/04/garuda-ganti-nama-jadi-emprit-adalah.html' title='Garuda'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/Rnxw2T7vgMI/AAAAAAAAACU/wQ0yAF4GyQg/s72-c/garuda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-7815290125542187683</id><published>2007-04-04T15:01:00.001-07:00</published><updated>2007-04-19T12:19:58.407-07:00</updated><title type='text'>Cinta Surgawi</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RifAyg8qSWI/AAAAAAAAABc/riMCOqbiXi8/s1600-h/bidadaribiru033et.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RifAyg8qSWI/AAAAAAAAABc/riMCOqbiXi8/s400/bidadaribiru033et.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5055221080817027426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mengapa ada cinta&lt;br /&gt;Jika harus ada dusta&lt;br /&gt;Mengapa ada benci&lt;br /&gt;Jika masih ada nurani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia berusaha&lt;br /&gt;Tuhan menentukan&lt;br /&gt;Cinta bisa ditumbuhkan &lt;br /&gt;Dan bisa dimatikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah hina&lt;br /&gt;Jika sampah mengharap cinta&lt;br /&gt;Seorang bidadari surga&lt;br /&gt;Bidadari surga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan siapa&lt;br /&gt;Tapi bagaimana &lt;br /&gt;Mengapa&lt;br /&gt;Dan apa  &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-7815290125542187683?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muarajiwa.blogspot.com/feeds/7815290125542187683/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/04/kontaminasi_04.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/7815290125542187683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/7815290125542187683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/04/kontaminasi_04.html' title='Cinta Surgawi'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RifAyg8qSWI/AAAAAAAAABc/riMCOqbiXi8/s72-c/bidadaribiru033et.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-8519539525076570894</id><published>2007-03-19T12:32:00.000-07:00</published><updated>2007-06-16T08:39:35.055-07:00</updated><title type='text'>Sorot</title><content type='html'>Semangat, dedikasi, serta kecenderungan intelektual Masisir perlu diacungi jempol. Sebagai komunitas kaum terpelajar yang kehadirannya dinantikan ditengah bangsa yang sedang 'sakit' dengan diagnosa penyakit yang complex, Masisir berusaha menjadi salah satu obat penyembuh salah satu penyakit yang diderita. Munculnya kelompok-kelompok kajian, forum-forum diskusi yang menjamur, study club-study club yang mengatasnamakan pengembangan intelektual yang akhir-akhir ini mencuat ke permukaan, adalah indikasi-indikasi yang menunjukkan ke arah itu. Adanya isu buruk yang beredar di tanah air, bahwasanya mahasiswa alumni universitas al-Azhar tidak bisa menulis bagus,  menjadi salah satu sebab terkuat yang mendorong semangat ini. Ditambah lagi sistem perkuliahan al-Azhar yang jarang memberlakukan tugas menulis bagi mahasiswanya, semakin membuat Masisir merasa bagaikan singa yang akan mati kelaparan di padang rimba. Ya, Mesir adalah negeri gudang ilmu, gudang peradaban dunia. Mengapa harus ada cap buruk yang ditujukan kepada para alumni universitas tertua dunia ini? Inilah yang berusaha ditutupi oleh Masisir&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Atas dasar itu semua, maka tidak berlebihan jika Masisir menjadikan forum-forum seperti di atas sebagai tempat pelarian bagi mereka yang selalu merasa haus akan segala macam ilmu dan disiplinnya. Forum-forum seperti itu menjadi pelampiasan Masisir yang tidak puas dengan hasil yang didapatkan dari bangku kuliah. Dari sanalah mereka belajar mengutarakan ide serta gagasan mereka kepada orang lain, menuangkannya dalam bentuk tulisan, kemudian mempresentasikannya dihadapan orang lain. Bukan itu saja, banyaknya organisasi yang merupakan representasi dari PPMI sebagai organisasi induk yang ada dalam kehidupan bersosial Masisir menjadi sarana tersendiri bagi Masisir untuk mengembangkan diri. Betapa tidak, maraknya organisasi berakibat pada lahirnya beberapa media yang mengatasnamakan pers dan jurnalistik yang menjamur pula. Berbagai hal bisa ditangkap dan disimpulkan sebagai penyebab hal ini. "Ada yang bersifat semacam fastabiqul khairat antar media, ada juga yang memang itu dianggap sebagai sebuah kebutuhan, ada pula pers yang berfungsi sebagai media dakwah," begitu jelas Udo Yamin Efendi, seorang pengamat pers Masisir yang telah dikarunia satu orang putra ini. Apa boleh dikata, setiap organisasi yang ada rasanya kurang lengkap jika belum memiliki media yang menampung aspirasi warganya. Bagaimanapun, keberadaan suatu media di setiap organisasi merupakan suatu keniscayaan, apapun dalih dan tujuannya; wadah silaturrahmi, penyalur aspirasi, bahkan gengsi sekalipun. &lt;br /&gt;Dunia pers dan jurnalistik dalam sosial Masisir akhir-akhir ini memang mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Setidaknya dalam segi kuantitas. Hal ini diamini oleh M. Sholahuddin, pengamat pers Masisir yang juga salah seorang koresponden Gatra di Kairo ini. "Secara kuantitas memang sangat bagus. Dalam arti, dengan melihat kuantitas kita melihat semangat. Semangat untuk berpers. Karena hampir setiap organisasi mempunyai media pers, bahkan ada yang punya lebih dari satu media," ungkapnya.&lt;br /&gt;Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa segala sesuatu jika semakin bertambah banyak semakin murah harganya, maka hal ini tidak berlaku untuk Masisir. Kalau kita cermati, banyaknya media-media pers yang dimiliki Masisir tidak serta merta berakibat negatif. Bahkan sebaliknya, Masisir semakin memiliki 'daya jual' tinggi di mata masyarakat kita. Dengan kata lain, hal tersebut memiliki nilai positif bagi intellectual building Masisir. Salah satunya adalah semangat untuk saling berlomba. Dengan adanya banyak media, semakin banyak pula orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dus, prosentasi menulis yang dimiliki mahasiswa juga semakin bertambah. Senada dengan hal ini, Cecep Taufikurrahman, S.Ag, salah seorang tokoh Masisir yang juga ketua PCIM berhusnudzon mengenai akibat yang ditimbulkan dari banyaknya media yang dimiliki dan dikelola oleh Masisir ini. "Saya menilai positif, selama itu dikelola dengan baik. Karena itu mendorong mahasiswa untuk banyak menulis. Karena bagaimanapun, semakin banyak media, semakin banyak orang yang mengelola. Dan akhirnya semakin banyak pula orang yang mau menulis," ungkapnya. &lt;br /&gt;Boleh saja Masisir berlomba-lomba untuk berpers ria dengan memunculkan beberapa media yang dikelola dan kemudian dipublikasikan kepada khalayak massa. Akan tetapi, apakah pers dan media yang dimunculkan itu sudah memenuhi syarat sebagai pers yang ideal? Rasanya Masisir harus lebih memperhatikan hal yang satu ini. Pasalnya, peningkatan kuantitas pers yang begitu menonjol tidak diikuti dengan kualitas. "Secara kuantitas, pers Masisir mengalami kemajuan. Akan tetapi secara kualitas, kita masih jalan di tempat," terang Cecep. Walaupun media-media yang ada bersifat untuk kalangan sendiri, untuk golongan tertentu, yang nota bene kebanyakan berprinsip "Media media kita, biarpun jelek kita juga yang punya," tetapi sisi idealisme suatu media harus tetap diperhatikan. Sebut saja beberapa media indie yang diterbitkan oleh beberapa organisasi kedaerahan, afiliatif, ataupun almamater tertentu. Tentunya akan terasa sangat janggal dimata pembaca jika media-media seperti ini hanya bertarget asal terbit, asal ada tulisan saja. Walaupun tujuannya baik, untuk mempererat silaturrahmi, misalnya. Lebih dari itu, maka yang perlu diperhatikan adalah bagaimana media-media yang ada tersebut bisa diterima dan dinilai baik oleh si pembaca. Bukan bagaimana media itu bisa terbit walaupun dengan terpaksa. &lt;br /&gt;Munculnya media-media pers yang seperti bunglon dalam setiap organisasi (ada organisasi ada pers) itu barang kali berangkat dari sebuah stigma bahwa, untuk melahirkan pers yang dibutuhkan hanyalah printer dan alat foto kopi. Maka muncullah pers. Tentunya suatu hal yang sangat mudah, dan bisa dilakukan oleh setiap orang. Akan tetapi untuk menciptakan media yang betul-betul ideal atau paling tidak mendekati ideal rasanya kuantitas yang ada tidak sebanding dengan kualitas. "Sampai saat ini kita masih punya tugas besar tentunya untuk menyekolahkan insan-insan pers, termasuk juga persnya sendiri. Agar dengan kekuatan pers itu kita bisa menyumbang, karena kita disini membawa nama almamater al-Azhar", ungkap M. Sholahuddin ketika ditanya tentang idealisme pers Masisir. Senada dengan M. Sholahuddin, Nur Fuad juga berkomentar tentang hal ini. "Kalau dikatakan ideal, pers Masisir masih jauh dari ideal. Karena ideal adalah apa yang harus kita laksanakan, sedangkan kita ini hanya bisa melaksanakan apa yang kita bisa. Tetapi kita terus menuju ideal," ungkap presiden PPMI ini. &lt;br /&gt;Untuk menciptakan pers dan media yang ideal memang tidak ada kriteria dan syarat-syarat tertentu. Tetapi ukuran kepantasan suatu pers untuk dijadikan konsumsi publik itulah yang harus dijadikan patokan. Jangan sampai media yang dimunculkan itu hanya membuat pembusukan karakter, membuang-buang tenaga dan waktu saja untuk membacanya. "Jangan sampai yang dibaca oleh orang itu sampah," istilah Udo. Lalu apakah media-media pers yang dimiliki Masisir saat ini telah mencapai target itu? Ataukah media-media yang terbit itu hanyalah calon-calon sampah yang akan menjadi alas panci di dapur? &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-8519539525076570894?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muarajiwa.blogspot.com/feeds/8519539525076570894/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/03/sorot.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/8519539525076570894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/8519539525076570894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/03/sorot.html' title='Sorot'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-5158115376290475722</id><published>2007-03-15T16:32:00.000-07:00</published><updated>2007-03-19T12:52:10.374-07:00</updated><title type='text'>Tertawalah...</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Si Argo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, si Argo, mahasiswa Indonesia yang keturunan Arab pulang dari kuliahan naik bis 80 coret. Dia duduk di samping orang Mesir yang duduk di sebelah jendela tepat. Ia tampak serius membaca koran ‘Al-Ahrom’ yang baru ia beli di toko depan kuliah. Di mahattah hay sadis, dekat kuliah banat, tiga orang mahasiswi Indonesia tampak memberhentikan bis yang ditumpangi si Argo ini. Ketiganya lalu masuk ke dalam bis. Jarak baberapa detik mereka telah berdiri di samping si Argo tepat. Argo masih terus membaca korannya&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Dasar orang Arab nggak tau diri, masa ada cewek berdiri di sampingnya nggak mau ngalah,” salah satu dari mereka berkata kesal. &lt;br /&gt;“Iya nih, biasanya juga kalau ada cewek Mesir yang berdiri mereka langsung tanggap, nyuruh duduk,” ujar satunya. &lt;br /&gt;Si Argo yang mendengar kata-kata kesal itu hanya melirik ke samping. Ia pura-pura tak mengerti apa yang mereka bincangkan. Ia masih membaca korannya. &lt;br /&gt;“Eee…malah baca koran lagi. Senyum-senyum sendiri lagi..Dasar Arab gila!!!,” ucap cewek yang terakhir. Si Argo hanya senuyum-senyum kecil sendirian mendengar ucapan mereka. Seakan dia tersenyum karena membaca berita yang ia baca. Sampai akhirnya, bis yang mereka tumpangi telah sampai di kawasan Gami’, tempat si Argo tinggal. Dengan rasa tak berdosa si Argo berdiri ingin turun. Ketiga mahasiswi itu melihatnya dengan sinis. Si Argo masih tak peduli. Hingga ketika bis sudah berhenti, dan si Argo sudah berada di tengah pintu, sambil menoleh ke arah ketiga mahasiswi itu ia berkata; “Hai cewek….!!”&lt;br /&gt;Ketiga mahasiswi itu lalu saling pandang. “Haaaaahhh…#@(**##$%” ucap mereka hampir bersamaan dengan nada keheranan bercampur malu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-5158115376290475722?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muarajiwa.blogspot.com/feeds/5158115376290475722/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/03/tertawalah.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/5158115376290475722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/5158115376290475722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/03/tertawalah.html' title='Tertawalah...'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-1599801325381897259</id><published>2007-03-13T19:49:00.000-07:00</published><updated>2007-03-19T12:53:17.258-07:00</updated><title type='text'>Dinamika Masisir</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Telepon dan Efektifitas Organisasi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dunia Masisir selalu saja menimbulkan berbagai kesan bagi setiap kita, dinilai dari sudut pandang masing-masing. Dalam perjalanannya, Masisir sebagai cerminan dari masyarakat (miniatur) Indonesia telah berhasil mewarnai dinamika kemahasiswaan kita dengan “plus dan minus” nya. Adalah wajar, bila seseorang lebih cenderung mengomentari suatu hal dari segi minus (negatif) nya dari pada sisi positifnya. Karena suatu hal positif adalah hal yang sudah selaknya dilakukan oleh setiap orang, dan pada akhirnya hal tersebut menjadi kebiasaan. Maka orang tidak akan berkomentar terhadap kebiasaan itu. Akan tetapi jika kebiasaan itu tiba-tiba berbalik menjadi ketidakbiasaan atau bahkan menjelma dari prilaku positif menjadi negatif, maka sudah dapat dipastikan akan muncul berbagai komentar, omongan, bahkan kritikan. Ibarat seorang kiyai&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;orang akan melihat sebagai hal yang sangat wajar jika ia rajin pergi ke masjid, berjamaah, mengaji dan sebagainya. Lain halnya apabila ia melakukan hal yang tidak wajar baginya sebagai seorang kiyai, berjudi misalnya. Maka seluruh orang akan berkomentar tentang dia. “Anjing menggigit orang itu bukan berita. Orang menggigit anjing itulah berita”, istilah jurnalistiknya. Kembali ke Masisir, penulis merasa tertarik untuk mengomentari dinamika Masisir akhir-akhir ini. &lt;br /&gt;Akhir-akhir ini Masisir disibukkan dengan seabreg rutinitas keorganisasian dan kepanitiaan pasca berakhirnya ujian termin pertama lalu. Keadaan ini berbarengan dengan jatuh temponya pembayaran tagihan telpon yang umumnya diadakan triwulanan oleh pihak Almasry lil-ettasalat. Setiap pengguna layanan ini harus membayar tagihannya jika sudah tiba waktunya. Seharusnya demikian. Namun bagaimana dengan Masisir yang juga termasuk sebagai pengguna jasa telepon? Penulis adalah salah satu dari tipe mahasiswa yang tidak betah mengurung diri di rumah, memilih untuk aktif di beberapa organisasi dan kepanitiaan. Sedikit banyak penulis mengerti dan merasakan perkembangan yang ada dalam dunia Masisir. Masalah telepon adalah salah satunya. Suatu saat penulis menghubungi berberapa orang teman melalui telepon untuk menghadiri rapat penting. Dari tiga nomer yang penulis hubungi, semuanya ternyata berbunyi sama; “Telepon yang anda hubungi sedang dinonaktifkan sementara. Silakan hubungi kembali beberapa saat lagi.” Jawaban yang sangat mengecewakan tentunya untuk hal sepenting itu. Saya lalu merenung, mencoba mencari-cari penyebab hal ini bisa terjadi. Keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi jika si pengguna telepon bertanggung jawab membayar tagihan. Lalu saya teringat suatu hal yang biasa kita sebut ‘ngeces’ dikalangan Masisir, alias menelepon lama-lama hingga berjam-jam. Saya maklum. Namanya saja anak muda. Dalam suatu komunitas seperti Masisir, ketertarikan terhadap lawan jenis itu pasti ada. Apalagi kita sadari, kwantitas mahasiswa dalam dunia Masisir lebih banyak dibanding mahasiswi. Dari sekitar lima ribu jumlah Masisir saat ini, jumlah itu didominasi oleh pihak mahasiswa. Jika dihitung hitung, perbandingan itu bisa kita perkirakan tiga atau empat banding satu. Nah, dari sisi inilah saya menumukan jawaban. Pernah ada satu ilustrasi, satu orang mahasiswi bisa ditelepon oleh tiga sampai lima orang mahasiswa dalam sehari. Memang, ilustrasi ini terdengar geli ditelinga kita. Dan entah ini benar atau salah, tapi saya pribadi cenderung mengatakan ini sangat mungkin terjadi. Masalah telepon kelihatannya adalah masalah sepele. Namun dipercaya atau tidak, masalah yang kelihatan sepele ini sebenarnya berakibat fatal. Bayangkan jika kita sedang dalam suatu organisasi atau kepanitiaan. Suatu saat kita inigin mengadakan acara yang melibatkan seluruh anggota organisasi tersebut untuk bisa hadir. Atau kita menyebarkan pamflet yang isinya (seperti biasa) mencantumkan nama contact person beserta nomer teleponnya. Ternyata nomor telepon yang digunakan sedang non aktif, atau marfu’ istilah familiarnya dikalangan kita. Bisa dibayangkan, betapa susahnya organisasi tersebut. Tentunya kita akan berfikir dua kali untuk menghubungi masa yang begitu banyak via ponsel, walaupun itu mungkin saja dilakukan. Dan kalaupun mungkin, berapa banyak biaya pulsa yang dikeluarkan hanya untuk menghadirkan masa tersebut? Lagi pula, apakah dengan cara seperti itu sudah efektif? Hal seperti ini sudah pernah terjadi dalam salah satu organisasi kekeluargaan Masisir beberapa waktu lalu, yang berbuntut kepada pembengkakan biaya telepon. Sebagai akibat dari contoh kedua, masa yang sebenarnya ingin mendaftar sebagai peserta acara yang ditawarkan panitia, bisa saja merasa keberatan jika harus menghubungi panitia via ponsel, karena nomer telepon yang digunakan marfu’. Akibatnya, panitia harus kehilangan calon peserta yang ingin mendaftar, sedang waktu pendaftaran telah habis. Kalau sudah begitu siapa yang rugi? &lt;br /&gt;Sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah jika tanggungan telepon itu bisa dilunasi tepat pada temponya. Tetapi hingga saat ini, di saat berbagai kegiatan non kampus sedang marak-maraknya diselenggarakan sebagai tuntutan oraganisasi, nomer telepon di rumah-rumah Masisir masih banyak yang berpredikat ‘marfu`’.Yang menjadi pertanyaan adalah, di mana tanggung jawab para pengguna telepon itu setelah pemakaian? Kalaupun ia bersedia bertanggung jawab untuk membayarnya sesuai lamanya pembicaraan (biasanya dengan cara mencatat), maka yang perlu diperhatikan adalah kepentingan orang lain selain dirinya ketika ia berlama-lama menggunakan telepon. Bisa saja ketika itu orang lain juga sedang dihubungi pihak lain karena kepentingan yang mendadak. Yang lebih perlu digaris bawahi adalah akibat yang ditimbulkan dari kebiasaan buruk ini (ngeces, hingga berakibat pada dicabutnya pemakaian telepon karena tagihan yang belum dibayar) bagi kefektifan dan keaktifan sebuah organisasi atau kepanitiaan. Dengan non aktifnya telepon baik dari pihak yang menghubungi atau yang dihubungi, sudah pasti berakibat pada efektifitas suatu acara. Walaupun akibat itu tidak sampai pada taraf gagalnya acara, minimal akan berakibat pada keterlambatan dari jadwal yang sudah ditetapkan. Dengan kata lain, acara akan terbengkalai gara-gara hal yang dianggap sepele tersebut.&lt;br /&gt;Pada kesimpulannya, urgensitas suatu pembicaraan lah yang seharusnya menjadi takaran panjang pendeknya suatu pembicaraan melalui telepon, bukan murahnya biaya yang dikeluarkan permenitnya. Jika hal pertama itu yang diperhatikan, kemungkinan besar hal-hal diatas tidak akan terjadi. Akan tetapi, jika hal kedua yang menjadi ukuran, maka hasilnya adalah seperti yang sudah kita ketahui, biaya telepon membengkak, tak terbayar, lalu dinonaktifkan, dan kemudian berbuntut pada efektifitas sebuah organisasi. Bukankah perahu yang besar itu bisa tenggelam gara-gara lubang sebesar biji jagung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-1599801325381897259?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muarajiwa.blogspot.com/feeds/1599801325381897259/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/03/dinamika-masisir.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/1599801325381897259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/1599801325381897259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/03/dinamika-masisir.html' title='Dinamika Masisir'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-6145572491634090192</id><published>2007-03-13T18:35:00.000-07:00</published><updated>2007-04-16T18:00:31.066-07:00</updated><title type='text'>Dongeng Kehidupan II</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Titip Rindu Buat Laila&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Agus Khudlori*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tersenyum, manis sekali. Lesung pipi itu, wajah anggun itu, sorot mata itu, senyuman itu...Bagaikan malam, ia adalah rembulannya. Bagaikan taman, ia adalah bunga terindah yang tumbuh di dalamnya. Ia berjalan, menapaki jalanan kotor berdebu. Pakaian dan kerudung panjang membungkus sekujur tubuhnya. Putih, seputih hatinya. Suci, sesuci jiwanya. Entah, aku merasa mengenalnya. Tidak cepat, tidak juga lambat ia melangkah. Semakin jauh langkahnya, semakin memburamkan pandanganku. Bayangannya lalu menghilang dari hadapanku. Aku masih berdiri kaku diatas tempatku berpijak. Ingin kuikuti langkahnya, tapi kakiku terasa terbujur kaku.&lt;a href="http://i165.photobucket.com/albums/u80/muarajiwa/orie.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://i165.photobucket.com/albums/u80/muarajiwa/orie.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;Sore kemarin aku melihatnya. Semakin lama aku mengingatnya, semakin erat bayangan dirinya melekat pada memoriku. Semakin jauh ia pergi, semakin dekat ia kurasakan. Tak kuhiraukan seruan adzan yang menderu-deru menyayat kalbu, juga bisikan kalam Tuhan yang dilantunkan di samping tempatku berbaring mesra dengan buaian hayalan di dalam selimut tebal. “Nikmat Tuhanmu mana lagi yang engkau dustakan?” suara Rohim mengakhiri bacaan panjangnya tak mampu menyentuh relung batinku. Hanya bagai angin lalu. Aku terjaga, tapi terdiam bagai patung. Aku terbujur lepas, tapi raga bagai terpasung. Mengapa diriku? Ahh, bayangan itu...&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Siapakah dirinya? &lt;br /&gt;Aku berjalan menapaki keheningan. Sudah seminggu berlalu sejak aku melihatnya. Sore itu ia melintasi jalan ini. Kutelusuri jejak langkahnya yang kini mungkin telah berganti dengan jejak langkah keledai dan anjing-anjing liar. Aku berharap menemukannya. Atau paling tidak, ia akan kembali melintasi jalan ini yang dilaluinya waktu itu. Aku bingung, ujung jalan ini ternyata bercabang. Kuteruskan saja langkahku. Jalanan ini telah sampai pada ujungnya. Ahh, aku tak menemukannya.&lt;br /&gt;Seorang pengemis perempuan menggendong anaknya. Wajahnya kusam, pakaiannya lusuh. Di ujung jalan, di bawah tiang listrik, tangannya menengadah pertanda meminta belas kasihan di saat aku melintas di depannya. Aku menghampirinya. “Barang kali kita bernasib sama, wahai perempuan. Engkau belum menemukan rezekimu, dan aku belum menemukan orang yang kucari,” gumamku lirih di depannya. “eihh...? enta ulta li eihh??” perempuan itu bertanya tak mengerti. Aku hanya tersenyum. Kuulurkan tiga lembar uang yang ku ambil dari balik kantong celana kepadanya. “Robbuna yusahhil, robbuna yunajjihak...”. Aku berlalu dari hadapannya. Satu, dua, lima, hingga belasan langkah kutinggalkan dirinya. Langkahku terhenti. Kubalikkan badan, lalu berlari menuju ke arahnya. Ia ketakutan, menyembunyikan wajahnya dariku, menutupnya dengan anak yang digendongnya. Seakan tak rela jika uang yang telah kuberika akan kuminta kembali. “Aku hanya ingin bertanya kepadamu, wahai perempuan.” Ia mulai berani membuka wajahnya. “Apa engkau melihat seorang gadis Indonesia berpakaian hijau muda, berkerudung putih panjang, melintasi jalan ini seminggu yang lalu?” tanyaku. Ia hanya menggelengkan kepala tanda tak tahu. &lt;br /&gt;Ohh, gila. Betapa bodohnya aku. Ya, aku memang telah gila. Bagaimana mungkin aku bertanya kepadanya tentang orang yang melintas di depannya seminggu yang lalu? Berapa banyak orang yang melintasi jalan ini dalam seminggu? Ia tak mungkin mengingatnya. “Barangkali engkau juga menganggapku gila, perempuan,” ucapku sambil berlalu.&lt;br /&gt;***   &lt;br /&gt;Malam sebentar lagi menghadirkan pagi. Mataku belum juga terpejam. Hari-hari yang kulalui selalu menghadirkan bayangan perempuan itu. Wajahku menengadah ke langit-langit kamar. Ada wajahnya di balik pijaran cahaya neon. Aku membenamkan mataku. Senyuman itu tampak jelas dalam pekatnya kegelapan. Aku dihantui bayang-bayang, aku dihinggapi kegilaan. Aku terbayang... TIDAAKK...&lt;br /&gt;Burung-burung berkicau bersautan, angin sepoi-sepoi menyeruakkan bunyi dedaunan, sinar mentari pagi masuk menerobos bilik-bilik jendela kamar. Suara mesin-mesin kendaraan di seberang jalan terdengar begitu sombong menertawakanku. Dalam kebisingan, aku merasa bagai di rimba tak bertuan. Sepi dan hampa. Aku begitu muak dengan keadaanku sendiri. Mengurung diri dalam kamar, menghabiskan berbatang-batang ‘Cleopatra’ dengan selingan secangkir teh kental agak pahit, sesekali menengok isi dapur. Ahh, mengapa kebebasanku harus terkekang oleh penjara yang seolah kubuat olehku sendiri? Bagai seorang pendekar yang turun gunung, aku keluar dari kamar yang lebih tepat disebut  sarang. Putung rokok yang berserakan, pakaian-pakaian lusuh yang berjubel di dalam lemari, kertas-kertas bekas yang berceceran di atas meja, kutinggalkan begitu saja. Aku tak mengerti harus kemana. Kuikuti saja langkahku. &lt;br /&gt; Ohh kupu-kupu, mengapa engkau menampakkan diri di depanku, di saat diriku sedang gila? keindahan dan keelokanmu mengingatkanku akan dirinya. Dirinya yang pergi. Juga yang tak kutemui. Eloknya terbangmu seindah langkahnya ketika berjalan. Tertunduk dan malu. Lebar sayapmu adalah kerudung panjang yang membungkus tubuhnya. Bunga-bunga wangi yang kau hinggapi adalah tempat-tempat suci yang selalu ia singgahi. Lembut suaramu adalah ayat-ayat suci yang selalu terucap dari mulutnya. Engkau lembut, seperti dirinya. Engkau elok, seperti dirinya.&lt;br /&gt; Aku terdiam di pinggir trotoar. Mencari cela di antara rentetan mobil-mobil yang melaju bagai kilat. Mungkin sang sopir sedang kalap.&lt;br /&gt;Di seberang jalan itu...Ohh dia. Benarkah dia?&lt;br /&gt;Aku tertegun. Duhai kupu-kupu. Apakah dirimu sekarang menjelma menjadi dirinya? mungkinkah dia bidadari kiriman Tuhan yang dikirimkan untuk mengodaku? Tidak, dia manusia biasa sepertiku. Ya aku yakin, dia adalah gadis yang kulihat waktu itu. Aku harus menemuinya. Persis seperti.....&lt;br /&gt;“Laila....” teriakku keras. Aku masih berada di tegah-tengah aspal ketika sebuah bis membawanya pergi. “Aaaahhhh..” aku berteriak bagai orang gila. Aku kecewa kehilangan dirinya lagi. Lesu kepalaku tertunduk.&lt;br /&gt;Ahh, mengapa kusebut nama itu? Tidak. Aku belum mengenalnya. Aku baru tersadar. &lt;br /&gt;“Kenapa engkau anak muda?,” seorang bapak tua bertanya heran melihat tingkahku.&lt;br /&gt;“Engkau mengenal gadis yang berdiri di sini tadi?”&lt;br /&gt;“Dia bukan Laila. Namanya Nisa.” &lt;br /&gt;Aku heran. &lt;br /&gt;“Bagaimana engkau bisa tahu?”&lt;br /&gt;“Tentu. Dia adalah calon istri dari muridku, orang Indonesia sepertimu.”&lt;br /&gt;“Apa? dia akan menikah?”&lt;br /&gt;“Ya. Rusydi telah melamarnya. Minggu depan mereka akan menikah. Nisa gadis yang baik, pandai, dan santun. Tadi ia mengundangku.”&lt;br /&gt;Aku hanya bisu mendengar kata-katanya. Lidahku terasa kelu. Aku masih ragu, inikah episode baru yang dimainkan oleh Sang Maha Kuasa untukku?&lt;br /&gt;Laila...sudah lama engkau meninggalkanku. Tiga tahun yang lalu. Di saat masa-masa bahagia kita, ketika aku melamarmu. Seperti mereka sekarang. Bedanya engkau pergi mendahuluiku. Semula kukira dirinya adalah jelmaan dirimu, yang menggantikanmu untukku. Apa kabarmu kini di sana? Sudah lama tak kusapa dirimu. Ini, kuhadiahkan tiga kali Fatihah untukmu. Semoga engkau berkenan menerimanya. Engkau hidup di dalam hatiku. Izinkan aku menitipkan rinduku untukmu, kepada orang yang berhati bidadari seperti dirimu.- Tamat -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Rumah rakyat Madjapahit, Kairo, 7 Maret 2007)&lt;br /&gt;Untuk seorang bidadari yang kukagumi kehadirannya. Walaupun tak kumiliki, tetaplah engkau suci.&lt;br /&gt;                               &lt;br /&gt;*Anak Rantau Poelaoe Biroe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-6145572491634090192?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muarajiwa.blogspot.com/feeds/6145572491634090192/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/03/titip-rindu-buat-laila-cerpen-agus.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/6145572491634090192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/6145572491634090192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/03/titip-rindu-buat-laila-cerpen-agus.html' title='Dongeng Kehidupan II'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-3173578543703956662</id><published>2007-03-13T08:16:00.000-07:00</published><updated>2007-04-16T18:18:16.503-07:00</updated><title type='text'>Essai</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menanggapi Dana Renovasi Wisma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Agus Khudlori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan masalah dana atau uang, selalu saja menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Apalagi jika masalah yang dibahas itu bersangkutan dengan maslahat orang banyak. Menanggapi apa yang diberitakan oleh Informatika edisi 117 lalu tentang renovasi Wisma Nusantara, penulis melihat ada hal yang sebenarnya menarik untuk dibicarakan. Hal ini tidak lebih karena yang sedang diangkat adalah masalah dana (uang).&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RiQgOc1RVtI/AAAAAAAAAAU/0rak5z3VUz4/s1600-h/alternatif-3b.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RiQgOc1RVtI/AAAAAAAAAAU/0rak5z3VUz4/s400/alternatif-3b.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5054200114446423762" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;Penulis mengamati ada beberapa hal yang memang belum disentuh oleh Informatika ketika menyinggung masalah dana yang akhir-akhir ini kian santer dibincangkan, yang rencananya akan dialokasikan untuk renovasi Wisma.&lt;br /&gt;Baiklah, saya akan memulai dengan menyebut satu persatu hal yang sempat disinggung Informatika edisi lalu, diikuti dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan sebagai konsekwensi dari hal-hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertama; rencana pelaksanaan. Disebutkan, keinginan untuk renovasi itu telah muncul sejak Agustus tahun lalu, dan ditindak lanjuti dengan pengajuan proposal ke DPR-RI di Jakarta yang akhirnya proposal itu disetujui dengan rencana pengucuran dana. Maka dibentuklah tim yang akan menindak lanjuti sekaligus melaksanakan kerja di lapangan nantinya. Tetapi hingga sekarang rencana tersebut masih belum tersalaksana dengan alasan dana yang dijanjikan belum juga cair.&lt;br /&gt;Kedua; dana yang disetujui. Dari proposal yang diajukan yang semula berjumlah 500 juta Rupiah, ternyata yang disetujui oleh DPR adalah sebesar 2 milyar Rupiah. Jumlah ini tentunya bukanlah jumlah yang sedikit, melihat keadaan ekonomi di Negara kita saat ini.&lt;br /&gt;Ketiga; proses turunnya dana. Yang penulis tangkap dari pemberitaan Informatika lalu adalah, sebenarnya prosedur pencairan dana dari proposal yang diajukan sudah sampai pada tahap akhir. Ini dibuktikan dengan usaha DPR-RI  sebagai pihak yang dituju untuk mentransfer dana yang disetujui melalui bank. Walaupun akhirnya dana tersebut belum juga cair hingga sekarang.&lt;br /&gt;Keempat; kesalahan teknis. Dalam hal ini adalah nomer rekening yang dituju untuk pencairan dana tersebut. Disebutkan, dana yang sebenarnya sudah berada pada tahapan akhir proses pencairan itu terpaksa harus ditangguhkan pengirimannya dan dikembalikan, dengan alasan nomer rekening yang diberikan oleh pihak KBRI salah. &lt;br /&gt;Setidaknya empat hal tersebut di ataslah yang dapat penulis tangkap dari pemberitaan informatika kemarin. Keempat hal tersebut di atas, sebagaimana kita ketahui, semuanya berhubungan dengan masalah dana. Maka dari sinilah penulis mencoba menyentuh sisi yang belum disentuh oleh Informatika berkenaan dengan masalah dana tersebut.&lt;br /&gt;Saya akan menyebutkan berbagai kemungkinan-kemungkinan sebagaimana yang sempat saya singgung di atas berdasarkan keempat hal di atas. Penulis berharap tulisan ini tidak dipahami sebagai sebuah upaya untuk menjatuhkan pihak tertentu, atau dipahami sebagai sebuah prasangka buruk. Lebih dari itu, saya berharap tulisan ini dapat menjadi titik mula bagi siapapun kita untuk lebih cermat memahami keadaan. &lt;br /&gt;Pertama; jika disebutkan bahwa keinginan untuk merenovasi bentuk fisik Wisma Nusantara itu telah ada sejak tahun lalu dan hal itu telah disepakati dengan turunnya dana, maka penulis melihat sangat mungkin terjadi adanya unsur kesengajaan dalam hal ini. Apalagi kalau kita perhatikan, proses yang ditempuh telah sampai pada tahap akhir (pengiriman melalui bank). Kalau pun alasan kesalahan teknis yang berupa kesalahan nomer rekening yang dikirimkan itu benar, maka dengan sangat mudahnya pihak yang bersangkutan akan mengirimkan nomer baru yang telah teruji kebenarannya. Atau minimal akan memperbaharui nomer yang dianggap salah tersebut. Dengan begitu, tidak akan ada lagi masalah.  Akan tetapi, kemungkinan kesalahan rekening itu menurut hemat saya sangat tipis. Mengapa demikian? KBRI bukanlah Taman Kanak-Kanak, yang di dalamnya anak usia balita dididik untuk belajar menulis dan berhitung. KBRI adalah tempatnya para duta bangsa berdasi yang bekerja dengan tuntutan profesionalisme tinggi. Jika benar terdapat kesalahan nomer rekening yang dikirimkan oleh pihak KBRI sebagai wasilah untuk pencairan dana tersebut, maka yang menjadi pertanyaan adalah, di mana letak profesionalisme kerja KBRI sebagai duta bangsa yang mengayomi warga Negaranya? Bukankah urusan pengiriman nomer rekening adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan?&lt;br /&gt;Kedua; dana yang dijanjikan untuk dialokasikan adalah 2 milyar Rupiah. Sebagaimana yang saya katakan, jumlah ini bukanlah jumlah yang sedikit. Kembali saya sebutkan, unsur kesengajaan sangat mungkin terjadi dalam penundaan (jika tak mau disebut gagal) pengiriman dana itu. Dengan ditundanya dana yang akan dicairkan dengan alasan kesalahan rekening, bukan kah bunga yang dihasilkan dari uang tersebut akan terus berjalan? Jika bunga yang didapat dari uang sebesar 2 milyar tersebut adalah 3 persen perbulannya (rata-rata tiap bank) maka bisa kita hitung hasilnya. Tidak kurang dari 60 juta uang yang dihasilkan dari bunga tersebut. Itu dalam sebulan. Sejauh yang penulis tahu, pengiriman dana melalui rekening yang dianggap salah tersebut sudah dilakukan sejak tanggal 22 Desember lalu. Hingga sekarang sudah terhitung hampir tiga bulan. Jika dihitung-hitung, berapa jumlah bunga yang didapat dari tiga bulan tersebut? Hasilnya adalah sebuah rumah mewah dapat terbeli dari hasil bunga itu.&lt;br /&gt;Ketiga; kemungkinan adanya kong kalikong antara pihak yang ditugasi untuk mengurusi masalah dana tersebut dengan pihak bank. Melihat besarnya jumlah uang yang akan dikirimkan, kemungkinan terjadi pemanfaatan kesempatan sangat terbuka. Bukankah antara pihak bank dan pihak yang ditugasi itu sama-sama manusia? Selagi kesempatan itu ada dan pihak bank merasa mampu untuk melakukannya, mengapa tidak dilakukan? Toh itu adalah bentuk dari simbiosis mutualisme (sama-sama bekerja, sama-sama menguntungkan) antara kedua belah pihak.&lt;br /&gt;Itulah beberapa hal yang menurut hemat saya sangat mungkin terjadi berhubungan dengan tarik ulur turunnya dana yang dijanjikan akan dialokasikan untuk renovasi Wisma Nusantara. Pada kesimpulannya, penulis melihat ketidak pastian kapan dana ini akan benar-benar cair, sangat mungkin terjadi karena unsur kesengajaan yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu yang terlibat. Bukankah kejahatan itu terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena adanya kesempatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-3173578543703956662?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muarajiwa.blogspot.com/feeds/3173578543703956662/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/03/menanggapi-dana-renovasi-wisma-oleh.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/3173578543703956662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/3173578543703956662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2007/03/menanggapi-dana-renovasi-wisma-oleh.html' title='Essai'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RiQgOc1RVtI/AAAAAAAAAAU/0rak5z3VUz4/s72-c/alternatif-3b.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-2872946713719562467</id><published>2006-12-07T11:45:00.000-08:00</published><updated>2007-03-15T04:51:58.939-07:00</updated><title type='text'>Basa-basi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Basa-basi busuk ala Muarajiwa dari A sampai Z&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A: Ayo anak-anak, kita baca tulisan ini dulu sebelum belajar. hwa hwa hwa...&lt;br /&gt;B: Baca buku sambil ngopi enak kali yahh..&lt;br /&gt;C: Celanaku banyak yang hilang, siapa pencurinya nih?? hehehe...&lt;br /&gt;D: Dari saya untuk anda. Begitulah tulisan ini dibuat. :))&lt;br /&gt;E: Ekonomi lagi sulit mas, jangan boros-boros!!!&lt;br /&gt;F: Fuihhh...kalo lagi musim dingin kedinginan sampe kaku, kalo lagi musim panas kepanasan sampe gosong. Di mana lagi kalo nggak di Kairo.&lt;br /&gt;G: Gajah naik becak yang keliatan apanya hayooo?? Gajah naik becak yang keliatan ya bohongnya. Huuuu.....&lt;br /&gt;H: Hantu...??? siapa bilang Orie takut sama hantu.&lt;br /&gt;I: Indahnya Indonesiaku ini. Tongkat dilemparpun bisa tumbuh jadi tanaman. Huuuakkk....&lt;br /&gt;J: Jangan bicara ketika sedang bicara. Paham gak sih?? hehe..&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;K: Kemarin adalah kenangan, sekarang adalah perjuangan, besok adalah harapan. Sah elahh...puitis amet...&lt;br /&gt;L: Lari pagi bareng lagi nyokk...sambil nyanyi-nyanyi biar ilang capeknya.&lt;br /&gt;M: Makan tidur doang bukan karakter pekerja keras kali yahh???&lt;br /&gt;N: Ngapain cari yang lebih mahal, kalo ada yang lebih bagus??&lt;br /&gt;O: Ogah ahhh, malem-malem keluar rumah sampe kedinginan. Tulang ancur boww...&lt;br /&gt;P: Perut laper, mata ngantuk, duit gak ada. Waduh, cilaka aku...&lt;br /&gt;Q: Qathameya kali, yang katanya ada di ujung kota Kairo itu lho!!&lt;br /&gt;R: Rumah sangat sederhana sekali. Hmmmm...mahasiswa bangetttt&lt;br /&gt;S: Siapa ajah boleh kasih komentar buat tulisan yang asal-asalan ini!!!&lt;br /&gt;T: Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Emang lagi ngapain???&lt;br /&gt;U: Uang bukan segalanya sobat !!&lt;br /&gt;V: Valentino Rossi gak juara lagi kan sekarang??&lt;br /&gt;W: Wallahi...pusing banget cari editan skin yang keren buat homepage ini. Yang bisa tolong bantuin oiii...&lt;br /&gt;X: X???? apa yach...gak usah maksain deh kalo gak ada kata yang tepat. hehe..&lt;br /&gt;Y: Yang gak suka boleh protes, asal gak pake kekerasan!!! Damai broo..&lt;br /&gt;Z: Zzzttt....akhirnya selesei juga ngarang-ngarang kata dari A sampe Z. Asyiiiikk :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-2872946713719562467?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muarajiwa.blogspot.com/feeds/2872946713719562467/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2006/12/basa-basi.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/2872946713719562467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/2872946713719562467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2006/12/basa-basi.html' title='Basa-basi'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-1708395801689396200</id><published>2006-12-07T11:09:00.000-08:00</published><updated>2007-04-16T18:42:26.281-07:00</updated><title type='text'>Dongeng Kehidupan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MENJEMPUT SURGA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Untuk setiap derai air mata yang tumpah)&lt;br /&gt;Oleh Agus Khudlori Ahmad*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aby, siapa mereka yang berjalan itu?”&lt;br /&gt;“Mereka adalah saudara kita, anakku.”&lt;br /&gt;“Kemana mereka akan pergi, Aby? Apa yang mereka bawa?”&lt;br /&gt;“Mereka pergi mencari tempat yang aman, anakku. Mereka membawa makanan dan pakaian secukupnya.”&lt;br /&gt;“Dimana rumah mereka, Aby? Kenapa mereka pergi? Apa mereka tak punya rumah seperti kita ini?”&lt;br /&gt;“Anakku Ahmad, mereka punya rumah. Tapi mereka terusir..”&lt;br /&gt;“Terusir oleh siapa, Aby?”&lt;br /&gt;“Mereka terusir oleh ketidakadilan dan kebiadaban...”&lt;br /&gt;“Ahmad anakku, kelak engkau akan mengerti tentang ini semua. Sekarang tidurlah. Malam sudah mulai larut. Esok pagi kau harus menemui Ustadz Abdullah di sekolah,” sang ibu meyahut dengan penuh kasih sayang. Ia membelai-belai rambut anaknya. “Tidurlah nak..” ucapnya lirih. “Baiklah, Ummy..” Ahmad mencoba memejamkan matanya di tengah kegalauan hatinya. Sesekali matanya terbuka, lalu ia benamkan kembali. Seakan tak ingin ia lewatkan harinya dengan meninggalkan beban. Beban ketidaktahuan yang selalu menyelimuti hati dan pikirannya. Pandangannya menerawang keatas, pikirannya melayang, entah ke mana.&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RiQl1c1RVwI/AAAAAAAAAAs/swcdFm6rWhU/s1600-h/hamas_child_2_2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RiQl1c1RVwI/AAAAAAAAAAs/swcdFm6rWhU/s400/hamas_child_2_2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5054206282019460866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Aby, Ummy...ke mana mereka akan pergi? Di mana mereka tidur? Kenapa tak kita suruh mereka beristirahat di rumah kita ini?.” Ahmad bangkit dari pelukan ibunya.&lt;br /&gt;“Anakku Ahmad. Itu bisa saja kita lakukan, tapi itu akan membahayakan kita.”&lt;br /&gt;“Anakku, tidurlah nak..hari sudah larut. Biarkan Ummy membelai rambutmu.”&lt;br /&gt;“Ahmad tak bisa tidur, Ummy.”&lt;br /&gt;“Ahmad, benar kata Ummy. Kelak engkau akan mengerti tentang ini semua jika dewasa nanti. Sekarang engkau baru enam tahun, anakku. Sekarang tidurlah nak,” ayahnya mencoba menenangkan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Apa bedanya nanti dengan sekarang, Aby? Ahmad ingin tahu tentang hal ini. Kata Ustadz Abdullah, kita harus bertanya jika tidak tahu. Karena bertanya adalah kunci pengetahuan,” Ahmad mencoba membela diri.&lt;br /&gt;“Baiklah anakku, Aby akan mengatakan sesuatu kepadamu. Dengarlah baik-baik. Mereka adalah saudara-saudara kita dari kampung kota Gaza, sebelah kota Ashkelon ini. Mereka pergi mencari tempat berlindung, karena kampung mereka telah dirusak oleh orang-orang jahat.”&lt;br /&gt;“Kenapa kita tak menolong mereka, Aby? Bukankah mereka saudara-saudara kita?”&lt;br /&gt;“Itulah kelemahan kita, Anakku. Benar, mereka adalah saudara-saudara kita. Tapi kita tak bisa berbuat apa-apa untuk mereka. Mereka yang berjalan itu diawasi oleh orang-orang jahat. Kalau kita menolong, mereka akan membunuh kita.”&lt;br /&gt;“Siapa orang-orang jahat itu, Aby? kenapa mereka tak melawan?”&lt;br /&gt;Ayahnya Nasser hanya diam tak menjawab. Ia merasa anaknya tak akan berhenti bertanya sebelum ia menghentikannya. &lt;br /&gt;“Ahmad, malam ini kau harus istirahat. Esok pagi kau harus ke sekolah bersama kawan-kawanmu. Sekarang tidurlah..”&lt;br /&gt;“Baiklah, Aby.”&lt;br /&gt;Sementara itu, gelombang pengungsian masih terus mengalir. Satu persatu kelompok pengungsi diberangkatkan menuju camp-camp pengungsian. Kampung mereka dirusak, rumah-rumah mereka dijarah dan digeledah. Gaza disinyalir menjadi basis perlawanan para pejuang. Atas nama keamanan yang semu, Gaza harus dikosongkan jika tak ingin terjadi korban dari penduduk sipil. Pertumpahan darah akan terjadi disana, antara pejuang dan tentara Israel.&lt;br /&gt;“Ya Allah, lapangkanlah hati mereka.” Aminah istri Nasser yang mengintip dari balik jendela berdo’a lirih.&lt;br /&gt;“Suamiku, besok mungkin giliran kita yang terusir. Mereka terlalu pintar mencari alasan untuk mengusir kita dari tanah ini.”&lt;br /&gt;“Jangan kau ragu atas pertolongan Allah, wahai istriku. Sesungguhnya pertolongan-Nya amat dekat.”&lt;br /&gt;“Aku hanya khawatir dengan Anak kita, suamiki. Dia baru akan menikmati masa kekenak-kanakannya.”&lt;br /&gt;“Engkau benar, istriku. Seandainya kita harus mati di tangan mereka demi anak kita, kita akan melakukannya di jalan Allah. Tapi tenanglah, istriku. Semuanya akan baik-baik saja dengan perlindungan-Nya. Lihatlah anak kita, ia telah tertidur pulas. Tak akan terjadi apa-apa padanya.”&lt;br /&gt;“Suamiku, aku mencintaimu..”&lt;br /&gt;“Akupun demikian, istriku. Aku mencintaimu.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Siapa diantara kalian yang ingin masuk surga?” Ustadz Abdullah mengawali pelajarannya dengan bertanya kepada murid-muridnya. Serempak seluruh murid mengangkat tangannya tanda setuju. &lt;br /&gt;“Tentunya setiap muslim menginginkan untuk masuk surga. Tapi apakah kalian tahu, siapakah yang paling berhak untuk masuk surga diantara setiap orang muslim?” Ustadz Abdullah memberikan teka-tekinya untuk murid-muridnya. Tak satupun dari mereka berani mengangkat tangan.&lt;br /&gt;“Abdullah guruku, izinkan saya menjawab.” Lantang suara Ahmad tiba-tiba memecah keheningan. &lt;br /&gt;“Baik anakku, sampaikan apa yang ingin kau katakan. Murid-muridku, dengarlah apa yang akan disampaikan oleh teman kalian, Ahmad Yassin.&lt;br /&gt;“Demi Allah tuhan yang tak ada tandingan bagi-Nya, sungguh orang-orang yang beriman diantara setiap muslim adalah yang paling berhak untuk menjadi ahli surga. Apabila ia berbuat sesuatu, ia melakukannya karena Allah. Apabila ia meminta pertolongan, ia hanya meminta kepada Allah. Ia bejuang di jalan-Nya untuk menegakkan kalimat-Nya diatas bumi ini. Menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ia juga mencintai Rasulullah, melibihi cintanya kepada dirinya sendiri. Semoga kita termasuk ahli surga bersama mereka yang beriman.”&lt;br /&gt;“Semoga Allah memberikan rahmat-Nya bagimmu, anakku” Ustadz Abdullah mengungkapkan rasa bangganya.&lt;br /&gt;“Anakku Ahmad Yassin, kemarilah.” Ustadz Abdullah menyuruh Ahmad maju ke depan kelas. &lt;br /&gt;“Menghadaplah ke arah teman-temanmu. Anakku, sekarang gambarkanah tentang kehidupan surga kepada kita, supaya kita yang ingin menjadi ahli surga bertambah kuat iman kita kepada Allah seperti apa yang kau ungkapkankan tadi.”&lt;br /&gt;“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah. Sungguh telah benar Allah yang berfirman dalam kitabnya; Sesungguhnya orang-orang yang beriman lagi beramal sholeh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka disisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya. Itulah gambaran surga yang dijanjikan oleh Allah bagi setiap orang yang beriman,” Ahmad menerangkan dihadapan teman-temannya sekelas. &lt;br /&gt;Perasaan bangga dirasakan oleh Ustadz Abdullah melihat keshalehan muridnya satu ini. Ahmad termasuk murid Ustadz Abdullah yang paling menonjol. Dalam usia yang masih dini itu, Ahmad sudah bisa berbicara dan berfikir layaknya orang dewasa. Sesuatu yang tak dimiliki oleh murid-murid Ustadz Abdullah yang lain. “Ya Allah, sesungguhnya aku melihat tanda keagungan-Mu pada muridku ini. Maka tegakkanlah agama-Mu melalui dirinya, jika Engkau menghendaki,” doanya dalam hati.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kegelapan malam kembali menyelimuti Aljoura, perkampungan di bagian selatan kota Ashkelon. Seperti biasa, sunyi senyap selalu menyelimuti tiap kampung bagian kota jika malam tiba. Ahmad termenung di depan jendela kamarnya. Pandangan matanya menerobos bilik-bilik besi jendela menuju keluar. Gelap.&lt;br /&gt;“Apa yang sedang engkau pikirkan, Anakku? Mengapa belum tidur?” Aminah yang membawa secangkir teh dari dapur untuk suaminya kemudian menghampiri anaknya. &lt;br /&gt;“Ummy, Ahmad tak bisa tidur. Aby di mana?”&lt;br /&gt;“Aby sedang membaca buku. Sebentar lagi menyusul kita ke kamar.”&lt;br /&gt;Keheningan malam kampung Aljoura mulai terusik oleh suara deruan mesin yang samar-samar terdengar. Suara derap kaki yang beriringan dengan dengungan mesin menambah malam makin mencekam. Ahmad terheran, seakan baru pertama kali ia mendengarnya. “Ummy..apakah Ummy mendengar suara?”&lt;br /&gt;Ahmad lalu berlari ke arah ayahnya di luar kamar. “Aby…apa Aby mendengar suara? Suara apa itu, Aby? Ahmad takut mendengarnya.”&lt;br /&gt;“Aby tak mendengar apa-apa.”&lt;br /&gt;“Di luar sana, Aby. Ahmad mendengarnya dari balik jendela kamar.”&lt;br /&gt;“Kenapa anak kita, suamiku?,” ucap Aminah yang muncul dari kamar. Nasser hanya menggelengkan kepala. “Kemarilah, nak.” Ia memeluk anaknya lalu menggendongnya ke dalam kamar.&lt;br /&gt;Suara deruan itu semakin lama semakin jelas terdengar. Nasser masih menggendong anaknya, membawanya kearah jendela. “Aby, suara itu makin jelas.”&lt;br /&gt;“Ya, anakku. Aby sekarang mendengarnya.”&lt;br /&gt;“Suara apa itu, Aby?”&lt;br /&gt;“Mungkin hanya kendaraan pengangkut barang. Jangan takut, anakku.”&lt;br /&gt;Semakin jelas suara itu terdengar. Nasser dan anaknya melihat kelap-kelip lampu sorot yang mengiringi deruan mesin-mesin itu. Tak lama kemudian, arak-arakan truk militer dan tank-tank baja melintas di depan rumahnya. Tentera Israel kembali memasuki kawasan Gaza, melintasi perkampungan di Ashkelon.&lt;br /&gt;“Mereka kembali berulah?,” tanya Nasser dalam hati. Pucat memerah mukanya.&lt;br /&gt;“Siapa mereka, Aby?” Tanya Ahmad penasaran.&lt;br /&gt;“Suamiku..” Aminah menangkap wajah sedih suaminya.&lt;br /&gt;“Mereka kembali datang,” ucap Nasser kepada istrinya lemah.&lt;br /&gt;“Aby, siapa mereka?” Ahmad kembali bertanya.&lt;br /&gt;“Anakku, merekalah orang-orang jahat itu. Mereka selalu berbuat kerusakan diatas tanah kita ini. Mereka ingin merebut tanah air kita ini dari tangan kita.”&lt;br /&gt;“Jadi mereka yang mengusir saudara-saudara kita itu, Aby?”&lt;br /&gt;“Ya, merekalah yang melakukannya. Barangkali besok giliran kita yang akan terusir oleh mereka.”&lt;br /&gt;“Kenapa kita tak melawan, Aby? Apa kita takut sama mereka?”&lt;br /&gt;“Tidak, anakku. Kita sama sekali tak takut sama mereka. Haram bagi kita menyerah kepada mereka. Para pejuang tanah air kita ini selalu berjuang melawan mereka. Mereka tak gentar menghadapi orang-orang jahat itu.”&lt;br /&gt;“Aby, Ahmad ingin berjuang bersama mereka melawan orang-orang jahat itu. Ahmad tak ingin negeri kita diambil oleh mereka. Akan kulempar mereka dengan batu yang tajam, jika mereka berani mengusir kita dari tanah ini,” ucap Ahmad penuh semangat. Nasser meneteskan air matanya mendengar kata-kata anaknya. Teringat olehnya para pejuang yang gugur di tangan tentara imperealis Israel yang melawan kebiadaban mereka dengan lemparan batu. “Kenapa engkau menangis, Aby?” &lt;br /&gt;“Tidak, anakku. Aby tak apa-apa. Anakku Ahmad, sekarang engkau masih kecil. Biarlah para pejuang kita yang akan melawan mereka. Jika mereka mati, mereka akan masuk surga karena syahid di jalan Allah. Jika dewasa nanti, engkau boleh  berjuang bersama mereka melawan kebiadaban tentara-tentara penjajah itu.”&lt;br /&gt;“Ya, Aby. Ahmad akan memimpin para pejuang untuk melawan para penjajah itu jika dewasa kelak.” &lt;br /&gt;“Sekarang tidurlah, anakku. Kemarilah, biarkan Ummy memelukmu.”&lt;br /&gt;“Baik Ummy, Aby. Ahmad akan tidur sekarang.” Ahmad kemudian tidur di pelukan ibunya. Ayahnya hanya termenung berdiri di depan pintu jendela kamar.&lt;br /&gt;“Istirahatlah, suamiku.”&lt;br /&gt;“Istriku, aku tiba-tiba teringat penduduk Gaza. Aku khawatir akan nasib mereka.”&lt;br /&gt;“Kita serahkan semuanya pada Allah, suamiku.”&lt;br /&gt;“Istriku, lihatlah anak kita. Apakah ia sudah tidur?”&lt;br /&gt;“Ya, suamiku. Ia sudah terlelap.”&lt;br /&gt;“Kemarilah, istriku. Mari kita berdiri sholat lalu memohon kepada Allah untuk anak kita. Sungguh, Allah telah memuliakan kita dengan anak kita.”&lt;br /&gt;“Engkau benar, suamiku. Kita harus bersyukur kepada-Nya atas karunia ini kepada kita.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Kita tak boleh membiarkan rakyat negeri ini menderita. Setiap tetes darah yang tumpah dari penduduk negeri ini harus mereka bayar dengan darah pula.” &lt;br /&gt;“Ya, Ahmad. Kita sudah terlalu sering tersakiti oleh kekejaman mereka. Engkau lihat, seorang anak kecil tak berdosa mereka tembak ketika sedang berangkat ke sekolah, seorang ayah yang membawa roti untuk anak-istrinya mereka siksa tanpa alasan, seorang ibu yang sedang berangkat ke pasar mereka permainkan, seakan kita ini adalah binatang yang tak layak hidup di atas tanah ini... ” &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RiQlMc1RVvI/AAAAAAAAAAk/pfrs510bCqU/s1600-h/606.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RiQlMc1RVvI/AAAAAAAAAAk/pfrs510bCqU/s400/606.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5054205577644824306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Cukup, jangan kau teruskan, Aly. Ya, kita harus bergerak melawan kezaliman mereka. Tahukah engkau Aly, apa yang ada dalam pikiranku saat ini?”&lt;br /&gt;“Katakan, Ahmad. Aku tahu engkau tak akan berfikir hal yang sia-sia untuk negeri ini. Aku berjanji akan mengikutimu jika engkau benar,”  kata Aly meyakinkan Ahmad.&lt;br /&gt;“Jumlah pemuda negeri ini tak sedikit. Mereka sama-sama sadar akan penderitaan rakyat negeri ini. Mereka ingin memperjuangkan hak-hak mereka yang terampas oleh keserakahan kaum zionis Israel. Aku berniat menyatukan mereka dalam satu wadah untuk membantu para pejuang negeri ini melawan penjajah Israel. Bagaimana engkau melihat hal ini, Aly?&lt;br /&gt;“Ahmad, sungguh Allah telah memberikan rahmat-Nya bagimu. Aku berdo’a semoga kelak engkau menjadi pemimpin umat ini. Aku telah berjanji akan mengikutimu, jika apa yang kau lakukan adalah kebenaran.”&lt;br /&gt;“Ya, kita akan segera menyatukan mereka. Jangan kau ragu dengan apa yang kita punya untuk melawan mereka. Batu-batu tanah negeri inipun sudah tak sabar untuk menjadi saksi di sisi-Nya atas perjuangan kita nanti. Batu-batu itu akan menjadi peluru yang menakutkan bagi mereka para bembuat kerusakan.”&lt;br /&gt;“Akupun siap berjuang bersamamu di jalan-Nya, Ahmad.”&lt;br /&gt;“Anak-anak batu. Ya, aku ingin menamai mereka dengan nama ini. Aku berharap nama ini akan menjadi penyemangat mereka walaupun harus berhadapan dengan peluru panas Israel.”&lt;br /&gt;“Aku setuju. Nama ini bagus terdengar olehku. Semoga Allah meridhoi niat baik kita ini.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Fajar telah memerah di ufuk timur langit Gaza. Azan shubuh telah berkumandang di seantero kawasan al-Quds. Hawa segar menyelimuti shubuh di al-Quds. Angin tak bertiup kencang, hembusannya terasa segar menyentuh tubuh. Pagi yang damai dirasakan oleh Ahmad Yassin ketika ia keluar rumah dari atas kursi rodanya menuju Masjid. &lt;br /&gt;“Wahai guruku, sungguh aku mendengar mereka menginginkan nyawamu. Mereka akan bergerilya demi mendapatkanmu dimanapun engkau berada. Kami sungguh mengkhawatirkanmu,” ucap Sa’id, muridnya usai jamaah shubuh.&lt;br /&gt;“Sungguh, aku juga sedang menantikannya. Aku rindu untuk segera berjumpa dengan-Nya. Maka janganlah kau khawatir, muridku.”&lt;br /&gt;Menetes lah air mata Sa’id. Ia peluk erat tubuh ringkih gurunya itu. “Jika engkau harus pergi meninggalkan dunia ini, izinkan aku menemanimu,” bisiknya di telinga gurunya dengan tetesan air mata. Keduanya lalu saling berpelukan.&lt;br /&gt;Shubuh telah usai, satu persatu jamaah kembali ke rumah. Ahmad Yassin ditemani anaknya Muhammad serta dua orang muridnya kembali menuju rumah. Hari masih gelap, ketika mereka keluar dari masjid menuju rumah. Kegelapan malam pecah oleh cahaya lampu sorot yang terpancar dari atas langit berawan. Sebuah Helikopter melintas di kawasan Gaza, tepat melintasi jalan yang dilalui Ahmad Yassin beserta murid-muridnya. Semakin mendekat, pesawat itu menjatuhkan beberapa peluru ke arah Yassin dan murid-muridnya. Israel memenuhi janjinya untuk mengejar Ahmad Yassin sampai nyawanya terlepas. Ahmad Yassin beserta anak dan dua orang muridnya tewas di tangan tentara Israel. Tiga buah peluru menembus dadanya.&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;Jamaah sholat dhuhur di masjid baru saja selesai. Seperti biasa, suasana riuh selalu terjadi ketika sholat telah usai. Aku kembali ke asrama bersama teman-teman sekampus. Kusempatkan membaca koran harian yang terpampang di etalase depan asrama. Sebuah judul besar dalam Laporan Utama dengan gambar seorang tokoh tua besorban terpampang di halaman utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harian Republika, 23 Maret 2004. &lt;br /&gt;Teroris Israel Bunuh Syekh Yassin&lt;br /&gt;JALUR GAZA -- Israel mengancam untuk menjadikan Yasser Arafat sebagai sasaran berikutnya. Dunia Islam sangat berduka. Syekh Ahmad Yassin, pendiri dan pemimpin organisasi perjuangan Palestina, Hammas, gugur di Jalur Gaza, akibat serangan helikopter Israel, Senin (22/3) menjelang fajar. Waktu itu, Yassin hendak meninggalkan sebuah masjid di Jalur Gaza. Bersama Yassin, sedikitnya tiga orang yang lain juga meninggal dalam serangan itu. Salah satu alat bukti yang tertinggal di lokasi kejadian adalah kursi roda Yassin yang hancur berantakan. Syeikh Ahmad Yassin yang dilahirkan pada 1938 di sebuah kampung bernama Al-Joura di daerah Ashkelon (Asqolan), ketika umurnya masih dalam usia kekanakan, beliau dan keluarganya telah diasingkan dari rumahnya ke Gaza. Semasa mudanya  Ia bersama teman-temannya mendirikan sebuah organisasi pejuang muda Palestina yang kemudian ia beri nama ‘Athfâl hijârah’ (Anak-anak batu)...”&lt;br /&gt;Aku termenung, mencoba mengingat-ingat sesuatu. “Aku pernah mengenalnya. Tapi...dimana..?” Aku berharap akan mengingatnya. Subhânallâh...aku teringat pada mimpiku kemarin malam. Seorang anak kecil bernama Ahmad Yassin tinggal bersama orang tuanya di kampung Aljoura, daerah Ashkelon. Aku mencoba mencocokkan mimpiku dengan isi berita di koran. “Subhânallâh...Subhânallâh...” tak henti-hentinya mulutku bertasbih. “Sungguh, Engkau Maha Kuasa ya Allah. Aku bersyukur kepada-Mu. Engkau telah memilihku untuk mengenal serta melihatnya walau hanya dalam mimpi. Kini Ia telah pergi...” hatiku berbisik. Bergetar tubuh ini, merasakan dahsyatnya keagungan-Nya. Tak terasa air mataku tumpah, bersama tumpahnya air mata rakyat Palestina yang berduka atas kepergiannya. Aku bersyukur atas tanda keagungan-Nya yang Ia perlihatkan padaku. Ahmad Yassin yang kulihat dalam mimpi itu ternyata Ahmad Yassin yang kini meninggal di tangan Israel. “Selamat jalan, pahlawan. Sekarang engkau telah tiada, esok akan tumbuh seribu Ahmad Yassin setelahmu. Semoga engkau bahagia berada di sisi-Nya,” lemah ucapku lirih.&lt;br /&gt;-The End- &lt;br /&gt;*Mahasiswa fakultas Ushuluddin tingkat II,&lt;br /&gt;     Anak Rantau Lembah Hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-1708395801689396200?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muarajiwa.blogspot.com/feeds/1708395801689396200/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2006/12/dongeng-kehidupan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/1708395801689396200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/1708395801689396200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2006/12/dongeng-kehidupan.html' title='Dongeng Kehidupan'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/RiQl1c1RVwI/AAAAAAAAAAs/swcdFm6rWhU/s72-c/hamas_child_2_2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1586971105871912607.post-5207241389859958381</id><published>2006-12-05T06:25:00.000-08:00</published><updated>2007-03-13T20:03:22.925-07:00</updated><title type='text'>Akumulasi Kata</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Puisi Kasih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung tanah ini aku menyapamu&lt;br /&gt;Bersama desiran jantung rindu yang kian menyatu&lt;br /&gt;Kucoba ingat masa laluku&lt;br /&gt;Disaat kasihmu masih dekat di sampingku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini aku anakmu&lt;br /&gt;Mencoba tegar berdiri&lt;br /&gt;Di atas tanah terjal berbatu&lt;br /&gt;Dan rintangan kawat berduri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah...&lt;br /&gt;Ingatkah engkau?&lt;br /&gt;Ketika tanganmu yang kekar menamparku&lt;br /&gt;Di saat anakmu ini mulai bengal&lt;br /&gt;Tak pedulikan perintahmu&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ibu...&lt;br /&gt;Ingatkah engkau?&lt;br /&gt;Ketika jari-jari lentikmu mencambukku&lt;br /&gt;Di saat anakmu ini mulai mengenal&lt;br /&gt;Pahitnya asap tembakau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah, Ibu...&lt;br /&gt;Terimakasih telah menamparku&lt;br /&gt;Terimakasih telah mencambukku&lt;br /&gt;Hakikatnya engkau telah mendidikku&lt;br /&gt;Dengan kasih sayang tiada bertepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku telah terbiasa&lt;br /&gt;Menghadapi kerasnya hidup&lt;br /&gt;Seperti yang kau wariskan padaku&lt;br /&gt;Untuk bekal jauh perjalananku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah, Ibu...&lt;br /&gt;Kini engkau pasti tersenyum&lt;br /&gt;Melihat anakmu tumbuh dewasa&lt;br /&gt;Dengan semangat untuk berkarya&lt;br /&gt;Guna membuatku tersenyum juga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Senja Kairo, 7 Desember 2oo6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1586971105871912607-5207241389859958381?l=muarajiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muarajiwa.blogspot.com/feeds/5207241389859958381/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2006/12/puitisasi.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/5207241389859958381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1586971105871912607/posts/default/5207241389859958381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muarajiwa.blogspot.com/2006/12/puitisasi.html' title='Akumulasi Kata'/><author><name>ORIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00778919683849873321</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_iOUV95qhizA/SgiCytN0a6I/AAAAAAAAAJw/sCnz7Mdrrc0/S220/LKJ%3BLK.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry></feed>
